BAB 95

1533 Words
“Jalan, Pak,” perintah Leon setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Raja. Setelah urusan di kota itu selesai, mereka langsung pulang kembali ke kota A tanpa beristirahat. Semua karena Raja sendiri yang menginginkannya. Pria itu tidak ingin berlama-lama atau sekadar menginap di sana. “Bagaimana?” tanya Raja. “Sudah dibereskan. Tapi saya rasa ada seseorang yang sengaja menyabotase proyek kita, Tuan. Mungkinkah ada orang lain yang berniat buruk pada kita?” tanya Leon. Raja tertawa hambar. “Kamu ini, seperti amatir saja. Kamu tahu sendiri bagaimana aku menjalani hidup. Bukan hanya perusahaan, nama baik, bahkan sampai nyawaku juga mereka incar. Jadi aku tidak heran. Ini adalah hal yang sangat biasa yang harus aku alami. Bahkan kemalangan, kematian bisa datang kapan saja." Leon merasa sedih mendengar ucapan Raja yang benar adanya. Entah mengapa banyak orang yang membencinya. Padahal pria itu tidak pernah menyakiti orang lain, pria itu selalu murah hati dan suka membantu orang yang kesusahan. Kelemahannya hanya pada sifat pria itu yang kaku dan dingin. “Jika tahu semudah ini membereskan masalah ini, aku tidak perlu capek-capek ikut kemari,” tambah Raja lagi. Namun Leon sepertinya tidak mendengar ucapan Raja. Pria itu tampak melamun. “Kenapa Kamu sedih begitu? Apa karena proyek ini gagal di tengah jalan?” tanya Raja yang menyadari ekspresi Leon. “Iya, Tuan. Kan di daerah itu belum ada pusat perbelanjaan yang besar, hanya ada swalayan dan toko-toko kecil di sana. Tadinya saya sudah membayangkan bahwa proyek kita akan untung besar. Apalagi ada area bermain anak-anak yang akan menarik pelanggan untuk berkunjung. Eh, ternyata proyek kita harus terhenti di tengah jalan,” ucap Leon mengiyakan. Ia tidak ingin Raja tahu bahwa dirinya bersedih untuk kehidupan yang Raja alami. “Kamu salah besar, Leon. Proyek itu akan tetap berjalan, kok. Seperti ucapanku, akan ada kontraktor lain yang menggantikan jasa konstruksi yang sekarang,” ucap Raja tanpa keraguan sedikit pun. “Tapi Tuan, jika kita mengganti pekerja. Semua harus dimulai dari awal lagi, biaya yang kita perlukan juga akan semakin bertambah besar,” ucap Leon. “Kamu meragukan aku, Leon? Tenang saja, modal, tenaga, kerja keras kita akan terbayar dengan cepat. Bahkan hasilnya aku yakin akan lebih dari yang aku prediksikan. Modal kita akan kembali sepuluh kali lipat dalam waktu kurang dari setahun. Kita lihat saja, nanti setelah mal itu kita resmikan. Aku yakin proyek kita akan sukses besar,” ucap Raja yakin. “Tidak, Tuan. Saya mana berani meragukan keputusan Anda. Jika Anda sudah berkata demikian, maka memang itulah yang terbaik,” ucap Leon. Jika Tuan sudah berkata demikian, maka yang terjadi akan demikian. Dan keyakinan Tuan itu tidak pernah meleset sedikit pun. Inilah yang membuat aku semakin kagum padanya. Tuan dengan segala kelebihannya, sampai-sampai kekurangannya sama sekali tidak terlihat, batin Leon. *** Pukul enam pagi, akhirnya mereka sampai di kediaman William. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Delapan jam di dalam mobil, tanpa beristirahat sama sekali. Rasanya tubuh Leon dan Raja remuk redam, lelah sekali. Begitu sopir menghentikan mobil, raja langsung menghambur keluar. Pria itu tampak tergesa. Seolah ada sesuatu hal yang penting dan mendesak yang harus segera ia lakukan. Bahkan Raja yang biasanya menunggu sampai Leon membukakan pintu untuknya kali ini membuka pintu sendiri dan langsung berlari masuk ke dalam rumah. “Tu ....” Belum sempat Leon memanggil, Raja sudah berlari menjauh. “Huft, kenapa tergesa seperti itu sih? Apa dia kebelet buang air kecil? Atau hal lainnya?” Leon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Raja. Pria itu memilih untuk mengambil koper pakaian Raja juga dokumen yang mereka bawa ke kota itu. Leon dibantu sopir keluarga william mengeluarkan koper dari bagasi dan mengangkatnya, masuk ke dalam rumah. Sementara itu .... Setelah masuk ke dalam rumah, Raja langsung menuju ke rumah belakang, bangunan yang bahkan sama sekali tidak ia pijaki selama sepuluh tahun ini. Bangunan yang tidak ingin Raja lihat lagi. Pasalnya rumah itu penuh dengan kenangan mama dan papanya. Namun, pagi ini ia pergi ke sana dengan kesadaran penuh. “Kitty! Kitty!” teriak Raja memanggil kucingnya. Tempat itu masih sangat sunyi. Sepertinya semua pengawalnya masih lelap dalam mimpinya. “Bon! Boni! Bangun!” panggil Raja dengan suara yang cukup keras seraya mengetuk pintu kamar yang bertuliskan nama pengawal itu. “Apa Boni tidak ada di kamarnya, ya?” Raja menggaruk kepalanya yang tak gatal. Raja bingung harus mencari pria itu ke mana. Saat Raja tengah berpikir tiba-tiba ia kepikiran sesuatu. “Bukankah Kitty ada di kamarku saat aku pergi? Siapa tahu dia masih ada di sana," ucap Raja. Pria itu segera berlari keluar dari rumah itu dan kembali ke rumah utama. Ia harus memastikannya, apakah kucing kesayangannya ada di kamarnya atau tidak. “Tuan dari mana?” tanya Leon saat mereka berpapasan di ruang tamu. “Dari rumah belakang,” jawab pria itu singkat. Raja mengabaikan Leon. Ia segera berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua, di mana kamarnya berada. “Rumah belakang? Bukannya tuan paling anti dengan kamar belakang, ya? Mana mungkin beliau mau menginjakkan kaki di sana?” Leon bingung dengan tindak-tanduk majikannya. “Ah, mungkin aku salah dengar. Mungkin saja dia tadi berkata bahwa dia dari toilet belakang yang ada di dekat dapur. Sepertinya tergesa sekali, siapa tahu tadi dia kebelet buang air kecil.” Leon memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, sebelum ia bisa beristirahat. Ya, hari ini Raja secara khusus memberikan cuti untuknya. Tepatnya, Raja dan dirinya hari ini libur dari segala urusan pekerjaan karena kelelahan setelah pulang dari kota B. *** “Kitty!” Raja langsung memanggil nama kucing itu. Begitu pintu terbuka, Raja dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya. Ia melihat Kitty tertidur lelap dalam balutan kemeja putihnya. Kucing itu tampak nyaman dan nyenyak. Membuat Raja tidak tega untuk mengganggunya. Pria itu berjalan perlahan mendekati ranjangnya dengan gerakan lembut pula ia mendudukkan bokongnya di kasur lembut dan nyaman itu. “Kucing manis, patuh sekali Kamu Kitty. Kamu benar-benar menuruti perintahku untuk tidak pergi ke mana-mana. Kamu tetap di kamar ini selama aku tidak ada,” ucap Raja setengah berbisik. Lalu pandangan pria itu beralih ke arah kemeja yang membalut tubuh Kitty. “Lihatlah apa yang Kamu lakukan dengan kemejaku? Hm? Siapa yang mengambilkannya untuk Kamu buat tidur, heh?” Raja terkekeh geli. Makhluk berbulu Hitam itu tampak lucu dalam balutan kemeja putihnya. “Tapi tidak apa-apa. Bahkan aku mengizinkan Kamu memakai semua bajuku untuk alas tidurmu,” gumam Raja lagi. “Baiklah, tidurlah yang nyenyak. Aku akan membersihkan diri lalu bergabung denganmu. Hari ini aku hanya akan menghabiskan waktuku untuk istirahat dan bermain-main denganmu." Pria itu melepaskan semua pakaian yang ia pakai. Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup, disusul suara air shower yang berjatuhan di dalam sana. Sudah pasti jika pria itu tengah mandi, membersihkan dirinya dari keringat setelah semalaman bepergian. Juga menghilangkan rasa penat di tubuhnya dengan guyuran air panas. *** "Tu-tuan kapan Anda kembali?" tanya Boni saat melihat Leon menyantap makan paginya di meja dapur. Boni datang dengan pakaian olahraganya, sepertinya pria itu baru saja lari pagi. "Baru saja, jam enam pagi tadi. Kenapa memangnya?" tanya Leon seraya menusuk roti dengan garpu. "Yah, saya pikir Anda dan tuan muda akan di sana lebih lama," ucap Boni dengan suara bergetar. "Urusan di sana sudah selesai, mau ngapain lama-lama di sana. Tuan muda bahkan tidak betah sama sekali di tempat itu. Dia yang mendesak mau pulang malam tadi juga. Jadi, waktu kami habiskan hanya untuk menempuh perjalanan. Melelahkan sekali," ucap Leon seraya melahap telur mata sapi miliknya. "Oh, begitu." Keringat dingin membasahi tubuh Boni. "Kenapa Kamu tampak gugup begitu?" tanya Leon. "Ah, tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya sedikit kelelahan setelah berlari keliling kompleks," bohong pria itu. "Baguslah, aku kira ada masalah apa," ucap Leon. "Ah, mumpung Kamu di sini. Pergilah ke kamar tuan, tanyakan beliau mau menu makan pagi apa." "Sa-ya, Tuan?" Tiba-tiba saja jantung Boni berdebar kencang saat Leon memberikan perintah itu. "Iya, tentu saja Kamu. Adakah orang lain di tempat ini? Tidak ada, kan?" tanya Leon dengan nada meninggi. "Baiklah, saya akan ke atas." Boni melangkahkan kakinya yang sedikit gemetar menuju lantai atas. Habislah riwayatku. Ya Tuhan, aku pasrah, apa pun yang akan terjadi padaku, batin Boni. Ia yakin Raja akan memarahinya bahkan mungkin memecatnya saat pria itu tahu bahwa Kitty telah menghilang. Tok tok tok. Boni mengetuk pintu kamar Raja dengan perlahan. Namun, tak ada sahutan. Pria itu lantas kembali mengetuk pintu kamar tuannya itu. Lagu-lagi tak ada jawaban dari dalam sana. Boni sangat penasaran, kenapa tuannya tidak menyahut atau membuka pintu. Akhirnya, pria itu memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Raja. Ceklek. Rupanya pintu kamar itu tidak terkunci. Boni dapat memutar kenop pintu dengan mudah. Boni membuka sedikit pintu kamar Raja. Dari sana, pria itu mengintip ke dalam kamar. Hampir saja, Boni memekik saat melihat Raja yang tidur dengan memeluk Kitty. Ternyata kucing yang membuat ia gelisah sepanjang malam, kucing yang membuat ia bangun dan mencarinya sejak subuh, sejak matahari belum terlihat dan udara masih sangat dingin menusuk tulang sedang tidur nyaman di ranjang majikannya. "Astaga, Kitty. Betapa nakalnya dirimu. Kamu semalaman mengerjaiku, dan kini Kamu enak-enakan tidur bersama tuan. Sementara aku harus bangun sejak subuh tadi, mencarimu keliling kompleks, menggigil kedinginan, bertanya ke sana-kemari seperti orang gila," gerutu Boni. Rasanya pria itu ingin salto saat itu juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD