BAB 141

1532 Words

Ia duduk termenung di teras seorang diri, tepatnya di atas anak tangga depan rumah mewah itu. Matanya yang berwarna biru menatap ke langit yang luas, yang dipenuhi cahaya kerlap-kerlip sang bintang. Keadaan sedikit gelap, karena sang bulan sabit tak mau menampakkan diri. Bersembunyi malu-malu di balik sang awan. Namun, hal itu tak membuatnya beranjak dari tempat itu. Ia masih betah duduk di sana, menikmati angin malam yang dingin juga melamun. Melamunkan banyak hal yang semakin membuatnya bingung. “Apakah di atas sana ada dunia? Kenapa aku selalu merasakan perasaan yang asing saat menatap langit? Adakah sesuatu di atas sana? Adakah sesuatu yang mungkin tidak aku ingat atau tidak tahu? Aku seperti merindukan sesuatu di atas sana entah itu apa,” gumamnya sendirian. Matanya berkedip-kedip, m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD