"Rasanya sakit saat tau kamu bohong."
.
.
.
"Adek? Dek? Adek?" Aku merasakan singgahnya tangan sejuk seseorang yang sedang mengelus-elus bagian pipiku pelan, membuat mataku yang beratnya kayak digelantungi sekelompok Marsupilami pun mau tak mau terpaksa mengerjap dan terbuka.
Tampak wajah Mas Reno udah ngetem. Muncul bagai malaikat pemberi rezeki. Bling bling. Kerlap-kerlip. Ya Allah sungguh menyilaukan. Bikin aku tak kuat iman.
"Mas, udah pulang?" gumamku serak-serak rada tercekat begitu sukses menang melawan nafsu jahat yang terus mengetuk-ngetuk wadah otakku.
"Baru aja. Kok, Adek tidur di sofa? Pegel loh ntar. Sini yuk? Mas gendong, pindah ke kamar yah?" tawar Mas Reno sambil bersiap merangkul pundakku.
"Enggak ah," tolakku menggeleng mantap sesaat setelah mampu mendudukan diri berkat dibantu oleh Mas Reno tentunya.
"Kok enggak?" tanya Mas Reno heran.
"Adek mau nemenin Mas makan dulu," kataku sambil memelintir pinggiran sofa kelabu yang entah untuk apa tujuannya. Mungkin supaya keliatan ngegemesin aja sih.
"Tapi nanti lama loh, Dek. Mas, kan mesti masak dulu," kata Mas Reno sambil membelai rambutku.
"Nggak perlu dong. Adek, kan udah masakin buat Mas," terangku percaya diri.
"Jadi, Adek yang masak nih hari ini?" goda Mas Reno sembari mengulas segaris senyuman penuh arti. Ish! Mulai lagi deh jurus gantengnya! Udah tau kalau ngurusin yang begini hatiku suka lemah, lututku apalagi ... sering lumer.
Meringis sok malu-malu marmut. Yang nolak-nolak tapi sebenernya pengen banget. Aku pun mengangguk cantik sambil berkata, "Huum."
"Ya udah, yuk ke meja makan?" ajak Mas Reno yang lantas mulai melangkahkan kaki jangkungnya ke arah ruang tengah. Namun, tak segera kubuntuti.
Menyadari ekornya tak kunjung menyusul, Mas Reno pun membalikan tubuhnya. "Loh, kok masih di situ? Kenapa, Dek?"
Menggigit-gigit bibir sok seksi aku lalu berkata dengan nada yang aduhai sangat memualkan. "Gendong ih, Mas nyampe ke mejanya!"
Tersenyum kecil, Mas Reno lantas bergerak untuk menghampiriku kembali. Membopongku dengan begitu gampangnya, tanganku pun otomatis menggelantungi lehernya. Semoga aja Mas Reno nggak merasa sedang digelayuti buntut Marsupilami.
"Berat nggak, Mas gendong dua orang?" tanyaku sambil dengan nakalnya mengusel-uselkan wajah ke d**a Mas Reno. Menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulinnya yang hari ini agak tercampur bau bawang putih.
"Nggak sih kalau sampe ruang makan aja. Kalau sampe Bogor, terus Adek minta muter-muter beli Pei Tales. Mungkin Mas harus nge-gym dulu biar kuat."
"Ihhh Mas Reno!" rajukku sambil mengeratkan rangkulan di lehernya. "Emangnya Adek ratu tega apa!"
Mas Reno hanya tertawa mendengar dumelanku serta langsung mendudukan diri ini di atas bangku putih yang mengambil peran sebagai penghuni ruang makan.
"Hmm, Adek udah bisa bikin nasi goreng nih ceritanya?" ujar Mas Reno begitu berhasil mendudukan diri tepat di sebelahku dan memperhatikan hidangan yang telah tersaji di atas meja.
"Iya dong! Adek gitu loh! Udah naik level," ucapku bangga semi menyombong. Gimana nggak? Dulu, waktu awal-awal menikah aku, kan cuma sanggup bikin kopi sama nyeduh mi instan.
Dan ngomong-ngomong soal mi instan, aku jadi ingat ekspresi tawa lepas Mas Reno sewaktu kami baru nikah. Di mana keesokan paginya, aku memberinya mi melar sebagai menu sarapan. Suamiku yang sangat ngegemesin dan aku yang sangat malu-maluin. Kadang hubungan kami emang keliahatan ibarat berkah dan musibah. Berkahnya ngumpul di aku yang dapet paket super komplit. Musibahnya di Mas Reno yang dapet buntelan super amit amit.
Tertawa merdu, Mas Reno pun langsung bersiap untuk menyendok nasi kecokelatan yang udah kumasak berdasarkan panduan resep ala ibu rumah tangga sejati, sebelum suara yang amat menyebalkan itu lagi lagi muncul mengganggu.
"Mas Reno! Kok makan lagi? Tadi, kan udah makan di rumah Mbak Ralisa." Ini tuyul satu nggak pensiun-pensiun ih!
Ramasaurus yang berkaus merah tampaknya benar-benar minta diseruduk oleh banteng. Ish! Ngapain sih dia ganggu-ganggu mulu? Dan ... kenapa Mas Reno makan di rumah mantan pacarnya? Kata Veny, kan masakan wanita itu bisa bikin pria jatuh cinta. Apa itu istilahnya? Dari lidah lalu, turun ke hati.
"Loh, Rama udah beres ganti bajunya?" tanya Mas Reno kentara sekali sedang mengalihkan pembicaraan. "Sini makan yuk?"
"Nggak ah! Dari piringnya yang gambar Doraemon aja udah keliatan kok, Mas betapa bocah rasanya. Nggak mungkin bakal sebandinglah sama Aglio Olio yang di masak Mbak Rara tadi," cibir si Ramasaurus sambil mengusap-usap perutnya yang udah sebulet kendang pongdut.
"Rama ... nggak boleh begitu yah? Udah Mas bilangin, kan. Kalau nggak nurut, nanti Rama tidur sendiri loh," kata Mas Reno terus berusaha menasihati.
"Ish! Ya udah deh. Rama makan tapi pangku yah, Mas?"
"Oke," kata Mas Reno setuju sambil mengangkat Ramasaurus si bayi kawak itu ke atas pahanya. "Rama mau pake telor dadar apa yang diceplok?"
"Dua-duanya bentuknya sama aja kok, Mas kayak telor orek," komentar si Rama yang membuatku menatap sendu gumpalan-gumpalan berwarna kuning yang menggunduk serta dingin di atas piring.
Huh! Aku sendiri udah lupa, mana yang diceplok dan mana yang didadar?
Menghela napas tanda putus asa, aku mendongak dan langsung bertemu dengan wajah tenang Mas Reno yang sedang menyunggingkan senyum rasa motivasi. Mas Reno bahkan menggenggam sebelah telapak tanganku dan meremasnya pelan.
"Yang penting, kan Mbak Adek buatnya pake rasa sayang, Ram," bela Mas Reno.
"Sayang doang mah nggak bisa bikin telor jadi gurih kali, Mas."
"Rama!"
"Iya maaf," ucap Rama jelas terdengar cuma sebagai tanda basa-basi.
"Eh eh, Mas. Rama jadi inget. Tadi, waktu saus Aglio Olio-nya tumpah ke kemeja Mas Reno terus, bekasnya dilap sama Mbak Rara, itu so sweet loh. Kalau udah gede Rama mau cari istri yang kayak Mbak Rara ah. Yang Mama able. Nggak kayak ...."
Aku memang nggak begitu kenal Ralisa. Setauku dia wanita karir, usianya dua tahun lebih muda dari Mas Reno. Dulu, mereka satu SMA. Dan sejak dulu juga hanya Ralisa wanita yang pernah ada di hati Mas Reno. Sang penghuni tunggal selama sembilan tahun lamanya. Kadang, kalau dihadapkan dalam situasi macem begini mau-nggak mau aku suka curiga. Aku suka cemas. Karena cinta itu bener-bener sulit diduga datang dan perginya. Jika sembilan tahun pernah kalah bukan berarti dia nggak bisa balik unggul, kan?
Apalagi, sampe sekarang Ralisa belum menikah.
"Mas, Adek ke toilet dulu yah ingin pipis. Mas Reno kalau udah kenyang jangan dipaksa yah? Ntar sakit perutnya," kataku pelan sambil berlalu terburu memasuki salah satu pintu toilet yang terletak di dekat dapur.
Menutup rapat pintunya, tau-tau aku udah banjir air mata.
Aku percaya Mas Reno. Tapi menikahi masa lalunya ternyata sulit. Walau dikata cinta sekeras batu pun, bukannya kalau disiram air terus-menerus bakal bolong juga? Satu hal, Mas Reno adalah pria biasa. Dia mungkin bisa khilaf kapan aja.
Menggigit bibirku keras supaya bunyi rengekanku tak lari-lari di udara. Aku menunduk dalam hingga begitu saja hadirlah dua buah lengan kokoh milik Mas Reno yang memeluk bahuku dari belakang.
Dari cermin yang memantulkan bayangan kami. Aku mampu menangkap raut keruh di permukaan wajah Mas Reno.
"Butuh pelukan?" tawarnya yang langsung aku balas dengan sebentuk gelengan.
"Butuh ciuman?"
"E-enggak," jawabku dengan intonasi serak yang kental.
"Tapi, Mas butuh," ujar Mas Reno sambil membalikan tubuhku supaya menghadap ke arahnya. "Mas, butuh Adek. Cuma Adek."
Kalau Mas Reno begitu membutuhkanku ....
"Kenapa Mas bohong?" kataku kecewa. "Mas, kan tau kalau Adek paling benci dibohongin. Kalau Mas makan di tempat Ralisa yah bilang aja. Adek nungguin Mas nyampe hampir jam sembilan malem gini, Adek udah bela-belain bujuk dedek biar nggak laper dulu demi bisa makan bareng Mas. Semua itu Adek lakuin bukan buat dapet kebohongannya Mas Reno."
"Dek ...."
"Adek tuh nggak apa-apa. Mas mau makan sama siapa aja. Ya silakan. Tapi, seenggaknya kasih tau Adek. Jangan tutupin apa-apa dari Adek. Adek tuh nggak suka, Mas."
"Dek, Mas cuma ingin jaga perasaan Adek," cobanya beralasan.
"Ngejaga nggak harus dengan nggak jujur, Mas," ucapku praktis sambil melepaskan diri dari jangkauannya.
Menghapus lelehan air mata dengan punggung tangan, aku berjalan melewati Mas Reno keluar dari toilet sambil berkata lirih, "Adek nggak marah sama Mas. Adek cuma kecewa sama diri Adek sendiri yang punya perasaan nggak nyaman kayak gini."
****