Bagian Delapan

1128 Words
"Bagiku, dialah Mas Reno suami terbaikku." . . . "Cius?" Aku berusaha memastikan sekali lagi siapa tau, kan banyak gumpalan kopok yang menyumpal dalam rongga telingaku sehingga apa yang ditangkapnya dengan apa yang dibicarakan orang lain itu jadi nggak jodoh. "Reno bangkrut? Nggak kuat beli cotton bud sampai-sampai kamu torek gitu?" "Ih! Jangan hina Mas Renonya Adek! Dan lagi, situ nggak tau kalau korek-korek kuping pake gituan nggak sehat? Fyi, yah. Mas Reno selalu nomor satuin kesehatannya Adek tau." "Halah alesan! Bela! Bela aja terus dia! Dan lagi nggak perlu mulut agung ini hina juga si Reno itu emang udah terhina, Dek. Udah Kakak bilang, kan nggak usah nikah sama dia. Ngeyel si kamu! Jadi tukang tahu, kan. Bokek, kan?" "Bokeknya Adek urusan dalam negerinya Adek sama Mas Reno yah. Jangan ikut campur!" "Halah pake istilah dalam negeri segala! Ngerasa  Melania Trump kamu? Punya kolbak putih aja udah serasa punya gedung putih. Udahlah! Intinya Kakak bakal nginep di tempatmu. Titik. Kasih tau tuh si Reno, suruh prepare." Dan tut ... tut .... Sepertinya pulsanya habis. Rasain tuh si pelem! Siapa suruh gaya-gayaan nelepon dari luar negeri segala. Nggak sadar kali dia, kalau sambungan internasional mahalnya udah menyaingi harga cabe. Belum sempat aku ngakak sebagai bentuk simbol kemenangan tiba-tiba, aku teringat akan isi percakapan kami tadi. Nginep. Di tempatmu. Titik. Lagaknya mengatai orang bokek. Lah, dia malah mau numpang. Lebih kismin itu namanya. Menggeleng-geleng prihatian. Aku pun menyempatkan diri guna mengibai nasibku di minggu ini. Pedih! Giliran si tuyul berhasil dibawa pergi oleh Mbak Yul, sekarang malah muncul genderewo yang siap menyatroni hidup penuh romansa milik aku dan Mas Reno. Ngeselin banget! Melemparkan handphone ber-casing merah muda secara kasar ke dalam kantung daster. Aku lalu bergegas melangkahkan kaki lebar-lebar menuju halaman belakang. Tampak Mas Reno sedang menyampirkan beberapa aset tempurku yang baru dicuci ke tihang jemuran. "Mas Renooo!" sapaku nyaring yang membuatnya dengan santai mengalihkan perhatian ke arahku. "Kenapa, Dek?" tanya Mas Reno sambil mengabaikan ember berisi pakaian basah yang telah sukses ia jemur separuhnya. "Ihhh Mas Reno mah ... itu jemur anuannya Adek kebalik tau. Biasanya kalau Adek jemur gambar bunga-bunganya madep ke bawah ih!" kataku menunjuk-nunjuk sepaket dalaman renda-renda bermotif bunga kesukaan Mas Reno buat di-ciat ciat ciat. "Mas kira hadap mana aja sama loh, Dek. Emang bakal mengurangi tingkat kekeringannya?" tanya Mas Reno bersama muka polosnya yang membuatku gemas untuk main gigit-gigitan. "Ihhhh madepin bawah aja, Mas! Ntar kalau ada pesawat lewat di atas rumah kita, Mas-Mas Pilotnya bisa oleng lagi gara-gara liat anuannya Adek. Adek, kan malu. Lagian, kan perjanjiannya cuma Mas yang boleh liat," ujarku tak lupa sambil mengedip-ngedipkan mata cepat semi genit ke arah Mas Reno. Tersenyum tenang, Mas Reno lalu mengangguk praktis sambil berkata, "Ya udah. Apa pun buat Adek." Ihhh mulai deh Mas Reno sok so sweet gitu! Jadi, ingin bermurah ria, kan diri ini buat ngajakin Mas Sayang ngadem di kamar. Eh! Dan ngomong-ngomong soal murahan, aku jadi teringat tentang makhluk bumi yang lambe-nya murah banget buat menghina dina. "Mas Reno!" panggilku lagi. "Hm?" gumam Mas Reno sambil melongok ke arahku, "Adek butuh sesuatu? Atau jangan-jangan Mas salah lagi yah ngejemurnya?" "Bukan!" jawabku cepat sambil menggeleng mantap. "Terus?" "Ada yang gawat Mas!" aduku cemas, mengigit-gigit bibir sambil memilin-milin ujung daster. "Apa?" tanya Mas Reno yang mukanya mendadak keruh. Suamiku ini bahkan langsung berlari menyongsongku. "Adek ngerasa mual? Bayinya nendang-nendang? Atau kenapa?" "Mas ihh, baru juga lima minggu masa si dedek udah kuat main tendang. Lagian, kan dia bukan bibitnya Ronaldo, dia, kan dari Mas Reno. Jadi, kalau nendang pun pasti lembut," ucapku terdengar sedang menjilat. Mengelus perutku yang rata dari permukaan daster, Mas Reno lalu berkata, "Kalau gitu. Yang gawat apanya dong, Dek?" "Itu ...." "Itu ... apa?" "Kak Mangga mau dateng Mas." Kemudian hening. Takut-takut, aku melirik wajah Mas Reno yang letaknya jauh melebihi puncak kepalaku. Namun, anehnya raut Mas Reno tetap damai saja. Sesaat aku malah melihat suamiku ini tersenyum kecil. Ih! Kok gitu sih? Kok Mas Reno malah stay ganteng? Nggak ngerasa terancam sama kehadiran Kak Mangga yang super ngeselin itu. "Mas nggak takut ketemu Kak Mangga?" tanyaku sambil meraih telapak tangan lebarnya yang terus mengelus area perut sana. Merapikan rambut-rambut nakalku ke belakang telinga dengan satu tangannya yang bebas. Mas Reno lalu menatapku mantap. "Selain takut sama Tuhan. Mas cuma takut kalau ditinggalin sama Adek." "Mas Renooo!" Aku langsung menubruk badan kokohnya. "Jangan ngomong gitu! Adek nggak suka!" "Oke. Oke. Maafin Mas yah?" Aku mengangguk sebagai jawabannya. "Tapi ... Mas beneran nggak takut?" tegasku sambil melonggarkan gembokanku pada tubuh Mas Reno. Bukannya aku ngeyel juga sih. Cuma yang kami bahas itu Manggala Ananta. Kakak tunggalku yang aduhai, mukanya aja sering nantangin minta diupilin. Apalagi tingkahnya. Bikin ingin ngarungin terus buang ke Samudera Hindia biar dimakan hiu betina. Ih kesel pokoknya! "Nggaklah. Kan, Kak Gala kakak ipar Mas. Adeknya aja ngegemesin masa kakaknya nakutin," ujar Mas Reno yang dari nadanya aja udah jelas bukan cuma buat sekadar menjilat. "Ihhhh! Kak Mangga, kan emang nggak sebanding sama Adek. Ngomong-ngomong ngapain sih Mas manggil Kak Mangga pake kakak mulu? Nggak pantes tau Mas dia dikakak-kakakin wong sikapnya aja kayak bocah kesepian yang haus belaian gitu," cerocosku keberatan akan kebaikan hatinya yang kadang keterlaluan. "Nggak boleh gitu ah! Nggak sopan, Dek. Gimana pun juga, kan Kak Gala lahir duluan dari Adek. Dan kayak janji Mas sama Papa, sama diri Mas sendiri bahwa Mas akan selalu menghormati Adek. Ketika sama Adek aja, Mas hormat. Masa sama kakak ipar nggak?" "Tapi, kan Kak Mangga udah jahatin Mas. Dia hampir buat pernikahan kita batal. Dia udah nuduh Mas macem-macem. Dia juga udah mukulin Mas tanpa alesan yang jelas. Adek nggak mau. Adek nggak mau Mas kenapa-kenapa," kataku tak terima. "Dek? Dengerin Mas yah? Jangan sampe ini malah jadi beban buat Adek, hm?" Mas Reno meremas halus bahuku demi mendapatkan perhatian seutuhnya. Merasa aku agak tenang, Mas Reno cepat-cepat melanjutkan, "Mas udah lupain itu, Dek. Itu udah dua tahun yang lalu. Mas sama Kak Gala juga udah menyadari kalau semuanya sebatas salah paham. Kami juga udah saling maaf-maafan. Dan kadang, sebagai pria cara kami nyelesein masalah emang agak sedikit brutal, Dek. Tapi, itu nggak berarti kalau kami musuhan atau dendaman. Adek jangan terlalu mikirin hal ini yah? Mas nggak mau kalau sampe terjadi apa-apa sama Adek dan calon anak kita. Please?" Mas Reno memohon ... kepadaku. Gimana aku nggak luluh coba? Gimana aku nggak ingin membajaknya coba? Ih! Walau aku menuruti mau Mas Reno. Tetap aja aku wajib waspada. Kedatangan Kak Mangga jelas sebuah ancaman. Dia mungkin bakal bangga kalau bisa bikin ulah lagi. Lagian, ngapain sih Kak Mangga pake balik dari Meksiko segala? Padahal aku udah berdoa sampe dower supaya Kak Mangga bisa nikah sama Esdoger, Esmeralda atau Eskelapamuda yang adem dan eksotis. Ih! Malah masih jomblo dan rusuh! Bikin kesel aja! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD