"Faktanya, Mas Reno begitu menyanyangiku, menyanyangi kami." . . . "Mas Reno?" Aku berbisik pelan sambil membuat celah di pintu kamar yang Rama tempati. Tampak sedang menepuk-nepuk bahu Rama, Mas Reno yang telinganya serajam kelelawar pun langsung menoleh ke arahku. "Apa? Sini!" kata Mas Reno tak kalah pelannya sambil menepuk pinggiran kasur yang kosong. Berjalan sambil menunduk, aku lalu merangsek naik ke ranjang serta bergegas tenggelam dalam rangkulan menghangatkan khas bahu kokoh milik Mas Reno. "Adek minta maaf," cicitku sembari melarikan lengan untuk melingkari area perut bertekstur keras bukti teramat seringnya suamiku ini berolahraga. "Emang Adek salah apa?" tanya Mas Reno yang agaknya bernuansa memancing. "Em, udah raguin, Mas, kan," jawabku seadanya. "Siapa y

