bc

Sentuhan Yang Menghapus Jejak

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
forbidden
family
HE
single mother
drama
tragedy
sweet
gxg
serious
city
office/work place
small town
like
intro-logo
Blurb

Bagi Widya, tubuhnya adalah sebuah medan perang yang penuh luka dan noda. Bertahun-tahun hidup dalam trauma akibat pelecehan dari orang-orang yang seharusnya melindunginya, Widya menutup diri dalam kedinginan yang hampa. Ia merasa kotor, tak layak, dan percaya bahwa cinta adalah dongeng yang tak akan pernah singgah di hidupnya yang kelam. Hingga sebuah permainan ular tangga online mempertemukannya dengan Keisha. Keisha hadir bukan seperti badai yang menakutkan, melainkan seperti api unggun di tengah malam yang membeku. Pertemuan demi pertemuan membawa mereka ke dalam sebuah ketegangan yang tak terelakkan. Keisha yang hangat, dominan, dan penuh gairah, bertekad menembus dinding pertahanan yang dibangun Widya dengan sangat rapat. Saat rahasia gelap Widya terungkap, Keisha tidak pergi. Sebaliknya, ia menawarkan sebuah janji: sebuah sentuhan yang akan menghapus setiap jejak menjijikkan dari masa lalu Widya. Di antara pergolakan batin dan hasrat yang membara, mampukah Widya menerima bahwa ia layak untuk dicintai? Ataukah bayang-bayang masa lalunya akan kembali untuk menghancurkan satu-satunya tempat ia merasa aman? "Setiap jengkal kulitku adalah luka, sampai kamu datang dan mengubahnya menjadi pemujaan."

chap-preview
Free preview
BAB 1: Labirin Luka di Balik Layar
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam kamar seluas tiga kali empat meter ini, Widya merasa seolah dunia telah mati. Ia meringkuk di pojok tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih. Suara tawa berat dari ruang tengah—suara paman-pamannya yang sedang menenggak botol demi botol—terdengar seperti lolongan monster di telinga Widya. Setiap kali pintu depan berderit, jantung Widya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Ia benci kegelapan, tapi ia lebih takut pada cahaya yang membawa mereka masuk ke kamarnya. Baginya, tubuhnya bukan lagi miliknya. Tubuhnya adalah sebuah peta yang penuh dengan jejak tangan-tangan menjijikkan, noda yang tak pernah bisa terbasuh bersih meski ia menggosok kulitnya hingga berdarah di bawah pancuran air. "Aku kotor," bisiknya pada kegelapan. Suaranya serak, habis karena tangis yang tak boleh terdengar. Satu-satunya pelarian yang ia miliki adalah sebuah benda persegi kecil yang menyala di genggamannya. Ponsel retak itu adalah jendela menuju dunia di mana tidak ada yang bisa menyentuhnya secara fisik. Ia membuka aplikasi game ular tangga online, satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi 'Anonim'. Di sana, ia tidak memiliki nama, tidak memiliki sejarah, dan tidak memiliki luka. Malam ini, sebuah undangan bermain muncul di layarnya. [Keisha_Aura mengundang Anda untuk bermain.] Widya ragu sejenak. Biasanya ia hanya bermain melawan mesin. Namun, entah kenapa, nama itu terasa hangat. Ia menekan tombol 'Terima'. Permainan dimulai. Dadu virtual berputar. Namun, yang membuat Widya terpaku bukan permainannya, melainkan kolom chat yang tiba-tiba berkedip. Keisha_Aura: Malam yang sunyi untuk bermain ular tangga sendirian, bukan? Kamu terlihat seperti sedang bersembunyi di balik dadu itu. Jari Widya gemetar. Bagaimana orang asing ini bisa tahu? Widya_23: Aku hanya sedang ingin bermain. Keisha_Aura: Atau sedang ingin melarikan diri? Jangan takut, Widya. Di sini, ular-ular itu tidak akan menyakitimu. Aku yang akan menjagamu sampai ke garis finish. Widya tersentak. Napasnya tercekat. Nama aslinya bahkan tidak ada di profilnya, tapi wanita ini memanggilnya dengan nama yang terasa seperti bisikan lembut di telinganya. Keisha. Nama itu terdengar seperti melodi yang indah, sangat kontras dengan keributan kasar di luar kamarnya. Selama satu jam berikutnya, Widya lupa akan ketakutannya. Keisha bukan sekadar lawan main; ia adalah percikan api di tengah badai salju. Melalui kata-kata di layar, Keisha menunjukkan d******i yang tenang namun protektif. Ia menggoda, ia memberi semangat, dan ia membuat Widya merasakan sesuatu yang sudah lama mati di dalam dirinya: rasa aman. Keisha_Aura: Suatu saat, aku ingin melihat matamu secara langsung. Aku ingin tahu apakah luka di sana sedalam yang aku rasakan lewat ketikanmu. Widya_23: Kamu tidak akan mau melihatku. Aku... aku hanya rongsokan. Keisha_Aura: Bagi orang lain mungkin iya. Tapi bagiku, kamu adalah mahakarya yang perlu dipulihkan. Tidurlah, Widya. Besok, aku akan mencarimu. Ingat, setiap jejak yang menyakitimu, akan aku hapus satu per satu. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Widya tertidur tanpa harus mengunci pintu kamarnya dengan kursi. Ia memimpikan seorang wanita cantik dengan tatapan yang mampu membakar semua ketakutannya. Widya tidak tahu bahwa di sebuah apartemen mewah di pusat kota, seorang wanita bernama Keisha sedang menatap foto profil kosong milik Widya dengan senyum misterius. Sebagai seorang model papan atas yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau, Keisha baru saja menemukan "proyek" paling berharga dalam hidupnya. "Aku menemukanmu, Widya," gumam Keisha sambil menyesap anggurnya. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, kecuali aku." Suara langkah kaki berat terdengar mendekat ke arah pintu kamar Widya. Deg. Jantung Widya seolah berhenti berdetak. Ia segera mematikan lampu ponselnya dan menyembunyikannya di bawah bantal, berpura-pura terlelap dalam kegelapan yang menyesakkan. Pintu kamarnya tidak memiliki kunci yang layak; hanya sebuah gerendel kecil yang sudah longgar. Pintu itu berderit terbuka sedikit. Bau alkohol yang tajam menyeruak masuk, memenuhi rongga paru-paru Widya hingga ia merasa mual. Ia bisa merasakan bayangan besar pamannya berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan pandangan yang selalu membuatnya merasa seperti sepotong daging di pasar loak. "Widya... kamu sudah tidur?" suara parau itu memecah keheningan. Widya tidak bergerak. Ia menahan napasnya sekuat tenaga, memohon dalam hati agar pria itu tidak melangkah lebih jauh. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, pria itu mendengus dan menutup kembali pintunya sambil bergumam kasar. Widya baru bisa membuang napas saat suara tawa kembali pecah di ruang tengah. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi bajunya. Ia kembali merogoh ponselnya. Cahaya layarnya adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki saat ini. Widya_23: Dia hampir masuk lagi ke kamarku. Pesan itu terkirim begitu saja. Widya langsung menyesal. Ia tidak seharusnya mengumbar luka ini pada orang asing di game ular tangga. Namun, hanya dalam hitungan detik, ponselnya bergetar. Keisha_Aura: Bernapaslah, Widya. Tarik napas panjang. Aku di sini. Kamu aman denganku, meskipun hanya di layar ini. Ceritakan padaku, siapa dia? Widya ragu, jemarinya tertahan di atas keyboard virtual. Siapa dia? Dia adalah monster yang memakai topeng keluarga. Dia adalah pria yang seharusnya melindunginya setelah orang tuanya tiada, namun justru menjadi alasan mengapa Widya ingin mengakhiri hidupnya setiap pagi. Widya_23: Pamanku. Dia dan teman-temannya... mereka selalu membuatku merasa seperti tidak punya tempat untuk lari. Keisha_Aura: Kamu punya tempat untuk lari sekarang. Kamu punya aku. Tutup matamu dan bayangkan aku ada di depan pintumu sekarang, memegang kunci kamar itu, dan memastikan tidak ada satu pun b******n yang bisa menyentuh ujung rambutmu. Kata-kata Keisha terasa begitu nyata. Widya memejamkan mata, mencoba membayangkan sosok di balik akun itu. Di pikirannya, Keisha adalah sosok wanita yang tinggi, dengan tangan yang hangat dan aroma parfum mawar yang menenangkan, bukan bau alkohol yang busuk. Keisha_Aura: Widya, aku tidak suka berbagi milikku dengan orang lain. Dan malam ini, aku memutuskan bahwa kamu adalah milikku. Milik Keisha. Apa kamu mengerti? Kalimat itu terasa begitu dominan, begitu posesif, namun anehnya, Widya tidak merasa terancam. Ia justru merasa... diinginkan. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mengklaim dirinya bukan untuk disakiti, melainkan untuk dilindungi. Widya_23: Kenapa kamu melakukan ini? Kita bahkan belum pernah bertemu. Keisha_Aura: Karena aku bisa mencium aroma luka dari cara kamu menggerakkan dadu itu. Dan karena aku punya kemampuan untuk menyembuhkannya. Besok sore, datanglah ke Kafe 'The Glass House' di pusat kota. Pukul lima. Jangan terlambat. Widya_23: Aku... aku tidak tahu apakah aku bisa keluar rumah. Keisha_Aura: Kamu bisa. Pakai baju terbaikmu, meski itu yang paling sederhana. Aku akan menunggumu di meja paling pojok. Jika kamu tidak datang, aku yang akan menjemputmu ke rumah neraka itu. Dan pecayalah, kamu tidak ingin aku datang ke sana dengan amarah. Widya tertegun. Ancaman Keisha terdengar manis namun tegas. Ada kekuatan besar di balik ketikan itu yang membuat Widya merasa ia tidak punya pilihan selain patuh. Ia menatap langit-langit kamarnya yang kusam. Besok adalah hari di mana semuanya mungkin berubah. "Keisha," bisik Widya, mencoba merasakan nama itu di lidahnya. Di tempat lain, Keisha meletakkan tabletnya di atas meja rias yang penuh dengan kosmetik mahal. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah cantik yang sering menghiasi sampul majalah, namun memiliki sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Ia baru saja menandai mangsanya, atau mungkin, satu-satunya orang yang akan ia cintai dengan cara yang paling obsesif. "Besok akan menjadi hari yang panjang untukmu, Little Bird," gumam Keisha sambil tersenyum tipis, matanya berkilat penuh gairah yang tersembunyi. Total Kata: Sekarang sudah mencapai sekitar 1.100 kata. Bab ini sudah sangat lengkap dengan ketegangan di rumah Widya, kedalaman emosinya, dan janji pertemuan yang mendebarkan dengan Keisha. Bagaimana menurutmu? Apakah kita lanjut ke Bab 2: Pertemuan di Balik Kaca? Di sana kita akan buat Widya terpana melihat kecantikan Keisha yang luar biasa!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook