Pernikahan

808 Words
Zani menatap lamat penampilannya dari pantulan cermin didepannya. Dengan kebaya putih gading melekat ditubuhnya dipadupadan dengan rok batik hitam yang membuatnya lebih terlihat mempesona. Matanya yang bengkak tidak terlalu kentara karena ditutupi oleh make up diwajahnya Pandangannya kosong, jantungnya berdebar, tangannya yang mendingin. Dia takut jika tidak bisa menjadi istri yang baik dan taat kepada suaminya. Hingga perkataan sang ibu membuyarkan lamunan ku. "Anak mama cantik sekali sih" Kata mama-nya yang baru saja datang. Zani menoleh sekilas lalu tersenyum menatap mamanya dicermin. "Makasih ma" "Zani sayang, harus berbakti kepada suami ya? Jangan jadi istri yang durhaka. Apa kata suami zani harus ikuti" Patuh dari mama nya tersayang. "Iya ma, insyaallah zani bisa jadi istri yang baik" Jawab Zani mantap. Lalu zani memegang tangan mamanya itu. "Ma, Zani tau kalau zani banyak salah. Zani juga banyak dosa sama mama. Maafin zani ya ma karna Zani udah jadi anak yang nakal dan ngecewain mama juga." "Sudah nak jangan menangis lagi, sebelum kamu minta maaf, mama sudah memaafkan kamu. Jangan nangis lagi, nanti anak kamu didalam perut ikutan nangis" Kata Damara sambil terkekeh geli dan mengelus perut rata sang putri. "Emang kalo zani nangis babynya juga bakalan ikutan nangis ya ma?" Tanya Zani polos. "Polos bgt sih kamu nak, padahal sudah mau jadi ibu" Monolog Damara dalam batinnya kemudian tersenyum kecut sekilas. "Ah sayang kamu sudah siap?" Tanya Damara mengalihkan pembicaraan. "Em sudah ma, tapi Zani sedikit gugup". Jujur Zani "Yasudah yuk kita turun kebawah, calon suami kamu sudah sampai". Kata Damara sambil membantu Zani berdiri. "Tapi ma, zani takut" Lirihnya "Takut kenapa sayang? Keluarga suami kamu baik ko, gabakalan makan kamu. Lagian apa yang kamu takut kan eouh?" Tanya Damara "Bukan itu ma" "Habis apa kalo bukan itu?" "Itu" Namun sebelum menjawab pertanyaan dari Damara, ketukan pintu pun terdengar. TOK TOK TOK "Zan, suda selesai? Segeralah turun. Ijab kabulnya akan segera dimulai" Teriak Damien dari luar. "Sudah bang, ini kita mau turun" Teriak Damara menjawab. "Ayo nak, gausah takut. Anak mama udah cantik ko" Zani hanya terseyum tipis lalu keluar kamar yang diapit oleh mamanya tersayang. Jantungnya berdebar kencang kala Arga menatapnya dengan datar, bahkan sangat datar. Zani duduk desebelah Arga. Lalu Arga menjabat tangan Ayahnya. "Apakah sudah siap?" Tanya sang penghulu "Siap" jawabnya datar "Silahkan dimulai pak" Kata pak penghulu itu kepada Ayahnya Zani. "Saudara Arga Alexandra Diandra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya. Sun Run Dinea Anzania dengan maskawin berupa uang 500 juta beserta satu set berlian dibayar tunai" "Saya terima nikah dan kawinnya, Sun Run Dinea Anzania dengan maskawin tersebut dibayar tunai" Kata Arga dengan satu tarikan nafasnya. "Alhamdulillah sah" Kata semua tamu yang berada dirumah zani Mendengar itu zani hanya menunduk seraya mengucapkan puji dan syukur "Dengan begitu kalian berdua sudah resmi menjadi Suami Istri. Dimata agama dan dimata hukum" Kata penghulu itu Pasangan suami istri yang baru saja menikah itu kemudian saling menukar cincin. "Silahkan cium tangan suaminya" Kata Penghulu Dengan tangan yang gemetar Zani mencium tangan Arga kemudian difoto oleh Fotografer pernikahan mereka. "Dan untuk mempelai pria, silahkan mencium kening istrunya." Kata Penghulu untuk kedua kalinya Dengan cepat Arga mengecup pelan kening Zani, tak lupa di abadikannya moment itu oleh sang Fotografer. SKIP MOMENT SETELAHNYA Didalam kamar tidak ada yang membuka suara, mungkin nyaris enggan untuk membuka topik, karna pasurti itu hanya saling diam dengan fikiran masing-masing. Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukuk sembilan malam, para tamu undangan juga sudah pulang. Saat ini mereka hanya berdua dirumah Zani. Karena kedua orang tua Arga sudah pulang sedari jam tujuh malam. Kemudian satu percakapan berhasil memecah keheningan "Kak Arga ga mau makan dulu?" Tanya Zani menatap Arga yang tengah tiduran diranjangnya. "Gw bukan kakak lo" jawab Arga ketus Wajah zani yang tadinya tersenyum manis, dengan perlahan senyuman itu malah menipis. "Te..terus zani harus panggil apa?" Arga menggedikan bahunya acuh dan tetap bermain game di hp nya. "Terserah" "Hm gimana kalo zani panggil Mas aja?" Tanya nya takut takut karena langsung ditatap tajam oleh Arga. "Sini lo" Panggil Arga, sedari tadi Zani hanya berdiri Dengan pelan dan perlahan Zani beranjak naik ketempat tidurnya. "Gw bilang sama lo ya, dengerin ini baik baik" Kata Arga Dan zani hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda jawaban "Jangan pernah berani jatuh cinta sama gw" Kata Arga penuh penekanan dan menunjuk Zani "Ingat pernikahan kita hanya atas dasar tanggung jawab. Dan satu hal, jangan pernah larang gw kalo gw mau keluar" "Mengerti?" Tambah Arga "Me..mengerti mas" Lirih Zani "Panggil gw kak, seenggaknya itu lebih enak didenger daripada Mas, lagian gw juga ga suka di panggil kek gitu". Setelah mengatakan itu Arga berbalik dan tidur. Zani hanya bisa menatap sendu punggung Arga. Dan sedikit membatin mengapa dia harus terikat dengan pria seperti Arga? Mengapa harus ia mempunyai takdir seperti ini? Zani mengusap air mata yang menetes dipipinya, kemudian dia berbaring dan menyusul Arga masuk kedalam dunia mimpi dan terlelap tentram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD