Kaki Zoya terus mundur sembari mengeratkan jaket yang tersampir di bahunya. Mata wanita itu berkaca-kaca melihat lelaki tambun yang terus mendekat. "Jangan, Pak ... saya enggak mau." Zoya menghiba dan berkali-kali menepis tangan si lelaki. Alih-alih merasa kasihan mendengar permohonan Zoya, lelaki itu malah tertawa mengejek. Dia berhasil mencengkeram lengan si wanita, menarik paksa lalu mengempas ke atas tempat ti-dur. "Dasar wanita mura-han! Jangan sok jual mahal sama saya!" hardiknya. Tangis Zoya semakin keras. Dia mencoba mempertahankan harga dirinya. Bayang-bayang pemer-ko-saan itu semakin jelas melintas di tempurung kepalanya, tubuh wanita tersebut menggigil. Air terus saja menetes ke pipinya laksana aliran sungai di musim penghujan. "Ayo, jangan buang-buang waktu atau kau ingin

