Kau Menang

1128 Words
Andai mem bu nuh tidak berdosa, Zoya akan menerkam dan meng ha bisi Septian detik ini juga. Habis sudah cinta untuk lelaki itu. Dia tidak mengerti, apakah matanya yang salah menilai atau memang sejak awal Septian sangat mahir berpura-pura. Satu tahun pernikahan semua masih terasa manis, meski soal keuangan lelaki itu memberi nafkah pas-pasan. Septian mengatakan hanya memberi sang istri seperlunya saja karena takut wanita itu boros. Padahal, Zoya bukanlah tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan uang. Bekerja selama lima tahun, dia mampu membeli sepeda motor dan mempunyai tabungan yang tidak sedikit. Akan tetapi, semua tabungan itu habis digunakan untuk resepsi pernikahan yang dilaksanakan di gedung. Saat itu dia tidak memiliki kecurigaan apa pun kepada Septian. Meski tanpa restu dari mamanya, Zoya tetap bahagia. Dia berpikir lambat-laun sang mama akan menerima suaminya. Zoya yakin jika Septian lelaki baik dan sangat bertanggung jawab. Ditambah status si lelaki sebagai karyawan di sebuah perusahaan ternama. Dia juga tidak berprasangka buruk ketika si lelaki memintanya resign dari pekerjaannya. Di tahun kedua Zoya mulai menyadari sifat asli sang suami. Septian sangat perhitungan dan membatasi gerak-geriknya. Bahkan, dia harus membuat camilan kerupuk, lalu dititipkan ke warung-warung untuk mendapatkan tambahan uang. "Pikirkan lagi. Daripada kamu enggak dapat apa-apa, lebih baik terima kesepakatan yang diajukan Septian." Mira ikut memengaruhi pikiran Zoya. "Diam kamu!" tukas Yani. Sejak tadi dia gemas melihat Mira. Dia tak percaya ada manusia tidak punya malu seperti wanita di depannya. Benar-benar memuakkan. "Semua terserah kamu, Zoya. Siapa yang kamu harapkan mau nerima kamu? Bahkan Mamamu sendiri enggak mengakuimu sebagai anak." Septian mencoba menghancurkan mental Zoya. "Kamu benar-benar lelaki bermulut busuk! Kalau bukan karna milih kamu dulu, Zoya ..." "Udah, Yan." Zoya memegang tangan Yani. Dia menggeleng pelan sebagai isyarat agar temannya tidak melanjutkan perdebatan itu. "Baiklah, aku setuju dengan kesepakatan yang kamu ajukan. Hak asuh anak, rumah, dan nafkah untuk anak sampai dia dewasa." "Zoya!" sela Yani, "kamu bisa dapatkan itu semua meski tanpa kesepakatan ini. Aku akan bantu kamu mendapatkan hak-hak kamu sekaligus melempar kedua orang itu ke penjara." "Lalu setelah itu apa? Apa semua bisa kembali seperti sedia kala? Apa lukaku bisa sembuh? Yang ada aku tambah capek harus bolak-balik ke kantor polisi dan pengadilan. Enggak, Yan ... aku lelah. Biar aja semua selesai sampai di sini." Yani ingin mendebat lagi, tetapi raut memelas Zoya membuatnya iba. Wanita itu benar-benar terlihat lelah. Lebam di wajah Zoya saja belum hilang, apalagi luka batinnya. Merasa di atas angin, Septian tersenyum. "Baiklah. Kamu tanda-tangani surat perjanjian itu." Septian menunjuk dengan dagu map yang dipegang Yani, "Dan ini." Dia menyerahkan satu map lagi ke tangan Zoya. Wanita itu membaca tulisan di atas kertas. Matanya menajam ke arah Septian. "Ini maksudnya apa?" geram Yani yang ikut membaca isi surat tersebut. "Seperti yang tertulis, akan lebih mudah kalau Zoya mengaku kalau dia yang selingkuh. Cukup satu kali sidang maka semua akan beres." "Astagfirullah! Iblis apa yang merasukimu?!" Mata Yani memelotot ke arah Septian. Di kertas kedua tertulis jika Zoya menerima dicerai oleh Septian dengan alasan sudah lama berselingkuh. Tentu saja Yani tidak terima dengan syarat tersebut. "Aku akan tambahkan seratus juta ke rekeningmu kalau kamu menandatangani kertas itu," janji Septian kepada Zoya. Dia sama sekali tidak merespon protes Yani. "Kamu ...." Yani terbelalak melihat Zoya mengambil kertas tadi dari tangannya, lalu menandatangani begitu saja. "Sudah, sekarang mana anakku?" tanya Zoya setelah tanda tangannya dibubuhkan di atas kertas. "Nanti diantar sama asisten rumah tanggaku," jawab Mira. Wanita itu terlihat puas dengan keputusan yang diambil Zoya. "Aku enggak nanya sama kamu!" balas Zoya ketus. "Surat ini akan kamu dapatkan setelah anakku, sertifikat rumah, dan uang seratus juta kamu transfer ke rekeningku." "Baiklah, nanti anak kita aku antar ke sini. Surat itu aku ambil besok setelah uang aku transfer besok dan untuk sertifikat tanah akan kuserahkan setelah sidang cerai putus." Zoya tersenyum getir mendengar Septian menyebut, 'anak kita'. Jika lelaki itu menganggap sebagai darah dagingnya, tentu tidak sampai hati menjadikan anak itu sebagai alat untuk menekannya. "Aku enggak habis pikir apa yang ada di otak dia!" dengkus Yani setelah Septian dan Mira keluar dari ruang perawatan Zoya. "Kamu juga terlalu gegabah. Harusnya kasih mereka pelajaran dulu, baru pikirkan perceraian." "Aku tahu, Yan ...." Pandangan Zoya jatuh ke tangannya yang dipasangi infus. Air mata mulai tergenang di kedua pelupuknya. "Andai aku diberi kesempatan kembali ke masa lalu, aku ingin memperbaiki semuanya. Patuh pada Mama dan menghindari pertemuan dengan Mas Tian." Yani diam mendengarkan Zoya menumpahkan beban yang mengimpit dadanya. Hati wanita berpakaian serba hitam itu tercubit melihat pendar di mata si wanita benar-benar lenyap. Tatapan Zoya kosong seperti tubuh tanpa jiwa. "Ini udah takdir, Zoya. Jangan pernah menyesali apa yang udah terjadi. Percaya, deh, pasti ada kebaikan di balik semua kejadian yang menimpamu." Zoya menanggapi nasehat Yani dengan senyum tipis. Sejujurnya, dia lupa kapan terakhir kali bersimpuh di hadapan Tuhan. Jadi, bagaimana mungkin Dia memberinya kebaikan? Mungkin semua kemalangan yang menimpa adalah hukuman untuknya. * "Kamu yakin baik-baik aja aku tinggal?" tanya Yani sembari meletakkan Azalea ke dalam boks bayi. Azalea berarti bunga indah yang bisa hidup di mana pun. Nama yang disematkan Zoya untuk putrinya dengan harapan kelak bayi cantik itu memiliki kepribadian yang tidak mudah menyerah, mampu bertahan dalam kondisi apa pun dan hidup di mana pun berada. "Iya, aku enggak apa-apa. Udah sebulan, Yan, aku udah kuat melakukan apa pun sendiri." Zoya tidak enak hati terus merepotkan Yani. Hampir setiap hari wanita itu mampir ke rumahnya. Tangannya pun selalu membawa kantong kresek yang berisi makanan. Zoya merasa berhutang budi kepada temannya itu. Satu janji dia sematkan di d**a, jika suatu hari Yani meminta sesuatu pasti akan diberikan selama dia sanggup. "Ya, sudah kalau gitu." Yani mengeluarkan tas kecil bertuliskan Berl Cosmetics, lalu meletakkan di depan Zoya. "Kamu pakai ini, deh. Insya Allah jerawat di wajah kamu menghilang dan muka kamu akan terlihat lebih bersih." Dahi Zoya berkerut. Dia menatap takjub tas kecil berwarna cokelat muda kekuningan yang diberikan Yani. "Kamu masih pakai produk ini?" Mata Zoya berpendar kagum menelisik wajah Yani yang terlihat sangat sehat. Kulit wanita itu bercahaya dan tampak sangat lembab. "Pantas kulitmu bagus." Yani tersenyum. Dia mengeluarkan empat buah produk dari dalam tas kecil tadi. "Ini dipakai rutin dua kali sehari biar hasilnya lebih maksimal. Cuci muka pakai cleanser, lalu kamu pakai toner, trus sunscreen, lanjut aplikasikan night cream. Insya Allah bekas-bekas jerawat juga bintik hitam memudar, kulit kamu bakal terlihat lebih glazed. Siap-siap mantan suamimu itu mohon-mohon balik sama kamu." Mau tidak mau Zoya tertawa melihat gerakan bola mata Yani ditambah raut malasnya saat menyebut, 'mantan suami'. Sementara Yani tersenyum bahagia karena setelah satu bulan dia bisa kembali mendengar Zoya tertawa lepas. "Kok, mandangnya kayak gitu banget?" tanya Zoya masih dengan sisa tawa di wajahnya. Yani menggenggam tangan Zoya dan berkata, "Berjanjilah padaku, apa pun yang terjadi enggak ada seorang yang bisa merenggut tawamu lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD