"Aku kenalin sama suamiku," ajak Yani begitu mendapat kabar suaminya sudah menunggu di depan rumah Zoya.
Zoya menggeleng, "Lain kali aja, masih banyak waktu."
"Ya, sudah, aku balik dulu, ya. Hari ini aku langsung pulang. Kamu baik-baik si sini, kalau ada apa-apa segera kasih tahu aku."
Yani memeluk Zoya erat-erat. Wanita itu sudah seperti saudaranya sendiri. Sayang sekali Zoya tidak datang saat pernikahannya dulu karena dilangsungkan di kota asal sang suami, lagipula Septian tidak mengizinkan istrinya ke mana-mana saat itu, hingga sang sahabat tidak sempat berkenalan dengan suaminya.
Senyum Zoya menghilang setelah mobil yang ditumpangi Yani menghilang dari pandangan. Dia menganjur napas dalam dan panjang, lalu memandang sekeliling. Dua orang tetangga melambai padanya, dia membalas dengan senyum tipis.
"Mbak Zoya, gimana kabarnya? Jarang keliatan sekarang," sapa salah satu tetangga yang melambai padanya.
"Baik, Mbak Ita."
Kedua orang itu gegas mendekat ke pagar, berdiri tepat di depan Zoya.
"Emm, jadinya gimana, Mbak? Jadi Septian nikah sama selingkuhannya?"
"Hust! Rani, kamu kok, nanyanya gitu?" Ita melirik Zoya yang wajahnya berubah mendung. "Maaf, Mbak Zoya, Rani ini mulutnya enggak ada remnya. Kepo aja sama urusan orang."
"Iya, Mbak, enggak apa-apa. Saya masuk dulu, ya." Zoya berbalik hendak menutup pagar rumahnya, tetapi Ita menahan lengannya.
"Maaf, ya. Saya bukannya mau ikut campur. Saya kasian aja kalau beneran Mbak Zoya dimadu sama pelakor itu. Kalau saya yang ngalamin, ogah. Mending pisah aja. Iya, kan?" Ita meminta persetujuan kepada Rani untuk pendapatnya.
"Iya, kalau aku yang ngalamin, udah kucakar muka pelakor itu. Mbak termasuk kuat, aku enggak bakal sanggup tinggal di rumah itu lagi. Pasti setiap saat ingat apa yang udah keduanya lakukan di sana."
"Mbak Zoya kelewat baik. Saya kasian sama Lea, baru lahir udah ngalamin kejadian kayak gini. Ayahnya enggak bertanggung jawab." Ita malah membawa-bawa nama Putri Zoya.
Kedua wanita itu sahut bersahutan mengujarkan empati untuk Zoya. Mereka tidak sadar, justru dengan mengungkit-ungkit kejadian satu bulan yang lalu seperti menaburi garam di atas luka Zoya. Padahal wanita berambut ikal panjang itu sudah berusaha melupakan semua kejadian buruk yang menimpanya, tetapi malah diingatkan kembali dengan kedok ikut bersimpati.
"Maaf, Mbak saya masuk dulu. Takutnya Lea nangis." Akhirnya Zoya menemukan alasan untuk pergi dari kedua orang tadi. Dia menutup gerbang, lalu gegas masuk ke dalam rumah. Dari balik tirai jendela dia masih bisa melihat kedua wanita itu berbisik-bisik dengan raut sinis menatap ke rumahnya. Zoya tersenyum tipis, topeng yang dipakai terlalu tebal hingga mudah saja memanipulasi perasaan orang. Sebentar bersikap seperti ibu peri yang sangat perhatian, tidak lama berubah menjadi penggosip yang menyebar aib tetangga.
Zoya menatap putrinya yang tertidur lelap di atas kasur lantai. Napas Lea teratur dan sangat tenang. Sesak menyergap dadanya bergitu saja melihat wajah Azalea. Putrinya yang malang. Dia pikir kehadiran anak mereka akan membuat Septian lebih perhatian dan bersikap lembut padanya. Setiap malam angan-angan tak lelah wanita itu rajut tentang masa depan keluarga mereka. Dia, Septian, dan sepasang anak mereka. Akan tetapi, inpiannya tercabik karena kenyataan yang teramat pahit.
Jari wanita itu menyentuh pipi saat menyadari buliran bening yang lolos begitu saja dari kedua sudut mata. Lengkung senyum getir kembali terulas dari bibir Zoya. Entah kapan dia bisa sembuh dari luka yang ditorehkan Septian. Lelaki itu bahkan tidak peduli pada darah dagingnya. Sejak mengembalikan Azalea padanya, tidak sekalipun Septian menengok putri mereka. Zoya mencium pelan pipi kemerahan putrinya, menghirup aroma khas bayi yang satu bulan ini menjadi favoritnya. Air matanya kembali menetes di pipi Lea. Lagi-lagi dia menangis mengingat takdir yang dituliskan Tuhan untuknya. Kisah masa lalu berulang, kepedihan tidak mengenal siapa ayahnya kini jatuh kepada putrinya.
*
Zoya baru saja menidurkan bayinya di dalam kamar ketika pintu rumah diketuk dari luar. Dia melirik jam di dinding kamar, pukul delapan malam, benaknya bertanya-tanya siapa yang bertamu di malam hari. Dia tidak punya teman selain Yani. Apa Septian? Zoya menggeleng seraya tersenyum sumbang, tidak mungkin lelaki itu mengunjunginya.
Ketukan terus terdengar berkali-kali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Zoya mengintip dari jendela, dahi wanita itu berkerut melihat seorang wanita dan dua orang lelaki bertubuh kekar berdiri di depan pintu. Dia mengingat-ingat, rasanya tidak mengenal ketiga orang itu.
"Siapa, ya?" tanya Zoya begitu pintu terbuka.
"Mana Septian?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Zoya, salah seorang lelaki bertubuh tegap tadi bertanya dengan nada keras kepada Zoya.
"Dia enggak tinggal di sini lagi." Zoya menatap ketiga orang di depannya dengan sorot tidak suka.
"Kami enggak peduli, yang penting uang nya harus dibayar karna sudah jatuh tempo." Lelaki yang kulitnya lebih gelap dari lelaki pertama ikut bicara.
"Utang?" Dahi Zoya berkerut, "utang apa? Siapa yang berutang?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Zoya, ketiganya malah tertawa dengan raut mengejek menatap si wanita.
"Suami kamu punya utang sama saya dan menjadikan rumah ini sebagai jaminan." Akhirnya wanita bertubuh kurus dengan dandanan menor angkat bicara, membuat Zoya terperangah.
"Ap ... apa?" Zoya menggeleng, "enggak, kalian pasti bohong. Mas Tian enggak pernah bilang apa soal hutang, apalagi menggadaikan rumah ini."
Wanita yang Zoya kira bos kedua lelaki itu mengeluarkan sertifikat rumah serta surat perjanjian hutang dari dalam tas, lalu memperlihatkan kepada Zoya. Mata wanita itu terbelalak melihat tanda-tangan dan nominal yang dipinjam Septian.
"I ... ini enggak mungkin. Saya enggak pernah tahu ada hutang ini." Zoya panik karena tak mungkin baginya membayar utang sebenar tiga ratus juta. Untuk makan saja dia berhemat karena uang yang dijanjikan mantan suaminya sengaja diendapkan di tabungan dan akan digunakan untuk tambahan modal usaha.
"Masalah kamu tahu atau enggak bukan urusan saya. Di surat perjanjian jelas tertulis kalau batas waktu pembayaran sudah lewat dan rumah ini akan saya sita."
Zoya menggeleng. Dia mendorong kedua orang yang hendak merangsek masuk ke dalam rumahnya.
"Enggak, ini rumah saya. Saya juga punya sertifikatnya. Kalian pasti penipu!" Jeritan Zoya memancing perhatian para tetangga. Mereka menatap ingin tahu apa yang sedang terjadi. Ada yang menatap prihatin ingin menolong, tetapi takut terlibat. Ada juga yang berbisik-bisik sembari menatap sinis. Alih-alih iba, keributan itu menjadi bahan gibahan untuk mereka.
"Saya sudah periksa sertifikat ini ke BPN dan asli, mungkin suamimu nipu kamu, punya kamu yang palsu!"
Keributan semakin riuh. Zoya tetap bersikukuh tidak akan menyerahkan rumahnya, sementara sang retenir terus memaksa hingga kekacauan itu terlerai berkat kedatangan ketua RT.
Lelaki yang dituakan di lingkungan mereka segera mengajak semua yang bertikai masuk ke dalam rumah Zoya untuk membicarakan dengan kepala dingin. Lelaki yang sebagian rambutnya berwarna putih mendengarkan dengan sabar cerita dari keduanya. Setelah paham duduk perkara, sang ketua RT meminta sertifikat yang dipegang Zoya dan sang rentenir. Dia memeriksa secara online nomor registrasi yang tertera di kertas berharga tersebut. Helaan napasnya terdengar berat setelah hasil pengecekan keluar.
"Gimana, Pak?" tanya Zoya harap-harap cemas. Dia yakin sertifikat yang diberikan Septian asli.
Sang ketua RT menatap Zoya dengan sorot prihatin. "Maaf, Mbak Zoya, sertifikat yang dipegang Mbak ini asli, sementara yang kamu punya palsu."
"APA?!" Mata Zoya melebar mendengar perkataan ketua RTnya. "Enggak mungkin, Pak. Septian menjanjikan rumah ini sebagai syarat perceraian kami."
Wanita rentenir tadi mengambil sertifikat miliknya seraya tersenyum mengejek. "Mungkin kamu ditipu sama Septian, mau aja dikasih sertifikat palsu." Dia bangkit dari kursi dan menatap ke arah ketua RT. "Pak, semua sudah jelas, ya. Saya akan kasih waktu satu hari buat dia mengosongkan rumah. Lewat dari itu jangan salahkan saya bertindak keras."
Si rentenir mencibir ke arah Zoya, lalu meninggalkan rumah wanita tersebut diikuti kedua pengawalnya.
Sang ketua RT tidak bisa berkata apa-apa karena perjanjian jelas hitam di atas putih, yang bisa dia lakukan hanyalah meminta Zoya bersabar, meski tahu bukan itu yang wanita tersebut butuhkan.