Sudah sebulan lebih Caitlin hidup bersama Noah dan kini menjadi asisten pribadinya. Tidak banyak pekerjaan yang dia lakukan, karena asisten utama Noah adalah Haiden.
Sudah Noah katakan dulu, kehadiran Caitlin sebagai asistennya bukan karena dia butuh pegawai baru, dia hanya ingin Caitlin ada di dalam jarak penglihatannya dan selalu bersamanya. Sekali lagi, jangan bilang hal itu karena cinta! Mengerti?
"Cait, hari ini aku ada rapat tentang pembangunan hotel, jam berapa?" Tanya Noah sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
Haiden sedang dia tugaskan untuk memantau perkebunan anggur yang lagi-lagi di 'jahili' oleh musuh Noah.
"Jam dua" jawab Caitlin.
Noah mengangguk "kau sudah siapkan semuanya?"
"Sudah. Semua sudah siap tanpa kurang satu dokumen apapun"
"Bagus. Kau semakin pintar"
Caitlin berdecak sambil memutar bola matanya "aku memang pintar"
Noah hanya mengangguk. Harus dia akui, ada banyak kemajuan yang terjadi kepada Caitlin. Tidak seperti saat dia menjadi pendatang baru di dunia manusia. Caitlin kini sudah sangat beradaptasi.
Jika saat awal, kepolosan Caitlin tidak berbeda dengan bodoh. Kini dua kata itu sudah bisa terlihat berbeda, dalam artian, Caitlin sudah tidak terlalu bodoh. Tapi tetap cukup polos jika bersama Noah dan Haiden. Noah juga sering mengingatkan Caitlin untuk menjaga image nya. Tidak di hadapan Noah dan Haiden, tapi kepada yang lain, dihadapan orang lain.
Bagaimanapun, siapa saja yang ada disisi Noah, akan selalu menjadi sorotan, jika Caitlin tidak bisa menjaga image, dia pasti akan menjadi topik utama para wanita yang suka menggosip. Merasa diri mereka lebih segalanya dari Caitlin, meskipun kenyataannya mereka jauh dibawah Caitlin.
Bagi Noah, Caitlin sekarang adalah bentuk dari wanita sempurna. Caitin juga memiliki tingkat kepekaan sangat tinggi, dia dapat dengan mudah membaca kondisi sekitar dan mudah merespon secara emosional atau fisik terhadap apa yang terjadi di lingkungan. Benar-benar seperti cheetah.
Caitlin bisa manipulatif tapi rasa kepedulian dan murah hatinya juga tidak boleh diragukan serta jangan lupakan karisma yang dimiliki Caitlin, sungguh "wow" siapapun pasti tidak akan bosan melihat Caitlin, dia pantas menjadi seorang perempuan sosialita.
Bukan tanpa alasan Noah menjabarkan Caitlin dengan hal seperti itu. Wajah Caitlin memang bukan termasuk wajah ramah, seperti wajah Noah, tapi dibalik wajah itu, ada rasa sensitif yang benar-benar besar. Caitlin bisa mudah menangis, merasa kasihan atau mudah tersentuh.
Hal itulah yang membuat Caitlin menjadi dewi pelindung di mansion Noah. Sebutan dari para pegawainya. Karena saat Noah memarahi pegawai, Caitlin akan membela mereka dan balik memarahi Noah. Luar biasa bukan?
"Noah, boleh makan es krim terlebih dahulu? Kita masih ada waktu satu jam. Boleh ya?" Pinta Caitlin dengan wajah sendu dan mengacungkan jarinya menandakan angka satu.
Noah menghela napas "Cait, kau sudah banyak makan es krim. Kurangi"
"Sudah aku kurangi. Biasanya aku sudah makan es krim tujuh kali, hari ini aku baru makan lima" kali ini Caitlin mengakat tangannya, memperlihatkan lima jari kanan miliknya.
"Tidak. Kau bisa sakit"
Caitlin langsung cemberut "Noah. Es krim itu enak" rajuk Caitlin.
"Aku tahu Cait"
"Jadi boleh?"
"Tidak!"
"Noah!"
"Tidak ada debat, Cait"
"Aku kan tidak mengajak debat. Aku ingin es krim"
"Tidak ada es krim!"
"Noah! Es krim itu enak!"
"Tidak, Cait!"
"Noah. Boleh ya?"
Noah menggelengkan kepalanya "tidak. Kenapa kau masih belum kapok juga? dua minggu lalu kau sakit karena terlalu banyak makan es krim"
"Sekarang kan tidak banyak, jadi tidak sakit"
"Sedikit versi mu, itu banyak! Tidak ada debat. No is no!" Tegas Noah.
Caitlin menghentakan kakinya "kau menyebalkan!"
Noah hanya mengangkat bahunya, toh dia melakukan itu semua demi kebaikan Caitlin. Saat pertama kali Caitlin mencoba es krim, dia sempat diam beberapa detik, membuat Noah khawatir hingga akhirnya dia mengerjap dan mengatakan otaknya beku dengan senyum lebar dan mata berbinar. Seperti anak kecil.
Hingga setelah itu, Caitlin memproklamirkan jika es krim adalah yang terbaik, sama seperti daging.
***
"Jaga matamu atau ku hancurkan kepalamu" tegas Noah sambil menatap tajam arsitek yang menangani pembangunan hotelnya. Sejak kedatangan Noah bersama Caitlin, arsitek itu terus mencuri pandang kepada Caitlin. Noah tahu, tapi mencoba menahan, hingga pembicaraan mereka berakhir. Beruntung laki-laki muda itu pintar dan memiliki kinerja yang bagus, jadi Noah bisa menahan untuk tidak menembak kepalanya ditempat.
"Ba-baik. Maaf tuan" arsitek muda itu langsung menunduk. Mengutuk dirinya karena aksinya diketahui oleh sang bos.
"Ayo Cait" Noah berbalik arah, Caitlin mengangguk lalu mengikutinya.
Baru tiga langkah, Caitling langsung berhenti dan secara otomatis, Noah juga ikut berhenti.
"Ada apa?" Tanya Noah.
Caitlin langsung menyipitkan matanya dan melihat ujung alat pemberat yang lumayan tinggi "segera perbaiki, aku merasa jika alat itu akan rusak, mungkin ada bagian yang rusak" ucap Caitlin yang kini tangannya sudah menunjuk bagian yang dimaksud.
Noah mengangguk, selama ini, insting Caitlin tidak pernah salah. Berbalik arah, Noah langsung membicarakan alat yang perlu langsung diperbaiki kepada penanggung jawab. Dia tidak ingin hal buruk terjadi. Sudah beruntung ada Caitlin yang memberi tahu. Sangat bodoh jika setelah ini masih ada kecelakaan kerja.
"Baik. Akan langsung kami perbaiki" jawabnya.
Noah mengangguk, lalu kembali melangkah menuju mobil dan pergi dari tempat pembangunan hotel.
"Aku tidak suka orang yang tadi, dia terus melihatku. Dia seperti predator. Jika aku tingat tempat dan ucapanmu tentang menjaga image, sudah aku tendang dia sampai terbang" gerutu Caitlin saat mobil sudah bergerak menjauh dan bergabung dengan pengguna jalan raya lain.
"Jika hal seperti itu terjadi lagi, kau boleh langsung membuat perhitungan, aku izinkan kau untuk memukul, menendang bahkan mencakar wajahnya. Aku juga tidak suka dia melakukan hal itu kepadamu, bukan hanya dia, siapapun, kecuali aku"
"Tahu begitu, sudah ku rontokan giginya"
"Kau lapar?" Noah mengganti topik pembicaraan.
"Tidak, tapi jika kau mau memberiku es krim, perutku masih sangat muat"
Noah menyentil kening Caitlin sampai membuat Caitlin meringis dan membalas dengan menjambak singkat rambut Noah.
"Cait!" Noah merasakan panas di kepalanya.
"Kau lebih dulu! Jidatku sakit!"
Noah menghela napas sambil menutup mata. Untung di mobil hanya ada dia, Caitlin dan sopir. Jika orang diluar sana, termasuk kakeknya melihat bagaimana Caitlin bersikap kepadanya. Hancur sudah wibawanya. Apalagi kakeknya, seumur hidup, dia akan terus diledek. Sialnya lagi adalah Noah tidak pernah sakit hati dengan apa yang dilakukan Caitlin. Ajaib! Padahal jelas itu adalah penghinaan. Ingat! Peng-hi-na-an!
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah ditengah perkebunan anggur yang luas. Rumah yang biasa Noah tempati untuk istirahat atau menginap jika tubuhnya sudah terlalu lelah untuk kembali ke mansion.
Turun dari mobil, Haiden langsung menyambut kedatangan Noah dan Caitlin.
"Sudah kau bereskan?" Tanya Noah sambil melangkah menuju kedalam rumah.
"Sudah tuan. Otak dari segala 'keusilan' juga sudah ditemukan. Perusahaan DK. Mereka sengaja mengusik kita agar produksi kita menurun dan beberapa persen pasar yang kita miliki bisa mereka ambil"
"Lakukan seperti apa yang mereka lakukan" suruh Noah.
"Baik tuan"
"Bagaimana dengan tanah?"
"Semua lancar, besok pagi kita sudah bisa menandatangani suratnya. Tapi, para pemilik tanah ingin bergemu langsung dengan anda. saya berharap, pemiliknya tidak berubah pikiran"
"Oke. Kalau begitu kita menginap disini"
Haiden mengangguk "baik tuan"
"Kau hebat Haid" Caitlin mengacungkan jempolnya lalu mengikuti langkah Noah menuju kamar.
"Menginap itu artinya kita tidur disini kan?" Tanya Caitlin setelah menutup pintu kamar.
"Bukan. Di kolong jembatan"
"Kau ingin aku cakar ya?! Kau saja sana!" Kesal Caitlin lalu mencopot sepatu hak tingginya sembarangan.
"Besok, apa saja yang akan kita lakukan disini?" Tanya Caitlin lalu duduk di sofa yang ada di dekat kaca.
"Disini, aku adalah bos nya dan kau asistennya, kenapa kau malah tanya kepadaku?"
"Kau tahu sendiri, Haiden yang mengatur semuanya, aku kan hanya membantu dia" sahut Caitlin tidak mau kalah.
"Kalau begitu tanya saja pada Haiden"
"Sebenarnya kau kenapa? Rasanya semakin menyebalkan saja!" Kesal Caitlin. Wajahnya cemberut. Mengalihkan pandangan, Caitlin membuka sedikit tirai dan yang dia dapatkan hanyalah pamandangan kebun anggur yang gelap.
Noah tersenyum, melepaskan semua kancing bajunya tanpa melepaskan baju di tubuhnya, hanya di biarkan terbuka. Lalu melangkah dan duduk di sebelah Caitlin yang masih cemberut.
"Kau tidak mengerti candaan ya?"
Caitlin berdecak lalu menatap tajam Noah "bercanda mu menyebalkan!"
Noah tertawa pelan, lalu menarik tubuh Caitlin, merengkuhnya, memeluknya.
"Aku suka menggoda mu, membuat mu marah, itu menyenangkan"
"Kau memang ingin di cakar ya!"
Noah kembali tertawa, lalu mengusap lembut kepala Caitlin "sebelum kau datang, hanya Haiden yang ada di sampingku. Kami tidak pernah tertawa ataupun bercada-"
"Itu karena kau sangat menyebalkan!" Potong Caitlin.
Noah mengangguk "betul! Bagiku, tidak ada yang menarik dan lucu untuk aku bicarakan. Bercanda adalah hal yang aku anggap hanya membuang waktu. Tapi semua berubah sejak kau datang, rasa ingin menggoda dan membuatmu marah selalu muncul. Kau lucu. Sama sekali tidak menakutkan. Meskipun tendangan atau cakaranmu juga tidak boleh aku anggap sepele"
Caitlin tersenyum dalam dekapan Noah, entah kenapa, mendengar hal menjengkelkan yang di ucapkan Noah tidak membuatnya marah.
"Jangan sering-sering! aku bisa marah sungguhan dan kabur dari rumah. Asal kau tahu, aku ini pemberani" sahut Caitlin yang kini melingkarkan tangannya di pinggang Noah.
"Sejauh apapun kau kabur, aku akan mencarimu dan menemukanmu"
Caitlin berdecak, tapi kemudian tersenyum "awas saja kalau kau tidak bisa menemukanku"
"Tidak akan, aku pasti akan menemukanmu dimanapun kamu berada"
"Baguslah. Baru kali ini aku mendengar kau berbicara lembut dan tidak membuat darah tinggi"
"This woman! Menhancurkan suasana sekali!"
***
"Bangun nona pemalas" Noah mencubit pelan pipi Caitlin.
"Aku masih ingin tidur Noah" Caitlin mengubah posisinya yang menghadap kiri, kini menghadap kanan.
"Kau harus bekerja nona. Ingin gajimu aku potong?" Ancam Noah.
Mata Caitlin langsung terbuka sempurna "berani kau potong gaji ku? Kita akan perang! Enak saja!" Kesal Caitlin. Jujur saja, Caitlin sendiri belum tahu, uang yang diberikan Noah selama ini akan dia pakai untuk apa. Makan? Noah membayarkannya. Beli pakaian? Tas? Sepatu? Semua Noah yang menyiapkan. Uangnya benar-benar utuh tanpa tersentuh sepeserpun.
"Kalau begitu, cepat mandi dan bersiap"
"Baju gantiku bagaimana?"
"Haiden sudah membawanya"
Caitlin tersenyum lebar "Haiden memang yang terbaik!"
"Cepat bangun, mandi. Aku tunggu di ruang makan"
"Okay"
Noah pergi keluar kamar dan Caitlin segera mandi. Tidak butuh lama untuk dia mandi dan bersiap. Dasarnya orang cantik, tidak perlu make up tebal saja sudah terlihat sangat luar biasa.
"Agenda hari ini" ucap Noah sambil memotong roti miliknya. Sedangkan Caitlin tengah mengunyah daging.
"Hari ini tuan tidak terlalu sibuk, hanya memiliki tiga agenda. Pertemuan dengan pemilik tanah, kunjungan ke restoran, lalu rapat dengan pemilik jaringan hotel luar negeri" jelas Haiden.
"Batalkan kunjungan ke restoran. Suruh mereka mendatangi ku ke mansion besok"
"Baik tuan"
"Haid, kau sudah sarapan?" Tanya Caitlin sambil memotong daging miliknya.
"Sudah nona"
"Kau tidur nyenyak?"
"Saya tidur nyenyak nona"
"Bagus kalau begitu"
"Kau perhatian sekali pada Haiden" celetuk Noah.
"Sesama pekerja harus saling perhatian"
Noah berdecak "peraturan dari mana itu"
"Diam dan lanjutkan saja makan anda, tuan Noah"
Selesai sarapan, Noah, Caitlin, Haiden dan para pengawal langsung pergi ke pemilik tanah yang akan dibeli oleh Noah.
Jadi di sebelah perkebunan anggur milik Noah, ada sebuah lahan perkebunan yang ditanam beberapa jenis sayuran. Noah ingin memperluas kebun angggur miliknya, jadi dia akan membeli perkebunan itu.
"Good morning Mr. Joel. Ini Mr Noah" Haiden langsung mengenalkan Noah kepada pemilik tanah.
Nama Noah memang bukan nama yang asing, tapi sosoknya atau bertemu langsung, tidak mudah dilakukan.
"Halo Mr. Noah" Joel menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dan Noah membalasnya.
Setelah perkenalan singkat, mereka langsung berbicara hal inti, karena Noah juga bukan tipe orang yang akan berbasa-basi dan ramah. Hingga mereka sepakat dan surat yang memang sudah disiapkan sebelumnya oleh Haiden langsung ditandatangani oleh mereka. Tanah perkebunan itu resmi milik Noah Alrico.
"Oh iya, Mr. Noah. Tunggu sebentar saja. Keponakanku akan datang, dia bilang ingin bertemu anda" ucap Joel.
Noah mengerutkan keningnya lalu mengangguk singkat "aku bisa menunggu, tapi tidak lebih dari sepuluh menit"
"Baik-"
"Aku sudah hadir!"
Noah dan semua yang ada di dalam ruangan langsung menatap ke arah pintu. Dimana muncul sosok wanita cantik dengan tampilan seperti model tengah tersenyum lebar.
"Halo Kak Noah, kita bertemu lagi"
***