"itu semua apa?" Bisik Caitlin pada Haiden yang ada di sebelahnya.
Noah tengah berada di panggung, untuk secara simbolis penyerahan beberapa pesawat yang dibelinya. Dari perusahaan kepada dirinya.
"Pesawat" balas Haiden yang juga berbisik.
"Pesawat?" Ulang Caitlin yang belum mengerti.
Haiden mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu di mesin pencarian lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Caitlin.
"Nona bisa baca ini, pasti langsung mengerti" ucap Haiden yang ternyata mencari arti dan pengertian tentang pesawat di mesin pencari.
Caitlin langsung mengambil ponsel Haiden, matanya dengan cepat membaca setiap baris kalimat yang ada dilayar. Sesekali dia juga mengangguk.
"Ini-" Caiylin menyerahkan kembali ponsel Haiden. "Tapi apa yang ditulis ini apakah benar? Sebesar itu bisa terbang? Kau tahu? Burung unta yang besar, dia tidak bisa terbang, padahal dia adalah burung. Badannya terlalu berat, mungkin jika kurus, dia akan terbang. Kasian sekali dia"
"Apa anda sedang body shaming terhadap butung unta?" Tanya Haiden.
"Apa itu body shaming?" Tanya Caitlin.
"Mengejek atau menghina dengan komentar tentang bentuk tubuh"
Caitlin langsung menggeleng "tidak! Aku tidak meledek. Aku kan bicara fakta" bibir Caitlin cemberut.
"Tapi maaf nona, jika perkataan seperti itu di ucapkan, itu akan membuat lawan bicara anda kurang nyaman atau bahkan sakit hati"
Caitlin membukatkan matanya "benarkah?! Wah! Kau ajari aku ya, tentang apa yang tidak boleh diucapkan kepada manusia lain, aku tidak suka menyakiti orang lain. Tapi jika orang itu jahat, aku tidak bisa menjamin akan bersikap baik kepadanya."
Haiden mengangguk "baik nona, akan saya beritahu, atau, anda perlu guru khusus untuk mengajarkan?"
"Tidak mau! Aku bisa diajari oleh kau dan Noah. Tidak perlu guru yang membosankan"
"Baik. Tanyakan apapun yang ingin anda ketahui"
"Okay. Tapi, benda kotak tadi apa namanya? Aku selalu lupa bertanya, sepertinya benda itu penting dan semua manusia memilikinya"
"Ini telepon genggam, atau sekarang lebih dikenal dengan smart phone. Kau bisa berkomunikasi, bertukar kabar, video, foto bahkan mendengar lagu dengan ini" jelas Haiden.
"Woahhh! Apa sehebat itu?"
Haiden mengangguk "iya. Sehebat itu"
"Aku juga mau!"
"Mau apa?"
Caitlin dan Haiden langsung menatap Noah yang datang dan duduk di kursinya.
"Sepertinya obrolan kalian sangat menyenangkan hingga mengabaikan aku, bukan begiti Haiden?" Noah menatap Haiden dengan sebelah alis terangkat.
"Maaf tuan. Saya hanya berusaha menjawab pertanyaan nona Caitlin"
"Apa yang kau tanyakan Cait?"
"Beberapa. Tapi salah satunya, aku ingin smart phone!" Jawab Caitlin.
"Untuk apa?"
Caitlin berdecak "manusia pasti butuh itu dan aku manusia, Noah!" Jawab Caitlin dengan kesal.
"Baiklah. Haiden, kau urus" suruh Noah.
"Baik tuan"
Setelah acara resmi selesai, masuk ke tahap uji coba. Noah akan terbang dengan pesawat yang dibelinya untuk merasakan kenyamanan atau kondisi pesawat yang nantinya akan dia sewakan kepada para konglomerat.
"Jantungku berdegup kencang" bisik Caitlin kepada Noah saat mereka akan naik tangga pesawat.
"Jika tidak berdegup, kau mati, Cait" jawab Noah santai lalu menaiki undakan tangga.
Caitlin memukul punggung Noah "kau suka sekali bicara sembarangn. Menyebalkan!" Protesnya. Sejujurnya, para tamu undangan yang datang cukup penasaran dengan kehadiran Caitlin yang bisa dibilang sangat akrab dengan Noah dan asistennya.
Mereka mulai menabak, siapa sesungguhnya sosok Caitlin. Tidak aneh jika berita tentang Noah yang banyak mengencani wanita tersebar di media. Tapi Noah yang membawa wanita ke acara bisnis adalah suatu hal aneh. Pria kaya itu terkenal sangat pintar memisahkn urusan bisnis dan pribadi.
Tiba didalam pesawat, Caitlin duduk di samping Noah. Sedangkan Haiden duduk bersama pengawal yang lain, ada beberapa pengawal yang ikut. Bagaimanapun, semua demi keamanan.
Pramugari mulai memberikan instruksi, Noah membantu Caitlin memasangkan sabuk pengaman dan memintanya agar tetap tenang.
"Bagaimana kalau kita jatuh?" Tanya Caitlin saat pesawat sudah mulai bergerak.
"Maka kita akan mati"
Caitlin langsung mencubit lengan Noah "kau selalu bicara sembarang! Jangan kau ulang lagi!"
Noah hanya mengangkat bahunya.
Pesawat terus bergerak, Caitlin yang baru pertama kali naik pesawat dan merasa takut, hanya bisa menggenggam tangan Noah. Hingga waktu critical eleven terlewati.
"Jangan takut lagi, lihat ke kaca yang ada di sebelahmu" suruh Noah.
Caitlin langsung menatap ke arah kaca. Matanya langsung membulat dan tubunnya condong ke arah kaca. "Bagus sekali. Luar biasa!" Kagum Caitlin melihat pemandangan kota dari ketinggian.
"Pesawat. Luar biasa!" Caitlin mengacungkan jempolnya.
"Kau suka naik pesawat?" Tanya Noah.
Caitlin mengangguk "suka. Lebih suka daripada naik mobil. Aku merasa menjadi burung. Luar biasa!" Jawab Caitlin penuh antusias.
"Pesawat ini milikku. Kita bisa sering naik jika kau ingin"
Lagi, maga Caitlin membulat "kau serius? Ini milikmu? Waw!"
"Ingat Cait. Aku ini kaya"
Caitlin langsung berdecak "aku mendengar, sepertinya kau sedang sombong lagi kan? Menyebalkan"
"Itu fakta Cait"
"Terserah kau saja, Noah"
***
Pintu ruangan Noah dibuka dengan kencang oleh Allard, pria paruh baya itu sangat kesal kepada keponakannya dan memilih mendatangi langsung kantor Noah.
"Sialan! Apa yang kau bicarakan dengan ayahku?!" Bengak Allard langsung.
Melihat adik ayahnya itu marah, Noah malah begitu sangtai. Baginya, marahnya orang bodoh dan tidak berguna, tidak menakutkan sama sekali.
"Jawab aku sialaan!" Bentak Allard lagi.
"Memangnya apa yang dilakukan oleh kakek ku?" Tanya Noah dengan santai.
Allard menggeram, tangannya mengepal karena menahan diri ingin melayangkan tinjuan ke wajah Noah.
"Sebentar. Apa kakek memberikan peternakan? Wah! Benarkah? Luar biasa" lanjut Noah.
"Brengs*k!" Maki Allard.
"Tolonglah berkaca, kau pantas di berikan itu. Karena kau bisa membuat kakekku miskin di usinya yang mendekati kematian. Selain itu, aku yakin, kuda dan domba disana pasti sangat mengerti da cocok dengan mu" sinis Noah.
Allard langsung meludah "lihat saja. Kau pikir aku akan diam? Lihat dan tunggu kehancuranmu bocah sialaan" geram Allard lalu melangkah pergi, keluar ruangan Noah.
Noah menghela napas. Merasa senang karena sang kakek menuruti sarannya. Ini benar-benar hal terbaik untuk pamannya.
"Noah, kau sedang apa?" Caitlin masuk kedalam ruangan Noah. Hari ini dia resmi menjadi pegawai Noan.
Noah mengerjap "tidak ada. Kau darimana Cait?"
Caitlin langsung tersenyum lebar, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan meja Noah "aku berkeliling kantor. Luar biasa! Aku sekarang punya teman! Tapi aku kesal karena mereka banyak sekali bertanya tengtang kau! Menyebalkan"
Noah tersenyum sombong "aku kaya dan terkenal, semua wanita pasti menyukaiku"
Caitlin kembali berdecak "lagi, kau terlalu sombong. Ngomong-ngomong, siapa yang membuka pintu ruangan dengan sangat keras? Apa kau sedang marah-marah?"
"Tidak. Hanya saja ada orang gila yang masuk"
"Orang gila? Apa itu?"
"Lihat. Harus ku sebut apa dirimu selain sebutan bodoh? Kau bisa melihatnya di internet, Cait"
"Aku tidak bodoh! Enak saja kau! Mau aku cakar lagi ya?!"
Noah langsung merasa bulu kuduknya merinding. Cakaran Caitlin tidak main-main. Teringat saat malam dimana Caitlin menerjangnya, mencakarnya dengan begitu ganas. Bahkan perihnya juga masih terasa hingga kini. Dasar manusia cheetah! ganas!.
***