Aksi Kepahlawanan

1205 Words
Mendengar suara bel sekolah, semua anak-anak keluar dari kelas dengan membawa tas mereka. Raut wajah anak-anak itu menunjukkan ketidaksabaran untuk segera menemui orang tua mereka. Mereka berjalan bersama teman akrabnya masing-masing, kecuali Noah. Dia hanya melangkah seorang diri menuju ke halaman sekolah. Tidak ada satu anak pun yang menyapanya, karena dia dianggap sebagai orang aneh. Sambil menunggu Seanna keluar dari kelas, Noah berdiri di dekat gerbang. Ia menatap anak-anak yang berlarian ke pelukan ayah atau ibunya. Dalam kondisi begini, Noah merasa rindu untuk memeluk kedua orang tuanya yang bahkan dia tidak bisa mengingat bagaimana wajah mereka. Hampir sepuluh menit berlalu, Seanna belum muncul juga. Untuk mengusir rasa bosan, Noah kembali fokus melihat ke arah jalanan. Dia memandangi dua orang teman sekelasnya yang sedang bermain kejar-kejaran. “Ayo kejar aku, aku tahu kau payah,” ucap Ryan mengejek Kevin. “Aku akan menangkapmu lihat saja,” balas Kevin tidak mau kalah. Mereka berdua kembali bermain kejar-kejaran hingga ke jalan raya. Tiba-tiba saja Noah melihat sebuah mobil hitam meluncur dari arah berlawanan. Supir mobil itu sudah menyalakan klakson tetapi anak-anak itu tidak mau menyingkir. Mobil itu melaju semakin kencang dan semakin mendekat ke arah Kevin. Noah spontan berlari dan menarik tangan Kevin agar segera menyingkir dari jalanan. Mereka berdua pun terjatuh di pinggir trotoar. Wajah Kevin terlihat sangat syok karena kejadian yang berlangsung begitu cepat. Dia bisa terluka parah jika saja Noah tidak menyelamatkannya tepat waktu. “Kau tidak apa?” tanya Noah. Seanna yang baru keluar dari sekolah sangat terkejut melihat salah satu muridnya hampir tertabrak mobil. Ia juga menyaksikan bagaimana Noah dengan berani menyelamatkan temannya dari kecelakaan. Noah rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi Kevin. “Kevin, Noah, kalian tidak apa-apa?” tanya Seanna segera berlari menolong mereka. “Lenganku hanya tergores sedikit, Miss,” jawab Kevin. Seanna beralih menatap Noah. Tangan pria itu juga terluka karena terbentur trotoar. “Aku baik-baik saja, Anna. Antar saja Kevin ke ruang kesehatan,” ucap Noah sebelum Seanna bertanya kepadanya. Teman-teman sekolah Noah yang melihat peristiwa itu pun memberikan tepuk tangan kepada Noah. Mereka sungguh terpukau oleh aksi heroik yang dipertunjukkan Noah. “Kau hebat, Noah.” Gwen sangat kagum dengan Noah. “Kau seperti pahlawan super,” puji Daniel dan Jason. Noah hanya tersenyum malu-malu. Ia tidak menyangka keberanian kecilnya akan sangat dihargai oleh teman-temannya. *** “Noah, ayo kita pulang,” ajak Seanna setelah selesai mengurus Kevin dan mengobati luka Noah. Mereka berdua pulang dengan mengendarai mobil milik Seanna. Mobil itu memang sudah tua, tetapi Seanna merasa bangga karena bisa membelinya dengan hasil keringat sendiri. Sebelum mengemudikan mobilnya, Seanna lebih dulu memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Noah. “Noah, aku sangat bangga padamu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan muridku, Kevin,” ujar Seanna setulus hati. Noah hanya tersenyum. Sesungguhnya ingin menolong Kevin bukan karena ingin dipuji, melainkan untuk membuat Seanna bahagia. “Noah, aku berjanji akan memberikanmu hadiah karena kamu sudah berani menyelamatkan teman sekolahmu. Kamu boleh mengajukan tiga permintaan kepadaku dan aku pasti mengabulkannya.” Mendengar Seanna akan memberikannya hadiah, membuat Noah tersenyum lebar. “Benarkah, Anna? Kamu tidak berbohong?” “Iya, aku janji akan mengabulkan apapun permintaanmu.” “Asyik, aku akan mendapatkan hadiah dari Anna! Hadiah apa yang bagus ya?” Noah berpikir keras mengenai hadiah apa yang akan dia minta kepada Seanna. Di saat yang bersamaan, Seanna mendapatkan panggilan dari kekasihnya, Andrew. Sambil tersenyum, Seanna menerima panggilan tersebut. “Halo, Sayang, kamu ada dimana?” sapa Andrew dari balik telpon. “Aku dalam perjalanan pulang ke rumah, kelasku sudah selesai. Kamu sedang apa, Andrew?” “Aku sedang membalas email dari bosku di Boston. Berhati-hatilah saat menyetir, Sayang. Aku tidak mau kamu terluka.” Seanna tersenyum senang mendapatkan perhatian dari Andrew. Sedangkan Noah hanya diam duduk di kursinya, mendengarkan percakapan mesra antara Seanna dan Andrew. “Andrew, tidak biasanya kamu menelponku jam segini. Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?” tanya Seanna penasaran. Andrew terkekeh dari balik telepon. Ia sengaja membuat Seanna semakin penasaran. “Andrew, tolong jelaskan ada apa?” desak Seanna. “Aku ingin mengajakmu pergi makan malam. Kita kencan berdua di restoran yang spesial. Apa kamu mau, Sayang?” Pipi Seanna merona. Ia sangat tersanjung dengan ajakan Andrew yang selalu bersikap romantis kepadanya. “Tentu saja, mengapa harus bertanya? Aku pasti mau pergi denganmu, Andrew.” “Malam ini, aku sudah menyiapkan kejutan istimewa untukmu,” tambah Andrew. “Sungguh? Kejutan apa yang akan kamu berikan untukku, Sayang?” “Coba tebak, Sayang. Jika aku memberitahumu sekarang maka itu tidak akan menjadi kejutan lagi.” Seanna semakin dibuat penasaran dengan teka-teki yang dilontarkan Andrew. Namun ia menahan diri untuk tidak bertanya lagi, karena sudah pasti Andrew akan merahasiakannya. “Seanna, aku akan menjemputmu pukul tujuh.” Seanna melihat ke arah jam tangannya. Dia harus cepat pulang karena ini sudah pukul lima sore. Tadi kepulangannya tertunda akibat mengurus masalah Kevin. “Baiklah, sampai jumpa, Andrew.” “Berdandanlah yang cantik, Sayang. Aku mencintaimu,” rayu Andrew sebelum menutup panggilannya. Usai menerima telpon dari Andrew, Seanna menambah kecepatan mobilnya. Ia tidak ingin terlambat menyiapkan diri hingga membuat Andrew harus menunggu terlalu lama. “Anna, kenapa kamu sangat terburu-buru seperti ini?” tanya Noah terkejut. “Andrew akan mengajakku makan malam. Aku tidak bisa membuatnya menunggu lama, Noah.” “Makan malam di mana?” “Aku belum tahu. Sekarang aku harus segera bersiap-siap, supaya saat Andrew datang kami bisa langsung berangkat.” Karena tergesa-gesa, Seanna menaikkan kecepatan mobilnya. Hal ini menyebabkan Noah gemetar, karena ia seperti mengalami dejavu atas peristiwa tragis yang pernah menimpanya. “Anna, aku takut. Pelan sedikit.” “Tenang, Noah. Aku akan lewat jalan pintas yang tidak terlalu ramai supaya kita cepat sampai.” Seanna pun berbelok dan memilih untuk melewati jalanan kecil. Jalan itu lebih sempit dan banyak sekali pepohonan rindang di kiri dan kanannya. Namun tiba-tiba saja Seanna merasakan keanehan pada mobilnya. “Astaga, ada apa ini? Apa yang terjadi dengan mobilku?” “Ada apa, Anna? Kenapa mobilmu tersendat-sendat begini?” tanya Noah menutup kedua telinganya. Dan benar saja, mobil yang dikemudikan Seanna mendadak berhenti begitu saja. “Oh tidak, kenapa harus sekarang,” pekik Seanna merasa frustasi. Wanita cantik itu hanya bisa pasrah saat mobilnya mogok di bawah pepohonan besar. Seanna sangat kebingungan apa yang harus dia lakukan sekarang. Terlebih di jalan kecil ini jarang sekali dilalui orang. “Bagaimana aku bisa mengatasinya? Di daerah sini juga tidak ada bengkel,” keluh Seanna. Dia menyandarkan kepalanya di dashboard mobil karena frustasi. “Anna, kenapa mobilmu berhenti sendiri?” “Mobilnya mogok, Noah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Untuk meredakan kepanikannya, Seanna terdiam sebentar. Hingga akhirnya, perempuan muda itu memutuskan untuk turun dari mobil. “Anna, kamu mau apa?” tanya Noah mengerjapkan kedua matanya. “Noah, tetap di dalam mobil, aku akan memeriksa mesin mobil ini.” Sembari menghela napas panjang, Seanna membuka mesin lantas memeriksa kondisi radiator mobilnya. Seanna terlihat kebingungan melihat banyaknya kabel yang terpasang di dalam mesin itu. “Aku tidak mengerti tentang mesin mobil. Seharusnya aku belajar sedikit tentang otomotif supaya bisa memperbaiki mobilku sendiri,” gerutu Seanna. Dia terus menatap ke arah mesin mobil. Seanna berpikir siapa yang bisa dimintai tolong dalam keadaan genting seperti ini, sementara di dekatnya hanya ada Noah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD