Kamu adalah Obatku

1125 Words
Tiba-tiba saja, Noah turun dari mobil dan berjalan mendekati Seanna. “Anna, tolong bergeser. Biarkan aku yang memeriksa mesin mobil ini.” “Jangan, Noah, kamu tidak tahu soal mobil. Aku harus mencari pertolongan.” “Tidak perlu, aku bisa memperbaikinya.” Seanna tidak percaya, dia masih meragukan kemampuan Noah dalam memperbaiki mobil. “Kamu tidak akan bisa, Noah. Tolong jangan membuat kekacauan. Aku tidak bisa membiarkanmu meledakkan mobilku.” Seanna terus berusaha melarang Noah tetapi pria itu tidak menghiraukannya. “Jangan khawatir, aku bisa melakukannya. Caranya mirip ketika aku memperbaiki mainanku. Kamu tidak perlu khawatir, serahkan saja padaku, Anna,” bujuk Noah. “Mobilku berbeda dengan mainanmu, Noah.” “Tenang saja, Anna. Aku janji akan membuat mobilmu jalan lagi. Mana peralatanmu?” Dengan berat hati, Seanna pun menyerahkan peralatannya kepada Noah. Dia membiarkan Noah mengutak-atik mesin mobilnya walaupun ia takut pria itu akan memperparah kondisi mobilnya. Ia sungguh tidak punya pilihan kali ini. “Noah, tolong berhati-hatilah,” ujar Seanna takut-takut. Seanna bergerak menjauhi mobilnya sambil sesekali menutup mata. Sudah terbayang bagaimana mobilnya akan mengeluarkan asap seperti di film-film. Namun saat Seanna membuka mata, ia terkejut menyaksikan Noah masih sibuk memperbaiki mobilnya. Tangan pria itu sangat cekatan, seolah ia mengerti setiap bagian dari mesin yang ada di mobil. Di luar dugaan Seanna, dalam waktu kurang dari setengah jam Noah sudah selesai. Ia tersenyum lalu mengelap dahinya yang berkeringat. Ekspresinya terlihat sangat puas. “Sudah selesai. Anna, coba kamu jalankan mobilnya.” “Kamu yakin?” Seanna masih belum percaya dengan kehebatan Noah. “Cepat nyalakan mesinnya, Anna,” ulang Noah. Seanna pun masuk ke mobilnya lalu duduk di kursi kemudi. Ia menarik napas sebentar sebelum menyalakan mesin mobil sesuai permintaan Noah. Dengan was-was, Seanna memutar kunci sambil menghitung mundur di dalam hati. Tak disangka mobilnya hidup kembali. “Noah, kamu sangat hebat!” seru Seanna takjub. Untuk kesekian kalinya, ia dibuat kagum dengan kemampuan Noah yang tak terduga. Ternyata di balik sikapnya yang kekanak-kanakan, Noah memiliki bakat terpendam. “Kamu memang anak yang hebat, aku bangga padamu. Kamu cerdas, Noah.” Noah melonjak kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan permen. “Aku anak yang hebat, aku memang hebat.” “Iya, aku akan menambah hadiahmu nanti. Sekarang ayo kita pulang,” ajak Seanna. Setelah Noah masuk ke mobil, Seanna segera mengarahkan mobilnya keluar dari jalan kecil itu. Namun dalam perjalanan, Noah mendadak memegang kepalannya seraya mengaduh kesakitan. “Akkkhh!” Noah mengerang kesakitan. “Noah, apa yang terjadi?” tanya Seanna seraya menepikan mobilnya. Pria itu tidak kunjung menjawab tetapi wajahnya terlihat pucat. “Noah, ada apa?” tanya Seanna panik. “Kepalaku berdenyut, Anna, seperti tertusuk jarum,” keluh Noah. Pandangan Noah membuyar. Di dalam kepalanya dia melihat seperti potongan film dengan adegan silih berganti yang tidak jelas. Noah melihat seorang wanita yang terus memanggilnya dengan suara samar. Namun ketika wanita itu mendekat, wajah Seanna yang terlihat olehnya. “Anna, tolong aku,” desis Noah. “Noah, apa kepalamu sakit sekali? Pasti kamu kelelahan karena menolong Kevin dan memperbaiki mesin mobilku. Seharusnya kamu tidak boleh memaksakan diri,” ucap Seanna sangat cemas. Seanna memegang tangan Noah yang sedingin es. “Noah, tenanglah kita pergi ke rumah sakit sekarang.” Noah menggeleng perlahan. Ia tidak mau Seanna membawanya lagi ke tempat yang mengerikan itu. “Tidak Anna, itu tidak perlu. Berikan saja aku pelukanmu, aku akan baik-baik saja,” pinta Noah. Melihat Noah yang kesakitan, Seanna pun tidak tega menolak permintaannya. Seanna memeluk Noah dan menyandarkan kepala pria itu di pundaknya. “Apakah sudah lebih baik?” tanya Seanna merasakan Noah mulai tenang. “Sudah lebih baik, tetapi biarkan seperti ini dulu sampai rasa sakitnya benar-benar hilang.” “Baiklah, aku akan mengusap punggungmu agar rasa sakitnya cepat hilang.” Seanna mengelus pelan punggung Noah untuk membuat pria itu nyaman. Ia membiarkan Noah memejamkan mata, meresapkan belaian tangannya yang lembut. “Noah, apakah rasa sakitnya masih terasa?” tanya Seanna dengan cemas Noah pun melepaskan pelukannya dari Seanna sambil membenahi posisi duduknya. “Sudah tidak sakit. Menatapmu dan memelukmu adalah obat yang paling ampuh untukku. Terima kasih, Anna,” ucap Noah sambil menatap sayu wajah Seanna. Seanna seolah terhipnotis oleh mata biru Noah. Dia merasakan getaran aneh di dalam dadanya. Namun Seanna segera menghempaskan perasaannya itu. “Kalau begitu aku akan melanjutkan perjalanan pulang kita. Kamu bersandar saja di kursi, Noah.” Noah mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di kursi. Seanna pun mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik Noah dari spion. Ia ingin memastikan pria itu tidak kesakitan lagi. Mengetahui Seanna memperhatikannya, Noah pun tersenyum simpul. Ketika mereka telah tiba dirumah, Noah melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Kemudian ia meletakkannya di rak. “Noah, pergilah mandi.” Seanna meminta Noah untuk segera mandi dan makan malam dengan Julie. “Noah, selesai makan kamu minum obat lalu tidur. Kamu harus istirahat,” perintah Seanna. “Baik, Anna.” Setelah mandi, Noah pun beranjak ke meja makan. Ia melihat Julie sudah duduk dengan tatapan sinis. “Selamat makan.” Noah mengucapkannya dengan takut-takut. Selesai makan, Julie pun membasuh tangannya lalu pergi ke dalam kamar Seanna. Dia melihat putrinya yang baru saja selesai mandi lantas berdandan di depan cermin. “Seanna, kamu akan pergi?” tanya Julie. “Iya, Andrew memintaku untuk makan malam dengannya.” Seanna memoleskan riasan tipis yang membuat wajahnya tampak semakin cantik. Dia memakai gaun hitam selutut yang sangat cocok membingkai lekuk tubuhnya. Selesai merias diri dan menyisir rambutnya, Seanna keluar dari dalam kamar. Melihat penampilan Seanna yang begitu cantik, Noah berdecak kagum. Ia memandang Seanna tanpa berkedip. “Anna sangat cantik,” puji Noah dengan mata berbinar. Suara bel rumah yang dibunyikan beberapa kali, membuat Julie berjalan ke arah pintu. Ia yakin itu adalah calon menantu kesayangannya. “Selamat malam, Mom.” Andrew tersenyum dengan sopan kepada Julie. Tangannya membawa sekuntum bunga mawar berwarna merah. Ah, dia sungguh pria yang tepat untuk mendampingi Seanna. “Selamat malam, Andrew, silakan masuk. Seanna sudah menunggumu.” Andrew melangkah dengan mantap ke dalam rumah. Begitu melihat Seanna yang cantik dengan balutan gaun hitam, Andrew langsung terpesona. Semakin hari, ia semakin tergila-gila pada kekasihnya ini. “Kamu sangat cantik, Sayang.” Andrew langsung memeluk dan memberikan ciuman ringan di bibir Seanna. “Andrew, hentikan. Ada Mommy dan Noah yang melihat kita,” tolak Seanna merasa malu. “Biarkan saja, Sayang. Aku ingin mereka tahu kalau aku sangat mencintaimu. Ini untukmu.” Andrew memberikan sekuntum mawar yang dibawanya. Seanna tersenyum sangat bahagia mendapat hadiah manis dari Andrew. “Terima kasih, Sayang.” “Ayo, kita pergi, sekarang,” ajak Andrew melingkarkan lengannya di pinggang ramping Seanna. Ketika Seanna dan Andrew hendak pergi, Noah tiba-tiba saja menghalangi langkah mereka. Seanna terlihat bingung dengan sikap Noah. “Noah, ada apa?” “Aku mau ikut makan malam dengan Seanna.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD