Andrew langsung melotot kepada Noah. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi hingga membentak Noah dengan keras.
“Berhenti main-main, Noah!”
Andrew mengacungkan jari telunjuknya ke wajah pria itu. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun.
“Kau jangan coba-coba merusak acara kencanku dengan Seanna,” ujar Andrew hendak mencengkeram baju Noah. Namun Seanna segera menahannya.
“Andrew, tenang. Kita harus bersabar dengan Noah karena dia masih anak-anak. Aku akan memberikan pengertian kepadanya,” bujuk Seanna. Andrew pun mundur sambil berdesis kesal.
Pandangan mata Seanna berpindah kepada Noah yang nampak ketakutan karena bentakan Andrew.
“Noah, kamu tidak boleh ikut. Ini acara orang dewasa. Lain kali aku pasti akan mengajakmu makan malam.”
Noah terdiam lalu menunjukkan ketiga jarinya kepada Seanna.
“Sewaktu di mobil, Anna mengatakan akan mengabulkan tiga permintaanku. Ini permintaan pertamaku. Aku ingin ikut makan malam bersamamu karena aku bosan di rumah.”
Seanna ingat bahwa dia telah berjanji akan memberikan Noah tiga hadiah karena telah menolong Kevin. Namun, bukan berarti Noah bisa mengganggu acara kencannya bersama Andrew. Bagaimanapun dia harus membujuk Noah supaya membatalkan keinginannya.
“Noah, kamu tadi sakit kepala. Seharusnya kamu sekarang tidur.”
“Aku sudah sehat, Anna. Kalau Anna tidak mau mengajakku, aku akan menangis. Anna sudah ingkar janji,” rajuk Noah.
Karena terlanjur mengucapkan janji, Seanna tidak tega menolak permintaan Noah.
“Baiklah, kamu boleh ikut asalkan tidak rewel.”
“Tidak, Anna! Bagaimana mungkin kita membawa Noah?”
Andrew menatap Seanna dengan tatapan marah dan kecewa.
“Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita berdua saja, tanpa gangguan,” tegas Andrew.
“Andrew, aku berjanji kepada Noah untuk memberinya hadiah, karena dia telah menolong salah satu muridku dari kecelakaan. Aku tidak bisa melanggar janjiku kepadanya.”
Andrew sangat kesal dengan jawaban Seanna. Dia pun menghela napas kasar. Sungguh pria menyebalkan bernama Noah ini selalu merusak rencananya.
“Baiklah, kita akan membawa Noah. Namun jika dia berulah di restoran, aku akan meninggalkannya di tempat itu,” ancam Andrew.
Pada akhirnya, mereka berdua membawa Noah untuk ikut makan malam. Ternyata Andrew mengajak Seanna makan malam di restoran rooftop di sebuah hotel bintang empat. Dari ketinggian, Seanna bisa melihat pemandangan kota Kansas di malam hari.
Seanna semakin terkesima saat melihat lilin dan sekuntum mawar telah disiapkan di atas meja. Mungkin inilah kejutan romantis yang dimaksudkan oleh Andrew.
“Wow Andrew, ini sangat indah. Terima kasih.”
“Sama-sama, Sayang. Silakan duduk, ratuku,” ucap Andrew menarik kursi untuk Seanna.
Dengan senang hati, Seanna duduk di kursi berbalut kain putih itu. Belum sempat Andrew duduk, Noah sudah mengambil kursi lebih dulu di samping Seanna. Ulah Noah ini membuat Andrew kembali dibuat geram.
“Wah, bunga mawar!”
Noah mengambil bunga mawar merah di atas meja lalu memainkannya dengan jemari. Andrew mengetatkan rahangnya. Tangannya sudah gatal ingin melempar Noah dari ketinggian supaya tidak menjadi hama pengganggu.
“Bisakah kau menyingkir dari sini!“
Andrew kembali ingin memarahi Noah, tetapi Seanna lebih dahulu memegang tangannya. Ia menggeleng pelan sebagai pertanda supaya Andrew menahan emosinya.
“Tidak apa, Andrew. Tenanglah, aku tadi sudah menerima mawar darimu.”
Seanna berusaha untuk membuat Andrew bersabar menghadapi Noah, dengan cara memegang tangan lelaki itu.
“Anna, lihatlah bunga ini sangat cantik sepertimu.”
Noah malah memberikan bunga mawar itu kepada Seanna dengan wajah tanpa dosa.
“Iya, mawarnya cantik.”
Seanna mengambil bunga dari tangan Noah lalu meletakkan lagi di tempatnya semula.
“Seanna, kenapa kamu tidak menyerahkan dia saja ke kantor polisi? Kenapa harus berhari-hari dia tinggal denganmu?”
“Andrew, aku mohon tetaplah tenang. Aku bukannya tidak mau membawa Noah ke kantor polisi, tetapi kamu lihat sendiri dia menangis dan ketakutan. Aku tidak ingin dia membuat kekacauan. Noah akan tetap bersamaku sampai dia pulih sepenuhnya.”
Andrew menghela napas panjang. Dia tidak akan bisa menang dalam adu argumen dengan Seanna.
“Sayang, bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Semuanya lancar, aku hanya mencemaskan dirimu saja. Aku tidak ingin pria asing mengganggu hubungan kita.”
Seanna kembali tersenyum. Wajar jika sang kekasih merasa cemburu. Pria mana yang rela kekasihnya tinggal seatap dengan pria lain.
“Sayang, tolong berikan aku kepercayaanmu. Dokter sudah memastikan bahwa Noah pikirannya seperti anak usia sembilan tahun. Dia tidak akan merayuku atau berbuat macam-macam.”
Andrew menyentuh wajah Seanna yang terasa sangat halus. Seanna memang wanita yang pantas menjadi idaman para lelaki.
“Aku hanya ingin kamu tahu, aku sangat mencintaimu, Sayang.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Andrew. Aku akan menjaga hatiku hanya untukmu.”
Andrew tersenyum. Dia merasa sedikit lebih tenang setelah wanita yang dia cintai berusaha untuk membuatnya percaya. Andrew yakin Seanna adalah wanita yang setia.
“Baiklah, aku percaya kepadamu. Aku tidak akan lagi curiga kepada Noah dan akan fokus dengan rencana pernikahan kita,”
“Pernikahan?”
Seanna sangat terkejut dengan pernyataan Andrew barusan.
“Anna, pernikahan itu seperti apa?” tanya Noah menopang dagunya.
“Pernikahan itu bersatunya pria dan wanita dewasa dalam ikatan suci.”
“Jadi harus dirayakan di Gereja?”
“Diam, Noah!” hardik Andrew. Pria itu kembali menatap Seanna dengan tatapan redup.
“Kejutanku akan lebih dari ini, Sayang. Tunggu dan lihatlah.”
Andrew melambaikan tangan untuk memanggil pelayan. Seorang pelayan wanita bergegas datang dan menanyakan apa yang ingin mereka pesan.
“Permisi, Tuan, Nona, ingin pesan apa?” tanya pelayan itu bersiap mencatat pesanan.
“Aku ingin es krim!”
Noah mengangkat tangannya dengan semangat seperti anak-anak.
“Tolong siapkan makanan paling spesial yang ada di restauran ini untuk couple, Nona. Kami akan merayakan pernikahan sebentar lagi,” sahut Andrew sambil melirik nakal kepada Seanna.
“Baik, Tuan.”
Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka.
“Andrew, apakah kamu bercanda atau kamu hanya sekedar menggodaku?”
Seanna masih tidak mengerti dengan perkataan Andrew yang menyinggung soal pernikahan.
“Sayang, mengapa aku harus bercanda dengan wanita secantik dirimu? Tunggu kejutan terbesar dariku setelah ini.”
Noah kembali memainkan bunga mawar merah di atas meja. Ia merasa bosan mendengar kalimat-kalimat bernada rayuan yang diucapkan Andrew.
“Permisi, ini pesanannya, Tuan.”
Dua orang pelayan menata makanan dan minuman dengan rapi di atas meja. Melihat es krim yang tersaji di depannya, Noah tersenyum senang. Dia mengambil sendok es krim itu dan menyuapi Seanna.
“Anna, apa rasanya enak?”
Seanna mengangguk sambil tersenyum. Melihat kedekatan Seanna dan Noah, hati Andrew terbakar amarah. Dia tidak akan membiarkan Noah menang darinya. Andrew pun langsung menjentikkan jari untuk memulai kejutan manisnya.
Tak berselang lama, seorang pemain biola datang ke meja mereka. Ia mengalunkan lagu cinta yang begitu syahdu di telinga Seanna. Musik indah itu membuat Seanna semakin menikmati makan malamnya.
“Ini sangat romantis, Andrew. Aku menyukainya,” puji Seanna.
“Tunggu sebentar, Sayang. Aku masih punya kejutan terindah.”
Andrew merogoh sakunya. Pria itu mengambil kotak kecil berwarna merah lalu membukanya perlahan. Ia menunjukkan isinya kepada Seanna. Sebuah cincin emas yang begitu cantik
Andrew mengeluarkan cincin dari kotak itu lalu menyematkannya di jari manis Seanna. Cincin bermata putih yang berkilau itu sangat serasi dengan jari Seanna.
“Seanna, menikahlah denganku. Aku sudah meminta kepada Pendeta untuk memberkati pernikahan kita minggu depan.”
Mata Seanna berkaca-kaca. Dia tidak mengira bahwa Andrew akan menikahinya secepat itu.
“Seanna, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi istriku?”
Andrew mengecup punggung tangan Seanna sambil menatapnya dalam-dalam. Hati Seanna sangat tersentuh menerima lamaran dari Andrew.
“Iya, aku mau, Andrew,” jawab Seanna terharu.
Seanna dan Andrew berpelukan erat, saling menyalurkan rasa bahagia satu sama lain. Namun berbeda dengan yang dirasakan Noah. Wajahnya tampak murung melihat Seanna bersedia menjadi istri Andrew.
‘Jika Anna menikah, maka aku akan kehilangan dia untuk selamannya,’ pikir Noah sedih.