Noah berusaha menghabiskan makanan di piringnya. Ia tidak ingin Seanna mengetahui kesedihannya karena Seanna telah menerima pinangan dari Andrew.
“Aku akan mengurus segala persiapan, Sayang. Nanti tugasmu hanya memilih gaun pengantin dan tempat bulan madu kita,” ucap Andrew dengan wajah sumringah.
Seanna semakin tersanjung mendapat perlakuan istimewa dari Andrew. Sementara Andrew tidak henti memegang tangan Seanna. Dia sangat bangga karena akan mempersunting wanita tercantik di Kansas.
“Andrew, sebaiknya kita pulang. Ini sudah hampir tengah malam,” bujuk Seanna.
Ia melihat mata Noah yang menyipit. Nampaknya pria itu mulai lelah dan mengantuk.
“Baiklah, ayo kita pulang.”
Andrew berdiri lalu menarik kursi untuk Seanna. Ia hendak merangkul pinggang Seanna untuk menuntunnya keluar dari restoran. Namun tiba-tiba tangan Seanna ditahan oleh Noah.
“Noah, ada apa?” Seanna menatap Noah yang terlihat gelisah.
“Ada apa lagi ini, Noah? Tidak bisakah kau berhenti mengganggu calon istriku? Lepaskan tanganmu dari Seanna!”
Andrew menghempaskan tangan Noah dengan kasar. Ia tidak terima Seanna dipegang-pegang oleh pria lain.
“Anna, bolehkah aku minta tolong padamu?” Noah tidak menghiraukan Andrew dan malah menatap Seanna.
“Ada apa, Noah?” tanya Seanna dengan bingung.
“Aku ingin pergi ke toilet. Maukah kamu mengantarku, Anna?”
Melihat ekspresi Noah yang memelas, Seanna menggandeng tangan lelaki itu untuk mengantarnya ke toilet. Namun belum sempat Seanna bergerak, Andrew menghadang mereka berdua.
“Seanna, kamu tunggu disini saja. Biarkan aku yang mengantarnya pergi ke toilet.”
Seanna pun menyetujui usul dari tunangannya itu.
“Noah pergilah dengan Andrew. Dia yang akan mengantarmu ke toilet.”
“Baiklah, Anna.”
Andrew berjalan lebih dulu sedangkan Noah mengikuti dari belakang. Setibanya di toilet, Andrew menatap Noah dengan sorot mata yang mengancam.
“Andrew, kenapa memandangku begitu?” tanya Noah sambil menunduk.
“Dengar, Noah, jangan coba mengganggu hubunganku dengan Seanna lagi. Dia akan menjadi istriku!” gertak Andrew kepada Noah.
Entah mengapa setiap melihat pria ini, hatinya selalu merasa panas. Sebaliknya Noah malah menjawab dengan lugu seperti anak kecil.
“Aku hanya ingin bermain dengan Anna. Mengapa kamu melarangku?” tanya Noah mengerjapkan mata.
“Kau ini minta aku pukul, hah?” tanya Andrew mengepalkan tangan.
“Kalau kamu memukulku, aku akan mengadu pada Anna,” balas Noah kemudian masuk ke toilet.
Saat Noah sedang berada di dalam toilet, Andrew tersenyum menyeringai. Ia memiliki ide cemerlang untuk mengerjai Noah. Pria kekanakan itu harus menerima pelajaran darinya supaya kapok mendekati Seanna.
‘Aku akan membuatmu jera, pria bodoh. Siapa suruh kamu mengacaukan acaraku dengan Seanna.’
Senyum licik menghiasi bibir Andrew. Dia sudah tidak sabar menunggu sang target keluar dari balik pintu.
“Akhirnya, selesai,” ucap Noah merasa lega.
Melihat Noah membuka pintu toilet, Andrew langsung menjulurkan kakinya ke depan. Dengan gerakan cepat, ia menjegal Noah. Karena tidak siap, Noah pun tersandung dan jatuh dengan posisi tertelungkup
“Brukkk!”
Tubuh Noah terbentur lantai toilet. Dia merasakan sakit dan perih di bagian kening dan bibirnya. Padahal luka sewaktu menolong Kevin di sekolah juga belum sembuh.
“Rasakan kau! Makanya jangan berani mengganggu Seanna,” ejek Andrew merasa jumawa.
Tanpa belas kasihan, Andrew meninggalkan Noah yang masih tersungkur di lantai begitu saja. Dia kembali kepada Seanna sambil bersiul senang.
“Noah mana, Andrew?” tanya Seanna dengan cemas.
Dengan santai, Andrew mengedikkan bahunya.
“Entah apa yang dia lakukan di toilet. Dia sangat lama jadi aku meninggalkannya,” jawab Andrew enteng.
Mendengar alasan yang dikemukakan Andrew, Seanna merasa kesal. Ia tidak mengerti mengapa Andrew meninggalkan Noah sendirian di dalam toilet. Padahal tadi ia sendiri yang menawarkan diri untuk menemani Noah. Namun Seanna enggan menegur Andrew untuk menghindari terjadinya pertengkaran.
“Aku akan menyusulnya.”
“Oke, aku tunggu di parkiran,” sahut Andrew.
Seanna berjalan pergi ke toilet pria untuk melihat keadaan Noah. Tatkala tiba di lorong, Seanna terkejut melihat Noah sedang membasuh darah di bibirnya dengan air. Pria itu juga mencuci mukanya di wastafel.
“Astaga, Noah! Mengapa bibirmu berdarah seperti ini?” tanya Seanna panik. Ia mengangkat dagu Noah untuk melihat bibirnya yang terluka.
“Tidak apa-apa, Anna. Aku tadi terpeleset karena lantainya sangat licin.”
“Lain kali kamu harus lebih hati-hati, Noah.”
Noah sengaja menyembunyikan kelakuan jahat Andrew. Ia tidak ingin menjadi pemicu perdebatan antara Seanna dan calon suaminya itu.
Seanna menggandeng tangan Noah sampai di parkiran. Ia membantu Noah duduk di belakang sedangkan Seanna duduk di depan bersama Andrew. Sesekali Seanna menengok ke belakang untuk memastikan Noah baik-baik saja.
“Seanna, tidak usah berlebihan mencemaskan Noah. Dia hanya mengalami luka kecil, kondisinya sama sekali tidak parah,” tegur Andrew kesal. Tahu begini dia tidak akan menjahili Noah.
Seanna tidak menjawab. Namun di dalam hati, ia merasa kasihan melihat kondisi Noah.
Sesampainya di rumah, Seanna menyuruh Noah masuk duluan. Kemudian ia berpamitan kepada Andrew
“Andrew, terima kasih atas malam yang begitu indah ini. Aku sangat bahagia dengan semua kejutan manis yang kamu berikan untukku,” ujar Seanna.
“Aku juga bahagia, Sayang. Aku ingin kita segera menjadi suami istri. Apa boleh aku menginap di rumahmu malam ini?” goda Andrew.
“Jangan, Sayang, kamu harus bersabar. Hati-hati di jalan, Andrew,” jawab Seanna tersipu malu.
Andrew sedikit merasa kecewa. Namun ia memahami sifat Seanna yang masih konservatif dalam menjaga kehormatannya. Ia hanya akan memberikan diri setelah resmi dipersunting oleh seorang pria.
“Tidurlah yang nyenyak dan mimpi indah, Sayang. Aku mencintaimu, Anna.”
“Baiklah, sampai jumpa.”
Seanna mengecup bibir Andrew lalu keluar dari mobil calon suaminya itu. Seanna menunggu hingga mobil Andrew menghilang dari pandangannya.
Setelah memastikan Andrew telah pergi, Seanna pun masuk ke dalam rumah. Ia melihat Noah masih duduk di ruang tamu.
“Noah, kenapa belum masuk ke kamarmu?” tanya Seanna.
“Aku menunggumu, Anna.”
“Cepat tidur, Noah. Besok kamu harus sekolah.”
“Baiklah, Anna.”
Noah mengerucutkan bibirnya, tetapi ia tidak membantah perintah Seanna. Melihat Noah masuk ke kamarnya, Seanna mendekati Julie yang sedang menonton acara di televisi. Dia tidak sabar untuk membagi kabar bahagia kepada ibunya.
“Mom, aku punya kabar bahagia untukmu.”
Julie mengalihkan pandangan kepada Seanna. Ia penasaran dengan apa yang akan disampaikan Seanna. Pasalnya wajah putrinya itu tampak begitu bahagia.
“Apa Andrew memberimu perhiasan, Anna?”
“Bukan, Mom, tetapi lebih dari itu. Andrew melamarku dan kami akan menikah minggu depan.”
Tatapan Julie berbinar seketika. Dia langsung memeluk Seanna untuk mengekspresikan rasa bahagia. Putrinya sebentar lagi akan resmi menjadi istri seorang pengacara muda.
“Aku turut bahagia, Anna. Sebentar lagi aku akan melihatmu mengenakan gaun pengantin yang sangat indah.”
Seanna membalas pelukan Julie. Ia tidak tahu bahwa di balik kebahagiaan ini, sang ibu tengah mengalami masalah besar. Namun Julie enggan untuk membaginya dengan Seanna karena tidak ingin merusak kebahagiaan putrinya.
***
Di tempat lain, seorang wanita cantik tengah bersantai di rumah mewahnya. Ia baru saja mencoba kalung berlian yang dibelinya kemarin di toko perhiasan. Namun kesenangannya terganggu ketika pintu kamarnya diketuk.
“Marcia, kenapa kamu mengetuk pintu kamarku sekeras ini? Aku tidak tuli,” bentak wanita itu.
“Maaf, Nyonya Angeline. Di luar ada dua orang polisi yang mencari Anda.”
“Polisi mencariku? Untuk apa?” tanya Angel terkesiap.
“Katanya ingin mengabarkan tentang Tuan White, Nyonya. Mereka menunggu di ruang tamu.”
Masih dalam kondisi terkejut, Angel turun dari lantai dua untuk menemui kedua polisi tersebut. Ia merasa was-was sekaligus penasaran dengan hasil penyelidikan polisi.
“Selamat pagi, Pak. Apa sudah ada perkembangan informasi tentang keberadaan suami saya?”
“Pagi, Nyonya White. Pencarian kami hentikan, karena petugas kepolisian di Kansas sudah menemukan jasad pria yang terbakar di antara puing mobil Tuan White. Mobil itu ditemukan di dekat kawasan hutan di Kansas.”
“Jasad tersebut sudah dibawa ke rumah sakit di Chicago untuk proses identifikasi. Sebaiknya Nyonya ikut dengan kami supaya bisa mengenali apakah itu Tuan White atau bukan,” tambah polisi yang satunya.
Angeline sangat terkejut mendengar kabar dari polisi. Diam-diam ia berharap supaya pria yang terbakar itu adalah suaminya, Dylan.
“Baik, saya akan ikut dengan mobil saya sendiri,” jawab Angel.
Ia bergegas keluar dari rumah bersama dua polisi itu. Mobil Angel pun mengikuti mobil polisi di depannya hingga mereka tiba di rumah sakit.
Begitu tiba di rumah sakit, Angel langsung diajak ke kamar jenazah. Seorang petugas menunjukkan ranjang berisi jasad pria yang tertutup dengan kain putih.
“Maaf, Nyonya, kondisi jasad ini sudah hangus. Apa Anda bersedia melihatnya?”
“Ya, saya bersedia.”
Dengan tangan gemetar, Angel menyibak penutup kain itu. Ketika melihat jasad yang hitam seperti arang, Angel langsung menutup mulutnya. Perutnya bergejolak dan ia hampir saja muntah.
“Nyonya, coba lihat baik-baik. Apakah ada ciri tertentu dari jasad ini yang bisa Anda kenali?” tanya si petugas.
Sambil berusaha menguatkan hatinya, Angel meneliti bagian kuku dan jemari pria itu yang masih tersisa. Beberapa detik kemudian, air matanya mengalir.
“Apakah benar jasad korban adalah suami Anda?”
Angel tak lantas menjawab. Namun kakinya tampak gemetaran. Ia sampai berpegangan pada pinggir ranjang agar tidak terjatuh.
“Iya, Pak. Jasad ini adalah Dylan, suami saya,” jawab Angel terisak.