Pura-pura Kehilangan

1260 Words
Usai mendapat kepastian dari Angeline, kasus hilangnya Dylan Richard White telah ditutup. Pihak kepolisian telah merilis pernyataan resmi bahwa CEO White Group tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Angel masih menangisi jasad Dylan. Karena beberapa kali ia hendak pingsan, petugas rumah sakit membawanya ke ruang perawatan. Dari koridor, seorang pria bergegas lari ke kamar perawatan Angel. Dia adalah Jake, sepupu Dylan satu-satunya. “Bagaimana kondisi Nyonya Angel? Apa dia masih terguncang?” tanya Jake kepada perawat yang keluar dari ruangan Angel. “Keadaan Nyonya Angel sudah lebih tenang, Tuan.” “Kalau begitu saya akan melihatnya.” Jake membuka pintu kamar Angel. Ia tersenyum lega ketika mendapati pujaan hatinya itu sedang berbaring di ranjang pasien. “Syukurlah, kamu baik-baik saja, Baby,” ujarnya mengecup tangan Angel. Angel melayangkan tatapan sendu kepada Jake. Ia menarik Jake agar mendekat kepadanya lalu berbisik pelan. “Jake, aku sangat sedih kehilangan Dylan,” ucap Angel meratap. Jake pun memberikan pelukan hangat kepada Angel untuk mengurangi kedukaan wanita itu. Mereka berdua berpelukan erat. Bahu Angel bergerak naik turun menangisi kepergian Dylan. “Dylan sudah meninggal, Jake. Suamiku sudah meninggal dan aku sekarang menjadi janda.” Angel membasahi kemeja pria itu dengan air matanya. Jake pun beranjak hendak mengambilkan tissue untuk Angel. Namun Angel mendadak menghapus air matanya sendiri. Selanjutnya ia merekahkan senyum manis kepada Jake. “Jake, apa menurutmu aktingku tadi sangat bagus?” “Sangat bagus, Sayang. Semua orang akan mengira kamu sangat mencintai Dylan.” “Dulu aku memang sangat mencintainya. Namun dia berniat membuang aku dengan kejam sehingga aku terpaksa menghabisinya.” “Kamu harus melakukan upacara pemakaman yang layak untuk Dylan. Dia adalah CEO White Group. Jangan membuat keluargaku malu. Nama perusahaan White Group dipertaruhkan disini,” perintah Jake. “Tentu saja, Jake. Aku akan tampil di hadapan keluarga dan seluruh karyawan White Group sebagai istri yang sangat kehilangan suaminya. Dan setelah itu semua orang akan bersimpati kepadaku.” “Kamu sangat cerdas, Baby. Tidak salah aku memilihmu sebagai kekasihku,” puji Jake. Di luar kamar perawatan Angel, Harold White, paman sekaligus wali Dylan, datang untuk menjenguk Angel. Ketika ia mengetuk pintu, Angel dan Jake langsung membenahi posisi mereka. Angel kembali memasang tampang sedih dan terpukul, sedangkan Jake pura-pura menghiburnya. “Angel, bagaimana keadaanmu?” tanya Harold sebelum dia menanyakan tentang jasad Dylan. “Aku sudah baik, Paman, tetapi tidak dengan Dylan. Dia sudah tiada. Mengapa Tuhan mengambilnya dari sisiku secepat ini? Ujian ini begitu berat untukku,” isak Angel dengan mata memerah. “Aku sudah mendengar semuanya dari petugas kepolisian. Angel, apakah kamu yakin kalau jenazah yang terbakar itu adalah suamimu, Dylan?” tanya Harold. Ia masih ragu apakah benar keponakannya mati dalam kondisi mengenaskan. “Iya, Paman, aku yakin. Sebagai istrinya, aku sangat mengenali tubuh suamiku. Aku melihat ujung jarinya yang tidak terbakar dan itu adalah jari Dylan,” jawab Angel seraya menangis tersedu-sedu. Harold terpekur dalam diam. Ia masih tidak menyangka kalau Dylan yang sudah dia anggap sebagai anak kandung sendiri akan meninggal karena sebuah tragedi memilukan. Harold masih ingat bagaimana dia mendidik Dylan sampai berhasil memimpin perusahaan peninggalan ayahnya. “Bagaimana mungkin Dylan mati semudah ini? Aku yakin pasti ada yang tidak beres. Mungkinkah ada orang dalam yang sengaja membuat Dylan celaka?” tanya Harold kepada Jake. Tiba-tiba saja ia menaruh curiga kepada anggota keluarganya. “Mana mungkin, Paman. Dylan tidak punya musuh maupun saingan bisnis. Ini semua adalah murni takdir dari Tuhan. Andai saja Dylan ke Kansas dengan menggunakan pesawat, dia tidak akan meninggal,” kilah Jake. “Aku belum percaya kalau jenazah itu adalah Dylan. Aku akan menyelidiki lebih lanjut, bila perlu melakukan tes DNA kepada jenazah itu,” tukas Harold. Angel langsung panik mendengar ucapan Harold. Dia harus mencegah keinginan lelaki tua ini atau kebohongannya akan terbongkar. “Kenapa Paman meragukan penilaianku? Aku yakin seratus persen kalau jenazah itu Dylan. Dan soal tes DNA aku sudah menanyakan kepada petugas ruang jenazah. Dia bilang tes itu tidak bisa dilakukan pada mayat yang hangus terbakar, Paman,” ucap Angel beralasan. Jake segera mendukung argumen yang diberikan Angel. “Benar, Paman. Lebih baik kita menyiapkan upacara pemakaman Dylan.” Harold mengangguk tetapi hatinya masih dipenuhi keraguan. Ia berniat akan pergi sendiri ke Kansas untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Dylan. *** Seanna sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia mengenakan kemeja dan rok di bawah lutut lalu menjinjing tas kerjanya. Saat keluar dari kamar, Seanna melihat Noah yang sedang memakai sepatunya. Seanna duduk di samping Noah sambil memperhatikan luka di bibir, kening, dan tangan Noah. Dia menyentuh lembut bibir Noah dengan jemarinya. “Apa lukanya masih terasa perih?” tanya Seanna prihatin. “Tidak, Anna, sudah tidak terasa sakit. Aku anak yang kuat.” “Syukurlah kalau begitu. Kamu yakin mau masuk sekolah?” “Iya, aku mau belajar bersama teman-teman.” Seanna tersentuh melihat semangat belajar yang dimiliki Noah. Ia bahkan tidak mengeluhkan luka-luka yang ada di tubuhnya. “Kita berangkat sekarang, Noah,” ajak Seanna. Seperti biasa, mereka berdua menaiki mobil milik Seanna. Noah tampak sudah terbiasa memakai sabuk pengaman tanpa bantuan Seanna. “Noah, sebenarnya bagaimana kamu bisa terjatuh di toilet kemarin?” “Aku hanya terpeleset dan tidak sengaja terbentur ke lantai.” “Lain kali perhatikan jalanmu, Noah. Jangan bertindak ceroboh.” Noah hanya mengangguk pelan. Mereka tidak bicara lagi sampai tiba di sekolah. Sebelum berpisah, Seanna berpesan kepada Noah. “Noah, belajarlah dengan baik.” “Siap, Miss Anna,” jawab Noah sambil menunjukkan deretan gigi putihnya. Noah mendahului Seanna masuk ke kelas. Kedatangan Noah disambut oleh teman-teman sekelasnya. Mereka mengerubungi Noah layaknya seorang idola yang dinantikan oleh para penggemarnya. “Hai Noah, bagaimana kabarmu?” “Aku sehat, teman-teman,” jawab Noah tersenyum senang Noah senang karena teman-temannya kini mau menerima kehadirannya di sekolah. Itu semua berkat keberaniannya menolong Kevin. “Noah, kami semua punya hadiah kejutan untukmu,” celetuk Gwen. Teman-teman Noah menyembunyikan tangan mereka berada di belakang punggung. Mereka sudah menyiapkan hadiah untuk Noah. “Hadiah? Wah, aku sangat suka hadiah.” “Kami semua akan memberikan coklat ini untukmu,” ucap mereka serentak. Anak-anak itu menyodorkan coklat di tangan mereka kepada Noah. “Terima kasih, teman-teman semua.” Noah terharu dengan sambutan luar biasa dari teman-temannya. Ia pun menerima coklat itu dengan senang hati lalu menyimpannya di dalam tas. “Ayo Noah, kamu boleh duduk denganku,” ujar Daniel. “Oke, Daniel.” Beberapa menit kemudian, Seanna masuk ke dalam kelas. Dia melihat wajah murid-muridnya sangat ceria, termasuk Noah. “Selamat pagi anak-anak.” “Selamat pagi, Miss Anna,” jawab anak-anak serempak. “Miss Anna, apakah Miss tahu sesuatu?” “Apa itu, Gwen?” tanya Seanna kepada Gwen. “Kemarin, Noah telah menyelamatkan teman kita, Kevin. Noah sangat-sangat hebat.” Seanna berpura-pura terkejut walaupun dia sudah tahu tentang kejadian itu. “Noah memang pemberani. Kalau begitu kita beri tepuk tangan untuk Noah,” puji Seanna. Anak-anak langsung memberikan tepuk tangan meriah untuk Noah. Melihat Noah yang sudah diterima oleh teman-temannya, Seanna turut bahagia. “Anak-anak, ayo kita lanjutkan pelajaran yang kemarin.” “Baik, Miss Anna.” Pelajaran pun berjalan seperti biasa. Saat jam istirahat, Seanna merapikan buku lalu berjalan keluar dari kelas. Namun di tengah jalan, ia melihat Mr. Henry, sang kepala sekolah, terburu-buru menghampirinya. “Miss Anna, gawat!” “Ada apa, Mr. Henry?” “Di luar ada empat orang pria bertampang sangar sedang mencari Miss Anna.” “Kenapa mereka mencari saya Mr. Henry?” tanya Seanna bingung. “Sebaiknya Miss Anna temui saja mereka. Saya takut mereka akan membuat kekacauan di sekolah,” jawab Mr. Henry cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD