Pengkhianatan Cinta (Part 1)

1928 Words
Setelah mendapatkan pemberitahuan dari kepala sekolahnya, Seanna langsung menuju ke kantor guru. Keempat pria itu sudah menunggu di depan ruangannya. Dengan was-was, Seanna memandang mereka. Tak satu pun dari keempat pria itu yang dikenalnya. Salah seorang pria yang paling tua dan berkumis tebal duduk di hadapan Seanna. Sementara tiga orang pria lainnya berdiri di belakangnya. Dilihat dari gayanya yang percaya diri sepertinya pria itu adalah bosnya. Pria paruh baya tersebut melipat kedua tangannya di depan d**a. Begitu Seanna datang, ia langsung memandangi Seanna dengan tatapan setajam burung elang. Berusaha untuk tetap berani, Seanna berjalan menghampiri mereka. “Selamat siang, Tuan-tuan,” sapa Seanna dengan sopan. “Kamu yang bernama Miss Seanna?” tanya pria berkumis itu. Walaupun sudah tua tetapi suaranya menggelegar seperti guntur. “Benar, Tuan, saya Seanna. Ada kepentingan apa Tuan mencari saya?” tanya Seanna. Pria berkumis itu berdesis kesal sebelum menjawab pertanyaan Seanna. “Apa ibumu, Julie, tidak pernah bercerita mengenai aku? Aku Lucas Carascado, tuan tanah paling disegani di kota Kansas. Ibumu meminjam uang sebanyak seratus ribu dolar padaku dan sampai sekarang dia tidak sanggup membayarnya,” sentak Lucas. Seanna sangat terkejut mendengar ucapan Lucas. Seingatnya Julie tidak pernah mengatakan apapun kepadanya soal utang piutang. “Tuan yakin tidak salah orang? Apa Tuan punya bukti kalau ibu saya meminjam uang kepada Tuan?” Lucas meminta sebuah map dari tangan anak buahnya lalu menarik selembar kertas di dalamnya. Ia memperlihatkan kertas tersebut kepada Seanna. “Lihat sendiri di kertas ini ada tanda tangan ibumu. Batas waktu ibumu untuk melunasinya adalah hari ini. Jika dia tidak membayar, maka aku akan mengambil alih rumah ibumu dan mengusir kalian!” gertak Lucas. Ancaman Lucas membuat Seanna gemetar. Tubuhnya bak terkena sengatan listrik mendengar rumah warisan ayahnya akan direbut oleh seorang rentenir. Tidak, bagaimanapun dia harus mempertahankan rumah itu. “Saya mohon, Tuan, berikan saya waktu tambahan untuk melunasinya. Saya berjanji akan membayar utang ibu saya,” pinta Seanna dengan tatapan mengiba kepada Lucas. Melihat wajah cantik Seanna, Lucas kembali berpikir apakah ia akan memberikan perpanjangan batas waktu untuk wanita ini. “Baiklah, aku akan memberimu tambahan waktu tetapi satu hari saja. Jika sampai besok kamu tidak mentransfer uang kepadaku, maka rumahmu akan kuambil. Tidak ada belas kasihan lagi. Sekarang aku permisi, Miss Seanna,” ujar Lucas beranjak dari duduknya Seanna merasa lega dan gelisah dalam waktu yang bersamaan. Lega karena Lucas mau memberinya keringanan. Namun ia juga sangat gelisah karena Lucas hanya memberikan waktu satu hari. Entah dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam tempo satu hari saja. Bila dihitung tabungannya hanya tersisa sedikit. Terlebih ia juga membutuhkan uang untuk persiapan pernikahan. Apakah ia harus meminjam uang kepada orang lain? Ah, jika seperti itu artinya dia melakukan gali lubang tutup lubang. Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Seanna kembali ke dalam kelas. Ia bahkan melewatkan jam makan siang karena terlalu memikirkan persoalan pelik ini. Seanna berusaha berkonsentrasi dalam mengajar murid-muridnya hingga jam pelajaran usai. Dia menyimpan semua buku dan alat tulis ke dalam tasnya dan segera berjalan keluar dari kelas. Setengah melamun, Seanna berjalan lurus ke tempat parkir mobilnya. “Anna, tunggu aku!” seru Noah berlari mengejar Seanna. Tidak biasanya Seanna meninggalkan dia seorang diri. “Noah, maaf aku sampai melupakanmu. Ayo, masuk mobil,” ucap Seanna setengah melamun. Dalam perjalanan, Noah melihat Seanna memasang wajah murung. Ia juga tidak bicara sepatah kata pun. “Anna, kenapa kamu terlihat sedih sekali? Anna mau makan coklat?” tanya Noah mengeluarkan coklat pemberian temannya dari tas. “Tidak, Noah, aku tidak lapar,” jawab Seanna singkat. Noah tidak membuka suara lagi karena takut membuat Seanna semakin sedih. Dalam keheningan mereka akhirnya tiba di rumah. Julie sudah pulang lebih awal dari restoran tempatnya bekerja. Ia memasak makan malam dibantu oleh Seanna. Kemudian mereka bertiga makan malam bersama di meja makan. Sepanjang makan, Noah memperhatikan Seanna yang nyaris tidak menyentuh makanannya. Nampaknya Seanna sedang memiliki masalah yang mengganggu pikirannya. “Noah, setelah selesai makan masuklah ke kamarmu,” ujar Seanna tiba-tiba. Noah pun menyelesaikan makan malamnya dan pergi ke kamar sesuai dengan perintah Seanna. Kini hanya ada Seanna dan Julie di meja makan. “Mom, aku ingin membicarakan hal penting,” ucap Seanna memulai pembicaraan. “Ada apa, Anna?” “Benarkah Mommy meminjam uang seratus ribu dolar kepada Tuan Lucas?” tanya Seanna langsung pada intinya. Pertanyaan Seanna membuat Julie tersedak oleh makanannya. Ia segera meneguk air putih di gelasnya sampai habis. “Siapa yang mengatakan itu, Seanna?” tanya Julie dengan suara lirih. “Tuan Lucas sendiri. Tadi dia datang ke sekolah dan menagih pembayaran kepadaku, Mom. Dia mengancam akan mengambil rumah kita.” Bibir Julie memucat. Tak disangka pria berkumis itu sampai mendatangi Seanna di sekolah hanya untuk mengancamnya. “Dia datang ke sekolahmu?” “Mengapa Mommy bisa berhutang sebanyak itu? Untuk keperluan apa, Mom?” desak Seanna. “Maafkan aku, Anna. Saat ayahmu sakit, aku tidak punya uang lagi untuk membiayai pengobatannya. Terpaksa aku memutuskan untuk meminjam uang kepada Tuan Lucas,” ungkap Julie. “Apakah Mommy sungguh-sungguh meminjam uang hanya untuk itu?” tanya Seanna menginterogasi Julie. Julie menundukkan kepala penuh sesal. Ia merasa bimbang apakah harus jujur mengakui perbuatannya kepada Seanna. “Aku terlibat judi, Anna. Aku pikir bila menang judi maka uangnya bisa aku pakai untuk membayar Tuan Lucas. Namun ternyata aku mengalami kekalahan dan semakin terbelit utang,” jawab Julie mengakui dosanya secara jujur. Raut wajah Seanna berubah seketika. Ia sungguh sangat kecewa terhadap Julie yang selama ini merahasiakan masalah sebesar ini darinya. Perlahan cairan bening memenuhi kelopak mata Seanna. “Kenapa Mommy menyembunyikan segalanya dariku? Sekarang rumah kita yang menjadi taruhannya. Tuan Lucas hanya memberiku waktu satu hari untuk melunasi utang seratus ribu dolar. Aku tidak tahu harus mendapatkan uang dari mana,” keluh Seanna merasa frustasi. “Maafkan aku, Sayang. Aku merahasiakan ini darimu karena tidak ingin merusak kebahagiaanmu yang akan menikah dengan Andrew,”ujar Julie memohon maaf kepada putrinya. Seanna tidak mampu membendung air matanya. Hatinya sangat sedih membayangkan rumah keluarganya akan dimiliki oleh Tuan Lucas. Julie pun ikut menangis bersama dengan Seanna. “Maafkan aku, Anna,” ulang Julie terisak. “Aku akan memaafkanmu, Mom. Namun berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,” tutur Seanna. “Aku janji, Anna.” “Besok aku akan mencari cara untuk mempertahankan rumah kita,” ujar Seanna. “Aku juga akan membantumu, Anna,” ujar Julie menyesali perbuatannya. Tanpa mereka berdua sadari, dari balik pintu Noah mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Noah bertekad untuk menolong Seanna keluar dari masalahnya. Selesai mengajak ibunya bicara, Seanna berdiam diri di dalam kamar. Dia membuka jendela lalu menatap kearah langit malam. Seanna membayangkan masa-masa indah ketika mendiang ayahnya masih hidup. ‘Daddy, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caraku untuk melunasi utang Mommy? Aku tidak mau kehilangan rumah kita,’ batin Seanna pilu. *** Di lokasi pemakaman Hampton West sedang berlangsung upacara pemakaman untuk Dylan Richard White, pewaris tunggal dari White Group. Dengan memakai baju serba hitam, Angel berdiri di dekat makam suaminya. Sesekali ia nampak mengusap matanya yang tersembunyi di balik kaca mata hitam. Di sebelah kanan Angel berdiri Jake, sementara di sebelah kiri ada Harold White. Kedua pria berbeda generasi itu mendampingi Angel. Dengan kepala setengah menunduk, mereka mendengarkan doa yang dilantunkan oleh sang Pendeta untuk mengantarkan kepergian Dylan. “Dylan, jangan tinggalkan aku,” tutur Angel menatap peti jenazah Dylan yang sudah tertutup seluruhnya oleh tanah. “Angel, sabarlah, kamu harus kuat menghadapi cobaan ini. Meskipun kepergian Dylan mengejutkan kita semua, tetapi kamu harus tabah,” hibur Jake. “Aku sangat mencintainya, Jake. Aku tidak tahu bagaimana menjalani hidupku tanpa Dylan,” jawab Angel sambil menangis tersedu-sedu. Selama proses pemakaman, Harold menatap kedua mata Angel dengan tatapan tidak suka. Terus terang dia kecewa karena Angel memaksa untuk mengadakan upacara pemakaman Dylan. Padahal ia belum yakin kalau keponakannya itu telah meninggal dunia. Harold menunggu sampai para pelayat meninggalkan lokasi pemakaman. Tatkala suasana telah sepi, Harold menarik tangan Angel. Dia mengajak istri Dyan itu untuk bicara empat mata. “Paman Harold, lepaskan aku. Aku masih berduka,” tolak Angel. Harold menatap kedua mata Angel yang ditutupi kaca mata. “Kenapa kamu harus mengadakan upacara pemakaman secepat ini? Seharusnya kamu menanyakan pendapatku dulu,” tanya Harold dengan tegas. Angel menjawab pertanyaan Harold dengan sinis. “Aku yang lebih tahu seperti apa bentuk tubuh suamiku, Paman. Apa perlu aku minta izin dari orang lain untuk menguburkan suamiku sendiri?” balas Angel. “Aku bukan orang lain, Angel. Aku ini pengganti ayah bagi Dylan. Dengan kata lain, aku adalah mertuamu. Segala sesuatu yang menyangkut Dylan adalah urusanku!” tukas Harold. Angel menurunkan nada suaranya. Dia tidak ingin berdebat dengan Harold dalam suasana duka cita. “Maaf, Paman, bukannya aku tidak menghormatimu. Aku juga sangat kehilangan Dylan seperti Paman. Namun aku berusaha mengikhlaskan kepergiannya. Aku hanya berharap Paman juga bersikap sama sepertiku. Biarkan Dylan beristirahat dengan tenang,” tutur Angel. Harold pun berjalan meninggalkan Angel. Percuma saja ia bicara panjang lebar kepada wanita ini. Yang diinginkan Harold adalah segera membuktikan kepada semua orang bahwa Dylan White masih hidup. Di sekolah, Seanna masih memikirkan bagaimana dia bisa melunasi semua utang ibunya. Dia tidak fokus bekerja dan seringkali melamun. “Miss Anna, ada apa? Kenapa Miss Anna melamun?” tanya Rose, salah satu murid yang duduk paling depan. Seanna yang mendapatkan teguran seperti itu hanya tersenyum. “Miss tidak apa-apa, Rose. Lanjutkan saja tugasmu.” “Baik, Miss.” Dari bangkunya, Noah bisa merasakan beban yang ditanggung oleh Seanna. Dia mencari ide untuk menghibur Seanna agar tidak bersedih terus-menerus. Noah pun mengambil kertas dan membuat gambar. “Noah, apa yang kau lakukan?” tanya Daniel penasaran. “Aku ingin menghibur Miss Anna.” Noah menggambar rumah di atas kertas lalu mewarnainya dengan pensil warna. Setelah selesai, Noah berjalan menghampiri Seanna yang sedang merenung. Dia menunjukkan hasil gambarnya kepada Seanna. “Anna, aku akan memberikanmu rumah yang sangat bagus nanti. Aku janji padamu tetapi kamu jangan menangis lagi ya,” ujar Noah membulatkan matanya. Seanna sangat terkejut dengan gambar yang diberikan Noah. Bagaimana bisa Noah mengetahui kalau dia sedang mencemaskan rumahnya? Tidak mungkin Noah memiliki indera keenam atau kemampuan meramal. Noah hanyalah anak-anak. Pikirannya tidak jauh dari sekedar pikiran anak usia sembilan tahun pada umumnya. “Kamu menyukai gambarku, Anna?” tanya Noah. “Terima kasih Noah, gambar rumah ini sangat indah,” puji Seanna. Tak lama jam istirahat pun tiba. Sesudah menimbang-nimbang, Seanna memutuskan untuk menghubungi Andrew. Siapa tahu tunangannya itu bisa memberikan solusi atas permasalahan yang tengah menghimpitnya. “Halo, Andrew,” sapa Seanna dengan suara tersendat. Jujur, ia merasa malu menceritakan masalah keuangan keluarganya. “Ada apa, Anna?” tanya Andrew. Suara pria itu sedikit parau. Seanna mulai menceritakan semua yang terjadi. Dimulai dari Tuan Lucas yang tiba-tiba saja datang ke sekolah untuk menagih utang. Kemudian ancamannya yang akan menyita rumah Seanna bila hari ini tidak ada pembayaran. Anehnya setelah Seanna selesai bercerita, Andrew tidak memberikan tanggapan. Ia malah mendengar suara erangan disertai desahan dari balik telepon. “Andrew, apakah kamu masih mendengarkan aku? Kamu bisa menemaniku di rumah?” tanya Seanna curiga. “Sayang, maaf, aku tidak bisa. Aku sedang ada urusan yang sangat penting.” tolak Andrew. Napas lelaki itu seperti terengah-engah hingga suaranya tidak jelas. “Aku akan datang menemuimu nanti malam, Anna. Aku tutup dulu telponnya.” Belum sempat Seanna menjawab, Andrew sudah lebih dulu memutuskan panggilannya. Respon Andrew membuat Seanna kecewa. Lelaki yang diharapkannya menjadi tempat bersandar justru bersikap acuh tak acuh terhadap masalahnya. Walaupun kecewa, Seanna berusaha untuk menepis prasangka buruknya. Bagaimanapun ia harus tetap berpikiran positif terhadap Andrew. Barangkali pria itu memang sedang disibukkan oleh pekerjaan jarak jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD