SHOOT. 3

1172 Words
Awan masih bergantung cukup tebal di langit, sepertinya belum puas menjatuhkan airnya dalam hujan lebat semalam, menyembunyikan sang surya rapat-rapat di baliknya, menyelimutkan hawa dingin dan membuat siapapun yang tidak memiliki keterikatan dengan jam kerja akan dengan senang hati bergelung kembali di bawah selimut tebal mereka. Namun hal itu tidak berlaku bagi Haydar. Semenjak membuka kelopak matanya di waktu subuh, senyum tak henti terkembang di bibirnya. Langkahnya pun ringan menuruni satu persatu anak tangga di rumah besarnya sambil bersiul lirih. Membuat sang ayah dan ibu menatap penuh curiga akan sesuatu hal yang jarang mereka temui pada anak lelaki mereka beberapa tahun belakangan ini. “Ehem, tadi malam masak apa sih ma? Sepertinya sisa-sisa racunnya masih nempel.” bertanya Rahmad, sang ayah, penuh jahil. “Haiss, papa nih usil banget, anaknya lagi bahagia gitu kok dibilang keracunan, mama juga belum sekejam itu buat anak ganteng mama mati muda, meskipun kerjaannya ngeselin terus.” Menjawab heboh sang ibu sambil terus mengoles selai stoberi kesukaan anak lelakinya itu. Sambil menyesap pelan kopi hitamnya, Rahmad kembali memicingkan mata melihat anak lelakinya yang kini sudah mengambil tempat duduk di samping kirinya itu tak terpengaruh sedikitpun akan obrolan mereka, padahal dengan sangat jelas sindiran itu terarah kepadanya. Malah kini dilihatnya ia perlahan mengunyah roti lapis yang sudah selesai disiapkan ibunya. “Kalau gitu fix anak ini baru lupa ingatan.” “Serah deh papa mau bilang apa.” tak terpengaruh oleh aura penuh cela sang ayah, Haydar tetap melanjutkan kegiatannya mengunyah roti sarapan paginya yang disusul kemudian dengan meneguk habis segelas s**u stroberi, sebegitu sukanya dia dengan cairan berwarna pink itu,  hal yang sering mendapat ledekan dari kakak perempuannya. “Kali ini mau stay berapa lama?” kembali pertanyaan dilontarkan Rahmad, mengingat sebuah hal yang mengherankan melihat anak bungsunya itu beberapa bulan ini sering kali bisa dia lihat batang hidungnya. Sambil mengedikkan bahunya, Haydar menjawab penuh ragu. “Belum tau.” “Lah, semalam kamu bawa Irene ke sini bukan artinya mau ke arah hal yang serius?” penuh heran Sofia bertanya selagi dia dudukkan kembali dirinya di kursi ruang makan, setelah berlalu untuk menginstruksikan mbak Siti belanja di tukang sayur keliling. “Irene ke sini, lama juga papa enggak kelihatan dia bolak-balik ke sini? Menghentikan sejenak kegiatan menyesap kopinya, Rahmad bertanya mendapati kenyataan itu, sambil mencoba mengingat-ingat berapa lama ia tidak melihat Irene di rumahnya ini. “Ya siapa lagi yang buat dia enggak betah di sini kalau bukan gara-gara anak papa tuh.” Penuh penekanan Sofia menyampaikan keluhan akan sifat jahil anak bungsunya itu. “Pokoknya mama enggak mau ya hubungan baik mama sama Irene rusak gara-gara kamu, enggak apa-apa deh mama enggak punya anak kayak kamu daripada mama jauh-jauhan terus sama Irene.” Menatap tajam matanya pada sosok di depannya yang lantas menyuguhkan tawa terkekeh itu. “Ada juga anak mama yang dikerjai sama tuh cewek.” Mencebik lantas kedua bibirnya mendengar kenyataan itu. “Tau rasa ‘kan kamu sekarang.” “Pesan papa cuma satu boy, jangan ulangi kesalahan yang sama, paham?” ditepuknya pundak anak lelakinya sambil berdiri dan mengambil jas yang ia gantung di kursi makannya. “Papa berharap kamu pertimbangkan masak-masak setiap langkah kamu. Papa berangkat dulu.” Mengacung kedua ibu jari Haydar “Siap pa.”   *******   Berdecak sebal kedua bibir Irene sejenak setelah speaker telepon pintarnya menyuarakan nada terputusnya panggilan. Lalu dengan sedikit keras dia lemparkan ponsel pintarnya itu ke atas meja, urusan nanti akan ada beberapa kerusakan di gawainya tersebut sepertinya tak lagi ia perhitungkan, sehingga siapapun bisa melihat betapa kesalnya dia saat ini. Dipijitnya pelan kepalanya yang seketika berdenyut, sambil memejamkan kelopak matanya erat dan menghela napasnya tertahan. Semua karena orang yang baru saja di ujung telepon sana mengabarkan bahwa untuk pesta ulang tahun putra tersayangnya, dia menginginkan dokumentasi selama pesta tersebut harus diabadikan oleh seseorang yang bahkan menyebut namanya saja Irene sangat keberatan. “Ayo lah Ren, masak sih kamu enggak bisa usahain, kapan lagi coba kita punya kesempatan menyaksikan mahakarya seorang Haydar, please. Lagian masak kamu tega sih ulang tahun keponakan kamu yang cakep ini jadi kurang berkesan. Ini ulang tahun pertamanya lho.” Begitu rengekan sang sahabat beberapa menit lalu. “Mohon maaf nih ya Nyonya Lazuardi yang terhormat, duit suami kamu itu enggak berseri, pakai fotografer yang lain bisa, ‘kan? Enggak perlu dia juga.” Penuh kesal Irene keukeuh menolak permintaan Arini. “Lah aku maunya Haydar, kok, lagian juga ada kamu ngapain aku repot-repot cari fotografer lain. Lagipula ini juga kemauan adiknya Aydan lho.” Masih dengan nada merajuk Arini mencoba dengan sangat permintaannya itu dituruti. “Eh, modus aja kamu sih, ogah ah, itu namanya kolusi, lagian di mana-mana orang ngidam itu pengen makan ini itu, kamu doang ngidamnya pengen ulang tahun anaknya di fotoin dia.” Melotot penuh kedua mata Irene sekalipun sang sahabat tidak bisa melihatnya. “Ada lah, ini namanya ngidam spesial tau.” Oh andai saja mengutuki orang hamil itu diperbolehkan, sudah pasti kata-kata ajaib akan dengan senang hati Irene keluarkan dari bibir yang kini berwarna peach itu. Sudah tau kalau dirinya ini sangat menghindari apa pun, kecuali pekerjaan yang kini di sandangnya, untuk terus bersinggungan dengan Haydar. Namun tetap saja sahabat yang sayangnya sangat ia sayangi itu masih saja membuat berbagai alasan untuk dengan sengaja mempertemukannya dengan sang bos dalam satu waktu, pun satu kesempatan. Menyebalkan. “Ehem....” Suara orang berdeham seketika membuyarkan usaha Irene menetralisir kembali emosi yang tadi merajai hatinya. Sejak kapan orang ini ada di sini, monolog batinnya, mengapa tak ia dengar langkahnya mendekat. Padahal suasana sedang sepi, orang-orang penghuni kubikel di sekitarnya sudah pasti saat ini sedang asyik menikmati makan siang mereka. Penuh kerja keras Irene mendongakkan kepalanya, menatap pemilik suara yang sebenarnya tanpa perlu dia lihat pun sudah dengan pasti dia tahu siapa pemiliknya. Namun demi tata krama dalam pergaulan, tak urung juga ia buat kedua matanya bersiborok dengan mata elang sang bos. “Iya pak, ada yang bisa saya bantu? “Kenapa masih di sini, kamu enggak makan siang, atau kamu memang sengaja nunggu saya?” Memejam sekali lagi mata Irene. Belum habis rasa dongkol karena permintaan sahabatnya itu, kini harus ditambah dengan narsistik sang atasan yang tidak lagi pakai ukuran. “Ehm, ini juga sudah mau berangkat makan siang kok pak, tinggal beres-beres dikit.” Dimatikannya komputer dan diambilnya tas kecil yang biasa dia pakai untuk membawa dompet dan ponselnya. “Makan siang di mana? Sama siapa?” Sopankah jika pertanyaan itu tak ingin Irene jawab saja. Hanya mengantisipasi kalimat selanjutnya sang bos yang sudah bisa dia tebak akan berbunyi apa. “Di kantin saja, ketemu yang lain juga nanti di sana.” Namun hanya kalimat itu yang akhirnya menjadi pilihannya, membuat alasan lain sepertinya tidak lagi banyak berguna. Tak seorangpun di ruangan ini yang tiba-tiba bisa ia ajak bersandiwara akan janji makan siang bersama. “Saya permisi duluan pak.” Diambilnya langkah terburu untuk segera menyingkir dari hadapan sang bos. Namun kalimat itu akhirnya terucap juga dari mulut sang bos. “Makan siang sama saya, tunggu saya di lobby. Dan ini perintah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD