Melangkahkan kaki sambil membuat coretan-coretan kecil di buku catatannya adalah hal yang sangat menyenangkan bagi seorang Irene Prastika Putri. Apalagi jika sepasang mata bulatnya telah menemukan spot-spot yang dirasa pas, sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh klien. Urusan terik matahari yang menyengat di ubun-ubun dan dengan senang hati menambah kesan eksotika kulit sawo matangnya, tak sedikitpun menyurutkan langkah kaki berbalut sneakers favorit yang setia menemaninya ke mana-mana. Lalu seulas senyum lebar akan menghiasi bibir tipisnya sepanjang hari.
Namun akan berbeda cerita jika langkah kakinya kali ini untuk mengiringi langkah lebar sang bos yang ia sematkan julukan “resek” itu.
Apa tadi katanya?
“Aku cuma memastikan aja kalau semua persiapan udah beres.”
Oh ayo lah, seorang Irene bahkan sudah melakukan double check, double confirmation, dan memang itulah yang selalu ia lakukan. Hal yang membuat mantan bos selalu memberikan apresiasi luar biasa atas kinerjanya yang jauh dari kata asal-asalan.
Namun kata “oke, bagus, lanjutkan” sekarang menjadi nyaris tak terdengar lagi sejak posisi tertinggi di kantornya berpindah tangan kepada sang adik.
“Manusia itu tempatnya kurang, bisa aja kan ada detail-detail yang enggak tertangkap oleh mata kamu.”
Oke, siapa yang akan membantah kalimat itu? Tidak ada bukan? Tak ada yang sempurna di muka bumi ini kecuali ketidak-sempurnaan itu sendiri.
Namun bukan itu yang menjadi sumber kedongkolan gadis manis itu. Masih terekam dengan teramat jelas dalam buku catatan pun memorinya, apa saja detail-detail yang diinginkan seorang Haydar Pramudya dalam meeting, setelah kata sepakat tentang konsep yang akan diusung mencapai kata “deal”. Namun apa yang terjadi pada hari yang ditentukan itu kemudian?
“Saya mau di bagian itu ditambah beberapa rangkaian bunga, red rose kukira akan sangat cocok. Kemudian taruh juga sebuah sepeda, minta yang warna putih ya. Pasang juga beberapa balon, balonnya harus bentuk hati dan berwarna pink, dan sebuah bangku di sebelahnya juga oke, minta yang warna putih juga. Untuk meja yang di tengah itu singkirkan aja, enggak match sama yang lain.”
Baiklah.
Terpejam penuh kedua mata Irene, bukan karena silau akan sinar matahari, namun napas yang sekuat tenaga ditahan dan genggam erat kedua telapak tangan sampai kuku-kuku jarinya tampak memutih sudah bisa menggambarkan betapa kesal memenuhi rongga dadanya.
“Baik pak, ada lagi pak yang mau ditambahkan?” penuh geram suara itu terlontar dari sela bibir Irene dengan gigi yang saling beradu, karena sudah bisa dia tebak kalimat apa yang selanjutnya akan keluar dari bibir bos reseknya itu.
“Udah itu aja, satu jam lagi saya mau semuanya sudah ready. Dan kita mulai sesi fotonya.”
See, benar ‘kan.
Sangat mudah bagi Irene, sebenarnya, untuk menggumamkan lirih kata “bodo amat”. Toh urusan selanjutnya adalah bagian properti yang harus bertanggung jawab menerima “kegilaan” pria dengan rambut-rambut yang tertata rapi di dagunya, yang sayangnya membuat beberapa wanita tak mengalihkan pandangan mereka di menit-menit awal dan beberapa menit selanjutnya, namun hal itu tidak berlaku bagi Irene yang menghabiskan sepertiga dari seluruh waktu dalam sehari semalamnya untuk beredar di sekitar Haydar. Tapi nurani seakan memberontak melihat ke-semenang-menang-an pria yang belum genap dua bulan itu bercokol di kantornya.
“Saya yakin kamu akan bisa mengimbangi keinginan-keinginan adik saya nanti, saya yakin dengan kompetensi yang kamu miliki Irene.” Masih jelas dalam ingatan Irene akan kalimat yang dilontarkan oleh Hanni, sang mantan bos yang notabene juga kakak kandung dari Haydar, jelang pengalihan tampuk kepemimpinan Askara Photography, lengkap dengan senyum penuh arti.
Siapa yang tak mengajui pun mengenali hasil tangan dingin seorang Haydar Pramudya di dunia fotografi, beserta kegilaan-kegilaannya.
Arrggh....
Andai tak ingat cicilan rumah yang baru jalan dua tahun, sudah sejak hari ketiga kehadiran Haydar di kantor sebuah surat pengunduran diri melenggang indah menuju mejanya.
“Setelah ini kamu temani saya makan malam.” Kalimat yang sekonyong-konyong terlontar dari bibir merah itu menjeda lamunan Irene. “Pakai gaun yang paling cantik, enggak usah balik ke kantor, nanti jam 7 saya jemput.”
“Di mana?”
“Di rumah, saya bosan buat alasan ke mama kalau kamu sibuk.”
Mata Irene memicing sekadar untuk mengirimkan sinyal sebelum sebuah kalimat penolakan terucap. “Tidak ada dalam job desk saya untuk menemani makan malam keluarga kalau bapak lupa.”
Namun bukan Haydar namanya jika lantas terpengaruh oleh kalimat penolakan itu. Terbukti dengan kedua alis yang terangkat dan seringai di sudut bibir. “Bukan saya yang menciptakan keakraban antara kamu dan keluarga saya juga ‘kan? Perlu saya ingatkan itu juga.”
Mengatup erat kedua bibir Irene disertai satu kepalan tangan tertahan mengiringi langkah Haydar yang menjauh sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Siulan terdengar lirih dari mulutnya.
Oh, andai bisa Irene putar waktu, tak kan ada hari-hari lembur di rumah keluarga besar sang bos yang ia sanggupi saat masih bekerja di bawah kepemimpinan Hanni. Hari-hari yang lantas merajut keakraban dengan Sofia, sang ibu bos, hingga belajar membuat beberapa kue pun lantas menjadi agenda dengan jadwal terprogram.
Tapi itu dulu, sebelum anak bungsu keluarga itu, yang sekarang tak nampak lagi sosoknya kembali dari perjalanan panjangnya demi memenuhi gelora jiwanya. Underwater Photography.
Dan sekarang, adakah hal yang lebih menyebalkan dari melihat senyum penuh seringai yang tak henti terkulum dari bibir pria yang sekarang fokus melihat ke depan, sambil sesekali menginjak pedal gas lebih dalam ketika jalanan dirasa cukup lengang?
Belum lagi rasa panas yang masih setia bertahan di wajah, ketika satu kata pujian “cantik” yang semena-mena ia lontar sesaat begitu pintu rumah terbuka tadi. Belum lagi mau berkurang bahkan oleh AC mobil yang di set dengan suhu terendah. Bahkan hingga sekarang pun laju detak jantungnya belum sempurna kembali ke detak normal.
“Duh, rasanya mama mimpi ketika Haydar pagi-pagi telepon dan bilang ke mama kalau nanti malam bakal ajak kamu makan malam di rumah. Mama sampai ribet suruh mbak siti buat belanja dadakan di pasar. Anak itu memang sukanya buat mama jantungan. Tau gitu kan dari kemarin mama sudah siapin macam-macam.” Sambutan yang begitu meriah dari wanita yang biasanya juga memang heboh, namun sangat Irene sayangi itu terdengar begitu kakinya menapaki ruang keluarga rumah yang cukup lama tak disinggahinya itu.
“Maaf ma, Irene cukup sibuk belakangan ini.” Cuma itu kalimat yang terpikir di otaknya, selagi bagian otak yang lain masih mencerna kalimat dari sang mama yang dirasa cukup ganjil.
Sementara pria yang tadi membawanya ke rumah ini dengan santai berjalan menuju dapur dan membuka lebar lemari es setelah memberikan senyum penuh seringai jahil.
======
akhirnya bisa up lagi, jangan lupa klik love ya biar masuk pustaka kalian dan tahu kalau aku up lagi, dan jangan lupa follow juga IG aku @sayocamar_165
oh ya, baca lagi bab 1 ya, ada perubahan dikit biar tambah kena feel-nya.
with love,