Bab 1: Tiket yang Tertinggal di Sela Badai
Gemuruh guntur bersahut-sahutan di atas langit kampung, seolah hendak meruntuhkan atap rumbia rumah panggung milik Ami. Di dalam kamar yang remang oleh cahaya pelita yang bergoyang ditiup angin malam, napas sepasang bayi perempuan berusia dua minggu terdengar halus dalam balutan kain jarik usang. Popow dan Pupu. Mereka terlelap dengan tenang, tanpa tahu bahwa malam ini, dunia kecil mereka sedang runtuh berkeping-keping. Di luar, hujan turun begitu deras, menghantam dinding bambu yang mulai rapuh dan menciptakan nada sunyi yang mencekik d**a siapa pun yang mendengarnya.
Di sudut kasur kapuk yang mulai menipis dan berbau apek, putra tunggal Ami—ayah dari si kembar—terbaring dengan wajah pucat kain kafan. Penyakit paru-paru yang parah telah menggerogoti tubuh mudanya dalam hitungan bulan, menyisakan tulang yang dibalut kulit ringkih. Setiap tarikan napasnya terdengar seperti gesekan ampas tebu, berat, tersendat, dan penuh rasa sakit yang tertahan.
"I-Ibu..." bisik suara itu, sangat lirih. Nyaris tenggelam oleh suara hantaman hujan deras yang tiada henti di luar.
Ami menggenggam erat tangan anaknya yang terasa sedingin es. Air matanya sudah kering sejak sore tadi, menyisakan rasa sesak yang menyumbat tenggorokan. Selama berhari-hari Ami tidak tidur, terjaga di samping pembaringan anak lelakinya sembari mengucap doa-doa kesembuhan yang kini terasa kian tipis harapannya. "Iya, Nak. Ibu di sini. Jangan banyak bicara dulu, simpan tenagamu. Ibu ada di sampingmu," bisik Ami lembut, mencoba mengalirkan kehangatan dari telapak tangannya yang keriput.
Dengan sisa tenaga yang ada, sang putra merogoh sesuatu dari bawah bantalnya yang lusuh. Sebuah amplop cokelat yang sudah agak lecek dan lembap oleh keringat dinginnya. Tangan tua Ami yang gemetar menerima amplop tersebut. Saat jemarinya mengeluarkan isi di dalamnya, d**a Ami serasa dihantam batu besar. Di sana tertera selembar kertas resmi dengan logo maskapai penerbangan dan biro perjalanan ibadah.
"Tiket... tiket umrah untuk Ibu," bisik putranya. Seulas senyum tipis, namun sarat akan rasa bersalah, terukir di bibirnya yang mulai membiru. "Niatnya... bulan depan aku mau mengantar Ibu langsung ke depan Ka'bah. Memenuhi impian Ibu sejak dulu. Uang tabunganku sebagai buruh bangunan akhirnya cukup untuk ini. Tapi sepertinya... Allah punya rencana lain. Maafkan anakmu yang tidak berguna ini, Bu... belum bisa melihat Ibu mengenakan kain ihram di sana dan berjalan mengitari Baitullah..."
"Tidak, Nak! Kamu anak yang saleh, jangan bicara begitu. Ibu tidak pernah menuntut apa pun dari piring makan," Ami terisak, mendekap amplop cokelat itu erat-erat di dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdegup nyeri. Air matanya kembali tumpah, membasahi permukaan kertas tiket yang kini terasa begitu berat.
"Tolong... tumpahkan doa untukku di depan Ka'bah nanti ya, Bu... Dan jaga... jaga Popow dan Pupu," napas pemuda itu mulai tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Matanya yang mulai meredup melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, seolah mencari bayangan seseorang yang seharusnya ada di sana. "Rina... dia benar-benar pergi ke Malaysia, Bu? Dia tega... meninggalkan bayi-bayi kita yang masih merah dan membutuhkan air susunya?"
Ami tidak sanggup menjawab. Lidahnya mendadak kelu. Kenyataan bahwa menantunya, Rina, nekat kabur menaiki kapal menuju Malaysia dua hari lalu demi mengejar "uang besar" adalah belati kedua yang menancap telak di hati mereka. Rina pergi begitu saja tanpa pamit yang layak. Ingatan Ami berputar pada malam di mana Rina mengemas pakaiannya ke dalam tas besar dengan wajah ketus. Saat Ami memohon agar Rina tidak pergi demi suaminya yang sekarat, Rina justru menjawab dengan ketus, "Kalau aku tetap di sini, kita semua mati kelaparan! Rumah gubuk ini tidak bisa memberi masa depan untuk anak-anakku. Aku mau cari uang besar di luar negeri!"
Perempuan itu tega menelantarkan suaminya yang sekarat dan dua bayi kembar yang baru saja dilahirkannya, membebankan seluruh takdir pahit itu pada pundak Ami yang sudah membungkuk dimakan usia. Tidak ada setetes pun air mata perpisahan dari Rina untuk kedua bayinya yang menangis kehausan malam itu.
"Rina pasti kembali setelah urusannya selesai, Nak. Sekarang kamu tenang, fokus pada kesembuhanmu..." bohong Ami. Kalimat itu adalah dusta paling menyakitkan yang harus ia ucapkan demi menenangkan detik-detik terakhir hidup putranya. Ami tahu Rina mungkin tidak akan pernah peduli lagi, tetapi ia tidak ingin anaknya pergi membawa dendam dan sakit hati.
Namun, genggaman tangan yang kaku itu tiba-tiba melemas. Sisa kehangatan dari jemari putranya menguap begitu saja, menyisakan jemari yang terkulai lemas di atas kain jarik. Sorot mata pemuda itu perlahan meredup, hingga akhirnya menyisakan tatapan kosong yang lurus menatap langit-langit gubuk. Malam itu, di tengah badai yang mengamuk, putra tunggal Ami mengembuskan napas terakhirnya.
Ami terduduk kaku, dunia di sekitarnya mendadak sunyi senyap. Hanya ada detak jantungnya sendiri yang terasa hampa dan dingin. Namun kesunyian itu tidak bertahan lama. Di samping jasad sang ayah, dua bayi kembar perempuan tiba-tiba terbangun secara serempak. Tangis mereka pecah, melengking tinggi menembus suara gemuruh hujan, seolah tahu bahwa mereka baru saja menjadi anak yatim yang kehilangan pelindung utamanya.
Ami menghapus sisa air matanya dengan kasar menggunakan ujung sarungnya yang basah. Ia tidak boleh tumbang sekarang. Jiwanya harus sekeras batu karang demi dua nyawa kecil yang kini berada di bawah tanggung jawabnya. Ia bangkit dengan tubuh yang gemetar, lalu merengkuh Popow dan Pupu ke dalam satu dekapan hangat di dadanya. Bau minyak telon dan tangis bayi itu berbaur dengan aroma tanah basah yang masuk dari sela-sela dinding bambu.
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Ami. Dengan tangan tuanya, ia harus menenangkan dua bayi yang menangis bergantian karena kelaparan. Rina pergi tanpa meninggalkan uang sepeser pun, dan persediaan s**u formula di dapur sudah menipis. Ami terpaksa menyeduh air tajin hangat—air rebusan beras—lalu meniupnya perlahan sebelum menyuapkannya menggunakan sendok kecil ke mulut Popow dan Pupu. Menatap kedua bayi itu menelan air tajin dengan lahap, d**a Ami kian teriris. Namun, ia bersumpah di dalam hati tidak akan membiarkan anak-anak ini telantar.
Keesokan harinya, pemakaman putra Ami berlangsung sederhana di bawah rintik hujan yang tersisa. Tetangga sekitar datang membantu, namun bisik-bisik miring tidak dapat dihindari. Beberapa orang memandang Ami dengan tatapan kasihan yang merendahkan, berbisik tentang bagaimana seorang nenek jompo akan menghidupi dua bayi kembar perempuan tanpa adanya sosok orang tua. Namun, Ami menutup telinganya rapat-rapat. Fokusnya hanya tertuju pada dua pasang mata jernih yang menantinya di rumah.
Selesai pemakaman, Ami kembali ke rumah panggungnya yang kini terasa lengang. Ia duduk di lantai kayu, menenangkan tangis kedua cucunya sambil menatap tiket umrah yang kini tergenggam di tangan kirinya. Kertas itu kini telah kedaluwarsa, tanggal keberangkatannya sudah lewat, dan tidak bisa lagi digunakan untuk terbang. Namun bagi Ami, nilainya jauh lebih berharga dari emas mana pun di dunia ini.
"Putraku sudah tidak sakit lagi di sana," bisik Ami pelan, mengecup kening Popow dan Pupu bergantian dengan penuh takzim. "Mulai hari ini, Nenek yang akan menjadi ibu kalian. Nenek yang akan menyayangi kalian setiap hari, menjaga kalian di setiap embusan napas Nenek. Dan demi ayah kalian, Nenek berjanji... suatu hari nanti, Nenek akan membawa tiket ini bersujud di hadapan Baitullah. Nenek akan sampaikan pada Allah betapa salahnya ayah kalian, dan Nenek akan memohon kelancaran takdir untuk masa depan kalian berdua."
Ami melipat tiket usang itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kaleng biskuit bekas yang ia simpan di bawah kasur kapuknya. Kaleng itu kini resmi menjadi kotak penyimpan rahasia, impian, dan janji sucinya yang akan ia perjuangkan dari nol, meskipun ia harus merangkak memeras keringat di sisa umurnya.