Orang-orang Dekat Assad

1105 Words
Mata indah Zica berkedip dengan cantik, artis ternama itu menganggukan kepala dengan lembut. “Ya ... em aku tadi selintas memperhatikan kalian diakhir pemotretan,” jelas Zica sambil terus menatap Harra. Mulut Harra membentuk huruf O, melongo. “Mungkin Kamu nggak tahu, tapi seingatku baru kali ini Assad bertingkah seperti itu pada gadis yang baru dijumpainya. Butuh waktu lama bagi seorang perempuan untuk dekat dengan laki-laki yang biasanya terlihat dingin itu,” lanjut Zica mengemukakan alasan. “Oh ya?” jawab Harra tanpa mengerti harus merespon dengan apa pernyataan itu. Zica kembali tersenyum. “Aku senang, dengan wajah cantikmu itu, Kamu memilih profesi sebagai detektif perempuan. Jika Kamu memilih jadi artis ... mungkin aku akan merasa terancam,” celetuk Zica seperti sedang berusaha mengganti tema pembicaraan. “Ah ... tentu kecantikanmu yang sudah ternama itu nggak mungkin kukalahkan, Zica, jika aku jadi artis,” balas Harra sambil berusaha menebak maksud pujian orang yang baru dikenalnya itu. “Ya, harusnya aku merasa seperti itu jika dilihat dari fakta, karena aku memang sudah berprofesi jadi artis. Tapi, melihat perlakuan Assad tadi, aku meragukan pendapatmu,” imbuh Zica dengan nada suara yang lebih rendah. Harra mengangkat kedua tangan tanda menyerah karena tak bisa berbuat apa-apa. Senyum Zica mengembang melihat respons Harra. “Kalau tak melihatmu dan bicara langsung seperti ini, mungkin aku akan berpikiran lain tentangmu,” ucap Zica lembut. Harra mengembuskan satu napas dari mulut hingga bunyinya hampir mirip dengan siulan, satu tangan Harra menempel di d**a. “Aku senang mendengar itu,” ucap Harra sambil membatin, “ setelah kemarin dilabrak dan dituduh yang enggak-enggak oleh gadis Assad yang lain.”. “Kalu begitu, aku hanya bisa berharap kerja tim penyidik utusan masyarakat itu lancar. Ya, walaupun di sisi lain, aku nggak ingin apa yang dibangun Assad akan terganggu dengan hasil penyelidikan itu,” pungkas Zica kemudian tersenyum. Zica menoleh ketika suara langkah Assad terdengar mendekat. “Sayang sekali pertemuan ini harus berakhir, Zica. Ada banyak hal yang harus kulakukan hari ini, mengerti ‘kan?” ucap Assad tanpa terlihat ingin duduk. Zica beranjak melihat itu. “Oke kalau begitu, tapi ingat! Kita harus menjadwal ulang makan malam yang gagal itu,” ucap Zica, wajahnya terlihat cemberut manja. Assad mengangguk seraya menepuk-nepuk bahu gadis itu lembut. Harra yang melihat itu segera beranjak dan ikut mengucapkan salam perpisahan pada Harra. Beberapa saat kemudian mobil melaju meninggalkan rumah megah artis ternama itu dengan kencang. “Berhenti di sini!” seru Harra dan itu membuat Assad menoleh. “Kenapa?” sahut Assad sambil melongok ke luar jendela dan melihat sebuah taman di tengah kota New March yang luas dan indah. “Ya karena aku ingin berhenti di sini saja, haruskah ada alasan?” balas Harra santai. Assad termenung sejenak sembari menatap dalam ke manik mata gadis itu. “Apa nggak bahaya jika pergi sendiri?” ujar Assad setelah menimbang sejenak dan melupakan apa posisi Harra dalam klannya. “Hei, Tuan Assad, aku bukan artis cantikmu itu yang akan dikerubuti paparazi di mana pun aku berada,” seru Harra sembari balas menatapnya, selintas ekspresi khawatir melintas di wajah Assad yang hanya diam. “O, serangan itu. Sejauh ini serangan-serangan itu terjadi di malam hari ‘kan? Santai saja,” tutur Harra setelah menyimpulkan reaksi Assad. Assad menghela napas panjang. “Hentikan mobil di gerbang taman!” perintahnya pada Sopir mobil hitam itu. Dengan patuh anak buah Assad itu melaksanakan perintah. “Kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku ya ...,” pinta Assad ketika Harra sedang membuka pintu mobil. “Hah! Memang Kau ayahku?” sahut Harra sambil membelalakan mata. Assad tertawa menanggapi protes gadis itu dan terus mengikuti gerak gadis itu yang berjalan memasuki gerbang taman. “Haaah ... kini aku mulai mengkhawatirkannya,” seru Assad dalam hati sambil terus menatap sosok Harra hingga tak terjangkau lagi oleh pandangan mata. “Jalan!” perintah Assad dan mobil hitam itu segera menderu meninggalkan taman kota. Harra berjalan menuju sebuah stand minuman dan makanan cepat saji. Tak berapa lama gadis itu sudah duduk di salah satu bangku taman kota yang jauh dari beberapa orang yang juga sedang menikmati suasana pagi menjelang siang di kota New March itu. Kemudian Harra mengambil earphone wireless dan menyumbatkan ke kedua lubang telinga. Setelah itu mengambil handphone dan mengutak-atik layarnya. “Nazar,” ucapnya, kemudian menyesap coklat hangat dari gelas kertas itu. “Itu saja? Nama belakang?” Jawaban suara laki-laki dari earphone terdengar. “Tak tahu, begitu mereka memanggilnya,” imbuh Harra sambil sekilas melongok Handphone yang ada di pangkuannya. Beberapa saat kemudian jeda diam menyela. Beberapa detik kemudian berlalu. “Nazar Alburn, benar ini orangnya?” tanya suara laki-laki dari earphone itu. Harra kembali melongok layar handphone sambil mengunyah donut dengan toping coklat yang lezat itu. Wajah seorang laki-laki yang terlihat tenang dengan senyum yang tampak menarik terpampang di layar. “He em, bwenewr,” jawabnya dengan mulut penuh makanan. “Nazar Alburn berperan sebagai pelaksana keputusan dari Cosmo Holdings, menjabat sebagai salah satu pimpinan korporasi itu. Orang di belakang layar yang cerdik,” terang suara laki-laki dari earphone itu. “Aku nggak ingin informasi seperti itu, apa nggak ada informasi yang em ... ‘lain’?” ujar Harra dengan memberikan penekanan yang jelas pada kata lain. Diam kembali menghampiri, Harra menunggu sambil mengunyah donat dalam bungkus kertas itu. “Tak ada informasi dengan kategori ‘lain’. semua informasi terlihat formal dan ‘baik-baik saja’. itu pun bisa dibilang dalam jumlah yang sangat sedikit,” terang suara dari earphone tersebut. “Ah ...,” keluh Harra panjang. “Ronald, rambut panjang sebahu,” lanjut Harra setelah menuntaskan kekecewaan. “Ini?” Dengan cepat Harra mendapat jawaban. Gadis itu kembali melongok ke layar handphone, kemudian meremas kertas bungkus donut itu dan mengiyakan sambil melempar bungkus itu di tong sampah yang berada tak jauh dari tempat ia duduk. “Orang dekat pemilik Cosmo Holding dan diserahi banyak tugas penting. Lebih sering di lapangan dan sepertinya banyak memimpin tugas-tugas fisik,” jelas suara laki-laki dari earphone itu. “Tugas fisik?” sahut Harra sambil mengernyitkan kening, “bisa lebih spesifik?”. “Dia pemimpin dari Ivory Guard,” lanjut suara laki-laki itu. Gadis itu kembali mengernyit. “Apa itu?” sahut Harra cepat. “Salah satu usaha resmi yang menyediakan jasa keamanan milik Cosmo Holdings, em ... bodyguard, jasa perlindungan untuk artis, pejabat dan kalangan berduit lain,” lanjut suara laki-laki itu. “Wah ... menarik!” seru Harra, wajah dan gerak-gerik Ronald yang terlihat kesal dengannya itu terbayang. “Tunggu! Ada informasi penting di sini. Laki-laki ini punya catatan kriminal,” imbuh suara laki-laki itu. Seketika Harra menghentikan kegiatan minumnya, gelas kertas itu menjauh dari bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD