Harra diam dan menunggu informasi tambahan itu.
“Ronald tercatat pernah terlibat dalam dua p*********n di kota ini dan satu di kota lain, perkelahian antar klan dan pernah tertangkap atas kepemilikan senjata. Tapi, kasus-kasusnya tak pernah sampai di pengadilan. Dia hanya sesaat ditahan dan dengan cepat dikeluarkan oleh pemilik Cosmo Holdings,” papar suara laki-laki dalam telepon itu. Harra termenung sesaat kemudian menyesap coklat hangat itu hingga tetes terakhir.
“Ada informasi tempat yang sering dikunjungi kedua laki-laki dari Cosmo Holdings itu?” lanjut Harra setelah diam dalam waktu yang cukup lama.
Suara dalam earphone yang tak terdengar membuat Harra menunggu dalam diam.
“Belum ada informasi tentang tempat favorit yang selalu dikunjungi Nazar tapi ada sebuah tempat yang sepertinya rajin disinggahi laki-laki berambut gondrong ini. Mercy. Sebuah club host,” jawab suara laki-laki itu.
“Nama yang aneh untuk sebuah club host,” komentar Harra sembari sedikit menggerakkan kepala.
“Apa aku harus mencari tahu tentang Melanie dan Zica, atau dua gadis itu hanya bunga-bunga yang tumbuh di sekitar pemilik korporasi hitam itu?” batin Harra sesaat, tapi kemudian gadis itu memutuskan untuk mengesampingkan dua perempuan yang telah dijumpainya itu.
“Cukup untuk saat ini kalau begitu,” ujar Harra sambil hendak beranjak.
“Tunggu!” Suara laki-laki dalam earphone itu membuat Harra kembali duduk.
“Ada seseorang yang terus berusaha mencari informasi tentangmu,” sambung suara laki-laki itu dengan cepat.
“Kenal ini?” lanjut suara laki-laki itu, Harra mengangkat handphonenya dan memperhatikan layarnya. Keningnya berkerut seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Namanya Alfa, laki-laki ini dengan aktif mulai mencari informasi tentangmu akhir-akhir ini,” imbuh suara laki-laki dari earphone itu.
“Oh ... itu orang Cosmo Holdings,” tukas Harra ketika ingatannya menemukan sebuah wajah yang ditemui sepintas waktu pertama kali datang ke gedung milik Assad.
“Apa dia juga mencari informasi tentang anggota tim penyidik yang lain?” sambung Harra sesaat kemudian.
“Tidak,” jawaban laki-laki itu sejenak membuat Harra tertegun.
Sejurus kemudian Harra memutuskan untuk mengakhiri percakapan itu. Gadis itu melepas earphone, memasukkan ke dalam tas, beranjak dan berjalan menuju tong sampah untuk melempar gelas kertas yang sudah kosong itu. Dengan bergegas gadis itu berjalan menuju gerbang taman kota dan mencari sebuah taksi.
Beberapa saat kemudian taksi yang meluncur dengan cepat itu berhenti di bangunan tinggi Cosmo Holdings.
“Jody apa yang Kamu temukan?” seru Harra yang baru saja memasuki ruangan yang khusus disediakan untuk tim penyidik.
“Uuh ...,” keluh Jody panjang, laki-laki yang bertugas sebagai ahli hukum dalam tim penyidik ini mendongak kemudian memundurkan kursinya.
“Berita buruk ya?” tanya Harra setelah duduk di samping laki-laki itu dengan membawa kursinya.
Jody menatap Harra dengan lelah.
“Tak ada kemajuan jika tak ingin mengatakan ini adalah berita buruk. Lihat! Semua terlihat legal dan ‘baik-baik saja’,” ucap laki-laki itu sembari menunuk ke arah layar komputernya. Pandangan Harra sekilas mengarah pada apa yang ditunjuk laki-laki itu, tapi sesaat kemudian gadis itu kembali berpaling dan menatap dengan awas pada laki-laki satu timnya itu.
“Semua yang terdaftar sebagai anak perusahaan dan semua transaksi Cosmo Holdings adalah legal. Bahkan, di luar status legal ini, untuk sebuah anak perusahaan bernama Ivory Guard yang bergerak menyediakan jasa bodyguard, beberapa di antaranya pernah terlibat beberapa kasus p*********n tapi semua menguap begitu saja,” jelas Jody dengan nada kecewa yang dalam.
Harra termenung sejenak.
“Aku merasa sia-sia duduk di depan komputer ini dan tak menemukan sesuatu pun yang kurasa dapat membawa korporasi ini ke pengadilan,” keluh Jody dengan wajah yang makin kecewa.
“Apa nggak bisa mencari sumber di luar data perusahaan ini? Mungkin data-data ini sengaja dibuat agar terlihat ‘baik-baik saja’?” ucap Harra yang ikut merasakan kekecewaan rekan se-timnya itu.
“Aku mencari sumber lain ketika sedang berada di rumah kemarin dan itu harus membuatku harus berhadapan dengan firma hukum terkenal yang punya pengacara-pengacara handal. Mereka biasa menangani kasus-kasus Cosmo Holdings,” jawab Jody dengan nada suara yang terdengar berat.
“Apa mereka tak mau diajak kerja sama?” kejar Harra dengan cara bicara yang cepat. Jody menggeleng.
“Permintaanku beberapa kali mendapat penolakan,” imbuh Jody dengan sedih.
Harra mendesah lelah.
“Kita laporkan pada masyarakat semua instansi yang menghalangi penyelidikan ini,” cetus Harra sambil mengalihkan pandangan pada rekan lain yang menoleh sambil tersenyum menyeringai mendengar desah kecewa Harra yang panjang.
“Aku malah pesimis, apa minggu depan ada yang bisa kita laporkan pada masyarakat,” sahut Jody apatis. Harra menoleh dan mendengkus dengan bahu yang terlihat turun.
Harra beranjak dan dengan menyeret kursi, bergerak ke meja rekan timnya yang lain.
“Henry!” seru Harra sebelum langkahnya sampai di samping laki-laki itu. Tim yang bertugas sebagai akuntan dalam penyidikan ini menggeliatkan badannya.
“Nihil,” ucapnya sambil menoleh ketika Harra sudah duduk di sampingnya. Harra tetap diam dan menunggu paparan berikutnya dengan hati yang siap kecewa.
“Semua transaksi dalam keadaan ‘bagus’, tersusun rapi dan jauh dari apa yang bisa kita curigai,” papar Henry tak senang. Tangannya membentuk bulatan huruf O pertanda semua baik-baik saja jika dipandang dari sudut kepentingan Cosmo Holdings.
“Kita baru dua hari di sini, moga masih ada celah yang bisa kita temukan,” sahut Henry optimis.
Sikap Henry yang berbeda dengan sikap Jody belum menumbuhkan harapan di hati Harra karena gadis itu tahu sebenarnya keduanya sama-sama dalam kesulitan. Harra meninggalkan Henry dan menuju ke arah Oscar. Kali ini gadis itu bergerak dengan keadaan duduk dan membuat kursi kantor beroda itu meluncur ke meja tim penyidik yang bertugas manjadi auditor manajerial itu. Laki-laki yang paling senior di antara anggota tim yang lain itu terkekeh.
“Itu bagus untuk meredakan ketegangan dan sedikit menutupi kekecewaan,” komentar Oscar begitu kursi yang diduduki Harra berhenti di sampingnya.
“Apa aku akan mendapatkan informasi berupa berita duka seperti dua pria sebelumnya itu?” ujar Harra sambil menunjuk dua orang rekan dengan isyarat gerakan kepala. Gadis ini mengabaikan komentar Oscar.
Oscar menoleh ke arah Harra.
“Tepat sekali!” seru laki-laki berambut putih itu sambil mengacungkan ibu jari. Harra kembali mendesah panjang mengungkapkan suasana hatinya.
“Manajemen korporasi ini benar-benar rruar biasa,” seloroh Oscar sambil mengerling, laki-laki ini terlihat handal mengatasi kekecewaannya.
“Benar kata Henry, kita masih bisa menemukan ‘sesuatu’ dari korporasi ini. Jangan biarkan Jody mempengaruhimu, Harra. Dia begitu karena harus menghadapi senior-seniornya yang berada di firma terkenal itu,” tambah Oscar sambil menepuk bahu Harra pelan. Harra mengembuskan napas panjang.
“Hem, masing-masing dari kami ternyata menghadapi kesulitan-kesulitan yang nggak mudah." ucap Harra dalam hati. Mendadak terdengar suara langkah memasuki ruangan.
“Aku akan mengajukan tes kebohongan untuk pemilik Cosmo Holdings!” seru Eliz yang baru masuk ruangan. Semua orang dalam ruangan itu menoleh dengan mulut ternganga.