Beberapa saat kemudian diam menyusup dan membuat ruangan tim penyidik di korporasi besar itu hening. Semua mata tertuju pada wajah Eliz yang terlihat nyata menahan kesal.
“Kami siap mendengar berita buruk, Eliz ... duduklah!” ucap Oscar lembut. Gadis dengan rambut cepak dan terlihat cekatan itu bergegas menuju meja laki-laki berambut putih di mana Harra sudah duduk di sampingnya. Melihat gerak-gerik penyidik muda wakil dari kepolisian itu, Henry dan Jody ikut merangsek ke arah Meja Oscar sambil membawa kursi masing-masing.
“Kami juga siap mendengar ... berita buruk itu,” seloroh Henry kemudian menyengirkan hidung.
Eliz berdiri tepat di depan meja Oscar. Wajahnya yang terlihat keruh menandakan apa yang diprediksi rekan-rekan se-tim itu tak salah.
“Dari semua interogasi, semua jawaban seperti telah disediakan, apa mereka mendapat surat edaran yang harus dihapal?” seru Eliz dengan kesal.
“Semua?” sahut Jody penuh penekanan. Eliz mengangguk, kemudian meletakkan sebuah buku kecil dengan kasar di meja Oscar.
“Em ... apa mungkin mengajukan tes kebohongan untuk pemilik Cosmo Holdings ini?” lanjut Jody sambil menatap Eliz dengan ragu.
“Aku akan mengincar pentolan-pentolannya saja, jika mereka bisa diatasi, kurasa pegawai-pegawai lain bisa dengan mudah mengungkapkan informasi,” jelas Eliz masih dengan rasa kesal yang membayang di wajahnya.
Masing-masing dari anggota tim tertegun.
“Kurasa akan sulit mengajukan tes itu, mengingat ini bukan kasus yang sudah berada di kepolisian, belum jelas kriminalnya, juga belum pasti menurut hukum,” cetus Henry sambil memandang jauh ke depan.
“Yap! Benar sekali!” celetuk Jody seraya mengacungkan jempolnya hingga hampir mengenai wajah Henry. Akuntan itu menggerakkan kepala untuk menghindari gerakan jempol Jody yang seolah disengaja.
“Pengacara-pengacara kawakan akan segera diterjunkan untuk menghalangi rencanamu,” lanjut Jody tanpa mempedulikan Henry.
Wajah Eliz menggelap. Dari mulutnya keluar desah kecewa yang panjang.
“Oscar ...,” serunya lirih meminta pendapat anggota tim yang paling senior. Laki-laki berambut putih itu terdiam sejenak.
“Pendapat kedua laki-laki ini patut dipertimbangkan, jangan sampai tim kecil kita ini yang diincar dan jadi korban kelicikan mereka. Kalau menurutmu itu harus dilakukan, Kamu bisa mengupayakannya. Tapi, tentu saja, kehati-hatian harus diutamakan, berkonsultasilah dulu dengan orang-orang yang mengerti hukum. Kamu tahu ‘kan di zaman sekarang, sebuah pasal bisa diada-adakan, bisa diciptakan,” nasehat Oscar membuat kedua bahu Eliz bergerak turun.
“Oscar ...,” desahnya tak berdaya. Tapi, gadis berambut cepak itu tak bisa membantah pendapat anggota tim karena semua yang mereka utarakan memang dekat dengan kebenaran.
Eliz menoleh pada Harra dan berharap, gadis yang hampir sebaya dengannya itu mengungkapkan sepercik harapan yang mungkin masih ada.
“Tes kebohongan ...,” guman Harra lirih.
“Untuk para pentolan Cosmo Holdings ...,” lanjut Harra dengan nada lirih seolah sedang berbicara pada diri sendiri. Mata gadis cantik itu terlihat menerawang memandang ruang kosong yang tak berbatas. Eliz terus menatap Harra dan menunggu dengan gusar.
Harra diam beberapa saat.
“Lie detector itu akan bekerja dengan menandai denyut nadi, pernapasan, tekanan darah sistolik dan keringat yang dikeluarkan telapak tangan. Apa menurutmu orang-orang yang mungkin telah lama berkubang dalam bisnis bawah tangan itu akan 'selesai' dengan test itu? Aku tahu polygraph ... em alat-alat itu, zaman sekarang sudah menggunakan sistem digital. Tapi, sekali lagi, mereka bukan orang baru di dunia bisnis hitam,” tutur Harra masih dengan tatapan menerawang.
“Harra ...,” sahut Eliz lirih.
“Jika Kamu mengkhawatirkan mereka akan bisa mencurangi tes itu dengan alat-alat konvensional, sepertinya Kamu salah. Penguji dari tim forensik psikopsikologist akan memastikan obat penenang, anti perspirant seperti yang terdapat pada deodorant sebagai pengacau keringat dan bahkan ... paku payung yang diletakkan di dalam sepatu sebagai alat pencurangan tes polygraph itu akan dipastikan tak ada sama sekali pada mereka sebelum tes itu dilakukan,” sanggah Eliz dengan yakin.
Harra kembali diam sesaat.
“Tentu. Tentu saja, aku nggak akan meragukan tim penguji dari kepolisian maupun penegak hukum lain dapat terkecoh oleh reaksi psikologis mereka. Tapi, sekali lagi, alat uji kebohongan itu tak bisa mendeteksi kebohongan secara langsung. Alat uji itu hanya memantau tanda-tanda kebohongan yang ditampilkan oleh garis-garis yang dihasilkan oleh perubahan sistem organ tubuh. Tapi, bagaimana jika ketika tes itu mereka dapat menguasai ketenangan tanpa harus memasukkan obat penenang dalam tubuh? Ingat! Mereka adalah orang-orang terlatih yang mungkin sudah menganggap kebohongan sebagai satu mekanisme pertahanan. Bukannya mereka adalah orang-orang yang sudah biasa bekerja dengan menghalalkan segala cara?” Analisa Harra membuat Eliz menunjukkan ekspresi frustasi.
Eliz kembali mendesah lelah dengan nada yang panjang.
“Apa se-buntu itu kasus ini?” seru Eliz geram, tangannya mengepal menandakan kemarahan tertahan mulai menguasai gadis itu.
“Bukan maksudku membuatmu berada di jalan buntu seperti anggapanmu itu. Aku juga tidak menolak idemu itu, hanya saja, aku setuju dengan Oscar, jangan sampai ide ini membuat peluru yang kita tembakkan berbalik mengenai diri kita. Mereka bukan orang-orang yang mudah ‘kan?” tutur Harra sembari memandang Eliz dengan lembut. Ketiga laki-laki di sekitar dua gadis itu terlihat menganggukkan kepala.
“Ah ...,” keluh Eliz sambil kembali mengambil buku kecil yang tadi sempat diletakkan dengan kasar di meja Oscar.
Sejenak Harra tertegun, kemudian mengedarkan pandangan pada rekan-rekan se-timnya itu. Mereka menyambut tatapan Harra dengan ekspresi wajah bertanya.
“Jika ini adalah satu pertunjukan, tentu semua akan ditampilkan dengan pelatihan dan penataan panggung yang sempurna, begitu juga para tokohnya, tentu akan disiapkan sedemikian rupa,” ucap Harra setelah beberapa saat hanya bisa balas memandang tatapan bertanya rekan-rekan se-timnya.
“Maksudnya?” seru ketiga anggota tim yang lain dengan wajah penuh tanda tanya, kecuali Oscar yang langsung menganggukkan kepala.
“Karena itu mereka menerima tim penyidik utusan masyarakat. Jadi, semua telah dipersiapkan sebaik mungkin untuk terlihat ‘baik-baik saja’. Itulah kenapa kita mengalami kebuntuan,” papar Harra dengan tenang. Ketiga anggota tim menganggukkan kepala, bahkan di antaranya ada yang mengacungkan jempol.
Harra kembali mengedarkan pandangan pada rekan-rekannya.
“Kalau ini adalah panggung, bukankah kita harus melongok belakang panggung agar tahu apa yang mereka lakukan di luar pertunjukan ini?” cetus Harra dengan sorot mata berbinar. Rekan-rekannya dengan tegang menatap gadis itu sambil menunggu kalimat berikutnya.
“Kita harus mengikuti permainan mereka, biarkan saja mereka mengira kita tak menemukan apa-apa dan tetap berkutat pada informasi dan data-data yang mereka persiapkan ini. Tapi, kita harus menyisir dari pinggir, menyelidiki hal-hal itu dari luar korporasi ini," lanjut Harra dengan merendahkan volume suara. Rekan-rekannya saling berpandangan.
“Tak ada cara lain. Mungkin jalur itu lebih beresiko jika dilakukan, tapi jika kita tetap di sini, kita akan berputar-putar pada kebuntuan,” imbuh Harra dengan tegas. Di benaknya seketika terlintas satu tempat yang harus dikunjungi untuk memulai itu.