Ketua Klan Segitiga Emas

1090 Words
Sepeninggal Harra yang turun di taman kota New March, Assad duduk dengan tubuh merosot, kepalanya bersandar di atas jok mobil. Matanya terpejam dengan kedua tangan bersedekap di d**a. Glabelanya terlihat berkerut, belum lagi sesekali terdengar embusan napas panjangnya dan daerah di antara kedua matanya itu makin terlihat berkerut. “Ke kantor Segitiga Emas!” perintah Assad pada anak buahnya yang sedang menyetir kendaraan mewah warna hitamnya itu. Mendadak mobil hitam itu direm hingga menimbulkan bunyi decit akibat gesekan ban mobil dan aspal. “Woi!” teriak Assad sambil tubuhnya terdorong maju akibat gerakan mendadak dari aksi kekurangajaran anak buahnya itu. “B-b-bos ... maaf!” seru anak buahnya itu terbata-bata. “Haih ... cepat jalan! Hei! Apa mobil ini mendadak menabrak sesuatu?” seru Assad sambil memantau bagian depan mobil itu melalui jendela kaca. “Tt-tidak, B-bos!” balas anak buahnya dengan tegang. “Trus?” tanya Assad setelah sedikit menggeser posisi duduknya hingga bisa langsung menatap wajah sopirnya yang terlihat pias. “Apa nggak sebaiknya hubungi markas untuk menambah bantuan?” ucap anak buahnya khawatir. Assad menghela napas panjang. “Nggak perlu! Jalan saja!” perintah Assad bersikeras. Alih-alih segera melaksanakan titah sang bos, sopir itu justru memandang Assad sambil tak berkedip. Assad kembali menghela napas panjang. “Jalan saja! Kujamin aman,” ucap Assad berusaha menenangkan anak buahnya itu dengan suara yang lebih datar. “Saya hubungi Bos Ronald dulu, mungkin banyak dari anggota Ivory Guard yang bisa dikirimkan dengan segera,” saran anak buahnya itu masih dengan wajahnya yang pias. Assad kembali mengembuskan napas panjang. “Kamu nggak yakin dengan jaminanku?” tanya Assad pada anak buahnya yang kini terlihat bingung. “B-bukan, bb-bukan begitu, Bos,” jawab sopir itu dengan terbata. “Urusan Ronald biar aku yang atasi, kalau Kamu dimarahi langsung lapor aku, oke?” bujuk Assad pelan. Anak buah Assad itu mengangguk dengan ragu, tangannya mulai memegang stir mobil, tapi tak segera menghidupkan mesin mobil. Wajahnya justru menatap Assad dengan enam puluh persen heran, empat puluh persen bingung. Assad tersenyum menyeringai. Satu tangannya menepuk bahu sopir itu dengan pelan. “Jika takut, aku bisa bawa mobil ini sendiri ke sana, turunlah!” perintah Assad dengan tenang. Sopir itu terhenyak. “Ttidak, Bos. Aku nggak akan membiarkan Bos sendiri di kandang lawan,” ucap anak buah Assad menegaskan kesetiaan. Kemudian, dengan segera, laki-laki yang duduk di belakang kemudi itu menjalankan mobil hitam mewah itu. “Ini memang di luar kebiasaan, tapi jangan kuatir. Jika ada bahaya aku akan kasih sinyal. Dengan begitu, Kamu bisa kasih tahu Bos Ronald, oke?” ucap Assad sambil menyandarkan punggung. “Tapi sebelum itu jangan lakukan apapun tanpa perintah, mengerti?” imbuh Assad dengan penuh penekanan. “B-baik, Bos,” sahut anak buahnya dengan cepat. Assad tersenyum melihat reaksi anak buahnya itu. “Ini memang hal yang belum pernah kulakukan,” timpal Assad dalam hati. Beberapa menit kemudian, kendaraan roda empat Assad sudah berhenti di sebuah kantor yang terlihat mewah di bangunan yang memiliki beberapa lantai itu. “B-bos!” seru anak buahnya yang melihat Assad menanggalkan senjatanya dan meletakkan senapan itu di jok mobil. “Nggak papa, ingat pesanku tadi! Sekarang, tetaplah di mobil!” perintah Assad dengan tenang. Anak buahnya itu dengan terpaksa mengangguk. Anak buahnya melihat dengan tegang ketika Assad disambut oleh penjaga-penjaga dari klan lawan itu, mereka terlihat menggeledah Assad. “Aku hanya butuh bicara sebentar dengan Bos kalian, kupastikan aku nggak bawa senjata jenis apapun,” ucap Assad dengan tenang. Para penjaga itu sejenak saling pandang, kemudian salah satunya memberitahukan kedatangan Assad dengan menekan alat komunikasi yang tertempel di telinga. Beberapa saat kemudian penjaga itu mengangguk kemudian mempersilahkan Assad untuk mengikuti mereka ke arah lift yang ada di lantai satu. Selang beberapa menit, lift yang bergerak tiga lantai ke atas itu berhenti, pintu terbuka dan seorang laki-laki berkulit putih, mata sipit dengan kepala plontos menyambut di depan pintu lift itu. “Wow! Sebuah kunjungan yang lebih tepat disebut sebagai kejutan!” teriak laki-laki itu dengan senyum mengembang. “Ya, aku juga terkejut dengan pikiranku yang mendadak ingin menjumpaimu secara pribadi, Chan,” jawab Assad dengan tenang. “Tidak apa-apa!” seru Bos Segitiga Emas yang dipanggil dengan nama Chan itu ketika melihat anak-anak buahnya mulai merangsek ke arah Assad. Teriakan itu membuat para laki-laki di belakang Chan mengurungkan langkah. “Kalau begitu, silahkan ...,” sambut Chan sambil menggerakkan satu tangan untuk mempersilahkan. Assad mengikuti Chan dengan diawasi oleh pandangan-pandangan curiga para laki-laki yang ada di belakang laki-laki berkepala plontos itu. Chan segera menutup pintu ruang kerjanya dan tak mengizinkan satu pun anak buahnya masuk. Mereka kemudian berjaga di depan pintu ruang kerja bos Segitiga Emas itu. “Ini bukan kunjungan karena mendadak Kau merindukanku kan, Bos Naga Putih?” ucap Chan membuka percakapan. Assad tersenyum kemudian menggelengkan kepala. Chan menawari minuman sebagai syarat ramah tamah, tapi dengan halus Assad menolak tawaran itu. “Jika bukan untuk minum bersama, kalau begitu, pasti ini hal yang sangat penting sekali, hingga Bos besar ini bersedia dengan rendah hati berkunjung ke gubuk ini,” ucap Chan merendah. Assad tersenyum menyeringai menanggapi kesimpulan Chan. “Tentu saja, bagiku ini penting sekali,” balas Assad dengan tenang. Keduanya kini duduk berhadapan disela oleh sebuah meja warna hitam berukuran besar. “Aku bukan orang yang suka berbasa-basi,” sahut Assad memulai keseriusannya. Bos klan lawan itu dengan segera mengacungkan jempol dengan ekspresi wajah yang puas. “Apa kemarin ada anak buahmu yang kehilangan pisau dengan tanda segitiga dengan goresan petir di salah satu markasku,” ucap Assad dengan tenang, mata elangnya menatap tajam dengan sorot menyelidik yang dalam. Mendengar itu, Chan terhenyak, sejenak tertegun dengan kedua mata yang makin menyipit. “Aku bisa menyimpulkan itu sebagai tuduhan p*********n dari klan kami,” balas Chan dengan cepat. Assad menatap wajah lawan bicaranya dengan tenang. “Jangan terburu menyimpulkan satu pertanyaan sebagai tuduhan,” ucap Assad segera, khawatir hal itu menyulut api yang berada dalam sekam. Chan menatap Assad dengan ekspresi heran yang kental. Laki-laki yang terkenal sebagai bos mafia yang dingin ini seolah orang lain yang tak dikenalnya. Kunjungan Assad yang mendadak, sendiri, dan tanpa senjata sudah cukup mengagetkannya. Apalagi ucapan Assad yang serasa diucapkan oleh orang yang mendadak bijaksana. “Kalau begitu, beri aku penjelasan gamblang agar tak salah mengambil kesimpulan,” balas Chan dengan rasa hormat. Laki-laki berkulit putih itu seperti mengubah strategi dengan mencoba mengimbangi sikap Assad. Assad tersenyum menyeringai mendengar balasan Chan. “Aku tak menuduh, tapi aku akan bertanya dengan langsung, apa Kau memerintahkan anak buahmu untuk menyerang anak buahku?” Pertanyaan Assad membuat mulut Chan ternganga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD