Penembakan Anak Buah Assad

1140 Words
“Hah” seru Assad terkejut. Tangannya meraih salah satu sisi jas yang berada di bahu Harra, merogoh saku bagian dalam jas warna hitam itu dan menemukan panggilan tak terjawab dalam jumlah banyak. “Ah ... kenapa tadi ku-silent? Rencana untuk mendapatkan gadis itu ternyata bersamaan dengan bencana,” batin Assad sambil beranjak. “Ronald! Ayo!” seru Assad sambil menyambar tangan Harra dan menariknya agar mengikuti langkahnya. “Aku di luar masalah ini,” protes Harra sambil berjalan menjajari langkah Assad yang lebar. Assad mengabaikan protes gadis itu. Ronald segera berjalan mendahului bos korporasi hitam itu sambil menggerutu. Sampai di lantai dasar, seorang laki-laki sudah berdiri di depan kasir dan menganggukkan kepala dengan hormat ke arah Assad. Kemudian laki-laki itu mengikuti Assad yang menuntun Harra dan Ronald yang berjalan dengan bersungut-sungut. Dua buah mobil mewah hitam sudah mengapit mobil Assad. Dua mobil itu segera berjalan ketika mobil Assad meluncur di aspal hitam. “Apa nggak ada gadis selain dia?” seru Ronald yang duduk di samping kursi kemudi dengan sedikit menoleh ke belakang. “Hah?” seru Harra terperangah dengan laki-laki yang baru dilihatnya itu tanpa bisa berkata apa-apa. Sedangkan, Assad yang duduk di samping Harra di kursi penumpang hanya mendesah lelah, punggungnya sedikit merosot ke bawah dan kakinya yang panjang bersilang. “Kita bahas lagi itu nanti,” sahut Assad tak ingin memperpanjang adu mulut yang dimulai kaki tangannya itu. Beberapa saat kemudian tiga mobil hitam itu sampai di sebuah rumah lantai satu dengan bentuk konvesional. Dinding rumah itu terlihat buram dan sedikit kotor. Halaman rumah itu pun terlihat tak terawat. Di depan rumah itu berdiri empat orang laki-laki dengan baju casual yang terlihat berjaga. Assad memimpin jalan dan membalikkan badan ketika Ronald menghalangi langkah Harra di ambang pintu. “Dia orang di luar klan kita,” protes Ronald dengan wajah kesal. Kedua laki-laki itu saling tatap dengan aura yang tak enak. Sedangkan Harra menunggu kedua orang itu dengan tenang. “Kau boleh jatuh cinta, tapi bawa otakmu! Kesalahan kecil akan membuat klan kita selesai!” seru laki-laki dengan rambut panjang sebahu itu. Assad mengalah dan tanpa menoleh ke arah Harra membalikkan badan dan masuk ke dalam. Ronald menatap Harra dengan sorot penuh ancaman, lalu dengan kasar menutup pintu dengan bagian atas melengkung itu. “Diskriminasi! Nggak dewasa!” omel Harra pelan, kemudian hanya mampu bersungut-sungut. Assad termenung melihat dua orang anak buahnya yang terkapar di ruang tengah. Matanya nanar mengamati setiap sudut ruang itu. “Apa orang di sekitar sini ada yang melapor?” sahut Assad pelan. Ronald menggeleng. “Bisa jadi pakai peredam, walaupun bunyi pakai peredam itu masih cukup keras sih, tapi sepertinya jarak rumah ini dengan tetangga mengaburkan bunyi itu,” balas Ronald sambil berjongkok dan mengamati bekas luka tembak di d**a salah satu korban penembakan itu. Assad terdiam dan sejenak merenung, di otaknya mencoba mengira-ira ketepatan cerita kaki tangannya itu. Ronald menarik sesuatu yang terlihat menyembul dari bagian tubuh anggota klan yang sudah terbujur kaku itu. “Ada yang cari masalah dengan kita,” ucap Ronald sambil menunjukkan sebuah pisau yang tertindih di bagian tubuh korban itu. Assad mendekat, kemudian ikut berjongkok, lalu mengamati gagang pisau yang memiliki ornamen yang terlihat familiar. “Kita harus menuntut balas pada pemilik pisau ini,” ucap Ronald sembari memiringkan korban dan melihat luka bekas lemparan pisau. Tubuh Assad terlihat tegang. “Ayo kita kembalikan pisau bergambar ini,” seru Ronald sembari menunjuk gambar segitiga dengan goresan menyerupai bentuk petir di bagian tengah itu. Assad terpaku, wajahnya terlihat sedang berpikir keras. Ronald terlihat geram melihat Assad yang belum memutuskan tindakan seperti biasanya. “Takut?” sindir Ronald, satu sudut bibirnya tertarik ke belakang. Assad menatap dengan tajam kaki tangannya itu, mendengkus dan kemudian menepuk bahu Ronald. “Ayo! Kita serang balik!” seru Assad sambil bergegas. “Itu yang mereka inginkan.” Mendadak suara Harra menghentikan langkah laki-laki itu. Laki-laki tinggi tegap itu membalikkan badan dan menatap gadis itu dengan ekspresi yang serius. “Bukankah pintu itu sudah kututup?” sindir Ronald dengan wajah tak suka. “Ditutup beda dengan dikunci, jadi aku masih bisa masuk,” balas Harra santai. Ronald melangkah hendak mendekat ke arah gadis itu dengan ekspresi marah. Assad menahan bahu laki-laki berambut sebahu itu. Harra mendekat pada anak buah Assad yang berada di sisi ruangan yang lain. Gadis itu berjongkok dan mengamati korban penembakan itu. “Ini ditembak dari jarak dekat,” ujar Harra sambil menunjuk tanda hitam pada bekas tembakan itu. “Hal seperti itu tak penting bagi kami,” sahut Ronald kesal. Assad kembali menahan bahu laki-laki yang hendak mendekat ke arah Harra. “Apa kalian punya masalah dengan klan Segitiga Emas?” ujar Harra mengabaikan komentar Ronald. Kedua laki-laki itu menatap Harra dengan tajam tanpa memberikan jawaban sepatah kata pun. Harra berdiri dan mendekat pada dua laki-laki yang tengah memandanginya itu. “Mereka pernah menyewa jasaku dan aku sedikit mengetahui tentang mereka,” ucap Harra dengan tenang, kepalanya sedikit mendongak menatap dua laki-laki yang jauh lebih tinggi dari gadis itu. “Kurasa klan Segitiga Emas bukan klan yang ceroboh, harusnya p*********n dua anak buahmu ini dianalisa lebih dalam,” saran Harra kemudian mengembuskan napas panjang, wajahnya menatap pisau yang masih berada di tangan Ronald. “Jika kalian melakukan serangan rahasia pada klan lain, apa kalian akan dengan sengaja meninggalkan tanda seperti itu?” tanya Harra sambil menunjuk pisau yang sedikit kotor dengan cairan merah itu. Kedua laki-laki itu saling pandang. Harra menatap kedua laki-laki itu dengan tenang. “Aku nggak tahu banyak dalam masalah p*********n antar klan seperti ini, tapi dalam setiap kejahatan pasti ada motif dan tujuan pelaku. Dan untuk mengetahui tabir dibalik serangan seperti ini butuh tindakan yang nggak grusa-grusu,” lanjut Harra sambil menatap korban yang ada di dekat kedua laki-laki itu. Assad mengambil napas panjang, kemudian menepuk bahu Ronald dan beranjak keluar ruangan. “Urus teman-teman kita yang tertembak,” pinta Assad pada anak buahnya yang berada di teras rumah itu. Para laki-laki di luar rumah itu bergegas menjalankan perintah. “Assad!” teriak Ronald melampiaskan amarah, laki-laki itu berjalan dengan cepat menghampiri Assad. Laki-laki berambut gondrong itu mencengkeram baju bos klan itu. Keduanya terlihat siap saling tonjok. Ronald menatap dengan mata nanar. “Kau lebih mendengarkan gadis itu?” teriaknya tak rela. Assad mendesah lelah. “Bukankah tenang lebih baik dari terburu-buru? Aku nggak ingin ada lagi korban dari pihak kita, lebih baik kita selidiki dulu,” sanggah Assad tenang seraya mencoba tak terprovokasi dengan kemarahan Ronald. Assad sekilas mengalihkan pandangan ke arah Harra. Gadis itu tak peduli dengan dua laki-laki yang hendak adu jotos itu. Gadis itu melakukan gerakan-gerakan seperti rekontruksi serangan yang mengorbankan dua anak buah Assad itu. “Kedatangan penyerang yang mengatasnamakan klan Segitiga Emas itu sepertinya sudah diketahui sebelumnya,” seru Harra sambil berjalan ke arah dua laki-laki yang kini ternganga melihatnya. “Hah!” Dua laki-laki itu serempak terperanjat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD