Seperti Ada yang Kembali Terulang

1102 Words
Ronald melepaskan cengkeraman tangan dari baju Assad. “Jangan ngomong sembarangan!” teriak Ronald kasar. Assad menepuk bahu Ronald untuk menenangkan anak buahnya itu. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” ucap Assad tenang seraya berjalan mendekat ke arah Harra. Gadis itu sejenak menatap Assad, lalu berjalan ke arah pintu. Harra menunjuk pintu masuk. “Jika mereka penyerang yang tak dikenali atau setidaknya dikenali sebagai lawan yang akan menyerang, pintu ini akan terlihat rusak. Sudah gaya kalian untuk menyerang tanpa mengetuk pintu ‘kan?” papar Harra sambil mengamati pintu itu. Lalu gadis itu berjalan ke arah tempat korban tertembak. Gadis itu harus memiringkan badan agar tak bertabrakan dengan anak buah Assad yang sedang menggotong korban tertembak itu keluar rumah. “Jika mereka tahu penyerang dari klan lain, mereka tentu melakukan perlawanan, setidaknya melakukan tembakan balasan dengan menggunakan tameng dengan benda-benda yang ada di ruangan ini, sembunyi, atur strategi, kasih info ke anggota lain dan ya ... apa saja yang mungkin bisa dilakukan untuk bertahan hidup,” kupas Harra sambil mereka-reka apa yang diungkapkannya dengan gerakan-gerakan tangan. Kedua laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi tak menafikan paparan gadis itu. “Melihat kedua korban itu, menurutku mereka berdua tak sempat melakukan perlawanan, senjatanya tak berada di tangan, di tubuhnya juga tak terlihat tanda-tanda perlawanan,” lanjut Harra sambil tetap mengamati keadaaan ruangan itu. “Atau melakukan perlawanan tak terlintas di pikiran mereka ... karena mereka menganggap yang datang bukanlah lawan yang akan melakukan penembakan,” lanjut Harra sambil berjalan ke sisi yang lain tempat korban tertembak yang lain dan kemudian melakukan gerakan-gerakan tangan yang mereka-reka posisi korban. “Kesimpulannya?” ucap Assad dengan bahu yang terlihat tegang. Harra mengedikkan bahu. “Em ... aku belum tahu pasti, tapi sebaiknya mengecek pihakmu juga, ya ... pihak klan pemilik pisau itu juga sih,” jawab Harra sambil membuka kedua telapak tangan. “Kalau mau melakukan penyelidikan harus dari kedua belah pihak,” saran Harra sambil berjalan ke arah pintu. Ronald menatap Harra dengan gusar. “Kau di sini untuk adu domba?” seru Ronald dengan tak sabar. Harra tersenyum lebar. “Aku di sini karena ditarik laki-laki itu,” jelas Harra dengan santai sambil menunjuk Assad yang sedang memperhatikan tempat dua anak buahnya tertembak. Laki-laki dengan rambut panjang sebahu itu tak bisa melampiaskan kesalnya dengan jawaban santai Harra, wajahnya tambah gusar. “Kurasa kita harus mempertimbangkan temuan gadis ini, Ro. Kita akan turunkan penyelidikan terkait penembakan di salah satu markas kita ini. Ini salah satu markas tersembunyi, bukan kantor-kantor resmi korporasi kita, jadi hanya beberapa orang yang tahu lokasi tempat ini.” Assad bergegas berjalan ke mobil hitam itu setelah sebelumnya bicara pada anak buah yang berada di tempat itu. “Menyebalkan!” umpat Ronald kesal, keinginannya untuk segera membalas p*********n itu gagal. “Kalau tidak ada laporan di kepolisian, aku akan menandai penembakan ini dan memasukkan dalam daftar kejahatan dari korporasi ini,” batin Harra sambil mengikuti kedua laki-laki yang memasuki mobil hitam mewah itu. Mobil hitam itu kembali bergerak meninggalkan lokasi penembakan. “Ini masalah internal, kuharap tidak dimasukkan dalam daftar kasus yang diajukan masyarakat itu,” pinta Assad sambil sedikit menoleh ke arah Harra yang duduk di sampingnya. Gadis itu sesaat menoleh, kemudian dengan cepat mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan keterkejutan. “Apa bos mafia ini memasang penyadap di pikiranku?” seru Harra dalam hati. “Harra!” tegas Assad dengan suara penuh penekanan. “Em ... em ... nanti kupikirkan,” jawab Harra tak ingin terjebak dalam janji. “Kami akan menyelesaikan masalah ini sendiri, kami janji akan mempertimbangkan saranmu,” bujuk Assad dengan suara rendah. Seketika terdengar seruan kesal dari kursi di samping kemudi, laki-laki dengan rambung panjang sebahu itu memiringkan posisi duduknya, lalu menatap Harra dengan sinis. Ronald mengalihkan tatapan geramnya pada Assad. “Ini nggak akan terjadi jika Kau nggak bersikeras mengajak gadis ini ke klan kita,” seru Ronald tanpa berusaha menyembunyikan kemarahannya. “Ayolah! Kita bisa selesaikan dengan cara kita! Ini masalah kita, nggak ada hubungannya dengan gadis detektif atau entah apalah namanya itu!” lanjut Ronald dengan geram. “Tak ada salahnya berhati-hati, Ro. Kita sekarang sedang dibawah penyidikan negara ini, jangan sampai masuk ke perangkap lawan yang memanfaatkan situasi ini, oke? Tenang saja, kita akan menyelesaikan masalah ini. Mereka anak buahku, aku nggak akan membiarkan mereka mati begitu saja,” bujuk Assad dengan suara rendah. Assad mencondongkan tubuhnya ke depan, tangan laki-laki itu menepuk-nepuk bahu Ronald, kemudian mendorong bahu itu dengan pelan untuk memintanya agar kembali ke posisi duduknya semula. Laki-laki berambut panjang sebahu itu menatap Assad dengan kesal, tapi tak urung mematuhi anjuran bosnya itu dan kembali duduk dengan menatap ke depan. Harra yang tak mempedulikan pembicaraan kedua laki-laki itu memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Kegiatan hari itu dan serangan mendadak petang tadi membuat energinya berkurang. Gadis itu dengan cepat masuk ke alam tidurnya tanpa mempedulikan ia sedang berada di mana. Assad yang kembali menyandarkan punggungnya tersenyum melihat gadis yang terlihat sedang tertidur pulas itu. “Wah ... dalam keadaan apapun gadis ini memang selalu tampak cantik,” batin Assad sambil iseng menyentuh sehelai rambut gadis itu dengan jarinya. Assad tertegun, tiba-tiba kejadian penembakan di pinggir kota Arkton itu kembali hadir dalam benaknya. “Semua bukti mengarah padamu?” ucap Assad pada anak buahnya ketika itu. “Apa penyelidikanmu paripurna?” balas anak buahnya yang ditembak ketika itu. Assad memicingkan mata, satu pikiran yang tak pernah muncul, tiba-tiba terbersit. “Apa harusnya aku nggak menembak Decca?” sesalnya kemudian. Pandangan mata Assad masih terus terarah pada wajah cantik Harra. “Penembakan yang baru saja terjadi ini terlihat seperti kejadian itu, semua bukti seolah terpampang nyata, seperti kejadian itu. Hem ... kenapa aku dulu nggak memikirkan ini? Jika Decca melakukan yang dituduhkan itu, bagaimana aku bisa dengan mudah menemukannya di tempat rongsokan besi di pinggir kota itu? Em ... apa penembakan hari ini juga merupakan pengkhianatan seperti ketika itu?” Assad memejamkan mata, berusaha menahan laju pikiran-pikiran baru yang seolah mendesak meminta jawaban. Bos mafia itu mengembuskan satu napas melalui mulut untuk meredakan kerunyaman pikir dan itu membuat helai-helai rambut Harra bergerak. Sepanjang perjalanan Assad memanfaatkan momen untuk memandang wajah Harra dengan leluasa hingga mobil hitam itu berhenti di depan rumahnya yang berada di pinggir danau. “Ah ... menyebalkan sekali! Kamu bisa melakukan itu pada gadis yang lain, bukan dia!” seru Ronald sambil menunjuk Harra dengan gerakan kepala. Assad tersenyum menyeringai, menyadari orang dekatnya itu memperhatikan kelakuannya sejak tadi. Tapi, Assad tak menjawab kekesalan Ronald, laki-laki itu turun dari mobil dan membuka pintu di sisi lain. “Hei! Yang benar saja!” teriak Ronald ketika melihat Assad hendak menggendong Harra yang tertidur pulas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD