Bertemu Public Figur

1086 Words
“Assad!” seru Harra sambil berusaha melepaskan telapak tangannya yang digenggam laki-laki tinggi tegap itu. Assad berjalan tanpa menghiraukan seruan gadis itu, juga seruan dua orang tangan kanannya yang terus melancarkan protes, terutama Ronald. “Hem sudah kubilang, aku akan membuatmu nggak pergi kemana-mana, Harra,” ucap Assad dalam hati. Dengan terpaksa gadis itu mengikuti langkah Assad menuju mobil hitam yang sudah siap di depan rumah megah di pinggir danau itu. Harra melirik sengit ketika mobil mewah warna hitam itu mulai bergerak meninggalkan area pinggir kota New March itu. “Kamu bisa melakukan yang seperti ini dengan gadis-gadismu, tapi tidak denganku,” protes Harra dengan wajah cemberut. Assad malah terkekeh dan dengan riang menatap wajah gadis yang duduk di sampingnya itu. “Apa gadis ini nggak tahu, dengan wajah cemberut seperti itu, justru ia tambah lucu dan menggemaskan,” seru Assad dalam hati. “Pergilah ke mana pun yang Kamu inginkan! Nggak perlu menarik-narik tangan orang lain seperti ini!” omel Harra sambil melirik sinis. Assad kembali terkekeh riang. “Padahal banyak yang harus segera kulakukan hari ini,” sambung Harra masih dengan mode menggerutu. Assad pura-pura tak dengar dengan mengalihkan pandangan keluar jendela dan menikmati suasana pagi yang kali ini terasa lebih indah. Beberapa saat kemudian kendaraan roda empat mewah warna hitam itu masuk ke gerbang rumah mewah yang dikelilingi pagar yang tinggi. Harra menegakkan punggung dan mencondongkan kepala ke kaca jendela. “Tempat siapa lagi ini?” guman Harra lirih. “Tempat orang yang kemarin gagal ketemu?” balas Assad dengan santai. Harra mengernyitkan kening, otaknya mengingat siapa yang kemarin gagal ketemu. Assad segera membuka pintu ketika mobil itu berhenti di depan pintu utama bangunan megah itu tanpa memberikan jawaban lebih lanjut. Dengan enggan Harra mengikuti Assad masuk ke dalam rumah megah itu. Kemewahan yang terpampang di depan mata itu sejenak mengalihkan rasa ingin tahu yang tadi sempat terbersit. “Wow ... benar-benar all out dalam membangun sebuah hunian,” seru Harra seraya mengedarkan pandangan pada interior dengan gaya eropa kuno itu. “Apa istana Buckingham pindah ke sini?” imbuh Harra pada diri sendiri. Mata gadis itu seolah sedang dimanjakan dengan keindahan negara empat musim itu. Bukan hanya lukisan yang tampak indah dan artistik, patung yang menyatu dengan atap itu pun menarik pandangan mata. Begitu pula pernak-pernik yang ditata dengan apik seperti magnet-magnet kecil yang membuat siapa saja yang melihatnya ingin mendekat. Harra geleng-geleng kepala. “Ini benar-benar menunjukan derajat pendapatan pemilik rumah,” guman Harra lirih. “Assad ....” Suara perempuan yang terdengar lembut terdengar bersamaan suara langkah kaki yang memakai hak tinggi. Harra menoleh ke sumber suara itu. “Hah!” Mulut Harra auto menganga. “Zica? Artis itu?” seru Harra dalam hati. “Jadi, beneran artis ini yang akan ditemui di restoran empat lantai kemarin?” tanya Harra pada diri sendiri. Artis yang terkenal di seluruh penjuru negri itu berlari kecil menyambut Assad, kemudian memeluk laki-laki tinggi tegap itu dengan lembut. “Pelukan ini nggak akan merusak bajumu ‘kan?” ujar Assad sambil membalas pelukan artis cantik itu. Harra menyebilkan bibir. “Bisa juga penjahat itu ngomong gitu. Jadi, pemilik korporasi hitam itu punya dua gadis? Atau gimana?” ucap Harra dalam hati. Jiwa penasarannya tergelitik. “Nggak kalau pelan, ini baju kelima, bentar lagi pemotretannya kelar kok. Mau nunggu ‘kan?” jawab Zica lembut. Assad mengangguk pelan. “Wuih ... beda banget dengan gadis yang kemarin,” komentar Harra dalam hati membandingkan dengan gadis yang mendadak masuk ke kamar yang diperuntukkan untuknya dan menyerangnya dengan hal yang nggak masuk akal. Seperti mengetahui jika tengah diperhatikan, artis cantik yang terkenal santun dan lembut itu menoleh ke arah Harra. “Ini?” seru Zica ke arah Assad sembari menunjuk Harra. Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum. “Ya ... itu gadis yang harusnya Kamu temui kemarin,” jelas Assad dengan tenang. Zica mendekat ke arah Harra, begitu juga Harra, gadis itu segera melangkah ke arah artis yang digemari banyak anak muda itu. “Aku baru di perjalanan ketika berita restoran itu ditabrak dengan mobil besar itu tersiar, jadi kuputuskan untuk balik arah. Maaf, harap dimaklumi,” ucap Zica membuka kalimat. Harra tergagap dan nggak tahu harus membalas dengan apa, kemudian gadis itu hanya menganggukkan kepala dan memberi senyuman. “Tapi, kalian baik-baik saja ‘kan?” lanjut Zica penuh perhatian. Harra mengangguk, sedangkan Assad membentangkan tangan sambil mengedikkan bahu. Satu alisnya bergerak ke atas, kemudian tersenyum menyeringai. Zica mengembuskan napas, melirik dengan cantik ke arah Assad. “Syukurlah hari ini kita bisa ketemu, aku khawatir,” ucap Zica pada laki-laki yang tengah menatapnya itu. “Mengkhawatirkan bos mafia itu? Hah! Yang benar saja,” cibir Harra dalam hati. Gadis itu menahan hidungnya agar tidak nyengir. “Aku selesaikan dulu pemotretan kali ini ya, silahkan menunggu, kalau belum sarapan, bisa langsung menuju meja makan,” ujarnya penuh perhatian. “Wah ... benar-benar paket lengkap sepertinya. Cantik, lembut, perhatian.” Harra membatin sambil mengikuti sepasang laki-laki dan perempuan yang kemudian bercengkerama sembari berjalan menuju ke ruangan lain. Harra dan Assad dipersilahkan duduk di salah satu sudut ruangan. Di ruangan itu banyak fotographer dengan kamera-kamera yang siap tembak, nyata-nyata kehadiran kedua tamu di pagi hari itu telah menyela sesi pemotretan itu. Harra memperhatikan ruangan yang masih didesain dengan interior gaya eropa yang indah itu setelah puas mengamati Zica yang asyik berpose. Mengalihkan pandangan dari gadis yang sedang bermandikan jepretan kamera yang terlihat sangat gembira itu. “Kalau aku jadi laki-laki di sebelahku ini, nggak pakai lama, akan kupilih gadis yang menggunakan gaun indah itu,” bisik Harra dalam hati sembari melirik Assad yang tengah duduk sembari menyilangkan kaki panjangnya. Laki-laki itu sesekali memandang Zica dan melemparkan senyuman ketika keduanya bersirobok saling menatap. Harra memperhatikan sepasang laki-laki dan perempuan itu. Benaknya mulai memunculkan analisa-analisa. “Apa artis cantik yang lembut, santun dan penuh perhatian ini bisa mengirim segerombolan penjahat untuk merobohkan dinding lantai satu restoran empat lantai itu? Atau setelah melihatnya langsung seperti ini, gadis itu bisa dicoret dari daftar tersangka pelaku serentetan percobaan pembunuhan itu?” tanya Harra dalam hati. “Ah ...,” desah Harra lirih. Mendadak di benaknya menemukan satu ingatan yang mungkin nyangkut di salah satu sudut memorinya. Sebuah kalimat panjang dari seniornya, Alfred. Harra menyandarkan punggung, lalu memejamkan mata, segera menggerak-gerakkan kepala dengan cepat seperti tengah menolak tawaran yang nggak disukai. Seolah dengan gerakan itu membuat ingatan yang alot ditarik dapat menyembul dengan mudah. “Jangan pernah membuat keputusan di tengah jalan buntu ....” Harra terus memejamkan mata dan berusaha mengingat keseluruhan kalimat panjang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD