Makan Pagi Bersama Musuh

1143 Words
Harra tak sempat menoleh ketika langkah kaki pemilik suara itu dari arah belakang mendorong lembut kedua bahunya. “Duduklah ...,” ucap pemilik rumah itu sambil menyeret satu kursi di samping kursi yang berada di tengah. Kemudian dia sendiri duduk di kursi tengah meja makan itu. Harra tertegun dengan perlakuan pemilik rumah megah ini. “Jangan pedulikan dua laki-laki ini, duduklah,” ulang Assad lembut. “Wo’ wo’ wow!” seru Ronald seolah sedang menemukan salah satu keanehan di dunia. Tangannya berhenti bergerak dan menatap dengan pandangan takjub ke arah Assad “Baru kali ini aku mendengar bos penjahat bicara dengan lembut gitu,” sindir Ronald sambil sesaat melirik sinis, kemudian melanjutkan menyikat isi piringnya. Nazar yang duduk di sebelah Ronald terkekeh, sesaat menatap Harra dengan ketidaksukaan yang samar. Lalu, laki-laki yang terlihat tenang itu tatapannya berubah sebelum menoleh ke arah Assad. “Jangan khawatir, Ro! Berharap aja bos kita ini cepat bosan dengan mainan barunya,” ejek Nazar tanpa menoleh ke arah Harra. Gadis itu menoleh dan menatap penuh selidik ke arah dua laki-laki yang duduk di depannya itu. Assad yang duduk di kursi tengah menangkap ekspresi wajah Harra yang menyiratkan rasa ingin tahu. “O ya, ini Nazzar dan yang terus mengoceh sejak kemarin itu, Ronald,” ucap Assad sambil menunjuk kedua anak buahnya satu per satu. Harra menjawab dengan anggukan kepala. “Mereka ... em ... teman-temanku,” imbuh Assad sambil mulai menyuapkan makanan. “Aku nggak perlu diperkenalkan seperti itu!” seru Ronald ketus. Assad dan Nazzar hanya terkekeh menanggapi nada ketus celetukan Ronald. Harra beberapa kali menatap Nazzar yang duduk tepat di depannya. Dengan mata detektifnya, gadis itu mengamati setiap sudut wajah laki-laki yang dengan cuek menghabiskan sarapan tanpa mengangkat kepala karena pertemuan kemarin hanya sekilas. “Wah ... yang ini beda, terlihat tak seperti para penjahat yang sering melakukan aksi-aksi underground. Beda dengan laki-laki berambut gondrong itu yang terlihat nyata berdarah panas. Sedang Assad terlihat lebih misterius dibanding kedua laki-laki ini. Bos mafia itu seperti gabungan antara kedua karakter laki-laki ini. Punya darah panas sekaligus punya ketenangan yang mungkin terbagi secara adil dalam tubuh tinggi itu. Ah ... aku yakin mereka memainkan perannya masing-masing dalam klan ini. Jadi, bagaimana harus menyelidiki orang-orang yang duduk di meja makan ini? Aku harus mulai dari mana?” Analisa Harra diakhiri dengan kebuntuan. Nazar mengangkat kepala dan menemukan Harra sedang menatapnya tak berkedip. Laki-laki itu tersenyum menyeringai. “Apa Nona Harra sakit hati dikatakan sebagai mainan baru?” ucap Nazar dengan nada sopan, sorot matanya berubah melembut. “Ya?” sahut Harra sedikit terkejut, dalam pikirannya masih berusaha mereka-reka di mana letak pintu penyelidikan agar apa yang sedang dilakukan ia dan timnya menemukan titik terang. “Dengan menatap tak berkedip seperti itu, aku jadi khawatir, jika kata-kataku tadi menyakiti hati, bisa jadi bos yang ini nanti memarahiku,” selorohnya dengan tenang. Harra mengedipkan mata untuk membantah ucapan Nazzar. “Aku sudah berkedip sekarang, itu artinya aku tak sakit hati,” balas Harra dengan cerdik. Assad tertawa melihat Harra dan melihat Nazar yang terlihat sedikit terkejut dengan reaksi Harra yang di luar dugaan. Dua sudut bibir Nazar tertarik ke belakang, senyumnya terkembang. Kemudian dari mulutnya terembus dengkus kelegaan. “Syukurlah kalau begitu, em ... saya tadi hanya bercanda,” ungkap Nazar sopan. “Wow!” seru Harra dalam hati, mulutnya tanpa sengaja menganga, “sopan sekali yang satu ini”. Assad berdehem dengan pelan. “Em ... kira-kira, apa yang membuatmu sampai ternganga begitu?” sahut Assad sambil memperhatikan wajah cantik Harra. “Em temanmu sopan sekali, terlihat teredukasi dengan baik,” jawab Harra tanpa berusaha menutupi apa yang ada dalam pikirannya. Nazar tersenyum mendengar itu kemudian mengucapkan terima kasih, sedangkan Ronald hanya mengangkat kepala sejenak. “Karena itu dia temanku dan juga orang penting di klan ini,” ucap Assad bangga. Harra menganggukkan kepala seolah setuju dengan pendapat Assad. “Orang teredukasi dalam sebuah klan seperti ini? Hem ... seperti ada yang janggal,” batin Harra beropini. “Walaupun dalam pandangan Nona Harra, saya kelihatan baik, tapi jangan tertipu, saya tetap akan menolak dan sekaligus terus menanyakan tujuan pemilik tempat ini yang membawa pulang tamunya yang cantik, ” ujar Nazzar sambil menatap Harra dengan tatapan yang dalam. Gadis itu mengernyitkan kening, mencoba memahami maksud sebenarnya dari perkataan laki-laki yang terlihat tenang itu. “Apa yang tersirat dari kalimat itu?” batin Harra tanpa menatap laki-laki yang duduk tepat di depannya itu. “Tujuan?” celetuk Ronald seraya menatap Harra, kemudian pandangannya teralih ke arah Assad dan berakhir pada wajah Nazzar yang sedang tersenyum penuh arti. Assad mendesah lelah, sedang Ronald tersenyum menyeringai. “Bukannya tujuannya hanya untuk dipermainkan? Ya ... seperti gadis-gadis lain. Biar tambah seru acara perebutan bos penjahat ini, Em ... mungkin jika di dunia ini ada perang antar gadis untuk memperebutkan Assad, hanya akan tersisa dua gadis, yaitu Melanie dan Zica. Dan keduanya pun kan saling berperang hingga musnah,” gagas Ronald, kemudian terkekeh panjang. “Hei! Harra! Walaupun Kamu cantik, kusarankan untuk menggunakan kecantikanmu di tempat lain!” ungkap Ronald kasar, Harra terlihat tak mempedulikan kekurangajaran laki-laki dengan rambut sebahu itu. “Ro!” teriak Assad mengancam. Ronald mengangkat kedua tangan seperti orang yang sedang menyerah. “Oke! Aku nggak akan menganggu orang yang sedang dilanda cint ... eh ... keanehan,” sindir Ronald seraya menatap Assad dengan sebal. Assad menatap Harra yang hampir selesai mengeksekusi menu sarapannya. “Harra, sebelum bertemu tim penyidik yang lain, Kamu harus ikut aku ke suatu tempat,” ucap Assad pelan. Ketiga orang di meja makan itu seketika menatap Assad dengan pandangan bertanya dalam persepsi yang berbeda-beda. “Kau bisa suruh pegawai yang lain untuk mengantarnya ke tempat itu, emang harus bareng?” celetuk Ronald dengan tak suka yang makin diperjelas. “Em ... aku sarankan jangan terlalu sering bersama, Kamu akan terlibat lebih jauh dengan perasaanmu,” saran Nazar, membuat Harra dan Ronald mengangkat kepala secara bersamaan. Kedua wajah itu menyiratkan ekspresi tak mengerti. Assad menatap Nazar dengan pandangan lelah. “Aku bukan pegawaimu, jadi nggak ada keharusan untuk mengikuti perintahmu,” sahut Harra dengan tenang. Assad menatap Harra yang sedang menghabiskan jus jeruknya dengan ekspresi datar, sedang Ronald bertepuk tangan seolah anak kecil yang dapat hadiah menanggapi penolakan Harra. “Ya, aku akan terus ingat itu. Tapi, ada satu yang harus Nona Harra ingat, orang-orang di sekitarku akan mematuhi perintahku,” balas Assad dengan tenang, Harra hanya melirik dan bersiap-siap untuk meninggalkan meja makan. “Baru kali ini ada orang yang memaksaku mengingat sesuatu,” sanggah Harra cuek kemudian berdiri dan mengembalikan kursi ke tempat semula. “Benar-benar gadis yang tidak bisa mendengar kata-kata rupanya,” komentar Assad, kemudian bangkit berdiri dan menyambar telapak tangan Harra. “Ayo kita pergi ke tempat itu!” seru Assad sambil berjalan. “Hei!” Teriak ketiga orang yang di meja makan itu dengan serentak, termasuk Harra yang paling keras teriakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD