“Harrana!” panggil Nomi ketika jari gadis itu hendak menyentuh bekas lubang itu.
“Oh! Itu,” ujar Naomi ketika mengetahui apa yang membuat pewawancaranya itu tertahan.
“Tanda itu sudah lama ada, em .... mungin sekitar tiga tahun lalu. Tapi, karena berada di ruangan yang tak terlalu penting jadi perbaikannya terabaikan,” jelas Noami tanpa diminta.
“O-oh begitu, pantas saja,” sahut Harra sambil berusaha kembali tenang. Noami tersenyum.
“Kamu teliti sekali, apa ada lagi yang menarik perhatianmu di ruangan ini?” lanjut Host termahal itu. Harra membalas senyum wanita itu, kemudian menggeleng.
“Kalau begitu, akan segera kutunjukkan ruangan lain,” imbuh Naomi kemudian kembali berjalan mendahului. Harra mengekor setelah mengembuskan satu napas untuk membuang ganjalan dalam dadanya.
Kamera Harra merekam ruangan berikutnya dengan gerakan pelan. Kamera itu menangkap sebuah ruang duduk yang didesain dengan mewah. Ruangan yang telah disetting dengan mode malam itu membuat lampu-lampu yang menyala indah menambah keindahan suasana ruangan ini. Gabungan kemewahan dan keromantisan menjadi tema dasar ruangan ini.
“Hem ... gimana nggak betah orang-orang berduit itu di sini,” ucap Harra ketika mata kameranya menangkap jakuzzy, kolam renang kecil di pinggir ruangan semi terbuka dan pernak-pernik lain yang bisa digunakan untuk bersenang-senang para tamu berduit itu.
“Ya, begitulah, dan ini adalah salah satu ruang VIP,” tunjuk Naomi setelah berjalan beberapa meter dari ruang utama.
“Wow!” seru Harra tanpa suara, mata kamera dengan detail menangkap apa yang ada di ruangan VIP itu. Sebuah ruangan yang cukup luas, didesain dengan apik. Titik utama ruangan ini adalah satu sofa besar yang terlihat empuk dan nyaman.
“Tentu yang duduk di sana akan merasa menjadi raja yang sedang dilayani oleh putri-putri cantik,” celetuk Harra.
“Raja semalam,” sahut Naomi sambil tersenyum. Kemudian berbalik dan memimpin ke ruangan lain. Kesempatan itu digunakan Harra untuk menempelkan dua bola kecil berwarna metalik dengan diameter sekitar satu centimeter. Tiga detik kemudian dua bola itu bergerak secara terpisah.
Beberapa saat kemudian Harra merekam ruang lain yang ditunjukkan narasumbernya. Kemudian merekam Naomi dengan koleksi baju andalan yang biasa digunakan untuk ‘show’. Tak lupa sepatu high heel yang menunjang penampilannya.
“Sayang sekali, tak diizinkan merekam waktu kerjanya ya,” ucap Harra sambil memasukkan kamera ke dalam tas punggungnya.
“Yah ... maaf, manajemen klub ini sangat menghormati para tamu. Tapi, rekaman ruang duduk utama tadi tentu sudah dapat menggambarkan kegiatan di malam harinya,” balas Naomi menghibur Harra. Harra mengangguk, kemudian berpamitan.
Mendadak Naomi menghalangi langkah Harra, wanita itu menatap gadis itu dengan tajam.
“Apa ada kemungkinan orang-orang seperti Decca bisa ditemukan? Em ... atau paling tidak jika sudah ... mati, bisakah diketahui di mana kuburannya?” tanya Naomi membuat Harra terpana, ekspresi campuran yang menyedihkan tergambar di wajah wanita cantik dengan gigi gingsul itu.
“Em ... em ... mungkin saja, jika ... jika beruntung,” jawab Harra dengan sedikit bingung. Gadis itu nggak menyangka akan dapat pertanyaan seperti itu.
“Aku juga ingin mendapat jawaban pertanyaan itu, Naomi,” ucap Harra dalam hati.
“Oh!” Hanya itu yang keluar dari host berwajah cantik itu. Kemudian wanita itu bergeser dan membiarkan pewawancaranya pulang.
Harra membaca kekecewaan yang tergambar dari wajah narasumbernya kali itu. Gadis itu berusaha menetralisir kekecewaan yang juga merambat ke dalam hatinya. Dengan bergegas, gadis itu mengendarai motor meninggalkan distrik Ginza yang ramai. Beberapa saat kemudian kendaraan roda dua itu berhenti di belakang kendaraan roda empat jenis MVP yang sedikit berdebu yang sedang diparkir di pinggir jalan. Harra meletakkan perlengkapan wartawan dalam kantong warna hitam, kecuali kaca matanya, kemudian menggantungkan kantong itu di stang kendaraan bermotor roda dua itu. Gadis itu beranjak dan berjalan menuju mobil yang ada di depannya.
“Harus ya berdebu begini, Jim?” cela Harra dalam hati sebelum membuka pintu mobil, gadis itu kemudian men-stater kendaraan bermotor itu dan melaju meninggalkan daerah di luar distrik Ginza tersebut. Dari kaca spion Harra melihat seorang laki-laki muda yang menyembunyikan wajahnya di bawah topi pad yang dengan segera membawa kendaraan roda dua yang ia ditinggalkan ke arah lain.
Kendaraan MVP itu kembali ke kota New March yang hanya punya jarak tempuh kurang dari satu jam. Mobil yang dikendarai Harra berhenti di sebuah gedung besar tiga lantai. Pada bagian depan terdapat sebuah tulisan mengkilat yang dipahat di salah satu temboknya.
“Gedung ini juga tak cocok menyandang nama Ivory,” protes Harra dalam hati ketika berdiri dan menatap gedung itu.
“Hem ... apa untuk menyamarkan keberadaan dan aktivitas klan Naga Putih jadi usaha bodyguard ini dinamakan Ivory ... emang mirip gading?” omel Harra dalam hati.
Harra masuk ke dalam gerbang dengan jalan kaki, kemudian menapaki tiga anak tangga yang mengarah ke sebuah lobi salah satu gedung anak cabang Cosmo Holdings ini.
“Berhenti!” Dua orang laki-laki berotot dengan stelan jas warna hitam lengkap dengan dasi mencegat Harra tepat di depan pintu utama.
“Bisa disebutkan identitas dan kepentingannya?” ucap dua laki-laki yang terlihat sangar itu. Harra mengeluarkan kartu identitasnya.
“Harra, detektif swasta. Kalian tak pernah lihat berita?” ucap Harra dengan tenang. Dua laki-laki itu mendekat ke arah kartu identitas yang sedang diangkat itu. Kemudian keduanya saling pandang.
Salah seorang dari mereka berbalik dan masuk menuju satu meja yang kemungkinan besar adalah meja resepsionis.
“Hari ini belum ada perintah untuk menyambut tamu dari mana pun,” ucap seorang laki-laki yang masih berdiri menghalangi Harra.
“Sayang sekali, apa ini berarti Kamu menghalangi perintah masyarakat negara ini?” balas Harra diplomatis. Laki-laki itu sejenak terdiam, kemudian terlihat bingung.
“Sa-ya ...,” sahut laki-laki itu sambil menekan alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
“Mohon bersabar, Kami sedang menyampaikan kedatangan Anda,” ucap laki-laki itu berubah hormat.
Gadis itu menatap pegawai Ivory Guard itu dengan tajam.
“Semoga tidak lama, kalian tak ingin tempat ini diajukan masyarakat negara ini untuk ditutup ‘kan?” ancam Harra dengan wajah tanpa emosi. Pegawai itu terlihat gugup. Bersamaan dengan itu sesosok tinggi tegap dengan rambut gondrong keluar dari dalam ruangan gedung itu diikuti oleh beberapa pegawai lain yang mengenakan setelan yang sama dengan orang-orang yang menghalangi Harra.
“Hem ... menyebalkan sekali! Bahkan di tempat kerjaku ini, aku harus melihatmu. Tak cukupkah dengan melihatmu di kediaman Assad?” seru Ronald dengan kejengkelan yang ditampakkan.
Pegawai laki-laki yang menghalangi Harra segera bergeser memberi ruang untuk bosnya yang baru datang. Harra tersenyum simpul ketika laki-laki yang tingginya hampir sama dengan Assad itu berdiri di depannya.
“Apa yang membuat detektif swasta yang menyebalkan ini datang ke tempat kerjaku?” seru Ronald dengan tak ramah.
“Tentu saja aku ingin menemukan sesuatu di sini,” jawab Harra dalam hati, bibirnya mengukir senyum mengejek.