Wawancara Mode Gosip

1111 Words
“Eh!” Narasumber Harra itu mendadak menutup mulutnya, matanya membelalak dan terarah pada alat perekam kecil yang tergeletak di atas meja. “Ini bisa di-cut ‘kan?” seru Naomi panik. Harra mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk meminta agar narasumbernya tenang. “Saya tidak akan membahayakan narasumber yang telah meluangkan waktu untuk diwawancarai, tenang saja. Itu sudah saya katakan sejak awal ‘kan?” balas Harra kemudian tersenyum. Wanita manis dengan gigi gingsul itu mengembuskan napas lega sambil memegang dadanya. Sejenak kemudian ia menyandarkan punggungnya untuk meredakan ketegangan. Sesaat kemudian narasumber itu kembali ke posisi duduk semula. Harra tersenyum. “Cosmo Holdings hari ini sedang jadi pusat perhatian masyarakat, tapi dalam berita manapun tak disebutkan kaitan korporasi itu dengan klan yang disebut dengan nama Naga Putih itu ... em ... apa benar korporasi itu ada hubungannya dengan klan itu?” pancing Harra dengan ekspresi wajah yang dibuat semi tak percaya. Naomi mengibaskan tangan. “Tentu saja, selain Cosmo Holdings adalah usaha legal, klan Naga Putih sejak tiga tahun terakhir tak menonjolkan diri. Kegiatannya lebih sering dalam gerakan bawah tanah untuk tak menyebutkan sebagai kegiatan terselubung.” papar Naomi dengan nada suara rendah. Harra memicingkan mata, masih menunjukkan raut wajah semi tak percaya. Jemari Harra mengusap dagu. Tatapannya sejenak sengaja diperlihatkan seakan sedang menerawang. “Sepertinya ada yang janggal. Bagi klan mafia seperti itu, perkelahian, serangan atau peristiwa dengan banyak korban seperti itu bisa dianggap hal yang biasa. Tapi, kenapa klan ini beda ya?” ungkap Harra kemudian mengalihkan pandangan ke arah wanita cantik yang duduk di sampingnya. Naomi kembali mengibaskan tangan. “Memang perkelahian seperti itu nggak pernah membuat mereka jera. Tapi, ada kejadian yang berdekatan dengan p*********n itu. Dan itu yang menurut orang-orang menjadi alasan klan itu berubah,” sanggah Naomi dengan yakin. “Oh ya?” seru Harra sambil membelalakkan mata. Gadis itu sengaja melebih-lebihkan ekspresinya untuk menggiring wawancara ini berubah menjadi mode para gadis menggosip. Biasanya dalam mode seperti ni, percakapan tanpa kewaspadaan akan mencetuskan lebih banyak informasi. Naomi beringsut mendekat ke arah Harra. Wanita cantik itu menunjuk alat perekam dan memberi isyarat untuk meng-off kan alat itu. Harra dengan patuh melaksanakan permintaan narasumbernya itu. “Kejadian yang merubah klan itu hanya terdengar sayup-sayup di kalangan mereka. Ini tentang kematian orang dekat kepercayaan bos mafia itu, kabar terbatas itu mengatakan bahwa orang ini dibunuh bos mafia itu sendiri karena diduga berkhianat,” ucap Naomi setengah berbisik. Harra kembali menunjukkan ekspresi terkejut yang jelas. “Wah ... luar biasa ingatan Anda, kejadian kecil tiga tahun lalu masih bisa diceritakan sedetail itu,” puji Harra sebagai pancingan. Naomi mengibaskan tangan, kali ini ekspresi wajahnya sedikit berubah. “Bukan. Bukan karena aku punya ingatan yang bagus, tapi ....” Wanita itu terdiam, wajahnya kini terlihat sedih. “Tapi, karena aku mengenal orang yang ditembak itu. Nggak kenal baik sih, kami hanya kenal sebentar. Tapi, yang sebentar itu cukup mengena di hati ini,” ucap Naomi, pandangan mata wanita cantik itu mulai menerawang. “Sebagai anggota mafia, laki-laki itu cukup unik. Dia hanya datang ke klub ini untuk menjemput teman-temannya yang biasanya sudah dalam keadaan tidak sadar atau setengah sadar karena pengaruh minuman.” Naomi menghentikan ceritanya, wanita itu sejenak menghela napas panjang, melonggarkan d**a yang mulai terasa sesak. “Dia satu-satunya anggota klan yang selalu bertanya dengan penuh perhatian. Naomi apa kamu baik-baik saja? Naomi, apa Kamu bahagia hari ini? Naomi, apa yang membuatmu senang hari ini? Itu hanya beberapa contoh pertanyaan yang membuat hariku terasa lebih baik. Em ... ada lagi yang tak lupa ia tanyakan, Naomi, apa Kamu ingin berganti pekerjaan? Ada tempat yang menurutku akan membuatmu lebih bahagia dari hari ini.” Wanita cantik itu tertawa getir. “Anda tak perlu menceritakannya jika itu membuat sedih,” saran Harra lirih. Naomi menggelengkan kepala seraya mengibas-ngibaskan tangan. “Itulah kenapa aku terus mengingatnya. Laki-laki itu, anggota mafia yang mendadak menghilang dan tak pernah mengunjungi klub ini lagi itu sering dipanggil dengan nama Decca,” pungkas Naomi lirih. Seketika ada yang berdesar di d**a Harra. Harra merusaha menahan telapak tangannya yang hendak mencengkeram. Gadis itu menggantinya dengan menunjukkan ekspresi sedih yang tulus. “Di dunia laki-laki seperti itu, luka dan kematian seperti bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Aku tahu itu, tapi ketika itu, aku tetap berusaha mencari beritanya melalui anggota klan mereka yang berkunjung ke sini sampai ... sampai salah satu bos mereka yang berambut gondrong itu datang dan melarangku untuk melakukan itu,” imbuh Naomi, ada sepercik rasa kesal dalam suaranya. “Salah satu ...bos?” pancing Harra untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut. Naomi mengangguk. “Ya, namanya Ronald. Dia yang paling sering mengunjungi klub ini,” imbuh wanita cantik itu kemudian. “Ah ... maaf sekali jika wawancara ini jadi ngelantur kemana-mana. Tapi, Harrana ..., aku lega sekali menceritakan kisah Decca ini. Mungkin ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir. Ah ... kenapa laki-laki yang baik cepat meninggal ...,” keluh Noami kemudian berulang kali melakukan tarik embus napas. “Saya bersyukur malah, wawancara kali ini membuat narasumber saya menjadi lega. Em ... kalau begitu apa boleh, saya melihat-lihat ruang-ruang di klub ini selama belum digunakan? Dan kalau bisa Naomi bisa menceritakan kegiatan seorang host dengan bayaran termahal di klub ini,” ucap Harra berusaha mengusir kesedihan. Noami menganggukkan kepala tanpa ragu, kemudian beranjak. “Tentu saja, ayo ... aku tunjukkan tempat yang biasa dikunjungi orang-orang ‘berkelas’ ini,” ajak wanita cantik itu kemudian berjalan mendahului Harra. Dengan tangkas Harra menyalakan kamera untuk merekam itu. “Sebelum mulai menerima mereka, host akan merubah penampilan di sini,” tunjuk Naomi pada satu ruang yang terlihat memanjang dengan kaca-kaca besar tertempel di salah satu sisi dinding yang penuh dengan lampu bolam mengelilinginya. “Para host akan di-make over oleh make up artist dan hair stylist selama kira-kira dua sampai empat jam. Kemudian mulai ke sini ...,” ucap Naomi sambil keluar ruangan. Mata penuh selidik Harra seolah menemukan sesuatu. Harra mendekat ke arah wallpaper yang sedikit terkelupas. Bagian itu ada di samping pintu sebelah lain dari pintu masuk. Gadis itu tak perlu membungkuk atau melakukan gerakan sulit lain untuk menyentuh bagian yang seolah terobek dengan tak sengaja itu. Gadis itu menggerakkan kamera ke samping, lalu mengintip bagian belakang sobekan dan menahan untuk tak membelalakkan matanya. “Ini?! Ah!” teriak gadis itu dalam hati. Pada dinding di balik wallpaper warna ungu muda itu terdapat lubang bekas paku. Satu lobang terlihat lebih besar dari dua lubang lain yang yang terletak berjarak beberapa centimeter dari lobang terbesar seukuran lobang bekas paku itu. Mata Harra berusaha menarik garis imajiner dari lubang-lubang itu, lalu menghubungkan ketiganya dan mendapatkan sebuah bayangan segitiga. “Ini? Tak salah lagi,” seru Harra dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD