Interview Dengan Host Klub Mercy

1106 Words
Harra meninggalkan deretan loker itu dan masuk ke kamar mandi dalam gedung itu, kemudian mengeluarkan isi kantong itu. Satu kaca mata dengan bingkai warna hitam segera dikenakan. Menyusul satu kartu identitas yang telah diletakkan dalam kalung name tag dengan tali warna hitam segera dikalungkan di leher. Kemudian dari dalam tasnya, gadis itu mengeluarkan sebuah topi pad yang diharapkan bisa sedikit menutup wajahnya. Dengan karet rambut yang tak mencolok gadis itu mengikat rambutnya. Setelah itu keluar gedung itu menuju halaman parkir. “Pilihan yang bagus, Jimmy,” ucap Harra ketika sampai di dekat kendaraan roda dua yang terlihat standar. Dengan riang Harra mengendarai kendaraan roda dua yang telah disiapkan untuknya itu ke salah satu distrik di kota New March. Empat puluh lima menit kemudian, kendaraan roda dua yang penampakannya tak mencolok di jalan raya itu sampai ke sudut kota yang teramai di kota itu, Ginza. Deretan gedung-gedung yang menjajakan berbagai barang mewah, restoran, karaoke, hotel dan bangunan khas kota padat lain memenuhi pinggir jalan. Gadis itu menghentikan kendaraan roda duanya di depan sebuah bangunan yang terlihat lebih sepi dari bangunan yang lain di Ginza pagi itu. “Ah ... tentu saja, tempat ini akan ramai jika malam hari,” guman Harra dalam hati, mata gadis itu mengamati tulisan besar yang terbaca sebagai Mercy yang ditulis dengan huruf besar. Huruf besar yang dibentuk dari lampu-lampu itu pagi ini tentu saja padam. “Kenapa mereka memberi nama sebuah klub host dengan nama Mercy? Janggal sekali,” komentar Harra dalam hati. Gadis itu melangkah ke salah satu pintu yang terletak di bagian samping gedung dengan tulisan Mercy itu. Seorang pegawai laki-laki bertubuh gendut menyambut. Gadis itu menunjukkan identitas dan menyebutkan satu nama. “Kami telah membuat janji,” ucap Harra dan dengan tanpa halangan berarti, gadis itu di antar oleh laki-laki gendut itu ke sebuah ruangan yang terletak di lantai dua. Beruntung sekali, temu janji wawancara dengan salah satu host di klub ini yang sebelumnya telah diuruskan Jimmy berjalan lancar. “Hai!” sapa Harra ketika satu wajah cantik menyembul setelah pintu terbuka. Gadis itu mengangkat identitas yang tergantung di lehernya ketika sosok dengan riasan tipis itu melirik ke name tag-nya. “Harrana,” baca wanita cantik yang mengenakan baju tipis yang menampakkan kedua bahunya itu, sepasang tali dengan warna yang sama berada di bagian baju yang dekat dengan leher. Harra mengangguk. “Naomi,” ucap wanita itu kemudian ketika keduanya bersalaman. Kemudian keduanya duduk di atas sofa yang berada di ruangan itu. Sofa yang diletakkan di dekat jendela itu menyingkapkan kesibukan yang terjadi di jalan Ginza. Eliz membuka minuman kaleng dan meletakkan di meja dengan menyorongkan kaleng itu agar tepat berada di depan tamunya. “Jadi, Harrana masih magang di kantor berita itu?” ucap Naomi membuka percakapan, kemudian tersenyum. Wanita dengan gigi gingsul itu tambah manis ketika tersenyum. Harra mengangguk dalam hatinya berharap agar wanita ini nggak mengenalinya sebagai Harra karena pemberitaan yang akhir-akhir ini masif di media. “Apa menyenangkan jadi pencari warta?” tanya Naomi sambil menatap wajah Harra lekat. “Ya, terkadang,” jawab Harra, tapi melanjutkan kalimat itu dalam hati, “mencari berita dan mencari petunjuk hampir sama ‘kan?” “Begini,” lanjut Harra sambil mengeluarkan alat perekam. “Saya akan memperjelas apa yang telah disebutkan oleh senior saya di kantor berita itu. Jadi, wawancara dan semua data hari ini akan saya serahkan pada senior, baru kemudian akan diolah sebelum ditayangkan. Em ... jika ada informasi, kata, ucapan atau apa saja yang mungkin membuat Naomi keberatan, bisa diminta untuk dihapus,” jelas Harra memaparkan disclaimer. “Oke nggak masalah kok,” balas Naomi, tangannya yang mengenakan kuku-kuku cantik mengambil minuman kalengnya dan menyesap isinya. Harra mengaktifkan alat perekam, kemudian meletakkan alat itu di meja dekat dengan narasumbernya. “Kabarnya Naomi adalah host dengan bayaran yang paling mahal di klub host Mercy ini yang terkenal ini? Ini salah satu klub yang paling bergengsi di distrik Ginza ini ‘kan?” tanya Harra sambil memperhatikan gerak-gerik Naomi dengan mata detektifnya. narasumbernya itu tertawa bahagia, wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa bangga. “Ya ... mereka bilang seperti itu,” jawabnya dengan riang. “Dan betul sekali, hanya orang-orang berkelas yang bisa menikmati kenyamanan klub ini. Paham ‘kan arti ‘berkelas’?” lanjut Naomi sambil mengerling penuh arti. Harra menganggukkan kepala. Harra beringsut mendekat, gadis itu menunjukan rasa tertarik yang tinggi. “Bisa dijelaskan bagaimana pekerjaan sebagai host di klub ini?” lanjut Harra menginterogasi, gadis itu mencoba bersabar sebelum mencapai pertanyaan inti. narasumbernya mengangguk. “Pekerjaanku hanya membuat tamu yang datang merasa senang dan nyaman agar mereka mau datang lagi ke tempat ini,” jelas Naomi singkat. Harra mengedipkan mata seolah mengirimkan tanda bahwa ia mengerti. “Oh, saya paham arti fasilitas ‘kenyamanan’ yang ditawarkan klub ini. Em ... maaf, apa itu juga termasuk em ‘tidur bersama’,” tanya Harra dengan lirih dan hati-hati. narasumbernya menggelengkan kepala. Naomi tersenyum, lagi-lagi gigi gingsulnya menambah manis narasumber Harra ini naik beberapa tingkat. “Em ... hal seperti itu akan dilakukan tanpa paksaan, em bukan dengan alasan transaksi seperti yang ada di luar sana,” jawab Naomi jujur. Harra mengeluh dalam hati, bingung memutuskan untuk tidak percaya atau percaya pada jawaban narasumbernya kali ini. “Apa Naomi menyukai pekerjaan ini? Mengingat yang datang ke sini adalah laki-laki ‘kan? Kabarnya beberapa di antara yang datang itu para mafia, apa itu nggak membuatmu takut?” Interogasi Harra mulai masuk ke tujuan inti. Narasumber Harra yang cantik itu menggeleng sambil tersenyum. “Aku menyukai pekerjaan ini, selain uangnya banyak, juga bisa bertemu dengan orang-orang penting di negara ini. Nggak hanya mafia kok,” jelas Naomi sambil mencondongkan tubuh ke depan. “Em ... saya ingin secara khusus bertanya tentang tamu yang menjadi anggota mafia, apa itu beneran nggak membuatmu 'khawatir'? Bukannya mereka sering terlibat kegaduhan, p*********n dan mungkin ... em ... pembunuhan?” kejar Harra mencoba menggali informasi. “Oh itu. Dulu iya, tapi sejak tiga tahun ini klub ini menjadwalkan kedatangan mereka, jadi, dalam malam itu hanya satu klan yang diizinkan datang, atau dua klan yang nggak memiliki permusuhan,” jawab Naomi enteng. Harra manggut-manggut. “Manajemen klub telah mengantisipasi itu, agar kejadian perkelahian besar seperti tiga tahun lalu tak terulang. Kamu tahu ‘kan perseteruan klan Segitiga Emas dan klan Naga Putih yang memakan banyak korban ketika itu?” ucap Naomi balik tanya. “Saya pernah dengar yang satunya, tapi ... klan Naga Putih ...?” Harra memicingkan mata. “Memang hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nama klan itu saat ini. Mungkin publik nggak tahu nama klan itu, tapi akan segera familiar jika disebut nama Cosmo Holdings,” jelas Naomi datar. Harra melongo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD