“Heh! Ssst!” seru Assad dengan suara tertahan.
“Pelankan suaramu!” tukas Nazar seraya melirik ke arah laki-laki berambut gondrong itu.
“Apa gadis itu memang sudah teridentifikasi sebagai saksi penembakan itu?” sambung Nazar sambil menoleh ke arah Assad.
“Belum, tapi bagaimanapun kita harus waspada. Jangan sampai informasi yang belum jelas membuat masalah baru di dalam klan kita,” jawab Assad sambil menerawang seolah tatapannya sedang mengobrak-abrik atap rumah megahnya itu.
“Hei! Sepertinya di sini aku saja yang ketinggalan berita. Kalian jangan main rahasia-rahasiaan dong!” protes Ronald sambil menyenggol bahu Nazar dengan bahunya.
Nazar menjelaskan dengan singkat tentang kemiripan detektif itu dengan saksi penembakan yang terus dicari Assad.
“Hem ... aku jadi ingat kejadian itu. Sayang sekali, Decca yang berbakat itu harus berkhianat pada klan kita,” guman Ronald setelah menerima penjelasan Nazar.
“Benarkah Decca berkhianat?” Tiba-tiba pertanyaan itu mencuat di benak Assad yang sedang menerawang dengan berbantalkan kedua tangan. Di telinga laki-laki itu kini terngiang kembali percakapan ketika ia menghajar Decca waktu itu.
“Apa? Apa yang seharusnya aku percaya?” Pertanyaan berikutnya muncul mengakibatkan keresahan yang mulai berkobar.
Assad memiringkan badan tinggi besarnya.
“Engkau picik?” Pertanyaan Decca menambah kobaran keresahan membesar.
“Ah kenapa hari itu aku tertutup kemarahan hingga tak mau mendengarkan dulu penjelasannya, tapi ... semua bukti memang mengarah padanya, hari itu ...,” batin Assad bergolak.
“Apa yang meresahkanmu? Gadis itu? Uh! Tolonglah ...,” celetuk Nazar yang ternyata memperhatikan gerak gerik bosnya itu. Assad mengembuskan napas panjang.
“Apa ada perkembangan kasus penembakan anak buah kita kemarin?” jawab Assad tanpa mengindahkan ucapan Nazar.
Hening menghampiri ketiga laki-laki dengan penampilan outstanding di sofa itu.
“Nazar! Ronald!” panggil Assad mengejar jawaban.
“Em ... itu belum. Belum Ada,” jawab Nazar dengan berat, kalimat yang diucapkan terlalu jelas memiliki nada enggan.
“Bukannya Kau yang bikin kasus itu nggak berkembang, jika kita langsung menghajar klan Segitiga Emas, pasti hasilnya sudah terlihat saat ini,” jawab Ronald separo mengomel. Laki-laki itu terlihat masih memendam kekesalan dengan keputusan Assad yang mengurungkan p*********n balasan itu.
“Ah ...,” keluh Assad sambil beranjak duduk.
“Jadi, tim yang kita bentuk belum menelorkan satu informasi pun? Ah ...,” keluh Assad tanpa mempedulikan keberatan kedua anak buahnya. Kemudian, Assad beranjak, lalu bergegas meninggalkan keduanya dengan pikiran yang tumpang tindih. Kedua kaki tangan laki-laki itu hanya saling pandang melihat sikap Assad yang menurut mereka tak seperti biasanya itu.
Pagi datang membawa harapan pagi penghuni bumi. Ketiga laki-laki pentolan Cosmo Holdings itu duduk di meja makan tak jauh dari kolam renang rumah megah itu.
“Siapa?” seru Ronald ketika seorang pegawai mendekat ke meja mereka.
“Seorang polisi meminta izin untuk masuk, dia sekarang tertahan di luar gerbang,” ulang pegawai itu pada laki-laki berambut gondrong itu. Nazar terlihat berpikir.
“Polisi sudah berani ke sini? Apa urusannya?” ucap Nazar dengan sedikit gusar seraya menatap Assad yang sedang mengernyitkan kening. Matanya tampak menyipit.
“Assad!” seru Ronald terlihat panik, laki-laki berambut sebahu itu mengkode dengan gerakan kepala dan tatapan mata tajam.
“Tidak! Itu hanya internal klan kita saja, kecuali ada yang melaporkan itu,” balas Assad yang langsung tanggap dengan kekhawatiran Ronald pada penembakan yang baru kemarin terjadi.
Langkah-langkah kaki Harra membuat tiga laki-laki di meja makan itu menoleh dengan tatapan bertanya-tanya, sorot mata mereka membersitkan kecurigaan.
“Polisi itu datang untuk menjemputku,” seru Harra sambil berjalan.
“Kamu mengenalnya, Assad. Dia, Eliz, salah satu anggota tim penyidik yang berada di korporasimu,” imbuh Harra dengan datar. Ketiga laki-laki itu terlihat menunjukan kelegaan di wajah mereka.
“Aku 'kan bisa mengantarmu,” seru Assad sambil beranjak meninggalkan kursinya. Dua laki-laki yang ada di meja makan itu menahan kesal melihat kelakuan bosnya.
“Lihat! Kamu harus bekerja dengan teman-temanmu,” elak Harra sambil menunjuk dua laki-laki di meja makan itu.
Assad mengembuskan napas tak berdaya menghadapi penolakan Harra.
“Buka gerbangnya ...,” perintah Assad pelan, pegawai itu menginformasikan perintah itu dengan alat komunikasinya sembari berjalan ke ruang lain. Harra melambaikan tangan pada kedua laki-laki di meja makan itu, lalu berbalik dan berjalan melalui lorong pendek yang akan berakhir di pintu depan.
“Harra!” panggil Assad sambil mengikuti gadis itu yang terus berjalan.
“Kamu bisa menggunakan mobilku jika ingin pergi ke suatu tempat,” tawar Assad ketika Harra berhenti di depan pintu utama. Kendaraan roda empat Eliz yang tak mewah mendekat.
“Terima kasih, untuk seseorang yang statusnya berseberangan denganku, tawaranmu luar biasa,” tolak Harra halus.
Assad melongok ke dalam mobil.
“Jadi, Kamu berencana tinggal bersama petugas polisi yang ini?” tanya Assad ketika teringat dengan ucapan Harra di restoran Hans kemarin. Harra mengangguk.
“Sayang sekali, aku masih harus berurusan dengan syarat tambahanmu yang agak aneh itu,” jawab Harra sambil membuka pintu mobil Eliz.
“Tentu saja, jika Kamu nggak pulang ke sini aku akan mencarimu,” balas Assad dengan wajah yang terlihat serius. Harra tak menghiraukan kata-kata laki-laki itu, lalu melambaikan tangan ketika kendaraan roda empat Eliz mulai bergerak.
Sesaat Eliz memandang wajah Assad tanpa berniat menyapanya. Kemudian gadis berambut cepak itu melarikan mobilnya dengan cepat agar segera keluar dari kediaman mewah bos mafia itu.
“Sepertinya bos penjahat itu menyukaimu,” celetuk Eliz sambil sekilas melirik Harra. Gadis yang baru saja dilirik itu terkekeh pendek.
“Kelakuannya memang tergolong aneh dan sulit ditebak, tapi sepertinya belum bisa disimpulkan sebagai rasa suka,” jawab Harra enteng. Lawan bicaranya itu terkekeh, lalu menganggukkan kepala.
“Ya, aku juga bertanya-tanya, apa bos itu bisa menyukai satu perempuan? Apalagi itu Kamu, Kamu tahu berapa nama perempuan yang bisa dihubungkan dengan namanya?” ujar Eliz sambil kembali melirik Harra sekilas. Harra mengangkat kedua tangannya. Kedua gadis itu tertawa.
Eliz menghentikan kendaraan roda empatnya di dekat persimpangan besar kota New March.
“Jadi, Kamu tidak bisa dihubungi?” ucap Eliz ketika melihat Harra mematikan handphonenya.
“Aku akan sering mengakses web kita, sebelum aku memberitahu cara menghubungiku. Ini untuk mencegah kemunculan mendadak bos mafia itu di sampingku. Atau untuk saat-saat tertentu saja aku akan mengaktifkan handphone ini.” jelas Harra kemudian keluar dari mobil Eliz.
Harra mengambil jalan yang ramai dan masuk ke sebuah gedung yang menyediakan jasa loker penyimpanan untuk masyarakat kota New March. Gadis itu berjalan melewati deretan loker dan berhenti di loker dengan nomor delapan ratus.
“Nomor yang cantik, Jimmy,” ucap Harra dalam hati. Dengan cepat, tangan gadis itu mengamankan satu kantong berwarna hitam dari dalam loker itu.
“Mari kita mulai pencarian ini!” seru Harra dalam hati sambil melongok isi kantong itu.