Sindiran Tangan Kanan Assad

1100 Words
Gerakan tangan Assad yang berusaha mendekat ke arah tangan Harra bersamaan dengan tangan gadis itu yang menjauh karena mengambil gelas. “Ah ...,” keluh Assad kecewa, laki-laki tinggi tegap itu hanya bisa tersenyum pilu dalam hati menyesali kesempatan yang hilang. Harra menyesap minumannya, benaknya mulai mereka-reka rencana. “Mungkin rekomendasi tempatnya bisa jadi celah menemukan bukti-bukti yang kucari,” ujar Harra dalam hati. “Setuju ‘kan dengan rekomendasiku?” tegas Assad sambil terus menatap mata indah Harra lekat. Gadis itu sejenak terlihat seperti sedang berpikir, tapi tak berapa lama kemudian kepalanya mengangguk. “Aku akan sangat mempertimbangkan tempat yang menarik itu,” jawab Harra kemudian tersenyum. Assad membalas dengan ekspresi wajah puas. Bos korporasi yang sedang diselidiki Harra itu kemudian beranjak. “Kalau begitu ayo kita pulang,” ucap laki-laki itu lembut setelah melihat piring-piring di depan gadis itu kosong. Harra yang sedang menegakkan punggung untuk mengatur posisi perut untuk sedikit memberikan rasa lega pada organ cernanya itu menoleh. “Kita? Pulang?” tanya Harra dengan ekspresi heran. “Tentu saja, Kamu akan terus tinggal di kediamanku sampai serangan-serangan itu tak muncul lagi,” balas Assad tanpa ragu. “Ah ... itu,” sahut Harra seraya turun dari kursi. Sejenak pandangan mata Harra beralih ke arah Hans yang sedang mempersiapkan diri untuk masak di depan pelanggan yang baru datang. Seolah ada getaran yang menyampaikan tatapan gadis itu, laki-laki yang sedang memegang mangkok kecil itu menoleh. “Ingat yang kubilang tadi! Jangan ke sini lagi!” seru Hans dengan tenang. Harra mendesah lelah, menyengirkan hidung, lalu berjalan ke kasir. Assad tersenyum simpul dan mengikuti langkah gadis itu. “Aku menemukan tempat baru, jadi sepertinya malam ini, aku nggak perlu tidur di kediamanmu yang mewah itu demi alasan keamanan,” jawab Harra ketika keluar dari restoran Hans, telapak tangan gadis itu terangkat menutupi mata ketika melihat langit, matahari menjelang sore itu terasa menyilaukan. Assad segera beralih, berdiri tepat di depan Harra hingga tubuh tinggi tegapnya menghalangi gadis itu dari apa yang sedang dilihatnya. “Kamu yakin itu tempat aman?” seru Assad berusaha menghalangi niat gadis itu. “Aku akan tinggal dengan anggota tim yang bekerja di kepolisian, tenang saja,” jawab Harra dengan yakin. “Tidak!” seru Assad cepat, Harra mengernyitkan dahi. “Kamu nggak boleh lupa syarat tambahan yang kuajukan itu, Kamu sudah menyetujuinya,” ucap Assad tak kehilangan akal. Harra mendesah lelah, dengan tak berdaya, gadis itu akhirnya mengikuti langkah laki-laki itu yang menuntunnya ke mobil hitam mewahnya. Kilau emas sinar matahari sore menemani kepulangan sepasang laki-laki dan perempuan itu. Keduanya tak bicara seolah sedang menikmati jeda hening di antara mereka. Pandangan mata keduanya sama-sama terarah pada suasana di luar jendela mobil. Beberapa saat kemudian, mobil mewah itu memasuki gerbang rumah megah di pinggir danau. “Hah! Apa ada yang beralih profesi jadi sopir detektif perempuan itu?” sindir Nazar ketika melihat Assad masuk bersama dengan Harra. Laki-laki dengan riak wajah tenang itu duduk dengan gesture terkejut di sofa dengan bentuk huruf L di tepi kolam renang itu. Mendengar itu, Ronald yang semula menunduk menatap layar handphone seketika mengangkat kepala. Assad tak menjawab dan hanya mengedikan bahu dengan santai. “Aku seperti sedang melihat pasangan yang sedang bulan madu,” timpal Ronald sembari terus menatap sepasang laki-laki dan perempuan itu yang kini berhenti di depan mereka. “Ronald ...,” sahut Assad memperingatkan. Laki-laki dengan rambut sebahu itu meletakkan gadgetnya di meja, kemudian menyandarkan punggung dengan kaki lurus terjulur. “Di mana salahku?” balas Ronald sambil mengangkat satu tangan. “Kalian terlihat kemana-mana berdua dengan tangan yang sering terkait satu sama lain. Hubungan antara pemilik korporasi yang sedang diselidiki oleh detektif swasta utusan masyarakat tak terlihat di sini.” Ronald menghentikan sanggahannya, kemudian menatap Harra dengan tajam. Harra yang kini berdiri di samping Assad membalas tatapan tak suka tangan kanan Assad itu dengan tenang. “Hei Detektif ..., coba ceritakan padaku, di dunia mana yang ada seorang penjahat yang sedang diselidiki justru menggendong detektif yang sedang menyelidikinya dari mobil dan meletakkan ke ranjang di kamar terbaik di rumah ini. Kemudian laki-laki itu menyelimuti detektif itu dengan lembut. Ah!!! Nazar coba Kamu ada di sana menyaksikan pemandangan aneh itu?” seru Ronald dengan kesal sambil mengalihkan pandangan ke arah Nazar. “Di gen-dong?! Aku?” teriak Harra terkejut. Suara teriakannya benar-benar memekakkan telinga Assad yang seketika mengalihkan pandangan ke tempat lain ketika gadis di sampingnya itu menoleh meminta konfirmasi. Assad mendesah lelah seraya menyebut nama Ronald dengan panjang. “Em ... menurutku, saat itu, Kamu pasti lelah sekali karena petang itu menghadapi serangan di lantai satu restoran tingkat empat itu ‘kan?” ujar Assad mencoba tetap santai. “Hei! Bapak Assad! Kamu bisa membangunkanku, aku tak selelah itu hingga nggak bisa berjalan ke kamar sendiri,” protes Harra sambil membatin, "apa yang sebenarnya yang ada di pikiran Assad?" “Wah! Detektif itu tak tahu? Benar-benar keanehan yang makin tambah aneh,” komentar Ronald seraya menggelengkan-nggelengkan kepala. “Entah, saat itu, membangunkanmu bukan pilihanku,” ucap Assad mencoba mengelak. Kedua kaki tangan Assad yang sedang menyaksikan percakapan Harra dan Assad itu seketika bertepuk tangan. Melihat Assad yang tak peduli dengan protesnya, gadis itu hanya bisa menggelengkan-nggelengkan kepala. “Aku nggak tahu, apa pilihan itu tepat,” balas Harra kemudian mengalihkan pandangan pada kedua orang yang sedang bertepuk tangan itu, kemudian berbalik dan bergegas menuju kamarnya. “Aku nggak ngerti, bos kita ini sedang memainkan apa,” ucap Nazar ketika Assad merebahkan diri di sampingnya. “Kurasa dia mengidap penyakit aneh,” timpal Ronald cuek. Seorang pegawai datang membawa minuman untuk bosnya yang baru datang itu. Assad langsung meraih gelas itu, menenggaknya dan kembali pada posisi semula. Nazar menyandarkan punggung tapi masih terlihat menjaga postur tubuhnya. “Sebenarnya aku nggak akan setuju dengan tuduhan tanpa dasarmu, Ronald. Tapi, mengingat memang ada tanda-tanda keanehan dalam diri bos kita yang tak bisa dijelaskan, aku jadi berubah. Gimana tidak? Bos kita ini terus menempel pada gadis yang harusnya dilenyapkan,” ucap Nazar dengan tenang. “Tapi bos kita ini takut bertindak karena status detektif itu,” tukas Ronald, kemudian mengembuskan napas panjang. “Bukan saja karena itu, tapi gadis itu juga saksi penembakan pada Decca teman kita,” imbuh Nazar seolah menambah minyak pada percikan api. Ronald terhenyak hingga posisi duduknya berubah. “De-tek-tif itu?!” seru Ronald sambil menahan suara. Nazar mengangguk. Ronald melongok ke arah Assad yang berada di sebelah Nazar. “Apa Kau nggak takut gadis itu membocorkan kesaksiannya pada orang-orang di klan kita? Kau tahu, orang-orang dekat Decca di klan ini akan berontak jika mengetahui penembakan itu,” tanya Ronald sambil menahan suaranya agar tetap lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD