Chapter 27

1602 Words
Kini terhitung sudah delapan tahun dari waktu Lia kecil memasuki akademi militer. Kini penampilan Lia kecil lebih dewasa namun dia tetap suka memakai kaos militer dan celana lapangan militer. Pada saat menyelesaikan tugasnya, surat perintah militer sedang menunggunya membaca surat itu. Surat dari panglima TNI, Muhammad Irwan Baqi. Saat membaca isi surat perintah, wajah Lia kecil bertambah dingin. Teman-teman yang berada dibawah komando Lia kecil berwajah muram, ada yang terlihat sedih. Meski demikian, mereka mampu menahan emosi yang sedang mereka rasakan. "Letda Ariella Achtiana Rousseau, Anda ditarik kembali dari sini ke markas besar TNI," ujar komandan militer yang membawahi perwira di tempat Ariella bertugas. Wajah Lia kecil tetap terlihat datar dan dingin, dia mengalihkan tatapan matanya dari secarik kertas yang berisi surat perintah itu ke arah komandannya. "Mulai hari ini tugas Anda telah dinyatakan selesai dari Yaman, besok Anda akan berangkat dan melapor ke markas," ujar komandan. Pangkat dari komandan ini adalah letnan kolonel dengan bunga melati dua pada pangkat di baju lapangannya. "Siap laksanakan, Komandan!" suara Lia kecil terdengar tegas dan berwibawa. Letnan kolonel membubarkan diri, dia memberi kesempatan untuk Lia dan anggota di bawah Lia untuk mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan. "Letnan," ujar beberapa sersan dua. Mereka memang mengetahui sifat keras dan dingin dari letnan mereka, namun sesungguhnya sang letnan tidak pernah meninggalkan mereka ketika sedang berada di tengah-tengah medan perang. "Prajurit tidak lemah hati, hapus air mata kalian!" perintah Lia kecil. Semua orang buru-buru menghapus air mata mereka yang menetes. Komandan menatap agak iba dari jauh. "Mau bagaimana lagi, bahkan aku tidak punya pilihan dan tidak bisa membangkang." * "Tidak mungkin Kakekku bangkit dari kubur dan memberimu perintah untuk memulangkan aku ke Indonesia," ujar Lia kecil dingin. Dia sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang yang sangat penting di dalam militer. "Lia, ini semua tugas, tidak ada hubungan pribadi dengan siapapun," balas dari seberang. Suara orang dari seberang adalah seorang pria paruh baya. "Ah, apakah pesan dari Nenekku sebelum beliau meninggal?" tanya Lia kecil. "Letnan dua Ariella Achtiana Rousseau, kembalilah ke markas dan patuhi perintah militer!" balas pria paruh baya itu. Lia kecil tertawa sinis, namun itu hanyalah tawa pelan seperti mengejek diri sendiri. "Ah, meskipun Kakek dan Nenekku telah tiada, mereka tetap akan mengawasiku, takut apakah aku akan menyusul mereka atau tidak," ujar Lia kecil. "Lia! tidak seharusnya kata-kata ini keluar dari mulut seorang letnan!" tegur pria paruh baya itu. "Kembali ke markas segera!" perintah pria paruh baya itu. Lia kecil tersenyum miring. "Kau menekanku dengan perintah militer?" Beberapa detik sunyi, namun suara pria paruh baya tetap terdengar. "Ya." * Seorang pria paruh baya meletakan ponselnya di atas meja. Dia baru saja melakukan panggilan telepon internasional secara pribadi dengan salah seorang bawahannya. Papan nama yang terbordir di atas saku bajunya adalah 'M. Irwan Baqi'. Pangkat yang dipikul oleh pria ini adalah bintang empat yang mana dia adalah pimpinan tertinggi militer. "Dia bertambah dingin," ujar Irwan. Irwan menarik dan menghembuskan napas kasar. "Bagaimana cara untuk menjinakan anak itu? semakin hari dia semakin tak ada perasaan pada siapapun, bahkan keluarganya. Jika saja tidak aku perintahkan dia untuk datang menjenguk kakeknya, mungkin sampai kematian kakeknya dia tidak akan bertemu kakeknya," ujar Irwan. Irwan memijat pangkal hidungnya. "Om Busran … aku hanya bisa menggiringnya kembali ke Indonesia untuk sementara waktu. Entah kapan lagi dia akan pergi jauh dari kota ini, dia memiliki bakat dan keterampilan yang dibutuhkan militer." * Sebelum menaiki helikopter militer, Lia kecil memandangi sekitar lima puluh orang anggota yang pernah bekerja di bawah komandonya. Pangkat yang dipikul oleh lima puluh orang itu sangat beragam. Ada yang berpangkat prajurit dua, sersan dua, sersan satu bahkan letnan dua, namun mereka semua berada dibawah pangkat Lia kecil. "Letnan, selamat tinggal." "Letnan, hati-hati di jalan." "Letnan, kami berharap bisa bertemu dan bekerja sama lagi." "Letnan, Anda selalu ada di hati kami!" "Letnan, sampai jumpa!" Lia kecil mengangguk, kemudian dia naik ke dalam helikopter militer dan duduk di dekat pintu. Helikopter itu terbang menjauh dari markas TNI yang berada di gurun pasir itu. Mata Lia kecil terus menerus menatap ke arah kawan-kawannya hingga semua orang menghilang karena terhalang jarak pandang. * Mobil berhenti di depan kediaman pintu rumah Basri. Seorang gadis remaja turun dari mobil. Dia tersenyum bahagia saat memasuki rumah sambil memperlihatkan kamera edisi terbaru dan terbatas di tangannya. "Mama Poko! Papa Ben!" teriak gadis itu. "Oh oh oh! Aini-nya Papa Alan, jangan lari-lari sayang, nanti jatuh." Alan mendekat ke arah gadis itu. Gadis manis itu adalah Aini yang kini telah tumbuh remaja. Dari belakang Aini, muncul Naufal. Naufal kini telah tumbuh menjadi pria dewasa dan umurnya telah mencapai usia tiga puluh tahun. "Papa Alan, lihat ini, ini adalah kamera baru, Bro Opal membelikannya untukku, Aini akan merekam video ASMR dengan kamera ini!" ujar Aini senang. Alan terkekeh. "Anak manis. Nah, buatlah banyak video, Papa Alan akan menontonnya bila perlu semua orang di Basri Group harus menonton!" Aini terkekeh. "Ck ck ck! memang kuasa Om Alan makin hari makin ganas," ujar Naufal. Alan mencibir. "Ke mana saja kamu? main bawa anak gadis Om sembarangan." Naufal memutar bola matanya. "Memangnya nggak bolehkah ajak jalan-jalan adik kandung sendiri?" Naufal menekan kata adik kandung, hal ini dimaksudkan agar Alan sadar diri bahwa Naufal lebih berhak atas Aini karena hubungan mereka yang erat. "Ehm! siapa bilang nggak boleh? boleh kok asal izin dulu," balas Alan. "Sudah izin," ujar Naufal. "Izin pada siapa? kamu sama sekali nggak bilang ke Om kalau mau bawa keluar Aini!" Alan melotot ke arah Naufal. "Izin ke Kakek Ran," jawab Naufal santai. Alan buru-buru menelan air ludahnya, kalau ini berhubungan dengan ayahnya, dia tak bisa berkutik. "Ehm, sudah sampai mana bisnis kamu?" tanya Alan mengalihkan pembicaraan. Aini telah pergi mencari keberadaan orangtua kandungnya dan sang kakek yang sampai saat ini masih berumur panjang. "Minggu depan peresmian resort baru di Sumba," jawab Naufal. Alan manggut-manggut mengerti. "Baguslah, ternyata kamu bisa melebarkan bisnis Basri elektronik ke ranah resort dan pariwisata," ujar Alan memuji. "Bosan juga kerjaan cuma itu itu aja, ngurus yayasan dan barang-barang produksi elektronik, mending bikin resort dan tempat wisata, Opal bisa jalan-jalan sesuka hati ke resort milik Opal sendiri, ongkang kaki santai-santai," balas Naufal. Alan terkekeh. "Kamu ada gunanya, biar duduk-duduk ongkang kaki, tapi bisa melebarkan bisnis kamu, tapi coba lihat Papa kamu, dari pertama menikah menempel terus di ketek kakak perempuanku, ck ck ck." Alan mulai julit. Naufal terbahak. "Papa ada guna, nggak cuma nempel di Mama Poko doang kok, salah satu kegunaan Papa Ben yah itu, anak gadis yang selalu Om Alan klaim anak Om Alan, itu kan milik Papa." Alan mencibir. "Heum, lihat Dimas, dia sudah punya anak kedua, kamu kapan nikah?" nah kan, Alan mulai julit pada keponakan sendiri. "Santai Om, jangan terlalu mikir kapan nikah, nanti jadi beban pikiran," jawab Naufal sambil duduk di sofa, dia mencari posisi tiduran sambil menyilangkan kaki. "Umur kamu sudah tiga puluh tahun, kamu sudah kuat secara finansial, fisik juga mendukung. Ah, apa jangan-jangan mental kamu belum kuat untuk berumah tangga yah?" Alan menyipitkan matanya ke arah Naufal. Naufal terkekeh. "Opal masih betah sendirian." Alan menggelengkan kepala. "Ck ck ck! waktu Om seumuran kamu saja, Dimas sudah bisa pup sendiri ke kamar mandi tanpa bantuan orang lain. Kamu? masih kosong." Naufal terbahak. "Julit terus Om, julit terus, awas saja mulut Om Alan bengkok kena stroke karena terlalu ngurusin urusan orang lain." "Wuahaahahaha!" Naufal malah lebih terbahak setelah melontarkan kalimatnya. "Kamu!" Alan malah melotot. "Lihat kakak kamu, anaknya sudah dua, Fahmi bahkan sudah bisa menggiring bola kaki," ujar Alan. Naufal terkekeh. "Kebobolan itu Om. Kak Aqlam pengennya satu anak aja, tapi nggak sadar kebobol, akhirnya Fahmi lahir, hahahah." Alan mencebik. * Mobil hitam berhenti di depan kediaman Nabhan. Pintu mobil terbuka, sepatu boot militer wanita terlihat turun dari mobil itu. Tanpa sapaan pada para pelayan yang sedang memberi salam dan ucapan selamat datang padanya, Lia kecil berjalan begitu saja melalui mereka. "Selamat siang, Nona Lia." "Selamat datang di rumah, Nona Lia." Lia kecil memasuki rumah, hanya melirik sekilas dan saat melihat Tante dan Paman yang membesarkannya, dia berhenti sejenak. "Lia, syukurlah kamu pulang," ujar Nibras. Rambut Nibras telah memutih, umurnya tidak lagi muda, dia telah lebih dari enam puluh tahun. Lia kecil mengangguk. "Om Ibas, Tante Tika," sapa Lia kecil singkat. "Mari makan dulu, Nak. Kamu pasti lapar," ajak Atika. "Aku akan istirahat," balas Lia kecil. Ah, rupanya dia tidak ingin makan siang. "Baiklah, tapi jika butuh sesuatu, bilang saja pada Tante atau pelayan di sini," ujar Atika. Lia kecil mengangguk. Dia melanjutkan langkah kaki naik tangga, namun dia berpapasan dengan Chana. "Aril." Panggil Chana. Lia kecil berhenti melangkah. Sesungguhnya jika orang lain memanggilnya dengan sebutan itu, maka tatapan matanya akan sangat dingin dan menusuk orang tersebut, namun ini berbeda. Orang yang memanggilnya adalah istri tercinta dari kakak sepupunya yang kejam dan juga berhati dingin. Lia kecil berbalik, dia menatap Chana. "Kakak Ipar," balas Lia kecil. Chana tersadar bahwa yang sekarang berdiri di depannya adalah Lia kecil bukan Ariella. "Lia, maafkan Kakak. Kakak tidak tahu itu kamu." "Tidak apa-apa," balas Lia kecil. "Bagaimana kabarmu, Kakak ipar?" tanya Lia kecil. "Aku baik. Kamu belum bertemu dengan Fahmi, dia sudah besar," jawab Chana. Lia kecil mengangguk. "Setelah istirahat aku akan bertemu dengan Fahmi." Chana tersenyum. "Chana," panggil Aqlam. "Aqlam, kemari! Lia pulang." Chana tersenyum ke arah Aqlam. Aqlam mengangguk. Dia mendekat ke arah Chana lalu berkata pada Lia kecil. "Pergi istirahat." Lia kecil mengangguk. Dia naik tangga menuju kamarnya. Sementara itu Aqlam menggendong istrinya. "Ayo tidur siang di kamar." Chana tertawa. "Aqlam, Chana berat." "Tidak berat," balas Aqlam. Suami istri itu ke kamar mereka. Sementara itu ketika Lia kecil memasuki kamarnya. Dia melihat ponsel dan membaca isi pesan. 'Mereka telah menikah.' Wajah Lia kecil berubah datar. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD