Begitu kedua jenazah telah dipindahkan ke ruang yang lebih luas, semua sanak saudara berkumpul, termasuk para besan yang kebetulan ada di kota yang sama dengan keluarga Nabhan. Sementara itu, besan yang berada cukup jauh dan ingin melayat ke rumah duka, mereka diarahkan segera ke rumah tua Nabhan di Semarang.
Lia Kecil duduk di dekat jenazah sang nenek, wajahnya terlihat sedih, matanya bengkak dan memerah. Atika mendekat ke arah Lia sambil membawa sehelai kerudung putih, dia berbisik di telinga sang keponakan perempuan.
"Lia Kecil, ayo ganti dres kamu, Nak. Kita akan mengantar jenazah Kakek Agri dan Nenek Lia ke rumah tua di Semarang," bisik Atika.
Lia kecil tidak mengangguk, namun dia menerima kerudung itu dan menutupi kepalanya, setelah itu dia berdiri dan segera naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Naufal duduk di dekat orang tuanya, dia memilih tempat di antara ayah dan kakeknya. Sang adik perempuan sedang duduk di pangkuan sang ayah sambil melirik ke arah Anas yang sedang menangis.
"Anas, jangan menangis, bukankah Kakek Besarmu pernah berkata bahwa laki-laki tidak boleh menangis?" ujar Aini membujuk keponakannya.
Aini berdiri dari pangkuan sang ayah dan mendekat ke arah Anas yang sedang berada di pangkuan Aqlam. Aini mengusap punggung Anas.
"Anas, Kakek Besar bilang apa tadi malam padamu?" tanya Aqlam pada Anas.
Sambil menahan tangis, Anas menjawab, "Kakek Besar bilang, Aqlam harus dengar apa kata Tante Aini."
"Jadi?" tanya Aqlam.
"Anas tidak boleh menangis," jawab Anas.
"Hapus air matamu," pinta Aqlam.
Anas dengan sendiri menghapus air matanya.
Dia tidak lagi menangis, namun matanya masih memerah.
"Siapa orang pertama yang mengetahui Bibi Lia dan Om Agri telah meninggal?" tanya Davin ke arah Busran.
Busran melirik ke arah Naufal.
"Opal, Bang," jawab Busran.
Semua mata memandang ke arah Naufal.
Merasa bahwa dia menjadi pusat perhatian, Naufal berkata, "Aril yang mengetuk keras pintu kamar Anas, aku kebetulan menginap di kamar Anas, dia terlihat panik dan gemetar lalu menarikku berlari masuk ke kamar Kakek dan Nenek Besarnya. Mungkin Aril menyadari bahwa sesuatu telah terjadi, jadilah dia memanggilku. Aku meraba pernapasan di lubang hidung Kakek Agri dan Nenek Lia, lalu merasa suhu badan yang telah dingin, kemudian merasakan nadi dari Kakek Agri dan Nenek Lia, sudah tidak terasa apapun."
Semua orang serius mendengarkan ucapan Naufal, termasuk Lia Kecil yang sekarang telah menggantikan dres selutut ke dres panjang sampai ke mata kaki.
"Aku minta tolong pada para pekerja untuk segera memanggil semua orang," sambung Naufal.
Davin mengangguk mengerti.
"Jadi Lia Kecil yang lebih dulu tahu?" tanya Davin.
Naufal tidak mengangguk, dia menjawab, "Aku pikir adik Aril agak kebingungan karena melihat langsung Kakek Agri dan Nenek Lia tak bergerak."
"Bukan aku, tapi Ariella," jawab Lia kecil datar.
Sang cucu laki-laki yang duduk berdekatan dengan Davin mendongak dan menatap ke arah Lia.
Lia kecil menatap mata Fauzan atau yang biasa disapa dengan sebutan Ojan.
Pemuda yang kini berusia 25 tahun itu melirik ke arah dres yang dipakai oleh Lia kecil.
Semua mata memandang ke arah Lia Kecil, ada keluarga dan tetangga yang mengerutkan keningnya mereka agak kebingungan setelah mendengar jawaban yang berbeda dari Naufal dan Lia kecil.
"Intinya yang mengkonfirmasi kematian Kakek dan Nenek kami adalah saudara ipar saya, adik sepupu saya adalah orang yang pertama kali melihat kondisi kakek dan nenek besar kami namun tidak mengkonfirmasi apapun," ujar Aqlam.
Orang-orang mengangguk mengerti.
Sementara itu, Davin melirik ke arah Lia kecil, dia tahu apa yang terjadi pada tubuh Lia kecil. Tidak perlu dijelaskan lagi oleh Aqlam, Davin telah tahu.
Yang mendapati Bibi Lia dan Om Agri telah tiada untuk pertama kali adalah kepribadian aslinya, kepribadian yang ini pasti sangat terpukul dan syok. Batin Davin.
Lia kecil tidak memperhatikan tatapan Davin padanya meskipun dia tahu bahwa dia sedang diperhatikan oleh Davin dan yang lainnya, dia hanya menatap ke arah Fauzan.
Fauzan melirik Lia Kecil selama beberapa detik, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tahu bahwa gadis itu sudah lama menyukainya, namun Fauzan tidak ingin menerima bahwa ada keanehan di dalam diri gadis yang menyukainya itu, dalam arti lain Fauzan mengabaikan perasaan suka dari Lia Kecil.
*
Pada jam sembilan pagi, rombongan keluarga yang berduka berangkat ke kota yang menjadi tujuan, yaitu Semarang.
Persiapan cukup cepat karena anak-anak Agri dan Lia tidak ingin jenazah orang tua mereka terlalu lama di dunia, mereka ingin segera mengurus dan mengantarkan jenazah orang tua mereka supaya beban dan tanggung jawab mereka sebagai anak selesai.
"Apakah kamu ingin ikut ke Semarang?" tanya Randra pada Naufal.
Naufal mengangguk.
"Ya, Opal ingin ikut. Biar bagaimanapun juga hubungan antar dua keluarga telah terjalin baik sebelum Opal lahir, bukan hanya hubungan persahabatan antara Kakek Ran dan Kakek Busran atau hubungan besan antara Nenek Momok dan Kakek Busran, tapi hubungan Kakak ipar dan adik ipar antara Opal dan Bro Aqlam," jawab Naufal.
Randra mengangguk mengerti, dia mengusap kepala Naufal.
"Baiklah kalau begitu, mari kita sama-sama saja ke Semarang. Kakek Ran, Papa dan Mama kamu akan naik jet pribadi," balas Randra.
"Baik, Kek," sahut Naufal.
"Papa, Aini boleh ikut pergi?" tanya Aini pada Ben.
Ben mengangguk.
"Tentu kamu boleh pergi," jawab Ben.
Aini memeluk sang ayah.
Ben tak mungkin meninggalkan sendirian anak perempuannya di rumah, itu mustahil.
"Ingin Bro Opal gendong?" tawar Naufal ke arah sang adik.
Aini mengangguk, dia melepaskan pelukan sang ayah dan beralih ke pelukan sang kakak laki-laki.
Saat keranda jenazah dimasukan ke dalam mobil jenazah, kalimat sholawat dilantunkan oleh orang-orang.
Sayang sekali, Busran dan dua saudaranya tak dapat lagi memikul keranda ayah dan ibu mereka, tetapi mereka bersyukur, setidaknya mereka ada anak dan cucu laki-laki yang mewakili mereka untuk memikul keranda jenazah orang tua mereka.
Mata Lia kecil yang mengikuti keranda jenazah itu dipikul, ada Fauzan yang ikut membantu memikul keranda jenazah milik Lia. Di belakangnya, Davin berjalan dengan tongkat, ada seorang pelayan laki-laki dari Nabhan yang membantu pria yang kini telah berusia 88 tahun itu berjalan.
Lia kecil memilih duduk di jok penumpang depan mobil jenazah yang membawa kakek dan nenek buyutnya. Tatapannya hanya satu, yaitu datar dan dingin bagaikan es. Level dingin dari kepribadian ini bertambah naik setelah hari ini, hari kematian kakek dan nenek buyutnya.
*
Lama penerbangan dari Jakarta ke Semarang adalah satu jam sepuluh menit, non stop.
Ketika tiba di rumah tujuan, itu sudah jam dua belas tengah hari.
Keluarga Nabhan di Semarang telah mempersiapkan keperluan jenazah yang akan dimakamkan pada hari itu juga, seperti liang kubur, papan nisan, karangan bunga, bunga tabur, air mawar dan lain-lain.
Tenda besi besar dipasang, kursi plastik terlihat berjejer rapi, di salah satu tiang pagar terlilit kain putih.
Beberapa tetangga telah diberi tahu oleh sanak saudara di rumah tua Nabhan mengenai meninggalnya Agri dan Lia. Namun, ada juga satu tetangga yang tidak diberi tahu oleh keluarga Nabhan. Letak rumah mereka ternyata berhadapan dengan rumah tua Nabhan. Ada kisah cerita hingga tetangga itu diabaikan oleh keluarga Nabhan.
Rumah tua Nabhan di Semarang terlihat cukup klasik dengan gaya adat jawa. Kebanyakan bangunan dibuat dengan kayu yang berkualitas tinggi dengan ketahanan lama hingga usia mencapai ratusan tahun. Rumah itu bukan rumah tingkat dan bukan pula rumah beton.
Pondasi rumah tua Nabhan terbuat sudah dari ratusan tahun, kemudian dinding kayu dan atap genteng. Rumahnya terlihat luas, karena tidak banyak perabotan rumah tangga, hanya kursi yang terbuat dari kayu yang kuat dan dilapisi busa agar nyaman ketika duduk, meja kayu, lemari kayu dan berlapis kaca untuk meletakkan vas, teko, alas gelas, gelas yang terbuat dari keramik.
Sisanya luas, penuh ambal bulu dan di setiap dinding ada tergantung beberapa foto laki-laki, dari yang lukisan, foto hitam putih hingga foto berwarna terbaru. Ada pula foto pasangan pengantin dari masa ke masa.
Setelah dua jenazah dimasukkan ke dalam rumah, ada anak cucu Agri dan Lia yang ikut masuk dan duduk, ada pula yang masih berdiri di depan halaman rumah, mereka sedang memantau kedatangan anak-anak mereka.
Gea berbisik ke dekat telinga suaminya, "Ghifan sudah sampai mana? Hanif tanya, mau dimakamkan jangan berapa?"
"Aku berembuk dulu, ini sudah selesai ibadah dzuhur," jawab Busran, dia melirik ke arah jalan, "katanya baru tiba di bandara."
Gea mengangguk mengerti.
"Lalu Sira dan Eric bagaimana?" tanya Gea.
"Terakhir kali aku menelpon tadi pagi, dia dan suami sudah bersiap naik pesawat ke sini, dia dan suami tidak dapat melihat jenazah Ayah dan Ibu, perjalanan dari Kanada ke Indonesia lebih dari sepuluh jam," jawab Busran.
"Nggak apa-apa, yang penting mereka datang ke sini, sekalian lihat Aril. Aku … merasa ada sedikit yang berbeda dengan Aril hari ini," balas Gea.
Busran mengangguk mengerti.
Dia merasa sakit kepala karena terlalu banyak pikiran.
"Istirahat," ujar Gea.
"Belum bisa, kewajibanku untuk memakamkan dua orangtua belum selesai," balas Busran.
Gea mengusap dua pundak sang suami. Dia dulu pernah merasakan kehilangan dua orang tuanya sekaligus, namun bedanya dia lebih sakit pada saat kehilangan dua orang tuanya.
*
Pada jam tiga sore, cucu dan cicit dari Agri telah tiba di rumah duka Semarang.
Cucu perempuan Agri yang bersama Bushra Rahmawati Nabhan atau sekarang telah dipanggil dengan sebutan Nyonya Sira Eric Rousseau itu tidak dapat hadir dalam pemakaman sang kakek dan neneknya, sebab dia dan suami dalam perjalanan ke Indonesia.
"Untuk ahli waris dari almarhum dan almarhumah, ingin dimakamkan jam berapa?" tanya bapak imam.
"Kami sepakat setelah ibadah ashar, Pak," jawab Farel.
"Baik, kalau begitu kami menunggu ibadah Ashar selesai, setelah kami melakukan sholat Ashar, mari melakukan pemakaman," balas Pak Imam.
Semua mengangguk.
*
"Kiranya jika ada perbuatan dan kesalahan dari Ayah dan Ibu saya yang dilakukan di masa hidup mereka, dan pernah menyinggung perasaan dari saudara-saudari sekalian, saya sebagai anak tertua mewakili dua orang tua kami memohon maaf sebesar mungkin, maafkanlah mereka dengan ikhlas hati," ujar Farel, dia berdiri di dekat satu liang lahat yang memuat dua orang tuanya.
Semua orang yang hadir dalam pemakaman itu mengangguk.
"Sudah kami maafkan."
"Bibiku Lia tidak pernah ada salah dan sama sekali tidak pernah menyinggung perasaan siapapun, justru orang-orang yang selalu menyinggung perasaan Bibiku Lia namun beliau tidak pernah membalas mereka," ujar Davin sambil mengusap air mata.
Anak-anak Lia menutup mata mereka, mereka menahan tangis. Sesungguhnya, mereka sangat menyayangi ibu mereka.
Doa dibacakan oleh bapak imam. Semua mengamini doa itu.
Setelah selesai pemakaman, sanak saudara menabur bunga di makam Agri dan Lia.
Hanya satu orang yang tidak menabur bunga di makam, dia adalah Lia kecil.
Berangsur-angsur matahari terbenam dan langit sore tertutupi gelapnya malam.
Gea menyentuh pundak cucu perempuannya sambil berkata, "Lia … ayo kita pulang, Nak. Ini sudah selesai maghrib."
"Pulang saja, biarkan aku di sini," balas Lia kecil dingin.
Tangan Gea agak gemetar saat menyentuh pundak Lia Kecil, dia menarik kembali tangannya.
Busran berkata, "Jika ingin, besok datang lagi ke sini. Kamu belum makan, nanti sakit."
"Jangan mengaturku," balas Lia kecil dingin.
Busran terperangah dengan balasan dingin sang cucu perempuan. Dia melirik ke arah Gea.
Gea menggelengkan kepalanya, dia berbisik di telinga sang suami.
"Sudah kubilang, ada yang aneh dengan cucu kita."
Busran terlihat khawatir.
Jika Lia kecil mengatakan jangan mengaturnya, maka jangan mengaturnya. Yang bisa mengaturnya adalah sang ibu dan ayahnya yang sekarang telah tiada. Busran kebingungan bagaimana cara membujuk cucu perempuan agar pulang ke rumah.
Saat Busran dalam kebingungan, seorang pemuda yang sangat dikenali oleh Busran mendekat.
"Kakek Busran dan yang lainnya pulanglah, biarkan adik Lia Kecil di sini aku yang menemani," ujar Naufal.
*