Naufal berdiri menemani Lia kecil hingga malam. Naufal tak bersuara, dia tahu, gadis yang masih terhitung saudara sepupunya itu pasti merasakan sakit yang luar biasa saat menemukan dua orang yang disayang tanpa nyawa di depan mata. Sebab, dia pernah merasakan apa yang Lia kecil rasakan.
Jam menunjukan pukul sembilan malam, namun Lia kecil masih duduk di depan nisan Agri dan Lia, pencahayaan di tempat makan anak cucu Nabhan tidak terlalu terang, namun, saat ada pemakaman ini, dipasang beberapa lampu agar pencahayaan terang.
"Aku pernah mengantarkan Nenekku pergi untuk selamanya, beliau pergi dalam pelukan kami pada saat hari pernikahan Kakak perempuanku," ujar Naufal mulai membuka suara.
Lia kecil hanya diam, dia tak berminat untuk membalas perkataan Naufal. Tetapi dia juga tahu apa yang diceritakan oleh Naufal.
Naufal berkata lagi, "Bahkan, setelah hari ke-empat puluh, kami melanjutkan perayaan pernikahan kakak perempuanku, aku masih membawa bingkai foto besar milik nenekku dan kami berfoto bersama di atas panggung resepsi."
Tatapan mata Lia kecil tetap menatap lurus nisan sang nenek.
"Aku dan cucu-cucu dari Nenekku tidak pernah melupakan beliau, karena beliau adalah orang nomor satu yang paling menyayangi kami. Aku pernah dilarikan ke rumah sakit karena menolak makan dan minum selama beberapa hari pasca kepergian Nenekku," ujar Naufal.
"Namun, kami selalu dikuatkan oleh keluarga, oleh Papa, Mama, Om, Tante dan bahkan Kakek kami. Perlahan kami mampu mengikhlaskan kepergian Nenek kami tanpa perlu melupakan beliau, karena beliau selalu ada di hati kami. Yang mampu menolong beliau di alam sana adalah doa tulus dari anak cucu beliau. Begitu pula Nenek Lia dan Kakek Agri, yang dapat menolong mereka di alam sana adalah doa baik dari anak cucunya, kamu adalah termasuk anak cucu dari Nenek Lia dan Kakek Agri," ujar Naufal.
Lia kecil berdiri dari duduk.
Dia membalikkan badan dan meninggalkan nisan dari kakek dan nenek buyutnya tanpa bertegur dengan Naufal.
Naufal hanya bisa menarik dan menghembuskan napas pasrah. Meskipun perkataannya tidak dibalas dengan perkataan oleh Lia Kecil, setidaknya Lia Kecil memberi respon terhadap ucapannya, yaitu pulang ke rumah. Sudah cukup lama mereka berada di tempat makam. Bukan karena dia takut berada berlama-lama di situ, tapi ini sudah malam dan Lia kecil belum juga makan satu hari ini, dia khawatir Lia Kecil akan sakit seperti dulu yang pernah dia alami.
Naufal mengikuti langkah kaki Lia kecil hingga mereka sejajar. Kemudian dia menunjuk ke arah sebuah mobil yang parkir di dalam kawasan pemakaman Nabhan.
"Di sana mobil Kakek Hanif kita pulang ke rumah tua Nabhan naik mobil itu!"
Lia kecil tak bersuara, dia tetap diam dan terlihat dingin seakan tak ingin disentuh oleh orang lain, Naufal membuka pintu mobil untuk Lia Kecil, Lia kecil masuk dan duduk. Kemudian, Naufal masuk ke dalam mobil dan duduk di jok kemudi.
Di dalam mobil, Naufal sudah menyalakan mesin mobil, namun mobil itu tak kunjung maju.
Naufal menatap bingung ke arah depan jalan, dia melirik ke arah Lia Kecil yang dari tadi diam.
Setelah beberapa menit diam di dalam mobil, Naufal merogoh ponselnya dan membuka layar kunci. Wallpaper dan foto kunci layar itu adalah foto Aini, sang adik cantik dan mendiang neneknya yang tujuh tahun lalu telah meninggal.
Naufal menelpon seseorang yang diberi nama kontak Kakek Busran.
Percobaan panggilan pertama, sibuk.
Naufal bersabar untuk menunggu satu menit.
Satu menit kemudian dia menelepon lagi nomor telepon yang sama, namun malah tidak ada respon apapun.
Naufal mengerutkan keningnya, dia melihat ke arah layar ponsel, setelah melihat bahwa layar ponselnya hitam, Naufal menggaruk kepalanya.
"Lowbat," gumam Naufal menahan kesabaran agar tidak kesal.
Naufal melirik ke arah Lia Kecil yang tetap terdiam. Naufal heran, Lia Kecil tak pernah bicara normal lagi setelah dia menarik tangannya dan mengkonfirmasi kematian kakek dan nenek buyutnya dari pagi hari, terakhir kali dia mendengar suara Lia kecil bicara adalah ketika maghrib tadi, saat Lia Kecil membalas dingin ucapan Kakek dan neneknya.
"Adik Lia … um … apakah kamu membawa hp?" tanya Naufal.
Dia tidak enak hati bertanya pada Lia kecil, sebab dalam penglihatannya, suasana hati Lia Kecil tak baik dan tidak ingin diganggu, namun dia tidak punya pilihan selain bertanya pada Lia kecil, di dalam mobil itu hanya mereka berdua. Jika bukan bertanya pada Lia kecil lalu siapa lagi.
"Tidak ada," jawab Lia Kecil dingin.
Naufal mengangguk mengerti.
"Baiklah," desah Naufal.
Naufal menjalankan mobil, secara perlahan mobil itu keluar dari arena pemakaman anak cucu Nabhan, namun sesampainya di luar kawasan pemakaman, Naufal menghentikan mobil, dia melirik bergantian ke arah kiri dan kanan. Naufal terlihat ragu dan agak bingung.
"Kiri atau kanan?" gumamnya.
Setelah beberapa detik dalam keraguan, Naufal bergumam lagi.
"Aku nggak hafal jalan," gumamnya.
"Kiri," ujar Lia datar.
Naufal melirik ke arah Lia kecil, hanya dua detik, lalu dia dengan tidak punya pilihan mengikuti apa yang diucapkan oleh Lia kecil yaitu kiri.
Laju mobil yang dikendarai Naufal tidak terlalu cepat, bahkan laju mobil itu cenderung pelan, Naufal seperti meraba jalan raya yang dilaluinya.
"Aku hanya ingat ada kain putih di depan pagar tiang rumah tua Nabhan. Orang-orang sangat banyak dan memenuhi halaman dan pagar rumah tua Nabhan, jadi aku tidak memperhatikan jalan ke rumah tua," ujarnya.
Lia hanya diam.
Dia tak melirik ke arah Naufal, hanya memandang ke depan.
Selama tiga menit sunyi, perjalanan lambat, namun setelah Naufal melirik ke arah pagar kayu yang cukup panjang, dia berkata, "Ini rumahnya!"
Dia mengenal pagar kayu yang panjang ini, memang ini adalah pagar yang mengelilingi rumah tua Nabhan.
Naufal melirik ke arah Lia Kecil, dia berkata, "Adik Lia, kau memang ingat rumah tua Nabhan."
"Aku Nabhan," balas Lia Kecil.
"Ya, Bro Opal tahu, kamu Nabhan," ujar Naufal.
Setelah melewati pagar panjang itu, mobil memasuki kawasan halaman rumah, masih ada banyak mobil yang parkir di depan rumah tua Nabhan.
Mobil berhenti, Naufal turun dan hendak membukakan pintu untuk Lia kecil, namun sayangnya Lia kecil telah lebih dulu membuka pintu mobil dan berjalan dengan ekspresi wajah datar masuk ke arah dalam rumah tua.
"Opal!" panggil Ben.
Beberapa orang mendekat ke arah Opal.
"Mama kamu bertanya terus apakah kamu sudah pulang," ujar Ben.
Naufal melirik ke arah Lia kecil yang telah menghilang masuk ke dalam rumah.
"Agak sulit untuk membujuk Adik Lia pulang, Pa."
Ben melirik ke arah dalam rumah, dia diam selama beberapa detik lalu mengangguk mengerti.
"Opal, ayo mandi dulu, kamu belum mandi dan makan malam," ujar seorang wanita berusia empat puluhan.
"Iya, Tante," sahut Naufal.
"Mau makan apa mau mandi dulu? biar Tante dan lain siapkan untukmu," tanya wanita itu.
"Makan dulu, ah Adik Lia belum makan," jawab Naufal.
Wanita itu mengangguk.
"Dia tidak menyahut atau menjawab pertanyaan kami, inilah yang Tante takutkan," balas wanita ini khawatir.
"Itu wajar, aku dulu seperti dia," ujar Naufal.
"Ya sudah, mari makan dulu, setelah itu kamu mandi dan langsung istirahat," ujar wanita itu.
"Isra! Lia kecil memasuki kamar tua!" teriak salah seorang wanita, umurnya hampir sebaya dengan wanita yang bernama Isra, dia adalah wanita yang sedang bercakap dengan Naufal.
Isra terbelalak.
Dia berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan mengikuti ke mana wanita yang mengucapkan perkataan padanya bahwa Lia kecil memasuki kamar tua.
Sesampainya di depan pintu tua, sudah ada keluarga besar Nabhan yang berdiri di dekat pintu tua itu.
"Mas, Lia kecil di dalam?" tanya Isra.
"Ya," jawab pria itu.
Busran berbalik dari pintu itu dan melihat ke arah para saudara sepupu dan iparnya, dia berkata, "Kali ini saja, tolong izinkan cucuku tidur di kamar ini, dia mungkin lelah dan tidak ingin diganggu lagi."
Keluarga Nabhan yang lain mengangguk mengerti.
"Kami mengerti keadaan dia, aku izinkan," ini adalah suara Farel.
Sesungguhnya, Farel adalah tuan rumah dari rumah tua Nabhan. Hanya saja, dia dan keluarga lebih nyaman tinggal di Jakarta karena ada ibu dan ayahnya. Sang ayah juga lebih suka tinggal di Jakarta menemani ibu mereka.
"Tidak perlu khawatir, Lia kecil anak baik, Ibu dan ayah sayang padanya," ujar Jihan.
Perkataan Jihan menyakinkan seluruh keluarga hingga semua orang tidak banyak berkomentar lagi.
"Mari kita istirahat, aku tahu kalian semua lelah. Perjalanan dari rumah ke sini tidaklah dekat," ujar Farel.
Semua orang mengangguk mengerti.
Memang hari ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka, namun mereka tidak bisa menghibur diri karena kehilangan sanak saudara.
*
"Aku pikir kita bisa menginap di hotel saja, nggak enak merepotkan keluarga Om Hanif di sini, anak menantu mereka mondar-mandir mengurus keperluan kita di sini," ujar Popy.
Wanita yang telah lebih dari lima puluh tahun itu duduk di pinggir ranjang.
Di tengah ranjang, anak bungsu telah tertidur pulas.
Ben sedang mengusap kepala Aini.
"Tidak enak juga jika kita terus menolak, kita ini juga termasuk besan mereka. Tuan kecil Nabhan yang merupakan masa depan Nabhan adalah juga cucu kita," balas Ben.
"Yang penting Ariella dan Opal sudah kembali dari tempat makam," ujar Popy.
Ben mengangguk.
"Bukan Ariella, tapi Lia kecil," balas Ben.
"Huuuh, sulit sekali jika harus menjadi Ariella. Hidup berbagi kepribadian yang tidak akur," ujar Popy, dia mendesah lalu berbaring di atas ranjang.
"Aku mendengar dari Tante Gea bahwa Kakek Agri dan Nenek Lia sudah dalam keadaan bersih dan harum saat hendak dimandikan," ujar Popy.
"Menurut Om Busran, Ayah dan Ibunya sebelum meninggal telah mandi dan bersih, dokter mengkonfirmasi waktu kematian dari dua orang tua itu pada jam setengah lima subuh, itu dua jam setelah Lia kecil dan Opal memasuki kamar mereka," balas Ben.
"Aku mendengar cerita Tante Gea, malam sebelum kepergian Kakek Agri dan Nenek Lia, Tante Gea dan yang lainnya diberi pesan oleh mereka, termasuk Anas," ujar Popy.
"Aku tidak terlalu memperhatikan, tetapi mungkin Ayah Ran tahu sesuatu dari Om Busran," balas Ben.
Popy melirik ke arah sang suami, dia berkata, "Pasangan yang serasi, mereka menikah dan usia pernikahan mereka lebih dari delapan puluh tahun, menghadap Ilahi secara bersamaan, bukankah itu adalah cinta sehidup semati?" tanya Popy.
Ben tersenyum.
"Seharusnya seperti itu," balas Ben
Popy mencolek lengan sang suami, dia berkata, "Ben, Poko juga ingin sehidup semati dengan Ben."
Ben tersenyum penuh arti, dia mendekat ke arah sang istri dan mencium bibir istrinya, namun interupsi menghalangi ciuman mereka.
"Uum …." Aini merubah posisi tidurnya mencari kenyamanan, dia memeluk sang ibu.
Ben terkekeh, begitu juga dengan Popy.
"Tutup kelambunya, jangan sampai ada nyamuk," pinta Popy pada Ben.
Ben membetulkan kelambu, keluarga itu tertidur.
*
Di dalam kamar tua.
Pencahayaan di kamar itu remang-remang.
Namun, sepasang mata masih melihat lurus beberapa foto di etalase lemari.
Itu adalah foto pemilik kamar yang ditempati oleh Lia Kecil saat ini.
Foto yang paling sering ditatap oleh Lia kecil adalah sepasang foto pengantin Agri dan Lia ketika masih muda.
Tangan Lia Kecil terulur dan membuka pintu kaca lemari, perlahan dia mengambil foto itu dan duduk di atas ranjang tua yang masih terawat bersih.
*