Chapter 10

1760 Words
Pagi datang menyambut keluarga yang sedang berduka. Di dalam ranjang kayu yang cukup lebar, Naufal masih menutup matanya. Pemuda ini tertidur setelah dia mandi, bahkan dia sama sekali tak mengenakan atasan. Kelambu yang mengelilingi ranjang kayu bahkan tak tertutup, dibiarkan terbuka begitu saja, selimut menutupi setengah badan kekar milik Naufal. Pernapasan pemuda ini terlihat teratur, dia tertidur pulas bahkan tak tahu bahwa matahari telah naik hingga setengah tiang di kepala. Pintu kamar yang terbuat dari kayu terbuka. Terdengar derit pintu itu. Muncul Popy, ibu dari pemuda yang sekarang menempati kamar itu. "Opal, sudah jam sembilan, kamu nggak bangun dan sarapan?" tanya Popy. Popy mendekat ke arah sang anak, dia melihat anaknya yang bertelanjang d**a. Popy menarik dan mengembuskan napas sambil menggelengkan kepalanya. "Pasti masih lelah," gumamnya. "Tapi hari ini kita balik ke Jakarta," gumam Popy lagi. Popy menggoyang pelan bahu sang anak sambil berkata, "Opal, bangun Nak. Kita hari ini balik ke Jakarta." Naufal masih tertidur. "Opal, Kakek Ran mau kembali ke Jakarta," ujar Popy. Masih tertidur pulas. "Oh, Mama Poko lupa, Aini tadi baru saja diambil Om Alan ke Bandung," ujar Popy. "Apa?!" Naufal melotot, dia bangkit dari posisi tidur seperti cara bangkit vampir china. "Ma, Aini dibawa siapa?!" tanya Naufal memastikan daya tangkapnya ketika masih tidur. Matanya masih terlihat melotot. Wajah Popy berubah serius. "Pagi tadi jam delapan setelah sarapan, Aini sudah diambil Om Alan untuk dibawa ke Bandung." "Kok Mama biarkan Aini dibawa?!" Naufal meradang kesal. "Huuuff, Mama sih nggak mau kasih izin, tapi Aini yang minta izin, katanya Om Alan, mereka akan ke panti untuk membagikan sembako, jadilah Aini ikut," balas Popy. Naufal terlihat dongkol. "Memang saudara laki-laki Mama yang itu bikin dongkol!" keluh Naufal. "Bohong itu, Ma! Om Alan cuma akal-akalin Aini aja biar Aini mau dibawa ke Bandung!" Popy tersenyum lucu. "Lalu kamu mau ikut nyusul ke Bandung?" tanya Popy. Naufal hendak mengangguk, namun suara Popy terdengar lagi. "Nggak mau temenin Kakak Ran ke Jakarta dulu? palingan kalau kamu ke Bandung buat nyusul Aini, dia pasti akan dibawa ke tempat berlibur sama Om Alan setelah acara sosial," ujar Popy. Naufal mengembuskan napas dongkol. "Punya om gini amat," cebiknya. Popy terkekeh. "Yasudah, bangun. Kamu belum sarapan." Naufal mengangguk. "Aku nggak bawa apa-apa dari Jakarta, tapi beruntung orang-orang di sini menyiapkan semua kebutuhan yang akan dipakai," ujar Naufal. "Mama dan Papa juga nggak pakaian dari Jakarta, sampai di sini sudah ada piyama dan lain-lain," balas Popy. "Cepat cuci muka lalu ke ruang makan. Awas kamu tersesat, rumah ini luas, ruang makan di sebelah barat," ujar Popy. Naufal mengangguk. * Ketika Naufal sedang berjalan ke arah ruang makan, jalan itu harus melewati beberapa kamar dan ruang tamu, di dekat ruang tamu ada kamar tua yang tadi malam dimasuki oleh Lia kecil. Naufal melihat ada beberapa orang berdiri di depan pintu dua daun yang cukup besar itu. Naufal memandang heran ke arah pintu itu, dia juga penasaran kenapa orang-orang berkumpul di situ. Salah satu orang yang dikenal Naufal adalah Farel. Suara memerintah dari Farel terdengar. "Panggilkan adikku Busran ke sini!" "Baik, Tuan Besar," sahut seorang pelayan perempuan. "Siapa yang kamu panggil Tuan Besar?!" tegur Farel. "Anda, Tuan Besar," jawab pelayan perempuan. "Sembarangan! Tuan Besar adalah ayahku! kamu ingin menyumpahi Ayahku agar cepat mati-," Farel tidak lagi melanjutkan perkataannya saat dia menyebut ayahnya. Pelayan perempuan terlihat takut. Wajah Farel berubah sedih. Ya, ayahnya memang telah tiada. Jadi, yang seharusnya menjadi Tuan Besar Nabhan setelah kematian ayahnya adalah dia yang anak pertama. "Pokoknya, panggil saja adikku ke sini," ujar Farel agak melembut. "Baik, Tuan Besar," sahut pelayan. "Tidak perlu, Kak. Aku sudah ada di sini," ujar Busran. Busran berjalan lalu berhenti sejenak untuk mengusap kepala Naufal yang berdiri di dekat jalan. "Kakek Busran," sapa Naufal. Busran mengangguk. "Pergi sarapan, kamu akan balik ke Jakarta bersama Kakek Ran-mu siang ini," pinta Busran. Naufal mengangguk. "Baik, Kek." Setelah Busran melangkah beberapa langkah dari tempat Naufal berdiri, Naufal hendak melanjutkan langkah kaki ke ruang makan. "Ada apa, Kak?" tanya Busran pada Farel. "Lia kecil tidak keluar kamar," jawab Farel. "Mungkin dia masih tidur, biarkan dulu," balas Farel. "Bukan itu masalahnya, dia belum makan. Sudah tiga kali sarapan dibawa ke depan pintu, namun dia tidak keluar kamar, cucumu bisa sakit kalau menolak makan," ujar Farel. Wajah Busran terlihat susah. "Biarkan aku menelpon Mentari," ujar Busran. Farel mengangguk setuju. "Bawa Gendhis ke sini, lalu bujuk Lia kecil, mungkin dia bisa membantu," ujar Farel. Busran mengangguk. Naufal melirik ke arah Busran dan Farel. Mentari, itu adalah nama yang dia kenal. Mentari adalah istri dari sepupu satu kali sang ibu, yaitu Ariansyah Baqi. Sepupu ibunya adalah seorang dokter spesialis anak, sementara istri dari Ariansyah adalah seorang dokter spesial kejiwaan. "Untuk apa menelpon Tante Tari?" gumam Naufal heran. "Ah, mungkin ingin agar Didi datang ke sini dan menghibur Aril," gumam Naufal. Pemikiran Naufal adalah, Gendhis akan datang untuk menghibur Ariella yang sedang dalam masa berduka. Naufal melanjutkan langkah kaki ke ruang makan. * "Terima kasih sudah menyempatkan diri datang ke pemakaman ayah dan ibuku," ujar Busran ke arah sahabatnya. "Aku mewakili Moti, dia pasti tidak ingin adik perempuannya sedih karena kehilangan orangtua kedua," balas Randra. Mata Gea memerah, tak lama kemudian air mata berhasil menetes turun, namun Gea dengan cepat mengusap air matanya. Popy memeluk Gea. "Tante, Poko dan keluarga balik ke Jakarta." Gea mengangguk. "Hati-hati di jalan," ujar Gea. Popy mengangguk. "Kak Randra, terima kasih. Hati-hati di jalan, Kak," ujar Gea. Randra mengangguk. "Nenek Gea, Opal balik yah," ujar Naufal. Gea mengangguk, dia memeluk sayang Naufal sambil berkata, "Terima kasih, Opal. Kalau tidak ada kamu, Aril kemarin pasti akan bertambah kebingungan." Naufal mengangguk. "Bukan masalah kok, Nek. Opal sudah menganggap Adik Aril seperti adik Opal." Gea mengusap sayang kepala Naufal. "Kamu kapan selesai kuliah? tahun ini suda semester akhir kan?" Naufal mengangguk. "Dua minggu lagi Opal wisuda. Nenek Gea datang yah. Nanti mau buat acara syukuran." Gea mengangguk. "InsyaAllah, Sayang." Setelah Randra dan Busran saling bersalaman ala pria dan saling membalas salam, Randra dan keluarga naik ke dalam mobil yang telah disediakan oleh Nabhan untuk segera ke bandara terdekat. "Bus, aku dan keluarga kembali," ujar Randra sekali lagi, dia berpamit diri. Busran mengangguk. "Hati-hati." * "Om Busran, Lia Kecil belum juga keluar kamar, ini sudah jam enam sore," ujar Isra ke arah Busran. Busran berdiri dan berjalan pelan ke arah kamar tua. "Lia kecil, ini Kakek Busran, ayo keluar sayang, mari makan dulu, setelah itu kamu boleh tidur lagi di dalam kamar," ujar Busran. Tidak ada balasan. Isra berkata, "Om, apa kita dobrak saja pintunya?" "Mau mendobrak bagaimana? kayu ini keras seperti besi, dan tebal seperti tembok, jika kau mendobraknya maka badanmu yang akan sakit dan tulangmu akan patah," jawab Busran. "Kakek," panggil Fatah. Fatah buru-buru mendekat ke arah sang kakek dan berkata, "Didi tidak bisa datang, dia dan teman-teman serta guru pembina telah terlanjur menyebrang ke Sumba, mereka akan mengadakan ujian praktik langsung di beberapa rumah sakit jiwa di sana." Busran memegang belakang lehernya sambil menutup mata. "Aku merasa kunang-kunang berterbangan di sekitar mataku." "Kakek!" Fatah buru-buru menopang tubuh tua dari sang kakek. Dia hampir saja berteriak panik. "Panggil dokter! tidak! tidak! siapakan mobil bawa kakekku ke rumah sakit!" * Di dalam kamar tua. Lia kecil duduk, dia menatap pintu yang terkunci dari dalam, dialah yang mengunci pintu itu. Kryuuukk kryuuuukk! Bunyi suara sahutan yang berasal dari perut kosong gadis itu. Wajah Lia kecil tetap terlihat dingin, namun kali ini wajah itu penuh dengan guratan kelelahan dan pucat. Bibirnya bahkan pecah-pecah dan terlihat sangat kering. Beberapa kali dalam kurun waktu dua sampai tiga detik, dia menelan air ludahnya. Sayang sekali, gadis ini mengalami dehidrasi. Dari kemarin pagi, dia sama sekali tak mengisi perutnya, terakhir kali Lia kecil mengisi perutnya adalah dua malam yang lalu ketika makan malam bersama kakek dan nenek buyutnya. Tangan Lia Kecil yang memeluk bingkai foto pernikahan Agri dan Lia bergetar. Pandangan Lia kecil terlihat agak buram. Menit demi menit berlalu, pada jam setengah tujuh malam terdengar bunyi pecahan kaca. Prang! Bingkai foto pernikahan Agri dan Lia jatuh ke lantai dan pecah. Lia kecil terlihat sempoyongan, dia hendak berdiri untuk meraih kembali bingkai foto itu, namun sayangnya pandangannya menghitam. Bruk! Lia kecil ambruk ke lantai. Beberapa detik setelah terdengar suara pecahan kaca, di luar pintu kamar tua terdengar suara ribut-ribut. "Fatah! Nenek nggak mau tau! bagaimanapun caranya kamu harus masuk ke dalam kamar dan lihat adik sepupu kamu!" Gea hampir menjerit takut. "Siapapun! siapapun tolong masuk ke dalam kamar ini!" tunjuk Gea dengan perasaan takut yang luar biasa. "Nek, congkel saja pintunya yah!" saran Fatah. "Apapun itu caranya, yang penting buka pintu ini!" perintah Gea. Fathiyah berlari cepat keluar rumah, dia mengelilingi rumah tua itu dan mencari jendela kamar. "Ini jendela kamar tua, kan?" tanya Fathiyah sambil menunjuk jendela besar dua daun. Tukang kebun mengangguk. "Benar, Nyonya." Tanpa aba-aba, Fathiyah mengambil ancang-ancang menaikan lengan baju dan kaki celananya, kemudian dia memanjat dan berusaha menggapai ventilasi dari jendela itu. Mata tukang kebun melotot ngeri. "Jangan! Nyonya! aaaa! Nyonya, nanti Anda jatuh!" teriak tukang kebun panik. "Bagaimana ini?! tolong! Tuan! Tuan Gaishan!" teriak tukang kebun takut. Beberapa langkah kaki berlari mendekat ke arah tukang kebun, termasuk Fatah dan Gaishan. Tukang kebun menunjuk ke arah Fathiyah yang terbelalak saat mengintip apa yang terjadi di dalam kamar tua. "Tuan! istri Anda!" tunjuk tukang kebun. Gaishan terbelalak. "Ayang! Sayang! Awas jatuh!" Kemudian Gaishan berbalik dan melotot ke arah anaknya. "Fatah! kamu nggak ada guna! lihat itu! Mama kamu yang naik ke atas ventilasi jendela!" Fatah terbelalak bercampur kebingungan. "Siapa yang disuruh masuk ke dalam kamar? tapi siapa yang sekarang naik ke sana dan berusaha masuk ke kamar itu?!" Gaishan jengkel setengah mati. "Yang! turun! biarkan Fatah yang naik!" teriak Gaishan. "Gaishan! cepat ke depan pintu kamar tua! Aril pingsan di lantai!" perintah Fathiyah. Telapak tangan Fathiyah mendorong keras ventilasi ke dalam membuat ventilasi itu jebol. Meskipun dia telah memiliki anak yang dewasa, namun kekuatannya tetaplah masih ada. Setelah itu, mantap atlet silat itu melompat masuk ke dalam kamar. Gaishan buru-buru berlari masuk ke rumah, namun dia berteriak dongkol ke arah anaknya. "Fatah! bikin apa di situ?! Mama kamu udah ada di dalam kamar! cepat ikut Papa!" Fatah buru-buru mengikuti sang ayah. Gaishan mendekat ke arah pintu kamar tua sambil memberi perintah. "Cepat siapakan mobil ke rumah sakit!" Pintu terbuka, terlihat Fathiyah menggendong Lia kecil dari belakangnya. Saat itu, Aqlam dan istri tiba di depan kamar tua. Wajah Aqlam terlihat agak khawatir. Fatah buru-buru mengambil alih adik sepupu dari sang ibu dan keluar rumah, tepat saat di depan pintu, Bushra dan Eric melangkah masuk. "Aril!" Bushra dan Eric kaget bukan main saat melihat wajah pucat anak perempuan mereka. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD