Chapter 11

1795 Words
Bushra dan suaminya duduk di dekat brankar rumah sakit yang sekarang ditiduri oleh anak mereka. Tangan Ariella terpasang jarum infus, meskipun dia telah mendapatkan perawatan kesehatan, namun wajahnya masih terlihat pucat. Ruang rawat VIP itu cukup besar, meskipun ada sofa dan beberapa peralatan lainnya, tetapi masih bisa memuat satu tempat ranjang rumah sakit lagi. Suhu di ruangan itu tidak terlalu dingin, tidak pula terlalu panas. Nyaman untuk Bushra rasakan. Di sofa, ada Gea yang terlihat agak mengantuk atau mungkin dia lelah karena menunggu cucunya bangun. Wajah dua orang tua dari Ariella itu terlihat khawatir. Tidak ada senyum di wajah mereka meskipun sudah satu tahun mereka tidak bertemu anak perempuan mereka, mereka sangat rindu anak perempuan mereka. Jika saja mereka datang di waktu tidak berduka, mungkin Bushra dan suaminya akan tersenyum senang saat melihat anak perempuan mereka. Mereka tahu, sang anak perempuan sangat merasa kehilangan atas kepergian kakek dan nenek buyutnya. Bushra mengusap susah wajahnya, Eric merangkul sang istri dan berkata, "Sayang, istirahat dulu." "Aril belum bangun, Eric. Aku tak bisa tenang meskipun dokter sudah memasang infus," balas Bushra. Eric ikut duduk dan menemani sang istri. Seorang pemuda blasteran masuk ke dalam ruang rawat itu, wajahnya agak mirip dengan Eric–si ayah dari pemuda itu. "Dia belum bangun juga?" tanya pemuda itu. Bushra menggelengkan kepalanya tanpa melirik ke arah anak laki-laki, dia masih betah melihat anak perempuannya. "Sudah dua jam di sini," gumam pemuda ini. Aksen bicaranya seperti aksen luar, tepatnya prancis, namun dia dapat memahami bahasa Indonesia dengan jelas, bahkan bisa lancar berbahasa Indonesia. Eric menengok ke arah anak laki-lakinya. "Marc, pulanglah ke rumah tua Nabhan dan salaman dulu dengan Grandpa Bus, setelah itu istirahat." "Tapi Papa dan Mama masih di sini," balas Marc. "Demi kebaikanmu. Grandpa Bus tidak bisa ikut ke sini karena beliau diberi saran istirahat oleh dokter di rumah, darah tinggi beliau tiba-tiba naik," ujar Eric. Bushra melirik ke arah sang anak. "Duluan ke rumah tua. Papa dan Mama akan menyusul satu atau dua jam lagi, kami masih menunggu adikmu bangun. Pulanglah dengan Grandma Gea." "Baik." Pemuda yang telah berumur 22 tahun itu mengangguk patuh. Marc berjalan mendekat ke arah sang nenek. * Gaishan memijat kaki sang ayah di dalam kamar yang ditempati oleh ayahnya. "Kamu nggak ke rumah sakit jagain Aril?" tanya Gaishan. "Udah ada Sira dan Eric, Pa. Marc juga ada di sana. Satu keluarga semua yang di rumah sakit, belum lagi ada Mama yang ikut," jawab Gaishan. Busran mengangguk puas. "Hum, bagus." "Grandpa!" panggil Marc. Marc masuk ke kamar yang ditempati oleh sang kekek, di belakang Marc, Gea berjalan pelan. Busran menengok ke arah cucu laki-lakinya, seketika dia hendak berdiri untuk menghampiri cucu laki-lakinya, namun pijatan dari anak laki-laki tertua masih berlangsung, alhasil Busran yang hendak menurunkan kakinya ke lantai itu seperti terjerembab ke lantai. "Gaishan!" tegur Busran dongkol. Busran melirik ke arah Gaishan dan dia melototkan matanya. "Kamu sengaja ingin Papa jatuh makan lantai yah?!" "Nggak kok, Pa-" "Halah! alesan! bilang aja nggak ikhlas pijitin kaki Papa!" potong Busran terhadap ucapan Gaishan. "Nggak gitu kok, Pa!" balas Gaishan menyangkal tuduhan sang ayah. Pada saat itu, Marc menyalimi punggun tangan Busran lalu menyusul ke Gaishan. "Grandpa, jangan terlalu meninggikan suara, ingat apa kata dokter, Grandpa bisa saja terkena serangan tekanan darah tinggi seperti tadi pagi," ujar Marc. "Oh Marc, cucu Grandpa Busran. Ke sini Nak, duduk di sini!" Busran menunjuk ke arah tempat luang di atas ranjangnya. Marc duduk di situ. "Kamu sibuk kuliah hingga jarang sekali datang ke Jakarta untuk menjenguk Grandpa," ujar Busran, wajahnya terlihat kasihan, dia seperti memelas. "Maaf, Marc terlalu sibuk. Kedepannya Marc tidak sesibuk itu lagi, beberapa minggu lagi Marc akan wisuda karena telah menyelesaikan studi S satu," balas Marc. Busran mengangguk puas, dia mengusap sayang kepala cucunya. "Kamu sudah menentukan ke arah mana kamu akan melanjutkan masa depan?" tanya Busran. Marc mengangguk. "Sesuai dengan jurusan yang Marc ambil, Marc ingin mengikuti jejak Papa," jawab Marc dengan nada intonasi yang terlihat yakin. Busran mengangguk puas. "Good job! Grandpa akan selalu mendukung ke manapun cucu-cucu Grandpa ingin ke mana, yang penting menyangkut masa depan dan kebahagiaan mereka, jika kamu memang sudah mantap ingin menjadi seorang diplomat seperti ayahmu, maka Grandpa pasti akan setuju dan mendukung kamu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, jangan segan kabari Grandpa, ingat, kamu itu cucu Grandpa, dalam darahmu mengalir sebagian darah Grandpa juga, meskipun kamu bukan warga negara Indonesia, tetapi kamu tetap cucuku!" Marc tersenyum, dia sangat senang dengan Kakek dan nenek dari pihak ibu. Mereka sangat menyayangi cucu-cucu mereka tanpa pandang bulu. "Meskipun Grandpa masih ada sedikit rasa tak suka pada Papamu karena dia seenaknya menikahi anak perempuan kesayangan Grandapa Bus dan membawa jauh anak perempuan Grandpa," ujar Busran, matanya menyipit seakan masih ada dendam pribadi yang belum dibalaskan olehnya. Gaishan memutar bola matanya. "Lagian udah lama Sira dan Eric nikah. Sekarang juga anaknya udah gede kayak gini, masih aja dendam ama mantu sendiri, heran deh." Busran melotot ke arah Gaishan. "Marc, jangan contohi Om kamu yang ini, dia sama sekali nggak ada akhlak baik! Om kamu ini juga berperan penting dalam misi Papamu membawa anak perempuan Grandpa!" Beberapa orang terkikik, namun mereka cepat-cepat kembali mengontrol tingkah mereka, tak baik jika tertawa pada masa berduka. "Pa, Sira udah gede, umurnya udah mau lima puluh tahun, tapi aja Papa masih ingat-ingat masa lalu," ujar Gaishan. "Kamu jangan suka ngelawan Pala yah!" Busran melotot ke arah anaknya. "Kalau kamu punya anak perempuan sendiri, baru kamu akan mengerti perasaan Papa. Papa tanya, kamu punya anak perempuan?" Gaishan secara otomatis menggelengkan kepalanya namun mulutnya malah berkata lain. "Ada kok Pa." "Siapa dia? kamu punya anak perempuan dengan siapa?!" Busran tambah melotot, dia telah menyiapkan bogeman yang akan dihadiahkan oleh anaknya jika sang anak menjawab. "Itu, Aril," ujar Gaishan. "Kupret anak ini! sini kamu!" Busran keburu emosi. Dia melempar guling ke arah anaknya, guling itu mendarat cantik di wajah sang anak, beruntung itu bukanlah keramik pecah belah yang keras. "Aril bukan anakmu! kamu sudah mulai ikut kehaluan sepupu kamu yang bernama Alan! main seenak jidat klaim anak milik orang lain!" Beberapa orang terkekeh tak karuan. Mereka tak tahan tawa karena mendengar ucapan Busran yang terbilang cukup lucu, apalagi ditambah tingkah Busran yang ingin sekali memukul anaknya. Marc terkekeh. "Nggak klaim kok, nggak juga langsung ambil anak orang jadi anaknya Gaishan. Maksud aku, anaknya Sira kan sama aja kayak anaknya aku. Aku dan Sira kan kakak beradik, kecuali aku ini bukan anakmu," ujar Gaishan dengan entengnya. "Oho! kamu memang bukan anakku lagi!" Busran terlihat ingin sekali menjitak kepala anak pertamanya. Wajah Gaishan berubah serius. "Pa, untung Kakek Agri sudah tidak ada, kalau ada Kakek Agri, bisa-bisa Kakek Agri menendang Papa karena mengingkari anak Papa sendiri, apalagi Kakek Agri sangat menghargai darah keturunannya bersama Nenek Lia." Wajah Busran berubah seperti pucat pasi. "Papa hanya bercanda! jangan dibuat serius!" "Apalagi Gaishan lahir dalam garis pernikahan yang sah, jadi ahli waris Papa. Oh … apakah sebelum Papa dan Mama menikah, Papa sudah kasih DP dulu ke Mama dan oh! jatohnya Gaishan dan Ghifan adalah anak hasiiiil …. " Gaishan menarik panjang kata terakhirnya, hingga membuat Busran hampir stroke di tempat. "Anak durhaka! bicara sembarangan! Mana bisa Papa DP duluan kalo Mama kamu saja dijagain serapat-rapat mungkin oleh semua saudara lelakinya!" bantah Busran. Gaishan mengangguk bersimpati. Namun ucapan Busran selanjutnya membuat rasa empati Gaishan menjadi cibiran. "Sebenarnya kalau bisa DP duluan, Papa sih mau saja. Tapi mana bisa?" ujar Busran. "Ckckckck picik sekali otaknya." Tuduh Gaishan tanpa bersimpati. Busran menyipit ke arah Gaishan. "Tadi kamu bilang untung Kakek kamu sudah tidak ada, maksudnya apa?!" Gaishan menelan ludah. "Papa salah dengar." "Papa nggak salah dengar!" bantah Busran. "Salah dengar itu, Pa. Papa udah tua begini, delapan puluh satu, pasti salah dengar." Gaishan menyangkal. "Jangan bawa-bawa umur!" Busran tambah dongkol. Marc terkekeh lalu memeluk sang kakek. "Grandpa, jangan terlalu marah. Ingat, kesehatan Grandpa lebih penting dari pada apapun." Busran mengangguk setuju. "Benar, Marc. Kesehatan Grandpa lebih penting daripada anak sendiri." Lah!? Wajah Marc berubah agak canggung saat melihat ke arah sang paman. Dia takut pamannya akan berpikir bahwa dia menghasut sang kakek agar tidak mementingkan anaknya. Namun, Gaishan malah menahan tawa. Syukurlah, dia memiliki paman yang tidak baper alias bawa perasaan. Pamannya yang ingin fleksibel sekali, suka tertawa dan melucu. * Sepasang kelopak mata terbuka. Manik mata blasteran itu melirik ke arah sekelilingnya. "Aril, syukurlah kamu sudah bangun!" Bushra menahan tangisan. "Mama khawatir sama kamu. Dokter bilang kamu kelaparan dan dehidrasi, keluarga yang lain juga bilang kalau kamu memang sudah tidak makan selama dua hari. Mama takut sesuatu terjadi pada kamu." Meskipun Bushra memeluk sayang sang anak, namun anaknya tak membalas pelukan itu. Tatapan mata anaknya hanya menatap lurus ke depan tanpa fokus pada apapun, terlihat seperti hilang pandangan. Eric masuk ke ruang rawat anaknya, dia mendengar suara istrinya dari dalam ruang rawat, jadilah dia cepat masuk. Pria berusia lebih dari lima puluh tahun ini berjalan mendekat ke arah anak perempuan dan istrinya lalu dia mengusap kepala sang anak. Semua gerakan yang dilakukan oleh Eric terlihat elegan. Tidak terburu-buru dalam melakukan sesuatu, inilah ciri khasnya, ciri khas Eric sesuai dengan profesinya yang sebagai diplomat senior. Eric hendak berkata sesuatu namun setelah melihat pandangan mata sang anak yang sangat berbeda dari pandangan yang pernah dia tahu sebelumnya, Eric mengerutkan keningnya. Eric masih belum menyadari pandangan mata anaknya yang ini adalah kepribadian yang mana. Namun setelah arah lirikan matanya menarik perhatian gerakan pelan dan diam-diam tanpa suara dari tangan kanan sang anak yang telah menarik keluar jarum infus yang tadinya tertancap di vena-nya, kini ujung jarum infus itu hendak diarahkan ke arah lain, tatapan Eric terbelalak, dengan gerakan secepat mungkin, Eric menarik sang istri menjauh dari anak perempuannya, pelukan ibu dan anak terpaksa terpisah. "Sayang, menjauh!" ujar Eric. Bushra kaget. "Ada apa?" tanya Bushra bingung. "Aril itu!" mata Eric malah lebih terbelalak saat ujung jarum infus itu telah tertancap kembali ke daging anaknya, namun ini bukan di vena anaknya melainkan di nadi sang anak. "Akh! Eric!" Bushra terbelalak takut. Dia menutup wajahnya dan merasa ngeri atas apa yang baru saja dilihat olehnya. Tangan lain dari Eric dengan cepat menjauhkan tangan kanan Ariella yang kini telah menekan tancapan jarum infus itu ke dalam nadi. "Jangan! Aril, jangan, Nak!" teriak Bushra histeris. Eric memegang tangan kanan Ariella, sementara tangannya yang lain memegang tangan kiri Arella yang kini menyemburkan darah. Sayang sekali, pada saat dia menarik tangan kanan Ariella, Ariella masih memegang jarum infus itu, namun yang menjadi masalah kedua adalah ujung jarum infus itu tidak ada. "Eric! jarumnya patah! jarumnya patah! dokter! suster!" Bushra buru-buru keluar dari ruang rawat sang anak dan memanggil tenaga medis. Dalam beberapa detik setelah kejadian dia menarik tangan anaknya, mata Eric terbelalak. "Lolly," panggil Eric pelan. Tatapan mata yang sama sekali tidak merespon apapun itu tiba-tiba melirik ke arah Eric. Lolly! Ini adalah Lolly! Kepribadian cenderung bunuh diri! *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD