Chapter 12

1685 Words
"Kepribadian Lolly baru saja keluar." Suara Gaishan terdengar sangat serius tanpa gelak tawa seperti biasa. "Lalu bagaimana selanjutnya? tidak terjadi apa-apa kan?" tanya Gea, dia terlihat khawatir. "Kepribadian ketiga Ariella mencoba melakukan bunuh diri dengan cara mencabut jarum infus yang terpasang dari vena-nya dan menancapkan jarum infus itu ke arah nadinya. Darahnya bercucuran-" "Jangan lanjutkan lagi! Mama nggak sanggup dengar, Gaishan!" jerit Gea merasa ngeri atas kabar yang telah diberi tahu oleh sang anak. "Apa?!" Busran melotot. Gaishan menjawab pertanyaan sang ibu sesuai dengan apa yang terjadi. Gea yang awalnya ingin tahu keadaan sang cucu, kini merasa ngeri dan tak sanggup lagi mendengar apa yang dikatakan oleh sang anak. "Ya Allah! kenapa harus di nadi?! kenapa harus di situuu!" jerit Ge. "Akh, leherku!" Busran harus melawan serangan tekanan darah tinggi yang mencoba menyerangnya. Busran buru-buru mengusap punggung sang istri. "Sayang, tenanglah!" Busran khawatir pada sang istri karena sang istri pernah mempunyai trauma berat mengenai benda-benda tajam. "Sira baru saja telepon, dia menangis tak karuan, Ma, Pa," ujar Gaishan. "Bagaimana bisa kepribadian ketiga muncul dan mencoba bunuh diri?" tanya Busran. "Gimana ini bisa terjadi? dalam waktu satu hari saja, dua kepribadian bukan asli muncul dan menguasai tubuh aslinya," ujar Gea. Dia merasa tak percaya, kepribadian itu jarang sekali keluar menujukan dirinya. "Ini semua terjadi setelah Kakek dan Nenek meninggal," ujar Gaishan serius. "Gaishan, telepon Mentari. Katakan padanya tolong datang ke Semarang, hal ini sangat mendesak," ujar Busran. Gaishan mengangguk. * "Ari, kepribadian ketiga Ariella baru saja muncul, dia mencoba melakukan bunuh diri di rumah sakit. Aku mohon padamu, tolong izinkan istrimu datang ke Semarang dan tangani kepribadian Ariella." Suara Gaishan terdengar sangat serius. Dari seberang telepon, dia mendengar balasan. "Aku mengerti. Bicara dengan Tari, dia mungkin akan lebih mengerti mengenai kondisi mendesak ini." Tak berapa lama, terdengar suara Menteri. "Kepribadian mana yang muncul?" Mentari langsung bertanya. "Ketiga," jawab Gaishan. "Lolly, dia cenderung bunuh diri," balas Mentari. "Ya, kau lebih tahu dibanding aku. Seorang psikiater yang telah berpengalaman dalam merawat Ariella," ujar Gaishan. "Kapan kepribadian ketiga muncul?" tanya Menteri. "Sekitar jam delapan malam tadi, sepuluh menit yang lalu Sira baru saja meneleponku sambil menangis, dia melihat sendiri kepribadian ketiga muncul dan melakukan bunuh diri dengan cara menusukan jarum infus yang ditarik dari vena ke dalam nadinya." "Itu sangat berbahaya!" Mentari terperangah. "Apakah Ariella baik-baik saja? lukanya serius?" "Ya, memang berbahaya. Itu sebabnya Papaku ingin agar kau segera datang ke Semarang. Aku tak tahu seserius apa, tapi menurut Sira, jarum infus patah dan tertinggal di dalam nadinya." "Innalillahi!" Mentari kaget bukan main. Di seberang di mengusap dadanya, sementara itu sang suami memandangi serius wajah sang istri. "Biasanya jika kepribadian ketiga muncul itu takkan bertahan lama, setelah itu akan ada kepribadian lain lagi yang muncul. Ini disebabkan karena jika kepribadian ketiga gagal mencoba bunuh diri, maka dia akan kembali tenang. Coba telepon Sira dan tanyakan padanya, apakah kepribadian ketiga masih menguasai diri Ariella." Mentari memberi instruksi. "Baik." Gaishan menyahut. * Di rumah sakit. "Sayang, jangan lakukan itu lagi. Mama takut, Nak. Mama benar-benar takut jika sesuatu terjadi padamu." Suara Bushra terdengar agak serak. Dia dan suaminya berdiri di hadapan sang anak, sementara anak perempuan mereka sedang duduk menggantungkan kaki sambil melirik ke arah pergelangan tangannya yang kini diperban. Itu adalah bekas luka tancapan benda tajam yang dilakukan oleh kepribadian ketiga. "Eric, mari kita tidur di sini, aku tidak mau pulang dan meninggalkan anak kita," ujar Bushra. Eric mengangguk, namun terdengar suara dingin dari sang anak. "Pulang ke rumah tua." Eric dan Bushra menatap mata anak mereka. Tatapan dingin sedingin es yang mereka lihat dari tatapan itu. Seketika, Eric dan Bushra sadar bahwa yang kini muncul dalam kepribadian anak mereka adalah kepribadian kedua. "Kamu masih dalam perawatan kesehatan, dokter mengatakan satu atau dua hari lagi baru bisa kembali pulang-aaakkh!" mata Eric terbelalak saat dia telah berganti posisi. Gubraak! Kraaak! "Akh! Eric!" Bushra menjerit keras ketika dia melihat anak perempuan mereka dengan secepat kilat turun dari ranjang rumah sakit dan langsung mengangkat tubuh Eric seperti tak ada beban berat, kemudian tubuh suaminya dibanting ke atas ranjang rumah sakit dan terjatuh ke lantai. "Aku tidak mengulangi perkataanku dua kali," ujar Lia kecil dingin. Bushra hendak mendekati sang anak, namun dia sadar bahwa kepribadian anaknya yang ini sangat keras. Alhasil, Bushra menghampiri sang suami dan membantu sang suami berdiri. "Tapi kamu adalah pasien di sini-" perkataan Eric dipotong oleh anak perempuannya sendiri. "Jangan pernah mengucapkan kata terkutuk itu! aku bukan pasien dari dokter manapun!" Lia kecil bertambah dingin. "Lia …," ucap Bushra pelan. Bushra terlihat agak takut mendekat anaknya setelah dia melihat sang suami dibanting oleh anak mereka sendiri. "Dokter adalah profesi menjijikan yang yang licik dengan selalu mengucapkan kata-kata terkutuk pada orang-orang agar tidur di rumah sakit terkutuk ini, mereka melakukan itu hanya untuk mendapatkan uang," ujar Lia kecil dingin. Saat itu juga, pintu ruang rawat terbuka. Mungkin karena orang-orang di luar ruangan mendengar suara ribut dari dalam ruang rawat milik Ariella. Terlihat tiga orang tenaga medis memasuki ruangan. Satu diantara tenaga medis itu adalah dokter yang kebetulan melingkarkan stetoskop ke lehernya, dua yang lain adalah dua perawat perempuan. "Nona Ariella, istirahat dulu. Anda belum bisa pulang, besok atau lusa baru Anda bisa pulang-aaakhh!" dokter pria terbelalak. Braaakk! Kraak! "Aaah aaaah aaahh!" dokter pria ini terbanting ke lantai sambil memegang bahunya yang kini telah retak. "Dokter Salim!" dua perawat yang lain terbelalak. Mereka hendak maju untuk membantu dokter itu, namun suara seruan Eric terdengar. "Lari! jangan mendekat ke arahnya! lari!" seru Eric. Namun, terlambat, seorang perawat perempuan terbanting dengan mengenaskan di atas lantai. Brak! "Aduuh! aaahh!" dia merasa bahwa tulangnya seperti berpindah tempat. "Akh! jangan, Nak! Lia kecil, jangan!" seru Bushra. Dia merasa ngeri dengan apa yang dibuat oleh sang anak. Bushra ingin berlari mendekat ke arah sang anak, dia ingin menghentikan perbuatan berbahaya dari anaknya, namun sayangnya Eric dengan cepat mencegat sang istri. "Sayang, jangan! dia berbahaya!" peringatan dari Eric. Eric berseru lagi ke arah tenaga medis. "Lari! lari dari ruangan ini! jangan dekati dia!" "Jangan dekati dia!" seru Eric dengan peringatan keras. Wajah salah seorang tenaga medis berubah pucat pasi, dia berbalik dan berlari keluar dari ruang rawat itu bagaikan kesetanan. "Keamanan! keamanan!" teriak perawat yang selamat. "Satpam! satpam!" teriak perawat itu sekali lagi. Di dalam ruangan, Lia kecil mengarahkan pandangan ke dekat kakinya. Di dekat kakinya, dokter yang bername tag Salim itu mengaduh kesakitan sambil memegang bahu kirinya yang kini retak. Lia mengangkat kakinya lalu dengan kekuatan kuat dia menghentakan kakinya ke d**a dokter itu. "Aaaaaaahh!" teriak dokter bagaikan hampir putus napas. "Lia, jangan!" Eric terbelalak. "Aaahh! jangan! Lia, jangaaaaan!" Bushra terlihat ngeri dengan apa yang dilakukan oleh sang anak. Mulut dokter itu memuntahkan darah segar. Bushra merasa bahwa dia tidak dapat dapat mempertahankan kesadarannya pasca melihat sendiri betapa brutalnya sang anak pada para tenaga medis, mata putihnya terlihat dan Bushra pun tak sadarkan diri. Eric dengan cepat menarik sang istri dalam rangkulan, kemudian dia dengan cepat menarik jauh dokter yang telah terkapar tak berdaya itu agar tak berdekatan dengan anaknya. "Sira!" Eric menyebut nama sang istri yang telah pingsan. Sangat berbahaya, tiba-tiba anaknya menyerang orang dan dirinya. Setelah Lia kecil melihat mangsanya telah ditarik jauh orang yang adalah ayah kandung dari tubuh yang telah dikuasai olehnya, dia tak lagi melirik ke mangsanya. Tenang saja, toh masih ada satu lagi, begitulah pemikiran Lia Kecil. Dia melirik ke arah mangsa lain. Itu adalah perawat perempuan yang gemetar hebat ketakutan setelah melihat sang dokter hampir saja mati. Apalagi ketika tatapan dingin Lia kecil diarahkan padanya. Target selanjutnya pasti adalah dia. Eric berteriak keras di atas ujung paru-parunya. "Lari! lari! keluar dari sini!" Dengan buru-buru, perawat itu berdiri dan berusaha berlari cepat keluar dari ruang perawatan itu, dia tak lagi memperdulikan tangannya yang cedera akibat bantingan dari Lia kecil. Saat berlari keluar, dia berpapasan dengan seorang teman yang tadi telah lebih dulu berlari keluar untuk mencari bala bantuan, dia membawa dua satpam. "Dokter Salim mana?" tanya perawat yang selamat itu. Wajah perawat itu pucat pasi. "Di dalam! di dalam! jangan masuk! jangan masuk! sangat mengerikan!" Namun, dua satpam itu tidak mengindahkan perkataan perawat yang baru saja berlari keluar dari dalam ruang rawat. Mereka dengan gagah dan beraninya masuk ke dalam ruang rawat. Beberapa detik kemudian terdengar suara patahan tulang dan teriakan maha dahsyat kesakitan. Krreeekk! Krukkkk! "Aaaaaaaaaaahhh!" "Aaah aaaahh aaaahh!" Orang-orang disekitar ruang rawat itu menjauh seketika. "Jauhi ruangan ini kalau mau selamat!" teriak perawat yang berlari keluar dari ruang rawat. Orang-orang buru-buru menjauh. * "Ke rumah sakit sekarang!" Gaishan tak lagi dapat duduk tenang saat mendapat telepon mendesak ini dari adik iparnya. Dia dan saudara kembarnya buru-buru berlari masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Gawat! ini benar-benar mendesak. Sementara itu, Busran dibantu Marc dan cucunya yang lain yaitu Fatah untuk masuk ke dalam mobil, namun Busran seakan mendapat kekuatan super, dia berlari masuk ke dalam mobil dan memerintah dengan suara lantang. "Ke rumah sakit sekarang! cepaaat!" Aqlam dan Marc masuk ke mobil lain, sementara itu Fatah telah lebih dulu masuk ke mobil yang dinaiki oleh sang kakek sebelum mobil itu berjalan. Lima buah mobil keluar dari kediaman tua Nabhan dengan kecepatan tinggi. Setelah melihat mobil itu menjauh, Farel menangis sedih. "Kasihan sekali adikku, kami baru saja kehilangan orangtua kami, tapi dia juga harus menghadapi masalah ini." Orang-orang yang tadinya melihat kepergian lima mobil yang keluar dari rumah tua Nabhan, terlihat khawatir. * Di dalam mobil. "Sial! kenapa jadi begini?! kenapa bisa Lia kecil hampir membunuh orang?!" Gaishan terlihat tak sabaran saat menyetir. Sang istri yang duduk di jok kemudi depan membalas, "Jangan banyak tanya, menyetir dengan cepat ke rumah sakit!" Gaishan merogoh ponsel dari aku depan celana, dia menyetir sambil menelpon nama kontak Mentari. Beberapa detik kemudian terdengar suara orang yang dituju. "Halo Gaishan, aku akan ke Semarang besok," ujar Mentari. "Tari, kamu harus segera datang ke Semarang! Lia kecil muncul! dia hampir membunuh empat orang tenaga medis di rumah sakit!" ujar Gaishan. "Bagaimana bisa? bukankah yang membunuh hanya kepribadian kedua?" Mentari terperangah. "Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi! tapi yang pastinya dia menyerang orang yang dia lihat! mengerikan! sangat mengerikan!" balas Gaishan. "Aku akan memesan tiket paling cepat ke Semarang!" Mentari memutuskan untuk segera secepat mungkin ke Semarang. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD