Chapter 30

1658 Words
Satu hari sebelum acara resepsi pernikahan Didi dan suaminya, Lia kecil menghadiri acara kenaikan pangkat dirinya. Panglima TNI memasangkan pangkat Letnan Satu di pundak Lia kecil, riuh tepuk tangan terdengar setelah Lia kecil memberi hormat pada Panglima TNI. Sementara itu orang rumah bahkan tidak tahu mengenai kenaikan pangkat Lia kecil, mereka mengetahui hal itu ketika pesawat hendak terbang ke arah tujuan mereka yaitu pulau Sumba. * "Ingin pergi bersama ke Opal's Resort?" tawar Irwan setelah dia acara kenaikan pangkat selesai. "Tidak, Komandan," jawab Lia. Irwan mengerti. "Baiklah. Saya akan ke Sumba sekarang." Lia melihat pakaian yang dikenakan oleh Irwan, itu adalah bukan baju militer lagi melainkan celana hitam dan batik yang dikenakan oleh Irwan. Irwan memasuki mobil, mobil itu bukanlah fasilitas dinas yang didapatkan oleh setiap pejabat negara, dia menggunakan mobil pribadi tanpa pengawalan. Sebab Irwan tahu bahwa dia akan menghadiri urusan pribadi jadi bukan hal bijak menggunakan kendaraan dinas. Sementara itu, Lia kecil berjalan ke arah ruang ganti. Beberapa saat kemudian Lia kecil telah mengenakan pakaian kasual, kaos biru tosca dan celana krem tactical. Rambutnya pendek di atas bahu, meskipun gayanya tomboy, namun dia tetap terlihat cantik berkat gen campuran Asia-Eropa yang mengalir di dalam tubuhnya. Orang-orang menyapa Lia, kali ini dia hanya mengangguk sebagai balasan meskipun itu adalah senior dalam militer. Bahkan para senior di militer sudah mengetahui mengenai betapa dinginnya Lia kecil. Meskipun banyak senior laki-laki yang tertarik dan jatuh hati pada Lia kecil, namun mereka tak berani mendekat, sebab dari tatapan Lia kecil saja mereka sudah mengetahui bahwa Lia kecil tak suka didekati oleh mereka, jadi mereka terpaksa memilih jalan mundur. Lia kecil menenteng tas militer yang mana tas itu berisi pakaian upacara kecil dan dua buah baju kasual. Tas pinggang hitam terlihat sangat cocok di pinggulnya. Lia kecil berjalan ke arah tempat parkir dan menaiki mobilnya. Dia sendiri yang menyetir mobil itu ke bandara. Nantinya akan ada seorang bodyguard Nabhan yang akan menyetir kembali mobil yang dikendarai oleh Lia kecil ke rumah Nabhan. * "Aku pikir Lia akan ikut terbang bersama kita," ujar Atika. "Tidak mungkin, bahkan setelah dia menghadiri acara kenaikan pangkatnya saja, kita baru tahu pagi ini, aku bahkan tak tahu apa-apa," balas Nibras. "Anak itu semakin tertutup dan dingin, aku khawatir apa yang diucapkan oleh Gaishan waktu itu akan menjadi kenyataan," ujar Nibras khawatir. "Jangan sampai itu terjadi, amit-amit, aku masih ingin bertemu dengan Aril yang lembut," balas Atika. "Semua orang juga nggak ingin itu terjadi, semua ingin bertemu dengan Aril yang penurut," ujar Nibras. Tika melirik ke arah samping kanan, di mana sang anak dan menantunya sedang beristirahat menutup mata di dalam pesawat pribadi. Sementara itu, Anas terlihat sedang mempelajari sebuah rancangan alat elektronik, dia sangat serius hingga tak ada satu orang pun yang berani mengganggunya. Kecerdasan Aqlam menurun pada anak pertamanya. Anas lebih suka menghabiskan waktu belajar daripada bermain, atau jika adik bungsu dari sang ibu datang untuk bermain, maka dia akan menemani tantenya yang sebaya itu untuk menonton berita di televisi. Fahmi sedari tadi hanya mengangkat tangannya memanggil para pramugari. "Tuan Kecil, ada yang Anda butuhkan?" tanya seorang pramugari cantik setelah mendekat ke arah Fahmi. "Berikan saya kue coklat stroberi lagi." Fahmi memberi perintah. "Baik." Pramugari cantik itu mengangguk. Dia ke arah dapur pesawat dan memotong sepotong besar kue coklat stroberi untuk disajikan pada Fahmi. Ini adalah potongan keempat sejak keluarga Nabhan naik ke jet pribadi mereka. Saat pramugari itu memberikan piring di meja kursi Fahmi, dia berkata, "Selamat menikmati, Tuan kecil." Fahmi mengangguk. Dia mencicipi satu sendok kue, rasanya sangat enak, dia terlihat menggoyangkan badannya saat sedang makan kue itu. Ini memperlihatkan bahwa Fahmi sangat menikmati kue coklat stroberi itu. Atika dan Nibras hanya menggelengkan kepala mereka saat melihat kelakuan cucu nomor dua. Fahmi berkata, "Ibu, jika Tante Aini mengikuti kita naik pesawat ini, mungkin Tante Aini akan mencicipi kue coklat stroberi yang lezat ini." Chana membuka matanya, saat itu Aqlam juga ikut membuka matanya. Chana melirik ke arah Aqlam, dia bertanya, "Aqlam, apakah kamu yang membuat kue coklat stroberi itu?" Aqlam mengangguk. "Ya, benar." Fahmi berhenti makan, dia melotot ke arah piring kue, sebagian besar potongan kue itu telah masuk ke dalam perutnya. Wajahnya terlihat sangat dilema saat tahu bahwa kue itu adalah buatan dari sang ayah, jika itu adalah buatan dari sang ayah, maka itu hanya diperuntukan oleh ibunya. Atika menahan tawa ketika melihat ekspresi syok yang diperlihatkan oleh Fahmi. Fahmi menelan susah kue itu. "Ibu, maaf. Ami tidak tahu." Chana terkekeh. Dia agak mendekatkan badannya ke arah sang anak, kemudian dia mengangkat kaki kanan, dan jempol kakinya mengusap bawa bibir sang anak yang belepotan dengan kue. "Tidak apa-apa, tapi jangan terlalu makan yang manis, nanti gigimu busuk," ujar Chana. "Baik, Ibu." Fahmi mengangguk patuh. Dua anak Aqlam selalu patuh pada Chana, ini dikarenakan sejak dini mereka telah diajarkan oleh Aqlam agar patuh dan menghormati ibu mereka. Aqlam tidak ingin anak-anaknya menyinggung perasaan sang istri, apalagi sang istri memiliki kecacatan. Anas hanya melirik ke arah sang adik, dia menggelengkan kepalanya. "Kalau Ibu sudah bilang jangan makan manis-manis, maka kamu tidak boleh terlalu banyak makan manis," ujar Anas. Fahmi mengangguk. "Nanti kalau semua gigimu busuk baru tahu rasa, nangis nggak jelas," ujar Anas. Fahmi memonyongkan bibirnya cemberut. Chana terkekeh. "Ayo habiskan kuenya, jangan lupa minum segelas air mineral." "Baik, Ibu," sahut Fahmi patuh. Saat Chana kembali memperbaiki duduknya, Aqlam mengambil tisu dan membersihkan jempol kaki sang istri. * Bandara Tambolaka, Sumba. Bandara ini meskipun tidak terlalu ramai, namun lumayan banyak penerbangan domestik, sebab banyak turis lokal maupun internasional yang datang ke pulau Sumba untuk berwisata. Lia kecil mengendong ranselnya di pundak. Dia berjalan menjauh dari konter pemeriksaan, namun saat hendak berbelok, dia menabrak seseorang. "Sudah sampai, Ma-" ucapan Naufal terhenti saat ponselnya jatuh ke lantai. Brak! Naufal melepaskan gagang koper yang sedang ditariknya, kemudian dia berjongkok meraih kembali ponselnya yang jatuh di lantai. Panggilan dari sang ibu terputus karena ponsel jatuh. Saat berdiri kembali, dia menatap orang yang menabraknya. "Tidak sengaja," ujar Lia kecil. "Adik Aril?" tanya Naufal, dia tentu saja mengenali siapa Lia kecil, mereka masih termasuk sepupu. Tatapan mata Lia kecil sangat dingin dan sama sekali tak berubah saat menatap mata Naufal. "Ah, Lia?" mulut Naufal secara tak sadar mengucapkan nama itu. Mungkin karena pernah berinteraksi dengan Lia kecil di masa lalu dan dia menyadari nama panggilan dari adik sepupunya itu. Lia kecil mengangguk. Tentu saja dia kenal siapa pria di depannya itu. Naufal tersenyum. "Nggak apa-apa. Ah, kamu ke sini untuk menghadiri acara resepsi Didi?" tanya Naufal. Lia kecil mengangguk. Dia tak menjawab dengan suara, hanya gerakan saja kepala saja. "Ah, seperti itu, Kakak Opal juga," ujar Naufal. Naufal melirik ke arah luar, di mana sudah ada mobil yang telah bersiap untuk menjemputnya. "Ingin pergi bersama Kakak Opal ke resort? kebetulan acara resepsi pernikahan Didi dilakukan di resort milik Kakak Opal." Lia kecil menatap ke arah yang tadi ditatap oleh Naufal, itu adalah mobil mewah. Dia mengangguk. Tidak perlu bersusah payah untuk mencari kendaraan ke tempat resort, toh sudah ada yang menawarkan, lagipula Naufal bukan lah orang asing baginya, meskipun dia sendiri yang memperlakukan Naufal bagaikan orang asing. Naufal tersenyum. Dengan gerakan tangan, dia mempersilakan Lia kecil berjalan duluan. "Silakan duluan." Lia kecil berjalan duluan, dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil, kemudian ada seorang supir yang mengambil alih koper pakaian Naufal lalu di masukan ke dalam bagasi mobil. Naufal mengambil tempat duduk di sebelah kanan Lia kecil. "Tidak ingin meletakkan ranselmu ke bagasi?" tanya Naufal. Lia kecil menggelengkan kepalanya. Naufal manggut-manggut. "Apakah semua keluarga saya telah berkumpul?" tanya Naufal setelah mobil yang ditumpangi oleh Naufal dan Lia kecil berjalan menjauh dari bandara. "Sudah, Tuan," jawab supir. Ah, ini bukan sopir tapi lebih tepatnya bodyguard yang merangkap menjadi sopir. Itu terlihat dari postur badannya yang kekar meskipun mengenakan jas hitam. "Apakah adik laki-laki saya juga sudah tiba?" tanya Naufal. "Sudah, Tuan," jawab bodyguard. "Pantas saja Mama Poko terus mendesak agar cepat sampai," gumam Naufal. Lia kecil tak mengajak Naufal bicara, dia melirik ke arah luar mobil di mana langit mulai gelap. Hari ini dia banyak melakukan aktivitas. Ponselnya berbunyi. Lia kecil merogoh saku depan celana, saat melihat itu adalah panggilan dari Gaishan, dia mengabaikan panggilan itu dan mematikan panggilan. Kemudian Lia kecil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan duduk sambil melipat kedua tangan. Lia kecil lebih baik menikmati pemandangan luar daripada mendengar ocehan sang paman yang cerewet. Paman yang paling cerewet di keluarga Nabhan adalah paman yang baru saja menelponnya. "Adik Lia, jika kamu lelah karena perjalanan, tidurlah," ujar Naufal. Lia kecil tak mengangguk, dia hanya memandangi luar mobil. Naufal bersandar di kursi mobil. "Aku sudah lama tidak mendengar kabarmu," ujar Naufal. Lia kecil tak membalas ucapan Naufal. Naufal sendiri menatap ke arah kaca depan dimana jalan raya yang dilalui oleh mobilnya, mereka memasuki daerah yang agak sunyi. "Kapan terakhir kali kita bertemu?" tanya Naufal. Lia kecil tak menjawab. Naufal mengerutkan keningnya. "Ah, itu pada saat acara wisudaku, oh bukan, itu dua tahun lalu saat menghadiri pemakaman Kakek Busran." Naufal melirik ke arah Lia kecil yang membuang pandangan darinya. "Itupun kita tak saling menyapa, ah Kakak Opal melihat kamu diam, Kakak Opal tahu, kamu sedang sedih karena kehilangan Kakek Busran waktu itu," ujar Naufal. Tatapan mata Lia agak berubah, dia melirik ke arah Naufal. Namun itu tak lama, dia kembali melirik ke arah luar. Lia seperti membatasi interaksinya dengan Naufal meskipun dia dan Naufal telah saling mengenal sejak lama. Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Lia kecil memilih mengabaikan panggilan telepon itu. Namun, setelah beberapa menit, teleponnya tetap berdering. Lia kecil merogoh ponselnya dan hendak mematikan ponsel, namun saat melihat siapa yang memanggil, tatapan kesal berubah agak lembut. Itu panggilan telepon dari Didi. "Coba untuk mengangkat teleponnya, mungkin Tante Sira atau Om Eric yang menelepon," ujar Naufal. Lia kecil mengangkat panggilan telepon. "Syukurlah kau mengangkat panggilanku," ujar Gendhis lega. "Kapan pesawat mendarat di bandara? biarkan seseorang menjemputmu," ujar Gendhis. Tatapan mata Lia kecil berubah menjadi tatapan pemalu, kemudian suara lembutnya terdengar. "Didi …." Beberapa detik kemudian suara Gendhis terdengar. "Aril?!" *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD