Chapter 29

1666 Words
"Apakah kamu sudah menyiapkan sebagian tempat di resort mu di Sumba untuk tempat pernikahan Didi?" tanya Popy. Naufal mengangguk. "Sudah, Ma." Popy mengangguk puas. "Bagus." "Mama Poko, kita akan pergi ke Sumba untuk menghadiri pernikahan Mbak Didi?" tanya Aini. Popy mengangguk. "Ya, kami akan pergi." Aini manggut-manggut mengerti. "Apakah di sana diadakan pesta?" tanya Aini. "Ya, tentu saja sayang," jawab Popy. "Apakah nanti anak-anak yatim diundang juga?" tanya Aini. "Er … ini biarkan Mama Poko bertanya pada Tante Tari yah," jawab Popy, dia tidak tahu apakah keluarga Mentari mengundang anak yatim ke pesta resepsi pernikahan anak dari Ariansyah. * Pada saat beberapa hari sebelum pernikahan Gendhis, dia menelepon Lia kecil. Namun, Lia kecil sekarang sedang berada di tempat latihan menembak. Dia sedang mengajari bawahan atau junior menembak. Wajah Lia kecil sangat datar dan sama sekali tak ada ekspresi saat melihat tembakan demi tembakan yang dilakukan oleh para juniornya Dor dor dor dor! "Jangan tegang!" ujar Lia. Beberapa junior berusaha rileks, namun malah ada yang bergetar tangan mereka dan senjata tak sengaja dijatuhkan ke tanah. "Apakah kau tidak mendengar arahanku? saya bilang jangan tegang tapi tetap fokus. Ambil senjatanya!" perintah Lia. Prajurit yang berpangkat Prada itu mengangguk. "Siap Letnan!" Dia buru-buru memungut senjatanya dan hendak melanjutkan latihan menembaknya, namun suara Lia terdengar. "Berhenti menembak!" perintah Lia. Semua orang berhenti menembak, sikap mereka siap sempurna. Mereka telah diberi pesan oleh komandan bahwa jangan pernah melawan Letda Airella Achtiana Rousseau, jika kalian masih ingin mental kalian aman di dalam dunia militer. Lia kecil melangkah maju mendekati prajurit yang tadi menjatuhkan senjatanya, dia memberi perintah pada prajurit itu. "Mundur ke belakang!" Prajurit itu mundur ke belakang. Lia kecil mengambil alih senjata yang dipegang oleh prajurit dua itu. Dia melakukan posisi siap menembak. "Perhatikan apa yang saya lakukan!" perintahnya. Orang-orang dengan serius memperhatikan gerakan Lia kecil yang memulai tembakan. Dor! Satu kali tembak tepat sasaran, itu di garis tengah lingkaran. "Ganti target lain!" perintah Lia kecil. Seorang Sersan satu buru-buru menggantikan target menembak dari lingkaran ke gambar orang yang telah diberi titik di beberapa bagian tubuh yang bergambar orang itu. "Tetap tenang, bernapaslah seperti biasa sebelum menembak, jangan terkecoh suara lain," ujar Lia kecil. Para prajurit mengangguk mengerti. Tangan Lia kecil menekan pelatuk. Dor dor dor! Tiga kali tembakan dengan titik mati berbeda. Titik tembakan yang pertama mengenai dahi, titik tembakan kedua tepat di tenggorokan dan titik tembakan ketiga tepat mengenai jantung. Semua prajurit menahan napas, mereka sangat terpukau dengan skil menembak dari Lia kecil. "Jauhkan target!" perintah Lia kecil. Sersan satu buru-buru menarik mundur target tembak hingga berjarak seratus meter. Setelah itu, sersan satu buru-buru kembali ke tempatnya. Lia kecil kembali bersiap menembak, dia menekan pelatuk. Dor dor dor! Semua orang menahan napas mereka. Tepat sasaran seperti titik tembakan yang pertama. "Seratus lima puluh meter!" ujar Lia. Sersan satu mengangguk mengerti, dia buru-buru menarik mundur target dan tentu saja berjarak seratus lima puluh meter. Lia kecil menembak. Dor dor dor! Lagi-lagi semua orang menahan napas dan menatap kagum ke arah target berada. Tepat sasaran. "Dua ratus meter!" ujar Lia kecil. Sersan Dua mengangguk meskipun dia tak yakin bahwa dengan jarak sejauh itu Letda Lia dapat menembak, namun sebagai bawahan dia harus mengikuti. Semua prajurit memperhatikan dengan serius. Jarak dua ratus meter itu terlalu jauh dan hampir mustahil jika menembak menggunakan senjata itu. Itu adalah jenis pistol, hampir mustahil menempuh jarak dua ratus meter. Tangan Lia kecil bersiap untuk menembak, dia menutup satu kelopak mata lalu membidik ke arah target. Jari telunjuknya menekan pelatuk. Dor dor dor! Semua orang seketika terdiam. Mereka menatap lama ke arah target itu. Sersan satu buru-buru berlari ke arah target yang baru saja menjadi target tembak Lia kecil. Wajahnya terlihat serius dan entah harus berkata apalagi, dia sendiri hanya memandang diam target itu. Dia terheran-heran dengan kemampuan dari Letda Lia. Wajah Lia kecil terlihat datar. Dia tak tersenyum senang ataupun sombong, semua orang tidak tahu suasana hati Lia kecil sekarang. Lia kecil menurunkan posisi tangannya yang tadi dalam posisi menembak. "Kunci dalam latihan menembak ini adalah sabar dan fokus. Tidak sabar maka tidak akan sukses," ujar Lia. Semua orang menoleh ke arah Lia, mereka mengangguk serentak. Dari arah belakang para prajurit, Irwan menurunkan teropong militer. Rupanya panglima TNI baru saja memeriksa tembakan Lia, semua yang dilaporkan oleh bawahannya ketika Lia berada di Yaman adalah benar. Irwan tersenyum miring. Lia adalah bibit unggul militer yang perlu dipertahankan. "Seperti biasa, selalu tepat sasaran," ujarnya. Sang ajudan hanya berdiri sambil diam di belakang Irwan. * Pada saat Lia kecil selesai melatih menembak para prajurit, dia berpapasan dengan Irwan ketika sedang berjalan ke ruang ganti. "Ikut saya!" perintah Irwan. Irwan berbalik dan berjalan ke arah ruang kerjanya. Lia kecil hanya mengikuti sang pimpinan tertinggi militer sambil menenteng tas yang berisi sebuah pistol dan baju ganti. Ketika Lia kecil memasuki ruang kerja Irwan, pintu itu ditutup dari luar oleh ajudan Irwan. Irwan membuka laci meja kerja dan mengeluarkan sebuah amplop coklat, amplop itu dicap dengan lambang resmi militer. Irwan memberikan amplop itu pada Lia. Lia meletakkan tas militer di lantai dan menerima amplop itu, kemudian dia membaca isi dari amplop itu. Setelah beberapa saat membaca, arah pandangan Lia kecil berganti dari kertas putih ke arah Irwan yang sedang duduk di kursi pimpinan. "Letnan satu Ariella Achtiana Rousseau, selamat atas kenaikan pangkat Anda," ujar Irwan. Meskipun itu adalah kabar gembira yang ditunggu-tunggu oleh semua prajurit yaitu kenaikan pangkat, namun ekspresi wajah Lia kecil tetap datar dari awal mengikuti Irwan. Lia kecil memasukan kembali surat keputusan yang dikeluarkan oleh militer untuknya. "Jadi hanya selembar kertas ini Anda menarik saya ke sini?" tanya Lia kecil. "Lettu Lia, Anda harus mematuhi perintah militer," balas Irwan. "Sudah selesai memberikan perintah militer?" tanya Lia kecil. Irwan membalas, "Kamu tidak lagi ditugaskan di medan perang, kamu harus beradaptasi dengan dunia kepemimpinan." "Bukan gaya saya," balas Lia kecil dingin. "Kamu masuk akademi militer dan lulus sebagai Adhi Makayasa terbaik bukan hanya untuk ditugaskan berperang, tetapi kamu harus memahami penuh dunia kepemimpinan militer, suatu saat kamu pasti akan menempati posisi saya saat ini," ujar Irwan. "Tidak tertarik," balas Lia kecil. Irwan berusaha untuk tidak terpancing atas sikap Lia kecil yang acuh padanya, dari awal Lia kecil masuk akademi militer dia telah tahu mengenai kondisi psikologi Lia kecil, sang Tante yang bernama Gea Achtiana Baqi sempat berpesan untuk menitipkan cucu perempuan satu-satunya pada keluarga Baqi untuk dijaga sebelum kematian menjemput sang tante. Jadi, Irwan tidak akan tersinggung dengan sikap Lia. Irwan tersenyum. "Siapa yang tahu garis tangan seseorang. Mungkin saja kamu akan menjadi panglima TNI perempuan pertama dalam kepemimpinan militer ini." "Syarat apa hingga Anda bisa mengirim saya kembali ke Yaman?" Lia kecil sama sekali tak takut dengan Irwan, dia bahkan dengan terang-terangan bertanya mengenai syarat apa hingga dia dikirim kembali ke Yaman. "Lettu Lia, adaptasi terlebih dahulu dengan tugas baru Anda di sini, kamu akan menjadi pelatih untuk pasukan elit yang nanti akan dipilih, salah satunya kamu akan menjadi penguji mereka. Jadi, kamu mengerti kan mengenai alasan kamu ditarik kembali ke sini?" jawab Irwan. Ah, hal ini tentu saja Lia kecil tahu. Sebab, dia adalah bagian dari komando pasukan khusus alias prajurit berbaret merah. "Siap, mengerti, Komandan!" balas Lia kecil. Irwan tersenyum. "Pulanglah, bukanlah kamu akan mengikuti acara resepsi sepupumu? ah, sampai bertemu di Opal's Resort," ujar Irwan. Wajah Lia kecil agak berubah ketika mendengar ucapan Irwan. * Setelah kepergian Lia kecil dari ruang kerjanya, pintu ruang kerja itu ditutup. Wajah Irwan terlihat agak rileks. "Semoga saja dengan alasan ini waktu penyembuhannya berjalan lancar," gumam Irwan. Di sisi lain saat Lia kecil memasuki bilik ganti, beberapa kowad memberi hormat pada Lia. Namun Lia kecil hanya berjalan begitu saja tanpa memperdulikan hormat dari bawahan. Lia kecil duduk di kursi dan memasukkan begitu saja amplop yang berisi kenaikan pangkatnya ke dalam tas militer, dia tidak peduli apakah amplop itu akan kusut ataukah tidak. Saat hendak mengambil baju gantinya, matanya melihat ponsel. Tepat saat itu juga ponsel itu berdering dan memperlihatkan nama sang pemanggil. 'Sepupu Didi' Lia kecil menatap layar ponsel itu seakan dia mengingat sesuatu. Ingatan yang pertama, dia mengingat ketika dia hendak pergi ke tempat ini beberapa waktu lalu, sang ibu dari tubuh yang dia kuasai itu berusaha mencari cara untuk 'membunuhnya'. Mereka tahu kelemahan dari tubuh yang sedang dia kuasai sekarang. Tangan Lia kecil hendak menutup resleting dari tas militer itu, dia berniat tak menerima panggilan telepon dari sahabatnya. Ya, sahabatnya. Mata Lia kecil seakan terlihat kosong saat mengingat bahwa yang sedang menelpon itu adalah sahabatnya. Bukankah sahabat itu ada bukan pada saat sedang senang saja, tetapi juga datang ketika kita susah? Tangan Lia kecil membuka ulang resleting tas militer dan meraih ponselnya. Dia menekan ikon mengangkat panggilan dan menempelkan ponsel itu ke telinga kanan. "Halo," ujar Lia kecil. "Syukurlah kau mengangkat panggilan teleponku, Lia." Balasan dari seberang terdengar lega. "Sepupu, apakah aku mengganggu waktumu?" tanya Gendhis. "Tidak," jawab Lia kecil. "Ah, syukurlah." Gendhis menarik napas lega, kemudian dia berkata, "Sepupu, maukah kamu datang ke acara resepsi pernikahanku? aku tahu kamu sedang sibuk bekerja mengingat kamu sekarang telah mencapai tujuan masa depanmu, tetapi apakah sudikah kamu meluangkan waktumu barang sehari saja untuk menghadiri acara resepsi pernikahanku?" Beberapa detik sunyi, Lia kecil belum membalas ucapan Gendhis. * Delapan tahun yang lalu. Pesta wisuda Naufal. "Kamu ingin menjadi prajurit?" wajah Gendhis remaja terlihat kaget. Lia kecil mengangguk. "Ya." Beberapa detik kemudian Gendhis berkata, "Apapun tujuan masa depanmu, apapun cita-citamu aku akan selalu mendukung kamu." Suara Gendhis terdengar lembut. Lia kecil menatap mata Gendhis. Gendhis tersenyum. "Bukankah sahabat itu harus mendukung apapun tujuan dari sahabatnya?" Lia kecil hanya diam. "Aku tidak akan bertanya apa alasanmu atau apa yang membuatmu tertarik untuk menjadi seorang prajurit, karena aku percaya sahabatku akan melindungi orang-orang baik di luaran sana," ujar Gendhis. Tangan Gendhis terulur dan menggenggam tangan Lia kecil. Seketika tatapan mata Lia kecil berubah menjadi pemalu. Tatapan mata pemalu itu menatap mata Gendhis. * Tatapan mata Lia kecil tak lagi sedingin tadi dan tidak lagi sedatar ketika dia sedang berbicara dengan Irwan Baqi. Bibirnya terbuka dan dia menjawab, "Baik, aku akan menghadiri acara resepsi pernikahanmu." *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD