Chapter 25

1759 Words
"Aril masuk akademi militer," ujar Popy pada saat makan malam dengan keluarga. Randra menatap anak perempuannya. "Bukan Aril," ujar Randra. Popy mengangguk membenarkan. Memang bukan Aril tapi Lia. Naufal yang sedang makan sepiring berdua dengan adik perempuan bungsunya itu melirik ke arah ibu dan Kakeknya. Dia kurang mengerti apa maksud dari sang kakek. "Bukankah Aksan juga ikut akademi militer?" tanya Naufal. Popy terbelalak. "Ya benar!" Popy membenarkan. Dia melirik ke arah Naufal lalu melirik ke arah ayahnya. "Ayah Ran, Aksan masuk akademi militer dengan jalur prestasi," ujar Popy. Randra mengangguk. "Dia tidak masuk akademi militer tapi akademi angkatan laut, Bilal sudah telepon, tadi pagi Aksan sudah berangkat ke akademi militer, dia memilih angkatan laut. Dia ingin di situ nantinya," balas Randra. Popy dan Naufal manggut-manggut mengerti. "Jadi, apakah Aril dan Aksan akan ada kemungkinan untuk saling bertemu?" tanya Popy. Randra menggelengkan kepalanya. "Tempat pendidikan mereka berbeda," jawab Randra. Naufal manggut-manggut. "Opal hanya lebih tahu spesifiknya yah di angkatan darat, sepupu Mama Poko banyak masuk ke situ." Popy mengangguk. "Memang banyak, dari saudara Mama Poko yang ambil kepolisian cuma Om Agil doang, syukur turun ke Alamsyah." Naufal manggut-manggut. "Adik Aril punya banyak prestasi, dia menjuarai turnamen menembak internasional dan membawa banyak piala emas untuk Indonesia, Opal cukup kaget setelah tahu dia memilih masuk akademi militer, padahal dia pernah berkata ingin di rumah sambil membantu Nenek Gea," ujad Naufal. Randra melirik cucu laki-lakinya. "Aril yang bilang padamu secara langsung?" tanya Randra. Naufal mengangguk. "Iya, Kek. Aril pernah bilang." "Tapi kok Adik Aril seperti agak aneh yah atau memang perasaan Opal aja," ujar Naufal. "Aneh bagaimana maksudmu?" tanya Randra. Randra tahu, sang cucu laki-laki mulai peka terhadap apa yang terjadi pada cucu perempuan dari sahabatnya itu. "Ada kalanya Aril itu diam-diam namun dia agak pemalu, kalau ketemu Opal yah malu lihat wajah Opal, padahal kan Opal nggak ngapa-ngapain dia, tapi ada kalanya tatapannya buat Opal takut, dia bukan cuma cuek dan dingin tapi agak gimana ya Opal bilangnya, agak jahat sih, ah! entahlah!" jawab Naufal. "Tidak perlu dipikirkan, yang penting dia adalah termasuk saudara sepupumu, jika ada yang mengganggunya, bantu dia atau jika dia dalam masalah, ulurkan tangan untuk membantu," ujar Randra. Naufal mengangguk sambil menyuapi makanan untuk adik perempuannya. "Kalau Aksan malah hebat lagi, dia bahkan menjuarai juara renang internasional, jadi kalau dia diterima di angkatan laut sih Opal nggak kaget, malah senang." "Kamu sendiri mau ke mana? nggak mau ambil alih perusahaan Mama?" tanya Ben. Naufal melirik ke arah sang ayah. "Pa, please deh, jangan desak-desak Opal untuk harus ambil alih perusahaan Mama Poko, ya kali kalau pas Opal ambil alih itu perusahaan peninggalan Eyang Iqbal masih tetap utuh, yah kalau bangkrut di tangan Opal bagaimana?" Ben mencibir. "Belajar dari awal. Percuma kamu sekolah ambil manajemen bisnis." Sindir Ben. Naufal memutar bola matanya. "Kakek Ran, Opal belum hirup napas lega karena selesai sekolah, ini malah dicekik sama Papa Ben suruh ambil alih perusahaan, haaah! bisa-bisa putus napas." "Pftthaha!" Popy tertawa. "Ben, jangan gitu. Poko masih muda, masih kuat, masih bisa handel perusahaan, kan ada Ben juga yang bantu," ujar Popy ke arah suaminya. Ben melirik ke arah Naufal. "Mama Poko bolak-balik ke perusahan sambil rawat Aini, kamu nggak sayang sama Mama Poko?" tanya Ben. "Lah? bukankah pas dari Aini lahir, Opal kan yang buatin s**u formula dan bahkan mandiin dia? Papa Ben deh yang sibuk ngurus Mama Poko, ehm! lagian ada Om Alan juga kok yang rawat Aini," balad Naufal. Ben melotot ke arah anaknya. Randra terkekeh. "Kapanpun kamu mau bergabung di perusahaan, silakan. Kakek Ran mendukung, sekarang ini sudah bukan lagi jaman Kakek Ran yang menguasai perusahaan, semua ada pada Mama kamu," ujar Ben. Naufal mengangguk setuju. "Aye aye siap kapten!" Naufal memberi pose hormat militer. Randra terkekeh. * "Bro, di situ enak?" tanya Naufal sambil melakukan panggilan video dengan sepupunya yang bernama Aksan. "Enak sih, baru hari pertama. Malah sebenarnya baru saja penutupan pendaftaran. Aku dan dua orang yang diundang oleh angkatan laut malah dikasih jadwal buat latihan militer lebih awal," jawab Aksan. "Ouh, kapan mulai latihan?" tanya Naufal. "Besok," jawab Aksan. "Jadi mulai besok semua alat komunikasi dengan dunia luar disita," ujar Aksan. "Jadi malam ini terakhir kamu pegang hp?" tanya Naufal. Aksan terkekeh. "Silakan saja ambil hpku, aku punya cadangan, huahahaha!" Aksan terbahak. Naufal juga ikut terbahak. "Aku pikir kamu ingin ikuti jejak Om Bilal jadi jaksa, lihat sekarang Om Bilal sudah jadi Kajati termuda se Indonesia, punya banyak prestasi, gelar doktor, kembalikan kerugian negara yang dicuri oleh koruptor senilai lebih dari lima triliun rupiah," ujar Naufal. "Bukan tipeku duduk-duduk debat di kursi persidangan. Bikin capek mulut, lagian malas juga kalau jadi jaksa, nggak bisa ke medan perang," balas Aksan santai. "Hahahahah!" Naufal terbahak. "Biarkan Kakak Amran yang mau ikut jejak Ayah Bilal, aku ingin ikuti jejak Eyang Jamal, huahahahahaha!" Aksan tertawa bangga. Naufal geleng-geleng kepala melihat tingkah saudara sepupunya. Aksan adalah tipikal anak yang keras kepala, suka melanggar aturan dan dia adalah orang yang sangat berani. "Bro, dirimu bagaimana?" tanya Aksan. "Aku ingin duduk-duduk ongkang kaki di rumah," jawab Naufal. "Huahahahahaha!" Naufal dan Aksan terbahak hebat. Suara mereka bahkan terdengar oleh Ben dan Popy yang berada di dalam kamar. "Anak itu benar-benar, sudah umur dua puluh dua tahun tapi masih seperti anak kecil," ujar Ben. "Aku rasa dia sudah dewasa, biarkan Opal menarik nafas dulu. Benar kata Opal, dia bahkan baru saja menyelesaikan studi sarjana tapi malah didesak masuk ke perusahaan," balas Popy. Percakapan dua saudara sepupu itu berlanjut hingga beberapa saat. * "Jadi hanya dirimu yang belum menentukan akan ke mana?" ini adalah suara Adelio yang melakukan panggilan video dengan saudara laki-lakinya dari Cordoba. "Hum. Di sisi lain semua orang sibuk untuk meraih masa depan, aku duduk-duduk enak dan santai," balas Naufal. "Santai Bro, tidak perlu terburu-buru, mari jalan-jalan ke sini bersama adik kita Aini, jernihkan pikiran," ujar Adelio. Naufal mengangguk. "Baiklah." * "Apa?" Ben terbelalak. Ben menatap ngeri anak laki-lakinya. "Kalau kamu mau pergi ke Spanyol, silakan. Tapi jangan bawa Aini!" Ben menolak. "Santai, Pa. Opal cuma minta izin kok, kalau nggak diizinin juga nggak apa-apa," balas Naufal. "Papa nggak kasih izin, di sana berbahaya." Ben masih trauma mengunjungi Spanyol. Tragedi berdarah keluarga Ruiz telah melekat di ingatan Ben. Naufal melirik ke arah sang kakek, Randra menatap diam sejenak cucu laki-lakinya. * Naufal duduk di depan kebun herbal peninggalan neneknya. Dia memainkan salah satu daun tanaman herbal. Randra melangkah mendekati cucu laki-lakinya. Dia duduk di samping sang cucu dan mulai berkata, "Pada usia kamu, Kakek Ran hampir gila karena menghadapi kejamnya dunia. Tunangan Kakek Ran mengalami tragedi memilukan hingga menewaskan orang tua dari tunangan Kakek Ran." Naufal melirik ke arah sang kakek, dia tahu siapa itu tunangan kakeknya, itu adalah mendiang neneknya yang telah tiada semenjak tujuh tahun yang lalu. "Di hari yang seharusnya hari pertunangan berubah menjadi hari pemakaman, keluarga nenekmu yang tersisa adalah Nenek Gea dan Kakek Gilan, dua adik kembar dari Nenekmu. Orangtua mereka meninggal secara tragis, ditambah lagi hilangnya Nenekmu, membuat hati Kakek Ran menjerit tidak terima." Naufal memilih menjadi pendengar yang baik bagi sang kakek. Dia tidak ingin menjeda ucapan kakeknya. "Kakek pikir setelah lulus dari universitas luar negeri, Kakek Ran akan segera memperistri Nenekmu. Namun sayangnya kami memiliki banyak rintangan yang harus dilalui. Awalnya salah satu syarat yang diajukan oleh Kakek dari Kakek Ran adalah kuliah di luar negeri jika ingin menjadikan Nenekmu sebagai nyonya Basri. Kakek Ran rela kuliah dan terpisah jarak dan waktu yang lama demi membuat impian Kakek Ran menjadi kenyataan, namun semua itu hanyalah luka setelah Nenekmu hilang." Mata Randra memerah. Jika dia mengingat lagi masa lalunya, sungguh kelam. Dia tidak munafik, dia pernah membalaskan dendam membara di hatinya ketika tahu siapa pembunuh dari keluarga istrinya. Randra tersenyum ke arah sang cucu. Sepertinya sang kakek tidak ingin lagi melanjutkan ceritanya. Naufal tahu, jika sang kakek melanjutkan ceritanya, maka hati kakeknya pasti akan terluka lagi. "Kakek Ran, Opal penasaran dengan Universitas Harvard yang sekarang," ujar Naufal. Randra menaikkan sebelah keningnya. "Bukakah dulu Kakek Ran pernah membawamu jalan-jalan ke sana." Naufal mengangguk. "Ya, tapi itu ketika Opal umur tiga tahun. Sekarang kan Opal sudah umur dua puluh dua, sudah sembilan belas tahun berlalu, pasti sudah ada perubahan." Randra terkekeh. "Jika kamu penasaran, pergilah ke sana, jalan-jalan dan lihatlah apa yang berubah," ujar Randra. "Um … bukan ide yang buruk. Kak Dimas saja sekolah di sana, dia menceritakan suasana ketika duduk di bangku Kakek Ran ketika berkuliah di sana," balas Naufal. Randra terkekeh. Dia dan sang cucu laki-laki menghabiskan beberapa waktu untuk bercakap sebelum masing-masing berpisah dan masuk ke kamar lalu tidur. * Ketika sedang berada di dalam kamar, Naufal membuka laptop dan menyalakan layar laptop. Kemudian dia mencari di internet apa yang ingin dia cari. Untuk beberapa hari kemudian, Naufal terlihat sibuk keluar rumah. Ben dan Popy tidak terlalu memperhatikan Naufal, sebab mereka tahu Naufal sudah dewasa, mungkin saja dia ingin menghabiskan waktu di luar dengan teman-teman. Ben melirik sang anak laki-laki yang sedang serius mengetik di laptop. "Perasaan skripsi sudah selesai, wisuda juga sudah lewat hampir tiga bulan, Opal sibuk terus di depan laptop," ujar Ben yang hari ini memperhatikan Naufal. "Biarin aja, nanti kalau Opal dengar, dia akan bilang ke Ben kalau Ben itu nggak senang sama kesenangan dia," balas Popy. Ben mencibir diam-diam sang anak. "Anak itu benar-benar." * Pada akhir bulan Juli, keluarga Basri tengah melakukan makan malam bersama. Ini adalah tahun ajaran baru yang mana Aini telah naik kelas dua. Keluarga Alan ikut makan di rumah ayahnya yaitu rumah yang sekarang ditinggali oleh Popy. Pada saat sedang makan bersama, Naufal mendekatkan sebuah amplop ke arah kakeknya. Randra memberhentikan aktivitas makan dan mengambil amplop itu. Ada logo yang tidak lagi asing baginya. Randra menatap sang cucu laki-laki yang sedang menunduk makan. Randra membuka isi amplop itu dan membaca secara seksama. Matanya terpaku pada kata 'Congratulation'. Selamat Anda diterima. Mata Randra dengan cepat melirik ke arah sang cucu, saat itu Naufal mendongak menatap mata Kakeknya. Naufal tersenyum lalu berkata, "Opal juga nggak mau kalah sama Kakak Dimas. Opal juga ingin duduk bangku kuliah yang dulu pernah Kakek Ran duduk." Ben dan Popy melirik ke arah kertas yang dipegang oleh Randra. "Perkuliahan dimulai awal September, jadi Opal punya waktu dua minggu di sini lalu waktu sisanya ke Cambridge untuk mendaftar ulang," ujar Naufal. "Itu …," ujar Ben agak ragu. "Kamu ingin mengambil magister dengan gelar MBA?" tanya Randra. Naufal mengangguk. Ben dan Popy terperangah. Anak laki-laki mereka ternyata memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, tepatnya di alumni dari Kakek sang cucu. Beberapa detik sunyi. Suara Randra terdengar. "Kakek Ran akan mengurus kepergianmu dan Aini ke Spanyol selama dua minggu ke depan." *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD