Athena memperhatikan Jane, wanita yang duduk di sudut ruangan ruang kerjanya itu. Cukup lama ia menatap wanita yang terlihat sibuk dengan laptopnya itu. Sesekali ia tampak menautkan alisnya.
Athena bangun dan memilih untuk menghampiri wanita itu di sana, duduk di depannya tanpa suara.
"Hei, kau butuh sesuatu?" Jane bertanya lembut, seakan senang karena Athena tiba - tiba datang ke mejanya seperti itu. sesuatu yang bahkan jarang Athena lakukan padanya.
"Kau punya janji makan siang dengan seseorang, Jane?"
"Ehm, sepertinya tidak. Kalaupun ya paling dengan teman - teman di sini saja. Kenapa? Kau butuh bantuanku?" tanya Jane dengan senyum di bibirnya.
"Begini, Bagaimana kalau kita makan siang berdua. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu." Athena mengatakan itu lirih, tak ingin orang lain mendengar obrolan mereka.
Jane menatap Athena dengan mata membulat, seakan menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. "Sepertinya sangat penting? Oke, aku setuju."
"Terima kasih." Athena kembali ke mejanya setelah mengatakan itu. sesekali ia melihat ke luar jendela, semua perkataan Thanos kemarin begitu mengganggu dirinya. Sesuatu yang cukup menakutkan baginya. Tawaran? Entahlah apa yang ia pikirkan sekarang.
...
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan, hmm?" Jane membuka kalimatnya setelah mereka sampai di sebuah rumah makan yang tak jauh dari De Aluna. Wanita itu menatap Athena dengan matanya yang indah, sesaat Athena bisa melihat ketulusan di mata Jane, sesuatu yang membuat Athena sempat merasa bersalah karena peristiwa beberapa hari yang lalu itu.
"Kau sudah lama berada di De Aluna. Kau pasti tahu banyak tentang CEO kita, kan?" kata Athena yang membuat Jane mencondongkan tubuhnya itu.
"Sekarang kau merasa penasaran dengan dia, Athena? Apakah terjadi sesuatu?" Jane menatap dengan tanda tanya besar, dan Athena seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh wanita di depannya ini.
"Tidak, tapi aku hanya penasaran saat kau mengatakan kalau Thanos terlibat dengan tewasnya Erica. Apakah kau tahu kalau mereka memiliki sebuah hubungan khusus?" Athena mengatakan itu dengan pelan, begitu berhati - hati.
Jane meraih kopinya, menyesap minuman yang masih panas itu perlahan, namun matanya terus menatap ke arah Athena. "Aku akan mengatakan ini padamu, tapi kau harus menutup mulut. Karena kalau ini sampai terdengar di telinga Thanos, kita bisa celaka." Jane meminta Athena mendekat, wanita itu lantas berbisik di sana. "Aku pernah melihat mereka, Athena. Di sebuah hotel yang berbeda. Bukan hotel yang menewaskan Erica. Saat itu aku sedang berkencan dengan seseorang, di lobi hotel Thanos masuk bersama Erica. Tampaknya mereka sudah memesan sebuah kamar. Karena mereka langsung menuju ke atas. Dan, kau pasti bisa menebak apa yang terjadi di sana, bukan?"
Athena menatap Jane yang tersenyum, wanita itu lantas kembali menyandarkan tubuhnya. "Tapi aku tidak tahu kapan dia keluar dari sana," tegasnya lagi.
"Kau yakin itu mereka?"
Jane mengangguk, "Ya, sekalipun ia memakai topi dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Aku sangat yakin itu Thanos. Thanos itu seperti serigala, kuat dan menakutkan. Hanya wanita yang memiliki keberanian yang bisa berada di sisinya. Kau mengerti maksudku, kan?"
Athena membuang napas panjang, ia lantas bertanya lagi, "Tapi kenapa dia membunuh Erica? Jika Erica menjalin hubungan khusus dengan Thanos. Bukankah itu artinya Thanos dan Erica saling mencintai?"
Jane tertawa saat mendengar perkataan polos dari Athena itu. Wanita itu menggeleng - gelengkan kepalanya. "Kurasa tidak ada cinta di dalam kamus Thanos, Athena. Coba pikirkan, lelaki dingin dan begitu tampan serta memiliki segalanya, mungkinkah ia rela hanya menjalin hubungan dengan satu wanita? Sedangkan Thanos dikelilingi dengan banyak wanita cantik? Perlu kau tahu kalau CEO kita sangat terkenal di kalangan para wanita. Ini bukan hanya karena perusahaan kita yang menjual produk wanita, namun lebih tepatnya karena Thanos. Dia sangat cerdas di dalam meruntuhkan wanita. Yah, itulah kenapa aku pernah mengatakan padamu untuk berhati - hati, bukan?"
Tatapan Jane berubah setelah mengatakan itu, mata wanita itu terlihat begitu tajam dan serius. "Thanos mendekatimu, kan?"
"Apa? Itu...." Athena tergeragap. Bagaimana Jane bisa tahu?
Jane menyunggingkan senyum masam, "Bisa saja kau yang menjadi korban berikutnya, Athena. Sepertinya masuk ke De Aluna adalah sebuah kesalahan bagimu."
"Jane, kau membuatku tidak nyaman," tutur Athena.
"Aku tahu. Tidak akan ada yang nyaman dengan itu. Jadi, apa yang ia tawarkan padamu? Begini, ya, wanita yang diincar Thanos. Anak baru yang tidak tahu apa - apa."
"Kurasa kau salah paham denganku, Jane. Ada lagi yang ingin kutanyakan padamu."
"Ya, tanya saja."
"Kenapa Thanos bisa lolos jika ia pernah menjadi tersangka?"
Jane kembali tersenyum sembari mengunyah makanannya, "Dia memiliki seseorang yang siap mati untuknya, Athena. Cal. Kau pasti tahu di mana posisi lelaki ini, kan?"
"Cal?"
Jane mengangguk, "Ya, Cal akan melakukan apa saja untuk membantu Thanos. Jadi, jangan berpikir untuk bertanya padanya soal ini, oke?"
"Tapi, Jane. Kenapa kau diam kalau tahu banyak hal tentang itu? Kau tidak ingin membantu Erica?"
"Membantu Erica? Aku harus membantu diriku sendiri, Athena. Apa yang akan kudapatkan kalau aku membantu dia? Uang? Jabatan yang lebih tinggi?" Jane tertawa, "Yang ada aku bisa mati. Dia sangat berkuasa, Athena. Benar - benar mengerikan."
"Jadi, kau memilih untuk diam, Jane? Tapi kenapa kau memberitahuku?"
Jane kembali menatap Athena lekat, bola matanya bergerak saat menelusuri wajah cantik Athena. "Karena aku pikir kau bisa saja menjadi incaran Thanos, Athena. Kau cantik dan muda."
"Bagaimana denganmu? Kau juga cantik dan sudah lama menjadi pegawai De Aluna?"
Jane tersenyum tipis, "Aku? Kurasa aku tak perlu menjelaskan soal itu padamu. Apakah kemarin kau bersama Thanos?"
"Kemarin?"
Jane mengangguk mengiyakan. "Sepertinya kau masuk ke dalam mobil Thanos, Athena. Apakah semua baik - baik saja?"
Athena kembali terkejut, wanita itu terlihat menautkan keningnya. Sepertinya tak seorang pun ada di sana saat Thanos menghampirinya sore itu. Tapi, bagaimana Jane bisa tahu?
"Kau melihatnya?" tanya Athena heran.
"Ya. Aku melihatnya, Athena. Apakah dia melakukan sesuatu padamu?"
"Tidak. Aku baik - baik saja. Dia hanya memberi tumpangan," jawab Athena.
"Seorang CEO muda memberi tumpangan kepada pegawai barunya? Terdengar lucu, bukan? Kau bisa bicara denganku, aku sangat terbuka untuk menjadi teman bicara yang baik, hmm?" tukas Jane.
"Tapi memang tidak ada yang terjadi, Jane. Dia hanya memberi tumpangan dan sejujurnya aku juga terkejut dengan itu. Tapi seperti yang kau tahu, aku tak mungkin bisa menolaknya, bukan? Dia seolah tak memberi kita pilihan." Athena mengatakan itu dengan cemas, dan Jane dapat membaca perubahan raut wajah Athena.
"Kau benar. Thanos memang seperti itu. Itulah kenapa dia jarang gagal di setiap proyeknya. Sangat manipulatif, bukan? Aku dengar, dia mewarisi watak ayahnya. Kau pernah bertemu dengan dia?"
Athena menggeleng, "Tidak."
"Baguslah, kau tidak boleh menatap lelaki paruh baya itu. Hanya Cal dan orang - orang kepercayaannya saja yang bisa menatap dan bicara dengannya. Tapi kata mereka, wajahnya cukup tampan meski di usia lanjut. Thanos pasti mewarisi ketampanan ayahnya."
Athena menghela napas panjang, dari cerita dan semua penjelasan Jane, ia bisa menebak seperti apa CEO De Aluna. Dan sialnya ia harus berurusan dengan orang itu.