"Ayo, pulang denganku, Athena." Thanos menghampiri Athena dengan mobilnya. Athena yang tergeragap, tampak begitu bingung di sana.
"Masuk!" perintah Thanos yang telah membuka pintu mobilnya dari dalam.
"Tapi, saya ...." kata Athena ragu.
"Aku tak memiliki banyak waktu untuk menunggu, Athena. Kuantar kau pulang hari ini," tegas Thanos yang tentu saja menolak penolakan dari Athena.
Athena tak memiliki pilihan kecuali menurut, bukankah memang seperti itu? Wanita itu duduk di sisi Thanos, sesuatu yang kembali membuat rasa tak nyaman di dalam dirinya. Kalau tahu begini, Athena akan memilih untuk pergi bersama staf lainnya tadi.
"Tunjukkan jalannya, oke?" suara Thanos memecah kegelisahan wanita itu.
"Apa?"
"Jalan menuju ke rumahmu, Athena. Aku mengantar kau pulang," kata Thanos menegaskan kalimatnya.
"Cal bahkan tidak tahu kau tinggal di mana. Dia tidak menjalankan perintahku dengan benar."
"Eh, itu. Saya yang memintanya. Saya tidak ingin merepotkan Cal. Mungkin sebaiknya saya juga turun di halte bus."
Thanos menoleh cepat, lelaki itu terlihat tak senang dengan jawaban Athena. "Kalau aku bilang akan mengantarmu, itu harus sampai di muka pintu. Kau paham?"
Athena tersenyum tipis, wanita itu menggigit bibir bawahnya. Sungguh kalau bisa ia ingin pergi dan terbang sejauh mungkin dari Thanos.
"Setelah gedung itu, kita belok kanan," ucap Athena ragu, yang semakin gelisah karena Thanos.
"Oke, kurasa aku mengenal area ini. Tapi, kenapa kau memilih untuk tinggal di area ini, Athena? Tempat ini sedikit sepi dan cukup jauh dari swalayan." Thanos memperhatikan sekitar wilayah itu, area yang memang bisa dibilang cukup jauh dari kota.
"Tentu saja karena harga sewanya yang tidak mahal. Lagi pula saya tinggal sendiri, dan sebagian besar waktu habis untuk bekerja. Itu tidak masalah untuk saya," sahut Athena.
"Tapi waktumu habis di jalan, kan? Kau pasti harus berangkat pagi - pagi sekali untuk ke kantor."
"Itu di sana!" Athena menunjuk rumah - rumah mungil berderet di sisi kanan jalan, rumah - rumah itu memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Yang membedakan hanyalah warna cat dindingnya saja.
"Di sini?" Thanos menghentikan mobilnya di depan rumah bercat putih kombinasi biru tua.
"Ya, itu rumah yang saya sewa."
"Hmm, tidak buruk hanya saja terlalu sempit," gumam Thanos dan Athena tak ingin menjawabnya.
"Terima kasih, saya akan masuk ke dalam." Athena membuka pintu mobil itu berniat untuk turun, tapi Thanos menahan lengannya membuat gerakan Athena terhenti.
"Ya?" tanya Athena yang terkejut.
"Kau tidak ingin aku masuk dan menawarkan segelas air?"
"Eh, itu ...."
"Hanya segelas air, Athena. Tidak akan lama." Thanos tersenyum dan Athena lagi - lagi tak bisa menolaknya."
...
Athena duduk di hadapan Thanos, lelaki yang terus menatapnya tanpa berpaling sedikit pun itu. Wanita itu berdeham, mencoba untuk terlihat tenang.
"Maaf, kenapa melihat saya begitu?" Akhirnya Athena memberanikan diri untuk bertanya, ditatap dengan begitu lekat tentu saja sangat mengganggu dirinya.
"Ya, itu karena kau sangat cantik, Athena," kata Thanos begitu saja
"Apa?"
"Seperti yang kau dengar, kurasa aku tidak perlu mengulangnya. Aku menyukai wanita cantik sepertimu, Athena."
"Ya? Maaf, saya tidak mengerti."
Thanos tertawa, lelaki itu meraih gelas tehnya dan meneguknya sedikit. Ia lantas melihat ke sebuah foto keluarga milik Athena, di sisi Athena berdiri anak laki - laki yang kira - kira berusia 15 tahun. "Kau pasti membutuhkan banyak biaya untuk adikmu itu, kan?"
Athena mengikuti pandangan mata Thanos, lalu kembali menatap lelaki itu heran. "Karena itulah saya bekerja. Setidaknya saya bisa membantu sedikit," sahut Athena.
"Aku bisa saja memberikan semua yang dia butuhkan, Athena. Tanpa kau harus bersusah payah." Kali ini tatapan Thanos berubah tajam, tak sedikit pun ia menunjukkan keraguan di mimik wajahnya.
"Maksudnya?" tanya Athena yang mulai curiga dengan perkataan Thanos.
"Jadilah milikku!" Kalimat itu terdengar dengan sangat jelas di telinga Athena, sesuatu yang bahkan bisa membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Apakah lelaki ini sudah tidak waras? Hei, apa yang dia ucapkan tadi? Menjadi miliknya?" Batin Athena seraya menatap ke dalam mata hitam Thanos.
"Mungkin kau terkejut dengan tawaranku ini, Athena. Tapi aku memang bukan orang yang suka bertele - tele. Aku bahkan tak perlu mengucapkan kalimat seperti itu kepada wanita lain."
"Kepada wanita lain?" tanya Athena sembari menautkan alisnya.
Thanos mengangguk, "Ya, mereka datang kepadaku dengan sukarela. Tapi sepertinya kau tidak menyadari itu. Bukankah kau termasuk wanita beruntung yang kupilih? Dengan menjadi milikku, kau bisa melakukan semua yang kau mau. Dan kau akan jauh dari kata kekurangan uang, Athena. Kau tertarik?"
Athena tersenyum tipis, wanita itu lantas menegakkan tubuhnya yang ramping, "Permainan apa ini? Apakah Anda sedang melakukan sebuah transaksi dengan saya?"
Thanos terkekeh, lelaki itu memiringkan kepalanya dan kembali tersenyum lebar, "Aku senang dengan wanita cerdas sepertimu, Athena. Kau cepat membaca kalimatku. Lebih tepatnya aku sedang membangun hubungan mutualisme denganmu, Athena. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan dan kau memberikan semua yang kuminta. Semuanya," tegas Thanos dengan mata berkilat.
Athena tersenyum kecut, apa yang sempat ia ragukan dari cerita Jane tampaknya mulai berubah. Wanita itu menarik napas panjang, bagaimana ia bisa menolak keinginan Thanos itu? Bukankah terdengar sangat mengerikan? Pikiran Athena mulai merambah ke arah tewasnya Erica, jika benar Thanos terlibat maka...
"Kau tidak menjawabku?" Pertanyaan itu membuat Athena terbangun dari pikirannya. Wanita itu berdiri, membuka pintu rumahnya yang tadi tertutup rapat. sekedar untuk berjaga - jaga, bagaimanapun juga ada rasa was - was di dalam diri Athena.
"Saya tidak mengerti hubungan seperti apa yang Anda inginkan. Saya sudah bekerja di perusahaan Anda. Saya memberikan semua kemampuan yang saya bisa untuk turut memajukan perusahaan Anda, dan Anda memberi saya gaji yang setimpal. Saya rasa itu merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan."
"Astaga, kau sedang berpura - pura bodoh atau bagaimana, Athena? Lalu kenapa kau berdiri di sana dan membuka pintu? Kau takut padaku?"
"Eh, ini ...." Athena terkejut, wanita itu lantas melihat ke luar berharap seseorang akan datang dan menemuinya. "Udaranya sedikit sembab, jadi saya membuka pintu." Athena menjawab sekedarnya, dan terlihat dengan jelas Thanos tak menyukai itu.
"Aku bisa memberimu sebuah apartemen mewah kalau kau mau. Tinggal di rumah seperti ini tidak bagus untukmu, Athena. Rumah ini kecil dan tidak layak dihuni. Atau kau juga menginginkan sebuah mobil? Kau tidak perlu menunggu bus setiap kali bekerja. Apakah kau tidak tertarik?"
Athena menelan salivanya, jauh di dalam pikirannya siapa yang akan menolak tawaran gila seperti itu, mungkin kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, bukan?
"Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk berpikir, Athena. Tapi aku tak ingin menunggu terlalu lama, oke? Bukan hanya itu, kau bisa mendapatkan lebih banyak lagi dariku." Thanos berdiri, lelaki itu berjalan dan berhenti tepat di hadapan Athena. Dengan senyum miring Thanos menyentuh rambut panjang Athena sebelum akhirnya ia meninggalkan rumah itu dengan langkah tegapnya.