Duapuluhdelapan

1207 Words
Dan di sini lah Disa berada. Duduk di sebelah lelaki pujaan hatinya, dengan penampilan yang, eum, bagaimana aku mengatakannya, ya. Penampilan yang sangat tidak siap untuk dilihat. Biar ku jelaskan. Rambut Disa yang tergerai selama ia tidur membuatnya kusut tak keruan. Wajahnya yang belum terbasuh air setetes pun membuat sisa-sisa zat yang dikeluarkan tubuh pada bagian sudut mata dan sudut bibir selama tidur pun masih membekas di sana. Belum lagi dengan harum tubuhnya yang belum mandi itu, hm, semerbak sekali. Ya… Maklum, namanya baru bangun tidur. Agaknya memang di dunia ini tidak ada wanita yang baru bangun tidur rambutnya langsung rapih, wajahnya langsung terlihat seperti memakai riasan tipis-tipis dengan kelopak mata sedikit berwarna kecokelatan, pipi merona, dan bibir berwarna merah muda segar. Yang begitu mungkin hanya ada dalam cerita novel atau drama. Hening. Disa tak tahu harus mengatakan apa. Ia malu, sangat malu, dan benar-benar malu. Rasanya ingin berlari sejauh-jauhnya atau menenggelamkan wajahnya sendiri. Sedang Aksa. Lelaki itu duduk menyilangkan kaki sembari bersedekap d**a. Kedua matanya tak henti-henti menelisik tiap sudut penampilan Disa yang tak pernah terlihat oleh siapa pun. "Gadis macam apa yang ketika matahari sudah mulai meninggi, mandi saja belum?" Cetus Aksa. Mendengar hal tersebut Disa hanya mampu menggerutu dalam batin, wajahnya merengut, lelaki ini betul-betul menyebalkan. Aksa terkekeh, meledek. Pun detik selanjutnya lelaki itu bangkit, disusul oleh Disa yang kini menatap ke arah Aksa dengan wajah yang masih merengut. "Sampaikan salamku pada ayahmu, aku pulang dulu." Ujar Aksa. Ayah Disa memang sebelumnya sudah pamit untuk keluar sebentar untuk menemui rekan bisnisnya di kedai kopi ujung jalan sana. Disa hanya mengangguk menanggapi Aksa atas pamitnya. "Ah, iya," ucap Aksa, ketika baru saja kakinya mengambil langkah dua kali menuju pintu. "Jam 4 sore, mama meminta datang. Dan bawa bukumu, jangan sia-siakan kesempatan ini hanya untuk berkunjung, kau juga mesti belajar." Lanjut Aksa. Mendengar hal itu, sontak raut wajah Disa seketika berubah. Binar matanya terpancar. "Benarkah??" Tanyanya antusias. Aksa menghela napas, "kalau tidak percaya, yasudah." "Eh? Iya, iya. Aku percaya, aku percaya padamu!" Pun setelahnya, Aksa kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kediaman Disa. Aksa berjalan sudah cukup jauh, semakin jauh dan terus menjauh. Sedang Disa, gadis itu buru-buru menutup pintu, dan... "AAAAAAA!!!" Teriakan histerisnya yang begitu keras tentu berbunyi sangat nyaring di dalam rumah dua lantai yang mana kini hanya ada ia seorang. Tak hanya itu, gadis itu melompat-lompat kegirangan, sebelum pada akhirnya ia berlari kecil menuju kamarnya. "Ah! Indahnya hari ini!!" Ujar Disa senang, seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu menatap langit-langit, menerawang jauh entah kemana sebelum pada akhirnya ia mendengar dering ponsel yang tanpa sepengetahuannya, sudah berdering sejak tadi. "Kak Rio?" Keningnya mengernyit. Ada apa kiranya, setelah seminggu belakangan, kakak kelasnya yang telah menyandang status alumni itu tiba-tiba meneleponnya. "Halo?" Pun di seberang sana, senyum Rio akhirnya terlukis. Setelah beberapa kali panggilan teleponnya tak kunjung bersambut, pun pada akhirnya mendapatkan jawaban juga. "Hai! Bagaimana kabarmu?" Tanya Rio bersemangat. "Aku baik. Kakak, bagaimana? Bagaimana dengan kuliahmu?" Tanya Disa balik. "Ya... Begitu lah," Jawab Rio sambil terkekeh. "Biar ku tebak, kau pasti baru bangun tidur, iya, kan?" "Tidak, tadi aku kedatangan tamu, dan ponselku tertinggal ke kamar. Memangnya ada apa?" "Ku pikir kau baru bangun. Apa hari ini kau sibuk?" "Kau tahu aku selalu sibuk di hari minggu, bukan?" Kata Disa sambil terkekeh. Diikuti oleh Rio. Lelaki itu memang sudah paham sekali akan maksud dari kalimat Disa barusan. "Ya... Ya... Kau selalu sibuk tidur di hari minggu." "Kau sudah hapal rupanya!" "Apa kau tidak merindukanku? Tenang, aku tidak akan merenggut waktu tidurmu lebih dari satu jam." "Di kedai biasa?" "Ya." "Baiklah." Begitulah isi janji temu mereka. Disa lantas segera bangkit dari rebahnya dan meraih handuk berwarna putih miliknya itu sebelum pada akhirnya mengurung diri di dalam kamar mandi. * Dengan berbalut kaus putih polos dan celana berwarna merah muda pendek yang berada satu jengkal di atas lutut, tak lupa totebag hitamnya untuk membawa buku pelajaran. Rencananya, setelah bertemu Rio, Disa akan berlanjut ke rumah Rio seperti yang lelaki itu katakan sebelumnya. "Kau mau kemana, Disa?" Tanya sang ayah yang entah sejak kapan sudah berada kembali di rumah. "Bertemu teman, setelah itu ke rumah Aksa karena mamanya memintaku kesana, sekalian belajar bersama dengan Aksa." Jelas Disa. "Aksa yang tadi kemari? Anak itu sangat sopan, ya. Yasudah kalau begitu, hati-hati dan jangan pulang terlalu larut." Sopan? Seorang Aksa, sopan? Astaga. Andai ayah Disa tahu bagaimana kelakuan lelaki itu di sekolah. "Ketimbang temanmu yang kerap mengantar-jemput itu, siapa namanya? Ayah lebih menyukai Aksa. Dia berani datang kemari bahkan untuk kedatangan pertama kalinya dia tidak terlihat canggung." Ujar sang ayah. "Ya... Aku juga memang lebih menyukai Aksa." "Apa?" Sial. Seharusnya kalimat itu hanya diucapkannya dalam batin, tapi kenapa justru Disa malah melafalkannya? Astaga, berharap ayahnya tidak mendengar apa yang baru saja tak sengaja ia ucapkan. "Tidak, bukan apa-apa. Aku pergi dulu, ya, Yah. Sampai jumpa!" Pamitnya dan segera berlari keluar rumah. * "Mau pesan apa, Mas?" "Nanti saja, Mbak. Saya menunggu teman dulu." "Baik kalau begitu." Rio baru saja tiba, lelaki itu memilih kursi di sudut kedai dekat jendela. Sedikit agak jauh dari keramaian, tapi ia juga tetap bisa memantau kehadiran Disa dari sini. Tak butuh waktu lama, yang dinantinya sejak tadi pun akhirnya tiba. Disa berjalan di sisi kedai, sebelum akhirnya tiba di depan pintu dan mendorongnya, membawa kaki melangkah masuk. Gadis itu menangkap seorang lelaki tengah melambaikan tangan ke arahnya. Itu Rio. Langkahnya dipacu lebih cepat dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali Rio melihat senyum itu. Senyum yang bisa meredakan segala amarah lagi keputus-asaan. "Sudah lama?" Tanya Disa. Gadis itu menarik kursi di hadapan Rio. Pun Rio menggeleng, "tidak. Mau pesan apa?" "Moccachino." "Baik, tuan putri. Tunggu di sini sebentar." Sementara Rio menuju barista untuk memesankan minuman untuk mereka, Disa sibuk mengatur totebagnya yang cukup berat itu. Semula ia meletakkannya di atas meja, tapi agaknya terlalu makan tempat. Kemudian ia mencoba menaruhnya di kursi, di belakang tubuhnya, tapi takut berujung jatuh dan bukunya berserakan di lantai. Ingin dipangku saja, tapi lumayan berat juga kalau lama-lama. "Kau bawa buku?" Tanya Rio yang baru saja kembali. "Ah, iya. Sepulang dari sini aku akan ke rumah Aksa untuk belajar bersama." Penjelasan Disa cukup membuat kening Rio mengernyit dan mencuatkan beragam pertanyaan dalam pikirannya. Benar juga, Aksa. Lelaki itu penuh tanda tanya bagi Rio akan segala tindak tanduknya. "Aksa?" Disa mengangguk. "Belajar bersama? Hanya berdua?" Lagi, Disa memberi anggukan. "Jadi, wali kelasku meminta beberapa murid unggulan di kelas untuk menjadi teman belajar bagi murid-murid yang terbelakang sepertiku ini." Kini giliran Rio yang mengangguk. Begitu rupanya. Kendati seperti itu, tetap saja masih ada yang terasa mengganjal bagi Rio, entah apa, Rio sendiri masih belum sepenuhnya mengerti. "Ini pesanannya, Mas, Mbak." "Terima kasih!" Rio dan Disa menjawab serentak. Setelah sang pelayan meninggalkan keduanya, Disa menyeruput secangkir moccachino yang dipesannya barusan sambil melirik arloji hitam yang melingkar di tangan kirinya. "Ah, benar. Jam tiga aku harus pergi, ya, Kak. Kau ingatkan, kalau tak lebih dari satu jam?" Ujar Disa. Rio mengulas senyum sembari mengangguk. "Aku harus langsung ke rumah Aksa. Sebetulnya ia memintaku untuk datang jam empat sore, tapi aku akan berangkat ke sana satu jam lebih awal." Sial. Kenapa begitu sulit bagi Rio untuk meminta waktu satu jam, sedang untuk Aksa dia memberinya dengan sukarela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD