duapuluhtiga

1161 Words
Satu hari pasca festival, Rita dibuat bingung dengan adegan yang ada di hadapannya ini. Nana, dan Disa, terlihat berbincang dengan begitu akrabnya seolah tak ada yang terjadi sebelumnya. Padahal jelas betul ingatan Rita akan apa yang terjadi kemarin. Pernyataan cinta, dan kaburnya Nana, itu betul-betul terjadi kemarin. Tapi, tapi, kenapa sekarang keduanya begitu akrab? Ah sudahlah, Rita pusing sendiri dibuatnya. * "Hari ini aku tidak bisa ikut rapat OSIS." Ucap Rio pada rekan sekelasnya yang sesama bergabung dalam OSIS. "Aih, pasti kau ada kencan 'kan?" Ledek rekannya itu. "Akhirnya… Ternyata Rio masih suka perempuan!" Sambar rekannya yang lain. "Sialan kau!" Balas Rio sambil terkekeh. Pun setelahnya Rio terdiam, pandangannya seolah fokus pada satu titik namun entah kemana, pun terkesan begitu sulit diartikan. * Dering yang paling ditunggu-tunggu oleh para siswa semasa sekolah pun akhirnya berbunyi, yakni dering bel pulang. Hampir di setiap kelas, ketika bel mulai berbunyi nyaring, maka nyaris seluruh siswa akan berseru kegirangan. Bahkan bagi segelintir siswa, ketika baru saja mereka menginjakkan kaki di area sekolah, mereka sudah menantikan bel pulang berbunyi. Bahkan di kepala mereka sudah terpampang jelas sebaris tanya "kapan pulang, sih?" Tak seperti biasanya, kali ini Rio langsung merapikan buku-bukunya dengan begitu cepat dan bergegas meninggalkan kelas terburu-buru. "Sabar, Rio. Bel baru saja berbunyi, mungkin saja Disa juga belum keluar!" Ledek rekan sekelasnya, dan beberapa rekannya yang lain juga ikut meledek Rio. Sosoknya hanya memberi simpulan senyum sebagai tanggapan. Rio memacu langkahnya begitu cepat menuju halaman parkir, setelah merogoh saku celana tempat dimana kunci motornya tersimpan, Rio lantas segera menunggangi kuda besinya itu. Tak lupa ia mengenakan helm untuk melindungi kepalanya, barulah Rio menyalakan deru mesin dan membawanya berlari meninggalkan sekolah, membelah jalanan inti kota, beradu cepat dengan kendaraan-kendaraan lain yang berlalu lalang. * "Aku duluan, ya!" Seru Disa kepada Nana dan Rita yang masih merapikan alat tulis. "Pasti kau ada kencan!" Tebak salah seorang teman sekelas Disa. Adapun Disa yang hanya melempar senyum, dan pada detik selanjutnya ia melempar tatapannya pada Nana, membuat mereka saling beradu pandang dan seolah berbicara melalui sorotnya masing-masing. Rita tahu itu, ia tahu kalau ada yang ia tidak tahu di sini. Sementara dari sisi lain, tanpa ada satu orang pun yang menyadari kalau ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah Disa. Entah apa makna di balik tatapan itu, yang jelas, mata itu benar-benar seolah terpaku pada Disa, bahkan sampai mengiringi langkah kaki Disa meninggalkan kelas. * Berjam-jam sudah perjalanan Rio. Dan di sini lah lelaki itu sekarang. Bersimpuh di pangkuan sang ibunda. Air matanya tertahan, kedua tangannya menggenggam erat tangan wanita yang menjadi tempat untuk pulangnya itu. "Bu... Maafkan Rio, Rio tidak bisa membawa gadis itu kemari..." Lirih Rio. "Jadi begini, ya, Bu, rasanya cinta tak bersambut." Tambahnya. * "Kenapa? Kenapa mendadak berubah pikiran?" Tanya Rio, kepada Disa yang kini berada di hadapannya, mengembalikan buket bunga yang semula ia berikan sebagai tanda ungkapan perasaannya. Keduanya memilih sudut di bawah tangga untuk membicarakan ini, hal ini dikarenakan tempatnya yang cukup sepi dan jarang sekali ada yang melintas, jadi perbincangan mereka tak akan terdengar oleh siapa pun. Disa tertunduk, menatap ujung sepatunya. Ada sedikit perasaan tidak enak hati dan tidak tega, namun inilah yang harus ia lakukan. "Itu tidak pernah berubah," Sesaat kemudian, Disa menatap wajah Rio. Menelisik jauh ke dalam kedua mata yang selalu menatapnya dengan teduh. "Aku hanya berpura-pura menerimanya, karena kupikir kau akan malu jika ku tolak di depan banyak orang." Boom. Rio merasa seperti sebuah pisau baru saja mendarat tepat di jantungnya. Sakit, ini benar-benar jauh lebih menyakitkan. Ketika kau sudah dibuat terbang jauh ke angkasa sana, kemudian dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Mustahil jika kau masih baik-baik saja dalam keadaan seperti itu. "Jawabanku adalah, selalu tidak," kata Disa lagi. Rio betul-betul tak bisa mengatakan apa pun lagi. Lidahnya terlalu kelu. Lelaki itu hanya mampu menundukkan kepala, menyembunyikan air mata yang sudah berada di pelupuk. "Tolong jangan melakukan hal memalukan seperti ini lagi. Terima kasih sudah jujur akan perasaanmu, maaf tapi aku tidak bisa berkata 'iya'." Tambah Disa. Dengan setengah keberanian yang tersisa, Rio mencoba untuk menatap mata gadis di depannya itu. "Apa... ada orang lain yang kau sukai?" Disa mengangguk atas pertanyaan tersebut. "Ya, ada." Lagi. Rio merasa pisau itu menusuk semakin dalam. Ini benar-benar gila. Bagaimana ia bisa dengan nekadnya dan dengan begitu yakinnya kalau Disa juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Dan hanya selang beberapa menit, Rio mendapat jawaban yang sebenar-benarnya jawaban, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah, penolakan. Nana, yang kebetulan baru saja kembali dari pelarian dirinya yang memilih bersembunyi di atap, tak sengaja menyaksikan bagaimana Disa menolak Rio dengan tegas. Rio menghela napas, kendati sekarang perasaannya sedang tak keruan dan hatinya hancur menjadi berkeping, namun ia tetap memaksakan simpulan senyum agar terlukis di wajahnya. "Baiklah, terima kasih sudah jujur, Disa. Kalau begitu, aku permisi," pamit Rio, kakinya terasa sedikit berat untuk meninggalkan gadis itu. Entah bagaimana kelanjutannya, Rio belum tahu apa yang harus ia lakukan. "Ah, iya. Satu lagi. Untuk biaya administrasi rumah sakit, aku tidak pernah membayarnya. Karena saat itu ayahmu sudah datang, jadi aku langsung kembali ke sekolah." Ucap Rio lagi. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menyempatkan diri untuk berbalik sejenak, sebelum pada akhirnya kembali berlalu. Rio sudah tak terlihat dari sana. Sedang Disa masih geming di tempatnya. Lega rasanya, meskipun jujur ini juga sedikit menyakitkan bagi Disa sebab mesti melukai perasaan manusia lain. Tapi, ia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, ia tidak bisa berpura-pura cinta padahal hatinya dengan lantang berkata tidak, ia tidak bisa berada dalam suatu hubungan yang tidak diinginkannya. Lagi pula, bukankah hal itu akan semakin menyakiti Rio nantinya? Lebih baik merasakan sakit di awal, daripada sudah terlampau jauh, rasanya pasti akan berkali-kali lipat lebih menyakitkan. "Disa...." Gadis itu terkejut. Ia sampai sedikit tersentak begitu mendengar namanya dipanggil. "Nana?" Tanya Disa bingung. "Sejak kapan kau di sini? Apa kau...." "Aku mendengar semuanya." Jelas Nana. Disa hanya bisa bungkam. Ia pikir tidak akan ada seorang pun yang berada di sini dan mendengar pembicaraan Disa dengan Rio. "Kumohon jangan beritahu yang lain..." Ucap Disa. "Kenapa?" Kening Nana mengernyit. "Aku takut kak Rio malu dibuatnya, jadi... Biarkan saja dulu begini, biarkan saja dulu orang lain berspekulasi kalau aku dan kak Rio adalah sepasang kekasih..." Kata Disa. "Disa, maafkan aku." Kini giliran kening Disa yang mengernyit. "Maaf atas apa?" "Atas kesalahpahamanku yang tidak hanya sekali." Disa masih belum juga mengerti apa yang Nana bicarakan. "Sejujurnya aku... Menyukai Rio. Aku pernah menyatakan perasaanku padanya, tapi dia bilang dia menyukai orang lain. Dan kau orangnya." Jelas Nana. "Maafkan aku, Nana, aku... Aku tidak bermaksud...." "Akulah yang sepantasnya minta maaf Disa, kau tidak bersalah. Ini semua tidak akan terjadi kalau saja aku bisa lebih dewasa menyikapi ini." Mata Nana berkaca tatkala harus bertemu tatap dengan mata Disa. Pun pada detik itulah, keduanya kembali membaik, lebih tepatnya Nana. Nana sudah benar-benar terbebas dari pikiran-pikiran yang mengganggunya belakangan ini. Dan persahabatan mereka pun, dapat kembali seperti semula tanpa drama. "Oh, jadi begitu ceritanya!" Seru Rita. Atas izin Disa, Nana baru saja memberitahu kejadian yang sebenarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD