Tigapuluh

1249 Words
Hampir setiap hari, dan kian lama kian sering Disa menyambangi kediaman Aksa. Sebab memang Aksa sendiri yang memintanya untuk datang dengan dalih ibunya lah yang menyuruh gadis itu untuk berkunjung. Juga kesempatan belajar bersama menjadikan keduanya semakin sering menghabiskan waktu berdua. Adapun keluarga Aksa yang semakin mengenal sosok Disa, begitu juga sebaliknya. Dan benar saja dugaan Disa, Aksa adalah satu-satunya anggota keluarga dengan karakter yang berbeda. Padahal ayah, ibu, dan adiknya memiliki kepribadian yang begitu hangat. "Disaa, ini sudah ku buatkan camilan untuk kalian berdua agar semakin semangat belajar!" Seru ibu Aksa yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar Aksa, membawa nampan berisi beberapa potong kue kering dan dua gelas s**u hangat. "Aku sudah lama sekali ingin membuatkan camilan sebagai teman anakku belajar, tapi kau tahu, Disa? Pria itu sama sekali tidak pernah belajar sejak dia duduk di bangku sekolah dasar." Kata ibu Aksa, sembari melirik ke arah putra sulungnya. "Benarkah?" Disa terkejut bukan main, bagaimana bisa seseorang yang selalu mendapatkan peringkat pertama justru tidak pernah belajar? "Aku bisa langsung mengingatnya setelah aku membacanya sekali. Jadi, untuk apa aku belajar? Belajar hanya untuk orang-orang bodoh sepertimu." Ucap Aksa dengan segala keangkuhannya. Entah ia betulan bermaksud angkuh atau hanya ingin meledek Disa, sebab ia hanya menunjukkan sisi angkuhnya pada Disa. "Cih!" Desis Disa sebal. "Baiklah kalau begitu, silakan lanjutkan belajar kalian. Sampai nanti!" Pamit ibu Aksa, yang kembali ditelan pintu kamar. "Baca itu hari ini dan tidurlah lebih awal! Karna besok ujian." Kata Aksa sembari melempar kertas berisi barisan soal yang baru saja ia cetak pada Disa. "Apa ini?" Tanya gadis itu. "Soal ujian yang mungkin keluar." Jawabnya. Memang, ujian percobaan pertama akan dilakukan besok pagi. Sebelum ujian kelulusan yang hanya tinggal satu bulan lagi, para murid di tingkat akhir akan melaksanakan ujian percobaan setidaknya sebanyak tiga kali, sebagai latihan agar mereka terbiasa dengan soal-soal yang kemungkinan akan keluar saat ujian kelulusan nanti. "Kapan kau membuat ini semua? Aku sangat tersentuh!" Puji Disa. "Aku menyuruhmu untuk membaca, berhenti bicara omong kosong!" * Hari itu pun tiba. Tidak seperti biasanya, Disa terlihat sedikit percaya diri kali ini. "Aksa!" Panggil Disa, ketika lelaki yang sedari tadi berputar di kepalanya dan berhasil membuat Disa percaya diri pada ujian kali ini tertangkap pandangan matanya. Disa memacu laju langkahnya, gadis itu berlari kecil untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Aksa. Tepat setelah berada di sebelahnya, Disa memberi Aksa lemparan senyum. Namun, bukan Aksa namanya kalau malah memberi tatapan sinis dan mengabaikan Disa. Keduanya melangkah dalam hening. Aksa yang menatap lurus ke depan, dan Disa yang tentu curi-curi pandang pada lelaki di sebelahnya. Hingga tibalah mereka di depan pintu kelas. Keduanya harus berpisah sebab tempat duduk mereka yang memang berjauhan. "Semoga berhasil." Ucap Aksa dingin, bahkan tanpa melirik Disa sama sekali. Sementara Disa seketika menghentikan langkahnya, tersenyum malu-malu dan mulai merasakan wajahnya yang memanas, pasti sebentar lagi akan bersemu merah. * Pengawas ujian mulai membagikan soal ujian kepada para murid satu persatu. Disa sudah bersiap di mejanya dengan alat tulis yang tentu telah ia persiapkan dari semalam. "Terima kasih!" Ucap Disa. Gadis itu langsung membaca baris demi baris soal yang ia terima, pun pada detik selanjutnya, Disa mengukir senyuman pada wajahnya. Di sudut lain, Aksa dengan kedua matanya yang memerhatikan Disa dari kejauhan, entah sadar atau tidak, ikut menarik dua garis ujung bibirnya melengkungkan senyuman. * Tak butuh waktu lama untuk menunggu hasil ujian keluar. Dalam kurun waktu satu hari, murid-murid sudah dapat melihat hasilnya yang terpampang pada mading sekolah. Buru-buru Disa berlari menuju kerumunan di depan mading. "Permisi! Permisi!" Gadis itu menyelinap, selip sana selip sini hingga akhirnya ia berada di bagian paling depan, bagian terdekat dengan mading. Senyumnya terlukis dengan lebar. Raut kebahagiaan tak lagi dapat ia sembunyikan. Sampai-sampai ia melompat kecil kegirangan. Di sisi lain, pun Aksa menyelinap di antara kerumunan, senyum tipisnya terlukis kala membaca sebaris nama di mading sana. Setelahnya lelaki itu pun menepi, kembali menjauhi mading yang masih dikerubungi banyak orang. Begitu juga dengan Disa. Sesaat setelah gadis itu berbalik, matanya tepat berlabuh pada sosok yang memang hendak ia cari keberadaannya. "Aksa!" Panggil Disa sembari melambaikan tangan. Gadis itu berlari dengan riang ke arah lelaki yang baru saja menghentikan langkahnya. "Kau mendapat peringkat satu dengan nilai yang sempurna lagi, selamat!" Ucap Disa. "Tentu saja. Aku belajar untuk yang pertama kalinya dalam hidupku. Bagaimana aku tidak mendapat nilai yang sempurna?" Balas Aksa dingin. Disa mendengus. "Kau juga, selamat." Ucap Aksa. "Hah?" Disa kebingungan mendengarnya. "Kau belum melihatnya?" "Aku?" Tanya Disa, yang berbalas anggukan dari Aksa. "Aku? AKU??" Gadis itu langsung kembali berlari ke arah mading, menerjang kerumunan yang masih memadati mading. Mencari namanya dari deretan nama ratusan murid yang terpampang. 20. Disa Matanya berbinar. Gadis itu masih tidak menyangka kalau dirinya mampu melonjak naik ke 20 besar dari ratusan murid di angkatannya. Pun ia kembali membalikkan badan, menatap Aksa yang masih geming di tempatnya. Kembali berlari ke arah lelaki itu dengan mata yang begitu berbinar. "Kau lihat? Aku melakukannya!" Ucap Disa. Gadis itu terdiam cukup lama, tertunduk, masih di dalam euforia kebahagiaannya. Sebelum pada akhirnya, entah disadari atau tidak, ia meraih tangan Aksa dengan kedua tangannya. Menggenggamnya dengan begitu erat. "Terima kasih! Terima kasih banyak! Ini semua berkatmu! Sebagian besar soal yang kau prediksi muncul dalam ujian kemarin!" Celotehnya sambil terus menggenggam tangan Aksa erat-erat dan melompat kegirangan. Sedang Aksa, begitu tangannya diraih oleh gadis di hadapannya, matanya langsung terbelalak. "A-apa yang kau lakukan?!" Bentak Aksa yang segera melepaskan genggaman Disa, dan berlalu begitu saja meninggalkan gadis itu yang masih mematung. Namun, tak berselang lama. Senyum Disa kembali merekah. "Aksa! Terima kasih! Terima kasih banyak! Terima kasih!!" Teriaknya. Gadis itu melompat-lompat girang sambil melambaikan tangannya pada punggung Aksa yang perlahan menjauh. Lelaki itu tak menoleh sama sekali, bahkan langkahnya terus melaju. Namun di balik itu, ia melukiskan sebuah senyum. Senyum yang nampak tersirat maksud mendalam. Entah apa, hanya Aksa yang tahu. * Seperti tahun-tahun sebelumnya. Festival sekolah akan selalu diadakan untuk melepas angkatan akhir yang sebentar lagi meninggalkan sekolah ini. Di tahun ini, panitia mengadakan beragam perlombaan antar kelas. Begini sistemnya, setiap kelas terbagi menjadi dua tim, mereka bertanding untuk mendapatkan pemenang yang akan maju melawan perwakilan kelas lain. "Aksa, kau harus ikut!" Paksa lelaki yang menjadi teman sekelas Aksa. Entah ia sudah berapa kali memaksa lelaki itu. "Ayolah, Aksa! Sekali ini saja!" Pun Aksa menghela napasnya. Dengan malas ia pun bangkit, membawa langkahnya menuju lapangan yang berarti ia akan berpartisipasi sesuai ajakan temannya itu. Acara dimulai. Lomba demi lomba pun telah dilaksanakan. Aksa dan Disa berada dalam tim yang berbeda. Hingga tiba lah mereka pada perlombaan estafet. Yang mana mereka harus berlari membawa sebuah tongkat dan memberikannya pada teman tim yang berada di belakang, begitu seterusnya sampai siapa yang paling cepat mencapai finish. Aksa menjadi pelari paling akhir, hingga ia lah yang menjadi tumpuan harapan bagi timnya. Pritttt Peluit panjang telah terdengar. Pelari pertama pun mulai melaju membawa tongkat untuk diserahkan pada pelari selanjutnya. Begitu seterusnya. Tiba lah giliran Disa, gadis itu bertugas untuk memberikan tongkat pada pelari terakhir. Di sana, di sebelah Aksa, teman satu timnya sudah mengulurkan tangan, bersiap untuk menyambut tongkat dari Disa. "Sedikit lagi, aku pasti bisa! Lihat saja, Aksa, tim ku pasti akan memenangkannya!" Tekad Disa dalam hati. Namun, Disa bukanlah Disa kalau tidak ceroboh. Tepat ketika beberapa langkah lagi, pandangan Disa mengabur. Gadis itu malah melihat sosok Aksa membaur dengan teman satu timnya. Ia melihat Aksa yang mengulurkan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Hal ini berhasil mengganggu konsentrasinya. Fokusnya pun hilang. Sampai ia melewati teman satu timnya dan malah menyerahkan tongkat itu pada Aksa. "Bodoh!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD