Tigapuluhdua: an apple

1014 Words
Bertemankan secangkir teh hangat, Aksa termangu di tepian jendela kamarnya. Entah apa yang sedang menjamah pikirannya, sampai-sampai lelaki itu hanya berdiam diri, membiarkan angin malam menyapa kulitnya. Pun dalam heningnya, terlihat jelas kalau Aksa tengah merenungkan akan sesuatu saat ini. Tok Tok "Ya, masuk." Ucapnya ketika mendengar pintu kamarnya terketuk dari luar. "Kau belum tidur ternyata. Aku membawakan beberapa potong apel untukmu." Ucap sang ibu, yang datang bersama sepiring buah apel yang telah dipotong-potong. "Apel?" Aksa melempar tanya dengan penuh rasa terkejut. "Ya, apel. Kenapa? Kau suka, bukan?" Tanya ibunya yang sedikit keheranan melihat reaksi putra sulungnya yang tak biasa. Aksa memberi anggukan, "tolong letakkan saja di meja, nanti aku akan memakannya. Terima kasih, Bu." Ucap Aksa. "Baiklah." Kata sang ibu seraya meletakkan piring yang sengaja ia bawa itu sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kamar putranya. Apel. Aksa menghela napasnya, tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu yang akhir-akhir ini tak pernah lagi ia jumpai. Sepotong apel, dan makanan lainnya yang setiap pagi berada di atas mejanya. Tiga tahun sudah potongan apel menyambut pagi Aksa. Namun, tak seperti biasanya, belakangan ini ia tak pernah lagi mendapati hal itu di atas mejanya. Apa dia sudah lelah? Atau, Menang ia benar sudah berpacaran? Aksa menengadah, seolah memohon kepada langit agar memberikan jawabannya. "Akhir-akhir ini, kenapa debaranku sering tak keruan begini?" Tanya Aksa entah pada siapa. Lelaki itu memegang dadanya sendiri, merasakan debaran yang begitu kuat yang belakangan ini kerap terjadi. Terutama ketika terlintas satu nama dalam kepalanya, Disa. Ya, gadis yang selalu memberinya sepotong apel di pagi hari. Bicara tentang Disa, Aksa jadi teringat kapan terakhir kali gadis itu bertandang ke rumahnya. Yakni satu hari menjelang ujian percobaan pertama. Aksa ingat betul apa kalimat yang terakhir kali ia ucapkan, "Kau bisa pelajari semua yang telah ku jelaskan, dan pelajari soal-soal prediksi yang kuberikan. Maka kau tak perlu lagi repot-repot datang ke rumahku untuk belajar." Nyatanya, ada sebait sesal yang menelusup dalam batin Aksa sesaat setelah ia mengucapkan kata-kata itu. Namun apa daya, kalimatnya tak lagi bisa ditarik. Dan mungkin itu pula sebabnya yang menjadikan gadis itu tak lagi berkunjung ke kediamannya. Atau, Ia sedang sibuk bersama pacarnya? Seolah tersadar akan sesuatu, Aksa lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Apa yang aku pikirkan?" Ujarnya. Lelaki itu lantas meletakkan cangkir tehnya yang masih tersisa sedikit dan menutup jendelanya sebelum merebahkan diri di atas kasur. * Hari ini, adalah hari minggu. Hari bermalas-malasan. Namun tak seperti biasanya, kali ini, di minggu pagi Disa sudah bersiap di depan cermin. Merapikan rambutnya, dan memoles sedikit pewarna bibir sebelum akhirnya beranjak meninggalkan kamar. "Ayah, aku pergi dulu! Aku tak akan lama!" Pamitnya, pada sang ayah yang tengah menikmati secangkir kopi hitam. "Bersama pria itu lagi?" Tanya sang ayah. "Eum..." Disa mengangguk ragu. Pasalnya, sang ayah memang sudah beberapa kali mengungkapkan rasa ke-tidaksuka-annya terhadap Rio. Memang tidak secara gamblang, tapi Disa paham akan hal itu. "Lain kali, ajak dia kemari. Jangan hanya berani mengajakmu bertemu di luar terus." Ujar sang ayah. Sementara di tempat lain. Aksa baru saja turun dari bus. Lelaki itu sempat menyimpulkan senyum tipis kala dirinya melirik arloji hitam yang melingkar di tangan kirinya. Dengan membawa sebuah bingkisan, Aksa melangkah mantap di bawah sinar matahari pagi yang bersinar cerah secerah suasana hatinya kali ini. Entah apa yang terjadi pada dirinya, bagi Aksa, ini kali pertama dalam hidupnya ia merasakan hal aneh seperti ini. Disa baru saja keluar dari rumahnya, membawa kakinya melangkah menuju jalan ke arah kanan. Sedang Aksa, lelaki itu muncul dari arah kiri, yang mana keduanya seolah bermain kucing-kucingan, tak bisa menemukan satu sama lain. Tok tok Aksa mengetuk pintu kediaman Disa. Lagi-lagi senyum tipisnya sempat terlukis sesaat sebelum ia mengetuk pintu. "Eh, Nak Aksa. Ayo masuk!" Sambut seorang lelaki paruh baya yang baru saja membukakan pintu, tak lain lelaki itu ialah ayah Disa. "Disa nya ada, Om?" Tanya Aksa. "Disa baru saja keluar tadi. Ya... Paling bertemu temannya yang itu." Ucap ayah Disa. "Nana dan Rita?" "Bukan. Lelaki yang dulu seniornya itu. Padahal saya tidak suka dengan anak itu, tiap antar pulang atau ajak Disa keluar, tidak pernah pamit atau izin dulu pada saya. Dari dulu selalu begitu," jelasnya. Mendengar hal itu, Aksa langsung tertunduk. Padahal ia pikir, Disa masih tidur seperti kali pertama dirinya ke sini. Nyatanya, seorang Disa bisa bangun pagi demi menemui lelaki itu. "Ayo, Nak Aksa, mari masuk! Kita berbincang di dalam." "Tidak usah repot-repot, Om. Saya langsung pulang saja. Dan, ini, dari mamah." Kata Aksa sembari memberikan bingkisan yang ia bawa. "Ah, terima kasih banyak! Sepertinya lain kali saya harus bertemu dengan orangtuamu karena mereka sudah begitu baik dengan putri saya." Ujar ayah Disa. "Tentu." * Aksa beringsut naik ke atas ranjangnya setelah meletakkan secangkir teh yang menemaninya malam ini. Lelaki itu mencoba memejamkan matanya, namun, agaknya malam sedang tak mengizinkannya untuk terlelap. Alhasil ia terjaga sampai mentari mulai mengintip. "Sial!" Umpatnya. Astaga, apa dia sadar kalau dirinya baru saja mengawali hari dengan umpatan? Aksa benci isi pikirannya sepanjang malam tadi. Pun sesaat setelah lelaki itu bangkit dari rebahnya, ia melihat sepiring apel yang diberikan sang ibu semalam. Buru-buru lelaki itu keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dengan begitu tergesa dan bergerak menuju dapur. "Ma, apa masih ada apel yang tersisa?" Tanyanya. "Ya, kemarin papahmu beli lumayan banyak. Ada di sebelah sana." Jawab ibu Aksa yang tengah sibuk menyiapkan sarapan sembari menunjuk ke salah satu sudut di dapurnya. Lantas, Aksa segera meraih sebuah kantung belanja yang tergantung, memasukkan beberapa apel ke dalamnya sampai membuat sang ibu kebingungan. Tanpa banyak kata lagi, Aksa bergegas membersihkan diri, berganti pakaian dan merapikan rambutnya. "Aku pergi dulu." Pamitnya, sambil membawa bingkisan apel yang telah ia siapkan sebelumnya tadi. "Kau mau kemana? Sarapan dulu!" Ujar sang ibu. "Tidak perlu, aku buru-buru. Sampai jumpa." Aksa menghilang di balik pintu. Meninggalkan tiga anggota keluarganya yang masih meratapi kepergiannya bingung. "Ini aneh..." Ujar sang ayah. "Entah lah, dia membawa banyak apel dalam bingkisannya." Timpal sang ibu. "Mama, bukankah Mama bilang, Kak Disa sangat menyukai apel?" Sambar Arkan. Pun seketika mereka bertiga saling menatap satu sama lain dan menyimpulkan senyuman penuh makna, seolah memiliki pikiran dengan arah yang sama. * "Lama tidak bertemu, Disa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD