"Terima kasih, Kak!" Seru Disa, sembari melepas helm yang melindungi kepalanya dan memberikannya pada lelaki yang baru saja mengantarnya pulang itu.
"Mau mampir dulu?" Disa menawarkan. Namun, lelaki itu menyambutnya dengan gelengan kepala.
"Lain kali." Selalu itu yang keluar dari mulutnya. Padahal, bukan hanya sekali dua kali ia mengantar Disa sampai ke depan rumahnya. Semasa sekolah pun ia sempat beberapa kali mengantar gadis itu pulang. Ya, dia Rio. Kakak kelas Disa yang kini sudah menjelma menjadi mahasiswa. Hari ini Rio menyempatkan diri di tengah kehidupan mahasiswanya yang hectic itu untuk menjemput Disa pulang sekolah, dan mengajaknya bercengkrama sebentar di kedai kopi tak jauh dari kediaman Disa.
Hubungan keduanya memang telah membaik setelah momen pengakuan cinta yang penuh romansa namun justru berujung penolakan itu.
Hari itu,
Hari dimana menjadi hari terakhir bagi Rio menginjakkan kaki di sekolah dan mengenakan seragam putih abu-abunya. Rio menemui Disa, yang sudah beberapa waktu belakangan diketahui keduanya tak pernah lagi terlibat perbincangan ataupun sekadar bertegur sapa. Rio lah yang dengan jelas membentangkan jarak di antara mereka, membentuk tembok penyekat yang menjulang begitu tinggi di antara keduanya. Namun tidak dengan hari ini, Rio kembali membawa Disa ke tempat di mana dirinya pernah berada di sini sebelumnya. Berdua, dengan situasi yang berbeda jauh dengar sekarang. Tempat di mana Rio berhasil menangkap kelopak bunga yang gugur dan melantunkan harapan dalam batinnya. Harapan yang menjadi rahasia bagi Disa hingga detik ini.
"Apa kau ingat terakhir kali kita kemari?" Tanya Rio. "Saat itu… Bunga-bunga tengah bermekaran, sangat indah. Tapi lihatlah, sekarang mereka sudah tidak ada lagi. Dan pasti butuh waktu yang sangat lama untuk kembali ke masa itu. Ke masa-masa indah yang selalu tidak pernah gagal membuatmu tersenyum." Tambah Rio.
"Disa," panggilnya. Disa yang sedari tadi memilih diam itu lantas menoleh.
"Ya?"
"Aku ingin memberimu sesuatu." Ujar Rio.
Disa mengernyit, "apa?" Tanyanya penasaran.
Rio merogoh saku celananya, kemudian membuka genggaman tangannya yang perlahan menampilkan sehelai kelopak bunga yang sudah layu.
"Kini giliranmu." Kata Rio, seraya menyerahkan kelopak tersebut pada telapak tangan Disa, dengan maksud bahwa kini adalah giliran Disa untuk menaruh harapnya.
Disa terkekeh, "kenapa kau malah memberikan ini padaku?"
Helaan napas Rio terdengar begitu berat, seakan semua kesedihan dan rasa sakit bersarang di sana.
"Karena aku sudah tak lagi memiliki harapan."
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Rio, sontak membuat raut wajah Disa berubah seketika.
"Kenapa?" Tanyanya pelan, dan penuh kehati-hatian.
"Aku menaruh harapan atas kesembuhan ibuku. Dan harapanku benar-benar dikabulkan. Sekarang ibuku sudah tidak merasakan sakit lagi,"
Disa menghela napas lega, ia turut berbahagia mendengar hal itu. Namun, sedetik setelah Disa melukiskan senyum…
"Ibuku sudah berbahagia, di surga."
Lagi. Raut wajah Disa berubah seketika. Nyaris saja ia berbahagia atas berita duka. Gadis itu pun menghela napas, meletakkan telapak tangannya yang lain pada punggung Rio, mengusap lembut, mencoba menyalurkan energi positifnya yang masih tersisa.
*
Kurang lebih satu minggu sudah Rio belum punya kesempatan untuk menemui Disa. Adapun sekadar bertukar kabar melalui pesan pun sebenarnya keduanya jarang melakukan. Disa tidak pernah mengirim pesan kalau Rio tidak memulainya lebih dulu.
"Sedang apa ya dia di akhir pekan begini? Apa dia sudah bangun?" Tanya Rio pada dirinya sendiri. Lelaki yang tengah disibukkan di depan laptopnya itu tiba-tiba saja tersenyum sendiri mengingat tiap hal-hal kecil tentang Disa. Gadis yang sampai detik ini sebetulnya masih menjadi pujaan hati bagi Rio. Pun Rio meraih ponselnya yang baru saja selesai di-charge, menggulir kontak sampai menemukan nama berawalan huruf D.
Disa.
Tut..
Tut..
Tut…
Nomor yang anda tuju, tidak menjawab. Silakan menghubungi beberapa saat lagi…
Tidak diangkat.
Rio mencobanya sekali lagi.
Nomor yang anda tuju--
Diliriknya jam dinding yang terus berdetik itu, pukul sepuluh lewat lima belas pagi. Masih tidur, mungkin, pikir Rio. Lelaki itu paham betul kalau Disa adalah tipe orang yang tak mau menyia-nyiakan waktu libur, ia akan memanfaatkannya hanya untuk tidur. Hal ini Rio ketahui sebab sejak Rio masih duduk di bangku sekolah menengah atas bersama Disa, jika Rio mengajaknya keluar di hari minggu, sudah sangat jelas jawaban Disa adalah 'Tidak'. Tidak, tidak, dan akan selalu tidak.
"Seperti perasaannya padaku." Ucap batin Rio miris.
*
Ponsel Disa tak henti-hentinya berdering sejak beberapa menit lalu. Tergeletak begitu saja ditinggalkan oleh sang pemilik. Kemana gadis itu?
Beberapa saat yang lalu…
Disa baru saja mengirimkan alamat rumahnya pada Aksa yang mengganggu tidurnya itu. Pun gadis itu berniat untuk kembali melanjutkan tidurnya. Namun sayang, nyatanya ia tak juga bisa terlelap.
"Tidak!!" Teriaknya sembari bangkit dari rebahnya tanpa aba-aba.
"Bagaimana kalau dia kesini?!"
Tak bisa Disa bayangkan, bagaimana jika Aksa mendapati dirinya dengan rambut yang kusut, juga wajah yang lusuh begini.
"Aaaaaaaa tamatlah aku!!!" Teriak Disa, lagi. Setelah melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Melihat degan mata kepalanya sendiri betapa menjijikannya dirinya saat ini.
"Aaaaa aku tidak bisa begini..." Ucap Disa. Namun nyatanya mata Disa jauh lebih berat dan tak sanggup menahan kantuknya, hingga akhirnya...
Brak.
Gadis itu tumbang, di atas kasurnya. Menuju kembali ke alam mimpi.
*
Ding Dong!
...
Ding Dong!
"Ya, sebentar!" Sahut ayah Disa yang semula fokusnya tertuju pada laptop di hadapannya. Melangkah menuju ke arah pintu depan kediamannya yang mana kedatangan tamu yang ia sendiri belum tahu siapa.
Ceklek.
Pintu dibuka.
Ayah Disa mengernyitkan kening. Menatap lekat wajah lelaki yang baru saja membungkukkan badannya memberi salam dan menyunggingkan senyuman tipis.
"Siapa, ya?"
"Apa betul ini rumah Disa?" Tanya lelaki itu.
"Betul. Ada keperluan apa?" Kini giliran ayah Disa yang kembali melempar pertanyaan kepada tamu yang tak dikenalnya itu.
"Saya Aksa, teman sekolahnya Disa."
"Ah, begitu rupanya. Mari masuk, Nak Aksa!" Sambut ayah Disa ramah.
Aksa menutur di belakang, mengikuti sang pemilik rumah yang menuntunnya untuk memasuki kediamannya.
"Maaf, ya, berantakan. Silakan duduk!"
"Terima kasih!" Balas Aksa, lantas lelaki itu mendaratkan bokongnya di salah satu sisi sofa ruang tamu rumah Disa. Aksa melihat sekeliling, sebelum akhirnya matanya tertuju pada sebuah nakas yang ada di sebelahnya, yang mana terdapat sebuah foto di atasnya. Seorang gadis kecil berkuncir dua yang tengah tertawa lebar, menampilkan dua gigi depannya yang ompong. Aksa tergelitik dibuatnya. Lelaki itu sempat terkekeh melihat foto itu. Ia tahu betul itu Disa, wajahnya tak banyak berubah sampai sekarang.
"Mau minum apa, Nak Aksa? Disa juga pasti masih tidur, biar saya bangunkan dulu." Ujar ayah Disa.
"Ah, tidak perlu repot-repot, Om. Saya hanya ingin memberikan ini." Cegah Aksa, lelaki itu segera bangkit sembari menyerahkan bingkisan yang ia bawa.
"Apa ini?"
"Titipan dari mama saya." Jawab Aksa.
"Ah, begitu rupanya. Dalam rangka apa? Sampaikan pada mamamu terima kasih banyak."
Aksa hanya mengulas senyum dan menganggukkan kepala.
*
Disa kembali terbangun, tenggorokannya terasa begitu kering. Sepertinya ia butuh sedikit air untuk membasahinya.
Sial. Disa meletakkan kembali botol minumnya yang kosong. Gadis itu memang terbiasa menyimpan air di kamarnya dalam botol itu, tapi agaknya dia lupa untuk mengisinya lagi.
Dengan amat terpaksa, mau tidak mau Disa membawa kakinya melangkah keluar kamar. Matanya belum terbuka sempurna, jalannya pun terhuyung. Sambil berpegangan, Disa berusaha menuruni anak tangga satu persatu.
"Disa, ini ada temanmu."
Tepat ketika Disa melintasi ruang tamu, sang ayah memanggil. Lantas gadis itu menoleh, bersamaan dengan mulutnya yang terbuka lebar, menguap, akibat rasa kantuk yang masih menguasai dirinya. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah.
Mata Disa seketika membulat, gadis itu mematung. Seketika tubuhnya tak dapat digerakkan.
"AKSA?!!"